
"F*CK YOU, ERIC!!! teriak Isabel mengiringi kepergian mobil Eric yang hanya meninggalkan kepulan asap dari knalpot.
Marah dan benci. Hanya itu yang dirasakan Isabel pada pria yang baru saja menelantarkannya dipinggir jalan seperti seorang jalang menyedihkan yang baru saja di tolak oleh pria hidung belang.
Isabel menendangkan kakinya ke udara untuk menyalurkan kekesalannya. Satu tangannya di pinggang, satu lagi menjambak rambutnya sendiri. Sungguh ini adalah perlakuan terburuk seorang pria terhadapnya. Harusnya tidak begini. Harusnya saat ini dia sedang makan malam romantis dengan Aiden. Bukannya terlunta-lunta dipinggir jalan seperti ini. Dengan perasaan kesal yang luar biasa Isabel mulai berjalan. Di tempat seperti ini pasti sulit mendapatkan taksi. Gadis itu memutuskan untuk berjalan ke tempat yang lebih ramai. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada satu orang pun yang dia lihat. Hanya mobil-mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi yang melintas, mengingat jalan ini bermedan lurus setidaknya sepanjang 5 kilometer.
Rasa nyeri menghinggapi kaki Isabel. Sepertinya kaki gadis itu lecet saat Eric menarik paksa dirinya keluar dari kantor Aiden tadi. Hingga akhirnya Isabel melepas stiletto-nya dan berjalan dengan bertelanjang kaki. Meskipun merasa sedikit risih saat telapak kakinya menyentuh aspal, setidaknya itu lebih terasa nyaman untuk kakinya.
Langit sudah gelap. Dengan pakaian yang dia kenakan saat ini, semakin memudahkan rasa dingin menusuk kulitnya. Jangan lupa kalau Eric menurunkannya di tepi jembatan, yang mana membuat angin dengan lincahnya menari-nari disana. Dengan tetap menenteng stiletto di tangan kanannya, Isabel berjalan dengan melipat tangan di dada, memeluk lengannya sendiri untuk mengusir hawa dingin yang menelusup dalam kulit halusnya. Dress tanpa lengan yang dia kenakan sama sekali tidak membantu menghangatkan tubuhnya. Ujung dressnya bahkan berkibar terkena angin malam.
Takut? Ya, hawa dingin itu semakin membuat Isabel takut. Pikiran yang tidak-tidak mulai menghinggapi otaknya. Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang jahat yang menculiknya, mengingat jalanan ini sangat sepi dari pejalan kaki, bahkan hanya dirinya sendiri. Hingga saat dia membayangkan tiba-tiba seorang gadis berambut panjang berdiri di tepi jembatan dengan bisikan hipnotisnya yang memintanya untuk ikut melompat ke bawah jembatan seperti dalam cerita-cerita horor yang pernah dia baca. Isabel merinding saat otaknya terus membayangkan hal-hal mengerikan yang bisa saja terjadi padanya.
"Lihat saja, aku akan membalasmu! Pria gila tidak bertanggung jawab!" maki Isabel yang hanya didengar oleh angin dan dinginnya malam.
Tanpa sadar air mata Isabel menetes. Entah karena marah atau takut. Tiba-tiba saja air mata itu jatuh. Hingga saat Isabel merasa laju sebuah mobil melambat dan berhenti tidak jauh darinya. Detak jantung Isabel jadi tidak karuan. Isabel takut apa yang dia pikirkan tadi benar-benar terjadi.
Suara debuman pelan pintu mobil terdengar. Si pengemudi mobil baru saja turun. Isabel mempercepat langkahnya hingga setengah berlari untuk menghindari kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
"Aaaa!" Isabel berteriak saat tangannya dicekal oleh seseorang. "Lepaskan! Jangan ganggu aku!" Isabel meronta mencoba melepaskan cekalan di tangannya.
