100 Days

100 Days
Part 103



Beberapa hari setelah menjadi korban kekerasan Jordan, luka di wajah Eric sudah membaik. Meski tidak ada luka yang perlu dijahit, tapi percayalah, wajah Eric sehari setalahnya sangat mengerikan. Tidak ada lagi wajah tampan yang selalu menjadi magnet bagi kaum hawa. Yang ada hanyalah wajah bengkak persis seperti orang yang baru saja melakukan operasi plastik.


Setiap melihat cermin, Eric selalu mentertawakan dirinya sendiri. Rasanya sudah lama sekali dia mengalami hal semacam ini. Ini mengingatkannya pada masa mudanya dulu sewaktu masih menjadi pengedar. Dulu hampir setiap hari dia terlibat baku hantam dengan para preman yang suka memalak mereka.


Suara notifikasi pesan masuk ke ponsel Eric, mengalihkan lamunan tentang masa kelamnya di masa lalu.


Baru melihat layar ponsel saja Eric sudah berdecak kesal. Pesan dari Jordan lagi. Setiap hari Jordan menerornya dengan pesan peringatan kalau dia harus segera menemui Isabel dan memperbaiki hubungannya.


Bukannya Eric tidak ingin. Tapi dengan wajah mengerikan seperti itu....Eric butuh waktu.


Setiap hari dia disiksa dengan rasa rindu pada Isabel. Tapi dia hanya bisa memperhatikan 'mantan kekasihnya' itu dari jauh, melalui kamera-kamera yang terpasang di rumah gadis itu.


Eric sedih melihat Isabel yang hanya mengurung diri di dalam kamar. Sayangnya di dalam kamar Isabel tidak ada cctv. Jadi Eric tidak bisa melihat apa yang dia lakukan di dalam kamar seharian.


Lalu Eric teringat sesuatu. Dia berkacak pinggang sambil melipat bibir.


"B*rengsek !" Umpat Eric. "Jadi selama ini keparat itu selalu mengawasi Isabel. Kurang ajar !" Eric menendang sofa tidak bersalah yang ada di kamarnya. Kenapa dia tidak menyadarinya sejak awal ? Barang-barang ciptaan Jordan memang sebagian besar dilengkapi kamera tersembunyi. Seketika Eric merasa sangat bodoh.


"Aku harus mengambilnya. Aku tidak mau keparat itu diam-diam terus memperhatikan kekasihku." Gumam Eric yang masih mengklaim Isabel sebagai kekasihnya.


Eric bergegas mengambil kunci mobilnya yang ada diatas nakas. Dia mengganti sandal ruangannya dengan sepatu lantas berjalan cepat keluar kamar. Namun sesampainya di depan pintu, Eric berhenti. Di dalam kepala, otaknya sedang berpikir keras.


"Apa yang harus kukatakan padanya kalau nanti aku bertemu dengannya ?"


Sebelum meminta movie player itu, Eric harus minta maaf lebih dulu. Eric sudah terlanjur menggoreskan luka di hati Isabel. Mau tidak mau dia harus meminta maaf dan memperbaiki semua kekacauan yang dia buat.


Eric tersenyum masam. Minta maaf ? Menembus gerbang rumah Isabel saja saat ini pasti sangat sulit. Orang tua Isabel pasti sudah mengetahui tentang hubungan mereka yang renggang. Ditambah lagi si macan penjaga yang satu itu. Siapa lagi kalau bukan Mike ? Sudah pasti dia harus siap menghadapi amukan pria beranak satu itu.


Eric menghembuskan nafas berat. Dia mengurungkan niatnya untuk pergi dan berjalan gontai menuju sofa.


"Dia pasti sangat membenciku." Eric mengusap kasar wajahnya. Kesalahannya ini sangat fatal, dia tidak yakin jika bisa meluluhkan hati Isabel dengan mudah.


