
Isabel melanjutkan tidurnya di dalam mobil. Rasa kesal karena Eric tidak mau mengatakan alasan kepulangan mendadak mereka membuat Isabel malas berbicara dengan pria disampingnya itu.
Satu jam kemudian, Eric menghentikan mobilnya di tempat pengisian bahan bakar. Dia harus mengisi penuh bahan bakar mobilnya sekaligus bahan bakar tubuhnya. Mengingat mereka berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu.
Eric mengguncang sedikit keras bahu Isabel agar gadis itu bangun. Eric sudah bisa mengira guncangan sekuat apa yang bisa membuat gadis itu terbangun. Jika hanya tepukan atau guncangan pelan, dapat dipastikan hanya mampu membuat gadis itu menggeliat.
Isabel mengerjap pelan, sambil menyipitkan mata menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya.
"Bangunlah, kita sarapan disini." Kata Eric.
"Heh ?" Isabel menggumam pelan.
"Ayo !" Eric berjalan lebih dulu.
Setelah beberapa langkah Eric meninggalkannya, Isabel turun dan mengikuti Eric dengan malas.
Kedai kecil yang ada di sana hanya menyediakan menu roti isi dan kopi. Isabel mengeluh, karena dua hari kemarin dia terlalu banyak minum kopi untuk mengusir kegalauannya.
"Tunggu sebentar." Mendengar Isabel yang terus mengeluh karena kopi, Eric beranjak mendatangi pelayan kedai dan meminta segelas air putih.
"Minum ini saja." Eric meletakkan gelas berisi air putih di hadapan Isabel.
Bukannya berterima kasih, wajah Isabel malah semakin di tekuk.
"Aku tidak bisa sarapan roti isi dengan air putih. Itu membuat perutku sakit." Keluhnya.
Eric menarik nafas dalam, menahan diri agar tidak meneriaki gadis menyebalkan dihadapannya itu.
"Lantas apa maumu ?" Tanya Eric sedikit menggeram.
"Apa disini tidak ada teh atau jus ?" Tanya Isabel dengan entengnya tanpa merasa bersalah.
"Disini hanya ada kopi dan air putih." Jawab Eric. Wajahnya sudah merah menahan marah.
"Kita pindah tempat saja." Usul Isabel dengan wajah tanpa dosa.
Eric melotot tidak percaya dengan apa yang diucapkan gadis itu. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Pesanan mereka sudah ada di depan mata, tapi gadis itu malah meminta pindah tempat. Yang benar saja ?!
Menahan umpatan yang ingin sekali dia keluarkan, Eric memejamkan mata lalu membuang nafas kasar. "Tunggu disini !" Perintahnya ketus.
Dengan langkah malas Eric mengayunkan kakinya ke minimarket yang letaknya bersebelahan dengan kedai. Dia membeli jus jeruk kemasan berukuran satu liter. Semoga saja itu bisa membuat Isabel berhenti mengeluh.
Eric menghentakkan kotak jus jeruk itu di hadapan Isabel.
Dan dengan tidak tahu malunya Isabel menarik jus jeruk itu dengan wajah berbinar. "Terima kasih, Eric."
Eric hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Hari masih pagi tapi dia sudah dikerjai habis-habisan oleh anak ingusan di hadapannya yang saat ini sedang menyantap roti isinya dengan lahap, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
*****
Sehari setelah kepulangannya dari Amytville, Isabel kembali 'bekerja' di Willow Spring. Tak pelak pandangan penuh curiga dari pegawai disana menyapa Isabel. Bahkan Jose sangat meyakini jika Isabel dan Bos-nya memang benar-benar memiliki hubungan serius.
Bagaimana tidak, Amytville adalah tempat kelahiran Eric. Dan membawa Isabel kesana, apalagi tinggal di rumah masa kecilnya tentu bukanlah hal yang biasa. Apalagi untuk orang semacam Eric yang dikenal tertutup untuk masalah pribadinya.
Isabel yang mendapat cecaran pertanyaan macam-macam dari para pegawai perempuan disana hanya bisa menjawab dengan tatapan jengah. Jawaban apapun yang keluar dari mulutnya, akan terdengar satu kalimat saja bagi mereka, 'Ya, aku dan Eric berkencan'.
Semoga saja kali ini tidak ada yang berniat menaruh racun dalam makanan dan minuman Isabel.
"Kurasa kali ini aku harus mencampur racun ikan buntal dalam makananmu." Tutur Grace dengan tatapan cemburu yang dibuat-buat.
Isabel mengehela nafas lelah. Harus berapa kali lagi dia menjelaskan pada ketiga perempuan dengan seragam sama itu. Grace, Leah, dan Claire. Ketiga orang itu yang paling heboh dengan hubungan Isabel dan Eric.
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi." Ucap Isabel putus asa.
Leah menatap penuh makna pada Isabel. Dia mendekat pada Isabel lalu bertanya, "Bagaimana permainan Bos ? Dia pasti sangat hebat." Tanya Leah sambil menaik turunkan alisnya.
"Permainan apa lagi ?" Tanya Isabel dengan polosnya. Suaranya terdengar sangat lelah. Lagipula dia tidak paham maksud pertanyaan Leah.
Leah menepuk dahinya sambil berdecak. Apa Isabel sepolos itu ? Pertanyaan seperti itu saja dia tidak peka.
"Haruskah kuperjelas ? Having sex, Isabel. Jangan bilang kalau kau masih perawan !" Jelas Leah.