Saking takutnya, Isabel sama sekali tidak membuka mata. Dia takut wajah yang akan dia lihat adalah wajah pria jelek yang penuh bekas luka, dengan tindik di telinga, hidung dan bibirnya. Isabel sangat takut. Apalagi saat kedua tangan orang itu mencengkeram kedua lengan Isabel dan mengguncangnya.
"Hei! Tenang, Isabel! Ini aku!"
Suara itu. Isabel kenal suara itu. Maskipun napasnya masih memburu, Isabel mulai membuka matanya.
"Mike!" Ekspresi kelegaan muncul diwajah Isabel yang masih terlihat pucat dengan mata berair saat mendapati Mike berdiri di hadapannya.
"Syukurlah kau datang. Aku takut," adu Isabel sambil memeluk erat tubuh kakaknya itu.
Mike membalas pelukan Isabel tanpa berkata apapun. Lalu, Isabel melepaskan pelukan dan menghapus sisa air matanya. Mike melipat tangan di dada, menatap adiknya dengan wajah datar. Satu alisnya terangkat, lalu bibirnya mulai bergerak mengeluarkan suara datar. "Ada yang ingin dijelaskan?"
Isabel menggerak-gerakkan bibirnya, tapi tidak ada sepatah kata pun yang dia ucapkan. Lalu, Mike mengajaknya untuk segera masuk ke dalam mobil.
Mobil Mike berhenti di halaman rumah mewah keluarga Bennings. Di halaman yang sama, tampak sebuah mobil yang familiar untuk Isabel. Itu mobil Alice.
Perasaan Isabel semakin tidak enak kala mendapati mobil Alice terparkir disana. Bukan hal yang bagus, mengingat tadi Isabel mengatakan pada Emma kalau dia ada janji dengan Alice. Kehadiran Alice di rumahnya jelas akan membongkar kebohongan Isabel. Apalagi tadi sepanjang perjalanan Mike hanya diam dengan ekspresi datar, tidak marah tapi juga tidak ramah.
Isabel masih berdiri di ambang pintu saat Mike berjalan mendahuluinya lantas duduk di sofa bergabung dengan tiga orang disana.
Jhon, Emma, dan Alice menoleh ke arah pintu utama secara bersamaan. Okay, sampai disini Isabel merasakan atmosfir yang berbeda-beda saat menatap masing-masing orang itu.
Jhon dengan tatapan menghakimi, Emma dengan tatapan kecewa, dan Alice dengan tatapan bersalah yang diperkuat dengan bibirnya yang bergerak mengucap kata "I'm sorry" tanpa bersuara.
"Jangan berdiri saja disitu, Isabel! Alice sudah lama menunggumu," perintah Jhon dengan nada datar seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi Isabel yakin situasi yang sebenarnya tidaklah sedatar yang terlihat.
Dengan langkah pelan dan ragu Isabel mendekat pada empat orang disana.
"Duduklah!" Jhon mengisyaratkan dengan tangannya agar Isabel duduk di sofa yang berhadapan langsung dengannya.
Emma duduk bersisian dengan Alice di sisi kiri. Sementara Mike duduk bersisian dengan Jhon yang dipisahkan sebuah meja kaca besar dengan Isabel. Isabel yang duduk sendirian di hadapan mereka, merasa seperti seorang pesakitan.
Gadis itu hanya bisa menunduk, menantikan hal buruk apa yang akan terjadi selanjutnya. Sepertinya kejadian buruk hari ini tidak hanya berhenti saat Eric membuangnya di pinggir jalan alih-alih makan malam romantis dengan Aiden. Raut wajah Jhon menunjukkan bahwa hal buruk lainnya baru saja akan terjadi.
"Apa yang kau lakukan sejak sore tadi, Isabel?"
Pertanyaan ini terdengar biasa, tapi rasanya sangat menusuk. Membuat gadis bermata biru itu mendadak menjadi gadis gagap.
"A-aku ... aku hanya ...." Isabel tidak mampu meneruskan kalimatnya.