Dia bersandar pada punggung sofa dan menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam. Berat ! Dia butuh usaha sangat keras jika ingin mendapatkan Isabel kembali. Kepalanya terasa sangat pusing merasakan akibat dari kebodohannya beberapa waktu lalu.


"Tuhan ! Apa yang harus kulakukan ?" Gumam Eric.


"Aku harus kesana." Eric membuka mata sambil menegakkan tubuhnya. "Aku harus kesana. Apapun yang terjadi, aku harus memperbaikinya sekarang."


Eric membulatkan tekad, dia bangkit dan melangkah dengan mantap. Dia harus segera menyelesaikannya sebelum semua terlambat dan penyesalannya semakin dalam.


Para pegawai Willow Spring banyak yang terkejut saat melihat wajah Eric yang masih menyisakan lebam di ujung alis, pipi dan sudut bibirnya. Pasalnya, Eric sama sekali tidak keluar dari safe house selama beberapa hari ini. Bagaimana bisa dia masuk dengan wajah baik-baik saja dan keluar dengan wajah penuh lebam. Kecuali......ya, memang hanya Jordan yang terlihat datang kesana beberapa hari lalu.


Dengan mengabaikan tatapan penasaran beberapa orang yang dia temui, Eric semakin memantapkan langkah kakinya untuk bertemu dengan  gadis yang sangat dia cintai.


Jantung Eric berdegup semakin kencang tatkala mobil yang dia kendarai sampai di depan pintu gerbang.


Eric menurunkan kaca mobilnya lalu tersenyum pada Greg yang wajahnya terlihat di balik kaca pos penjaga. Greg membuka kaca kecil di sampingnya lalu membalas senyum Eric tapi tidak membukakan gerbang untuknya.


"Kau tidak mengijinkanku masuk ?" Tanya Eric pada Greg.


"Maaf, Mr. Michaels. Soal ijin bukan wewenangku." Jawab Greg.


Eric menunjukkan wajah melas, "Ayolah, Greg ! Aku sangat membutuhkannya. Sebentar saja."


Lagi-lagi Greg tersenyum. Dia tidak tahu apa masalah yang dibuat Eric pada keluarga Bennings hingga turun perintah untuk melarang Eric memasuki properti keluarga Bennings.


"Sepertinya masalahmu cukup berat, Kawan." Ujar Greg.


Eric menarik bibir ke bawah, bukan 'cukup berat' lagi, tapi sangat berat. "Sangat berat !" Seru Eric. "Ayolah, bantu aku. Aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya." Bujuk Eric.


Greg memperhatikan wajah Eric. "Apa wajahmu belum cukup menyelesaikan masalah ?" Gurau Greg.


"Ini ?" Eric menunjuk wajahnya sendiri. "Ini untuk menyelesaikan masalahku yang lain. Dan sepertinya aku siap mendapatkan yang seperti ini lagi asal kau membukakan gerbang untukku." Balas Eric.


Greg tertawa lebar. Sepertinya dia kasihan pada Eric. "Tunggu sebentar ! Akan kutanyakan lebih dulu." Greg segera mengangkat gagang telpon dan mendial nomor yang akan menghubungkannya dengan rumah utama.


Eric sempat tidak percaya. Tapi, jalan yang terbentang lebar di hadapannya ini memang yang dia tunggu sejak tadi.


"Terima kasih, Greg !" Eric melambai pada Greg lalu menaikkan kaca mobilnya. Namun saat mobil Eric sudah melewati pintu gerbang, tiba-tiba Eric mengerem mobilnya. Dia menoleh pada Greg yang sekarang terlihat dari ujung kaki sampai ujung kepala sedang duduk di kursi keramatnya.


Perlahan kaca mobil Eric turun. Dia melihat ke arah Greg yang sedang menyeringai. Seketika Eric merasakan hidupnya seperti telur diujung tanduk. Bergerak sedikit saja dia akan jatuh dan pecah. Dia baru sadar maksud ucapan Greg tadi.


