
Lelah mencurahkan semua kesedihannya pada Isabel, kini Jordan terlelap di sofa. Isabel melepas sepatu Jordan lantas membenarkan posisi kakinya agar Jordan bisa tidur dengan nyaman.
Entah sudah berapa lama Jordan tidak tidur, karena saat ini Jordan terlihat sangat pulas. Suara dengkuran halusnya menandakan jika dia sudah terlelap jauh dalam mimpi.
Isabel mendesah, dia mengusap kepala Jordan dengan lembut. "Istirahatlah. Kau butuh tidur untuk menjernihkan pikiranmu." Ucap Isabel lirih. Dia tidak tega melihat wajah lelah Jordan. Pria yang tidur di hadapannya ini sama sekali tidak seperti Jordan yang dia kenal. Memang benar, saat ini jiwa Jordan sedang sekarat. Kematian Elena benar-benar mengguncang jiwanya. Ikatan yang dia jalin dengan Elena dan Eric ternyata sangat kuat. Hingga saat salah satu dari mereka pergi, dua yang lain seperti kehilangan pegangan. Sebagian jiwa mereka seolah ikut dibawa pergi.
Hh.....Eric.....dimana pria itu sekarang ? Apa dia tidak tahu kalau Jordan sangat membutuhkannya ? Apa dia tidak merasa kalau Isabel merindukannya ?
Tidak menyangkal memang jika Eric sendiri juga merasa kehilangan. Tapi apa dia tidak memikirkan orang-orang yang dia tinggalkan ? Harusnya dia disini bersama Jordan untuk saling menguatkan. Tapi apa ? Dia menghilang entah kemana.
Perlahan Isabel berdiri. Dia memperhatikan sekeliling. Ruangan ini di design minimalis. Tidak banyak hiasan yang terpajang. Satu-satunya yang mencolok hanyalah layar led besar itu. Lalu Isabel melihat sebuah pintu coklat di sebelah kanan lemari kaca berisi map-map yang ditata rapi.
Rasa penasaran membuat Isabel melangkahkan kaki mendekati pintu itu. Begitu sampai, Isabel membuka pintu itu dengan hati-hati agar tidak membangunkan Jordan.
Ruangan itu tidak terlalu besar tapi sangat rapi. Di tengah-tengah ruangan ada meja berbentuk setengah lingkaran berwarna putih dengan tiga buah komputer yang berjajar.
Isabel mendekati meja itu. Dia melihat tampilan pada ketiga layar komputer disana. Dan ketiga-tiganya menampilkan rekaman cctv di beberapa sudut kota.
"Tidak salah lagi. Jordan sedang memburu Jim." Gumam Isabel. Meski dia sendiri tidak tahu seperti apa rupa Jim, tapi dia yakin foto pria berjambang tipis yang tampak di sudut layar tiap komputer itu adalah Jim.
Pantas saja Jordan tidak ingin siapapun mengganggunya. Ternyata ini alasannya. Dia memburu Jim hingga lupa waktu dan mengabaikan kondisi fisiknya. Isabel yakin kalau Jordan juga jarang makan selama seminggu ini. Pria itu seperti tidak terurus.
"Beruntung sekali Elena. Dia memiliki orang-orang yang sangat mencintainya." Gumam Isabel. Dia berjalan mengitari meja putih itu dengan tangan meraba setiap jengkal meja yang dia lewati. Lalu langkahnya terhenti kala dia melihat sebuah bingkai foto tiga sahabat itu. Foto itu diambil pada saat mereka masih berumur belasan. Dan mereka tampak sangat bahagia. Elena berdiri di tengah, Jordan dan Eric merangkulnya dari kedua sisi. Elena tertawa lepas. Sementara Eric dan Jordan berpose seolah ingin mencium pipi Elena. Manis sekali, bukan ?! Isabel tersenyum kecil melihat kedekatan mereka. Mungkin pada saat itu Eric dan Jordan sama-sama sudah memendam rasa cinta pada Elena.
Eh, cinta ? Tiba-tiba Isabel teringat pada Eric.
Isabel mencoba mengenyahkan pemikiran yang melintas di kepalanya. "Tidak. Itu tidak mungkin." Gumamnya.
Tidak ingin terus berpikir yang tidak-tidak, Isabel memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Dia melihat Jordan masih terlelap. Rasanya dia ingin sekali menemani Jordan hingga terbangun, tapi dia harus segera kembali. Jim yang masih berkeliaran bisa saja kembali membuatnya dalam bahaya.
Isabel mengambil secarik kertas memo dari meja kerja, dia menuliskan memo untuk Jordan.
Maaf aku harus pulang. Jaga kesehatanmu. Aku akan datang lagi besok. Isabel.
Setelah menulis memo, Isabel menghampiri Jordan, dia mencium kening Jordan pelan agar pria itu tidak terganggu. Lalu dia keluar dari ruang kerja Jordan dan menghampiri sekretarisnya.
"Maaf, boleh aku meminta bantuanmu ?" Kata Isabel.
"Tentu. Apa yang bisa saya lakukan, Miss ?" Tanya sekretaris itu dengan senyum ramah.
"Tolong belikan makanan untuk Jordan dan letakkan memo ini diatasnya." Isabel memberikan kertas memo berwarna kuning yang tadi dia tulis. "Pastikan dia memakan makananya." Tambah Isabel.