Isabel melotot lalu menimpuk wajah mesum Leah dengan kain lap. Bisa-bisanya Leah bertanya seperti itu ? Membayangkan saja Isabel tidak pernah.
Tapi, tubuh Eric memang sangat menggoda. Otot di tubuhnya yang terpahat sempurna. Dadanya yang liat dan bidang. Bulu-bulu halus yang tumbuh disana. Hhh......sangat mengundang untuk disentuh.
"Aw !" Pekik Leah saat lap mendarat di wajahnya yang disambut tawa Grace dan Claire.
"Ayolah, kalian disana seminggu lebih dan tidak melakukan apa-apa ? Yang benar saja ? Kalau aku jadi kau, aku tidak akan membiarkannya keluar dari kamar." Lagi-lagi Leah menunjukkan wajah mesumnya.
"Untung saja bukan kau yang diajak kesana." Tukas Claire dengan nada mencemooh.
Leah mengerucutkan bibirnya. Lalu mencubit lengan Claire dengan cubitan kecil tapi mematikan. Claire pun menjerit kesakitan dengan cukup keras hingga menarik perhatian orang-orang yang ada disana.
Grace yang berada paling dekat dengan Claire langsung membekap mulutnya.
Isabel menggeleng pelan. Apa yang ada dalam otak mereka tentang Eric hanya seputar itu ?
Tunggu ! Ciuman ?
Tiba-tiba Isabel teringat ciumannya dengan Eric. Dia menyentuh bibirnya dengan jari. Memang bukan ciuman seperti yang biasa dia lakukan dengan Aiden, tapi ciuman itu terasa sangat lembut dan....manis.
Ulu hati Isabel berdesir saat mengingat ciuman itu. Apa-apaan ini ? Isabel menggeleng cepat untuk mengusir pikiran konyol yang melintas dalam otaknya.
"Owh....sepertinya Bos kita benar-benar ahli dalam berciuman." Goda Claire. Isabel bisa mengelak soal hubungannya dengan Eric. Tapi saat ditanya tentang ciuman Eric, Isabel tidak bisa menjawab. Hanya diam sambil memegangi bibir seperti sedang membayangkan sesuatu.
Tentu saja ketiga perempuan disana langsung bisa membaca apa yang dipikirkan Isabel.
"Kalian mau bekerja atau terus menggosip ?"
Suara berat Jose menyelamatkan Isabel dari situasi yang sangat tidak menguntungkan untuknya.
Isabel menghela nafas lega karena tidak harus menanggapi celotehan ngawur teman-temannya.
Keempat orang itu segera mencari kesibukan agar tidak kena marah dari Jose.
Begitu keempat orang itu menempati bagiannya masing-masing, Jose berjalan mendekati Isabel. Pria latin itu sedikit membungkuk dan menjulurkan kepalanya ke sisi wajah Isabel lalu berbisik, "Jadi, bagaimana rasanya berciuman dengan Bos ?"
Isabel menoleh dengan cepat. Bibirnya terbuka, menatap horor pada pria latin yang sudah kembali menegakkan tubuhnya sambil tersenyum jahil.
"Jose !" Pekik Isabel. Nyatanya pria itu menguping. Dan apa dia bilang tadi ? Bergosip ? Sepertinya yang hobi menggosip itu dia sendiri, hanya saja dia terlalu gengsi mengakui karena terlalu menjaga image.
Jose meninggalkan Isabel sambil terkekeh. Rasanya Isabel ingin sekali mendaratkan tendangan halilintar pada Jose. Dasar pria penggosip !
Lama-lama dia bisa gila jika teman-temannya terus saja menanyakan perihal hubungannya dengan Eric.
*****
"Isabel!" Jose memanggil Isabel yang sedang sibuk menata minuman diatas nampan.
"Ya?" Isabel mengangkat wajahnya melihat Jose yang sudah berdiri di seberang meja bar.
"Ada yang ingin menemuimu. Meja nomor 9." Ucap Jose.
Ingin bertemu ? Isabel mengernyit. Siapa yang ingin bertemu dengannya ?
"Cepat, temui mereka." Perintah Jose.
Isabel mengangguk lalu berjalan memutar keluar dari sisi kanan meja bar. Gadis itu segera melangkah menuju meja nomor 9 seperti yang dikatakan Jose.
Rasa penasaran menyeruak begitu saja di benak Isabel.
Dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang duduk di meja itu.
Isabel menelan ludah berkali-kali. Seketika kaki Isabel terasa lunglai. Dia berjalan perlahan menuju dua orang yang ingin menemuinya itu.
Dua meter dari meja itu Isabel berhenti. Jantungnya berdetak sangat cepat, melihat punggung orang yang sangat dia kenal. Akhirnya hari ini datang juga. Hari yang dia takutkan. Hari dimana keluarganya mengetahui dimana dirinya tinggal selama ini.
"Mike?" Suara Isabel tenggelam dengan perasaan campur aduk yang memenuhi hatinya.
Di meja itu Alice duduk bersama Mike. Alice menatap Isabel dengan tatapan bersalah dan khawatir. Dia sudah berjanji untuk tidak mengatakan pada Mike dimana Isabel tinggal selama ini. Tapi kali ini dia terpaksa mengatakannya.
Mendengar suara seseorang yang sedang dia cari, Mike membalikkan badannya.
"Isabel?"
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Nah, ketahuan juga kan sama Mike. Kalau Mike tahu Isabel tinggal bersama pria disana, apa yang akan terjadi ya ?
Jangan lupa like dan vomment ya.
See you next part, Love.