Eric menelan ludah. "Wish me luck, Buddy ! Doakan aku bisa keluar dari gerbang ini dalam keadaan masih bernafas." Ucap Eric.


"Semoga beruntung !" Greg mengacungkan jempolnya pada Eric.


Eric mengatur nafas sebelum kembali menginjak pedal gas dengan perlahan. Akses masuk yang sangat mudah terkadang menjadi kamuflase dari siksaan mengerikan yang akan di terima di dalam sana.


"Kau bisa, Eric ! Kalau kau berhasil melewati fase ini, kau akan mendapatkan Isabel kembali. Isabel adalah hadiah tertinggi. Kau harus berusaha keras untuk mendapatkannya. Meski kau harus babak belur lagi." Eric terus mengucapkan kalimat-kalimat penenang agar jantungnya berhenti berdisko.


Begitu sampai di halaman rumah utama, Eric semakin dibuat merinding saat melihat Mike berdiri di teras rumah, bersandar pada pilar raksasa yang menyangga rumah itu sambil melipat tangan di dada.


"Ini buruk, ini sangat buruk." Gumam Eric. Kemungkinan yang memberikan akses masuk pada Eric adalah Mike. Kalau itu benar, maka Eric benar-benar dalam masalah besar.


Mike menatap tajam ke arah mobil Eric yang baru saja parkir. Mike sengaja menunggu Eric disana. Sebelum masuk, ada urusan yang harus dia selesaikan dengan kekasih adiknya itu. Urusan sesama pria.


Mike sama sekali tidak bergerak saat Eric terlihat turun dari mobil. Eric pun turun tanpa ragu, meski dia tahu hal yang buruk akan segera terjadi padanya.


Hanya satu doa Eric. Semoga dia masih hidup setelah melewati hari ini, karena Isabel membutuhkan calon suami yang masih bernafas. Dan kalau dia kembali dalam bentuk jasad, semoga Isabel tahu kalau dia sungguh-sungguh menyesal dengan apa yang telah dia lakukan pada Isabel.


Eric mengerutkan kening, membayangkan apa yang akan dilakukan Mike padanya. Bekas pukulan Jordan masih terasa nyeri hingga sekarang, dan membayangkan Mike melayangkan pukulan padanya lagi, sungguh rasa ngilunya begitu nyata terasa bahkan sebelum Mike bergerak menyerang.


Eric berjalan mendekat  dengan hati-hati. Siapa tahu di halaman rumah itu sudah dipasang ranjau yang akan meledak saat mendeteksi pijakan kaki Eric.


Okay itu terlalu berlebihan. Tapi melihat tampang garang Mike disana, rasanya sangat mengganggu ketenangan jiwa dan raga Eric. Mike sudah seperti algojo yang siap menebas leher terpidana mati.


Sambil terus berjalan, Eric berusaha memupuk sugesti bahwa rasa sakit yang akan dia terima nanti setimpal untuk mendapatkan hadiah utama.


Eric berhenti melangkah dua meter dari Mike. Keduanya saling adu pandang selama beberapa waktu. Mike menatap Eric tajam seolah ingin menelan pria itu hidup-hidup. Sedang Eric menatap penuh antisipasi pada Mike, menunggu respon seperti apa yang akan dia dapat dari Mike.


"Selamat siang, Mr. Bennings." Sapa Eric berusaha terlihat ramah dengan tersenyum sebaik mungkin agar Mike tidak semakin geram terhadapnya.


Mike mengurai lipatan tangannya lantas memasukannya ke saku celana. Dia bergerak pelan, maju selangkah untuk lebih dekat dengan Eric. Tatapannya tidak terputus dari wajah Eric sejak tadi. Semakin dekat dengan tatapan semakin menghujam jantung Eric. Dan......


Bugh !


Satu pukulan keras mendarat di wajah Eric.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Ouch....!! Pasti itu sakit banget. Kasihan Eric jadi korban kekerasan terus.


Apakah habis ini Isabel mau bertemu dan memaafkan Eric ?


See you next part, Love.