Sekretaris itu menerima kertas memo sambil mengangguk. "Baik, Miss."
Setelahnya Isabel meninggalkan gedung itu. Pulang tanpa membawa hasil yang dia cari rasanya sangat mengecewakan.
Dimana Eric sebenarnya ? Kenapa dia pergi seperti ini ? Apa salah Isabel ? Sumpah demi apapun, rasanya sangat menyakitkan saat orang yang baru saja melamarmu, memintamu menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya, tiba-tiba meninggalkanmu begitu saja.
Selama ini Isabel berusaha menahan air matanya. Dia berusaha kuat dan berpikir positif jika Eric pergi hanya karena sedang berkabung atas kematian Elena. Tapi sepertinya Isabel harus merubah pemikirannya.
Hari ke delapan belas sejak kematian Elena, Isabel merasa semua usahanya sia-sia. Dia lelah menunggu. Dia lelah mencari. Dan dia lelah merindukan Eric.
Setiap hari mendatangi kantor Jordan, Willow Spring, bahkan rumah Eric. Setiap hari dia menunggu Eric menghubunginya. Tapi semua hanya sebatas angan. Semuanya sia-sia tanpa hasil. Eric tidak juga kembali.
"Dimana kau, b*rengsek ?!" Isabel mengobrak-abrik kasurnya. Dia melempar apapun yang bisa dia gapai.
Percuma berpura-pura kuat. Percuma menahan air mata. Karena pada kenyataannya dia merasakan hatinya sangat sakit. Eric menggali lubang hitam yang sangat dalam disana. Dan sekarang dia tidak bisa lagi menahan rasa sakit itu. Dia tidak bisa lagi menahan air mata.
Isabel berteriak, dia melempar, menendang apapun yang bisa dia jangkau. Hingga dia merasa hati dan tubuhnya begitu lelah. Tubuhnya merosot ke lantai. Dia menjambak kuat rambutnya. Dia merasa tidak sanggup menjalani ini semua. Eric memberinya harapan setinggi langit. Tapi setelah itu Eric menjatuhkannya hingga ke dasar bumi.
Emma membuka pintu kamar Isabel dan mendapati kamar putrinya sangat kacau. Bukan hanya kamar, tapi putrinya juga terlihat sangat kacau.
Emma merasa prihatin melihat kondisi putrinya. Dia menarik nafas dalam-dalam. Dia tahu saat seperti ini akan datang. Putrinya yang terlihat tegar dan kuat, pasti akan menunjukkan sifat aslinya saat merasa lelah menunggu kepastian dari kekasihnya.
"Isabel ?" Emma mendekati putrinya yang menangis sesenggukan di lantai sambil mejambaki rambutnya frustasi. Dia memeluk tubuh putrinya dengan sayang. Dia tahu putrinya hanya berpura-pura tegar selama ini. Dia sedih, tapi dia juga lega saat Isabel mau menumpahkan perasaannya. Akan lebih baik jika Isabel meluapkan kemarahan dan kesedihannya daripada terus memendam sendiri semua itu.
"Dia meninggalkanku, Mom. Dia tidak kembali." Rintih Isabel dalam dekapan Emma.
Emma menciumi kepala Isabel. "Keluarkan semua yang ada dalam hatimu, Sayang. Jangan lagi memendamnya."
Isabel semakin terisak. Keputusannya untuk memendam semua beban itu sendiri ternyata salah. Dia malah semakin merasa tersakiti hingga akhirnya dia tidak kuat lagi menanggungnya.
"Aku tidak tahu apa salahku padanya." Isabel terus merintih. Dia tidak tahu, dia sama sekali tidak mendapat petunjuk apa yang membuat Eric pergi selama ini.
Mungkin Eric berharap Isabel yang mati. Mungkin dia berharap Elena saat ini masih bernafas. Mungkin Eric......
Isabel menghentikan tangisnya. Dia menengadah, menatap nanar pada ibunya dengan mata sembab.
"Dia mencintai Elena. Dia masih mencintainya. Itulah kenapa dia meninggalkanku. Karena dia membenciku. Dia membenciku, Mom. Karena aku yang harusnya mati. Elena mati karena diriku. Dan Eric membenciku karena dia lebih mencintai Elena." Isabel meracau.
"Sst...! Jangan bicara seperti itu, Sayang. Kematian itu adalah takdir. Kita tidak bisa mengubahnya."
"Tapi aku yang menyebabkan Elena mati, Mom." Isakan Isabel semakin menjadi.
7 tahun hubungan Eric dan Elena pasti meninggalkan banyak kenangan manis. Apalagi mereka sudah bersama-sama sejak kecil. Dan Eric baru saja memaafkan Elena sebelum wanita itu meninggal. Bukan tidak mungkin jika Eric kembali merasakan cinta pada Elena. Bukan tidak mungkin jika Eric berharap bisa kembali bersama Elena.
Membayangkan hal itu membuat hati Isabel kembali tersayat.
Kenapa harus merasakan sakit seperti ini lagi ? Kenapa orang yang dia cintai harus meninggalkannya lagi ? Apa tidak cukup kesakitan yang pernah dia rasakan ? Aiden....Eric....mereka sama saja !
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Maaf pendek dan lebih banyak narasi daripada dialog nya. Lagi buntu nih.
Trus apa yang bakal kalian lakuin kalo jadi Isabel ?
See you next part, Love.