"Sepertinya kau melupakan Alice dalam janjimu."
Benar, kan? Datar tapi penuh intimidasi. Isabel hanya mampu menelan ludah saat Jhon menginterogasinya lebih lanjut. Gadis itu menunduk, menyembunyikan manik birunya yang berontak untuk berkata jujur.
"Apa yang kau lakukan di Muller Corp?"
Pertanyaan itu terasa seperti tembakan telak yang langsung menghujam jantung Isabel. Gadis itu masih diam. Dari sini situasi sudah bisa terbaca. Hingga sebuah benda kotak tipis berwarna hitam dilempar di atas meja kaca persis di hadapan Isabel. Ya, Jhon baru saja melemparkan undangan pernikahan Aiden dan Chloe di hadapan gadis itu.
Isabel tersentak. Ritme detak jantungnya meningkat saat melihat undangan itu. Keluarga Bennings tentu saja tidak akan luput dari pesta pernikahan pewaris tunggal kerajaan bisnis Harold Muller. Mengingat dua keluarga itu termasuk dalam daftar orang paling berpengaruh dalam pergerakan ekonomi di kota itu.
Jhon berdiri. " Jhon," Suara lembut Emma terdengar sangat memohon agar suaminya itu tidak bertindak berlebihan.
Jhon tampak menghela napas lalu memasukkan kedua tangannya di saku celana. Kedua matanya terpejam sebelum akhirnya pria yang rambutnya sudah mulai beruban itu buka suara.
Sekali lagi Jhon menghela napas dengan kasar lalu kembali duduk di sofa.
Mendengar apa yang di ucapkan Jhon tidak lantas membuat Isabel menyerah. Gadis itu malah semakin merasa keluarganya sama saja dengan Eric, tidak memikirkan perasaannya. Tanpa menjawab, Isabel masih menunduk diam dengan perasaan yang semakin sesak.
"Lepaskan, Nak. Biarkan mereka bahagia. Jangan biarkan rasa cintamu membutakan hatimu. Look at you!" Jhon mengangkat tangannya dengan lemah menunjuk anak gadisnya. "Kau cantik, kau gadis baik-baik. Kau bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya. Jangan merendahkan dirimu sendiri, Nak."
Merasa tidak terima dengan ucapan ayahnya, Isabel memberanikan diri mengangkat wajah. Matanya sudah merah. Pandangannya berkabut karena air mata yang menggenang.
"Tapi kami saling mencintai, Pa," kata gadis itu dengan suara bergetar. Dia merasakan sesak dalam dadanya, dimana keluarganya sendiri pun tidak mendukungnya, tidak memikirkan bagaimana perasaannya saat laki-laki yang dia cintai tiba-tiba harus menikah dengan orang lain.
Jhon menunjukkan wajah lelah mendengar ucapan Isabel.
"Nak, sebesar apapun rasa cintamu, jika memang Tuhan tidak menakdirkan kalian untuk bersama, maka tidak akan pernah ada sesuatu yang terjadi diantara kalian." Sekali lagi Jhon menghela napas, memijit pangkal hidungnya dengan alis yang berkerut.
"Tidak, Pa. Bukan rasa cintaku, tapi rasa cinta kami. Kami saling mencintai, Pa. Tidakkah Papa mengerti perasaanku?" Suara Isabel tercekat karena berusaha menahan isakan yang mencoba lolos dari bibirnya.
"Perlu kau ingat baik-baik, Nak. Apa yang sudah ditakdirkan untuk kita, akan kembali menjadi milik kita dengan caranya sendiri." Jhon melirik Mike yang sedari tadi masih duduk memerhatikan.
"Tidakkah kau ingat, lima tahun lalu? Sekeras apapun kakakmu lari dari perasaannya, pada akhirnya hati itu kembali pada pemiliknya."
Mike sempat sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan Jhon, tapi tidak dia tunjukkan.
"Ya, kembali pada pemiliknya hingga saat kebahagiaannya direbut oleh sahabatnya sendiri," ketus Isabel.
Dan kali ini ucapan Isabel membuat Mike geram. Sepertinya Jhon salah mengambil contoh yang dengan mudah disanggah oleh anak gadisnya. Harusnya dia menunjuk dirinya sendiri sebagai contoh karena perjuangan cintanya dulu juga tak kalah berat.
"Jaga bicaramu, Isabel!" Mike menegakkan posisi duduknya.
"Kenapa? Apa yang aku katakan benar, bukan? Kau bahkan tidak bisa mempertahankan istrimu untuk tetap berada di sisimu!"
Mike mengetatkan rahangnya. Isabel benar-benar menyulut amarah dan kesedihan yang selama ini berhasil dia redam dengan wajah malaikat kecilnya.
Emma menunduk dan menangis. Dia tahu betul apa yang dirasakan dan dihadapi Mike. Perjuangan Mike mendapatkan cintanya tidaklah berhenti sampai saat pernikahan terjadi. Justru perjuangan itu semakin berat baginya setelah menikahi orang yang dia cintai.
"Buka matamu, Isabel! Meskipun kalian saling mencintai, tapi disini posisimu salah!" bentak Mike. Dia berusaha tidak terpancing dengan masalahnya sendiri.
"Gadis itu yang salah! Dia tahu hubunganku dengan Aiden, tapi dia tetap merebutnya dariku!" Isabel mulai menjerit.
"Lantas bagaimana dengan Aiden? Apa kau tidak berpikir kenapa dia memilih untuk menikahi gadis lain? Kenapa bukan dirimu? Jika dia mencintaimu, harusnya dia tidak menikah dengan orang lain!" Mike mengambil alih dengan cecaran pertanyaan yang menyudutkan Isabel. Jika Jhon masih bisa bersabar menghadapi Isabel, Mike yang bertugas bersikap keras padanya. Like cops game. Jhon is a good cop and Mike is a bad cop.
"Aiden mencintaiku. Aku tidak pernah meragukannya." Mata Isabel merah dengan air mata yang terus tumpah.
"Ayolah, Isabel! Berpikirlah dengan jernih. Laki-laki yang mencintai gadisnya tidak akan meninggalkan gadisnya untuk menikahi gadis lain."
Pernyataan Mike benar-benar menusuk hati Isabel. Gadis itu memejamkan mata untuk menepis rasa sakit di hatinya.
"Aku tidak akan berhenti. Aku akan memperjuangkan cintaku dengan ataupun tanpa dukungan kalian!"
Isabel beranjak. Dia sudah tidak tahan lagi di hakimi seperti ini. Semua orang menentangnya. Menentang perjuangan untuk mendapatkan cintanya.
"Tunggu, Isabel!" Mike ikut berdiri, mencekal tangan Isabel yang berjalan melewatinya.
"Apa lagi, hah?" Isabel menghempas tangannya hingga cekalan tangan Mike terlepas.
"Jangan bertindak bodoh! Kami sangat menyayangimu, Bells," kata Mike dengan suara semakin lembut di akhir kalimatnya.
"Simpan rasa sayang kalian! Aku tidak membutuhkannya!" ucap Isabel dengan penuh amarah. Dadanya yang terasa sesak membuat suaranya terdengar seperti tertekan. Dengan langkah cepat Isabel meninggalkan ruang tamu. Kakinya melangkah menaiki tiap anak tangga menuju kamar, diiringi suara isakan yang semakin pilu.
***
tbc.
Sakit ! rasanya sakit banget saat merasa tidak ada seorangpun yang mau mengerti.
Bagaimana perasaan kalian jika berada di posisi Isabel ?
Oya, bagaimana Mike bisa menemukan keberadaan Isabel ? dengan bantuan GPS dong. Jaman now gitu loh ! hehehe
selamat membaca, semoga suka.
see you next part !