
Kecewa. Satu kata yang cukup mewakili perasaan Isabel terhadap keluarganya. Dia butuh dukungan. Dia butuh tempat bersandar, bukan penghakiman. Dia butuh Aiden disisinya.
"Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku akan tetap memperjuangkan cintaku. Tunggu aku, Aiden."
Isabel mengusap air matanya dengan kasar. Pandangannya beralih pada koper berwarna coklat yang terselip diantara dua lemari pakaian.
Dengan tekat yang bulat Isabel beranjak dari ranjang mendekati koper itu. Tangannya dengan lihai memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper hingga koper itu penuh.
Hari sudah menjelang siang. Saat dimana rumah sudah terlihat sepi karena aktivitas masing-masing. Jhon dan Emma dengan kegiatan amal mereka, Mike yang mengurus perusahaan, dan si kecil Liam yang sudah mulai memasuki masa pra-sekolah. Hanya beberapa maid yang berada di rumah. Waktu yang tepat bagi Isabel untuk meninggalkan rumah.
Dengan koper yang lumayan berat, membuat langkah Isabel menuruni tangga jadi sedikit sulit. Biasanya untuk hal semacam ini dia akan dibantu oleh para maid, tapi tidak untuk kali ini. Justru Isabel menghindari para penghuni yang tersisa.
Gadis bermanik biru itu menyeret kopernya ke sebuah apartemen. Apartemen milik Alice. Dimana lagi dia akan tinggal kalau tidak mengandalkan sahabatnya yang satu ini.
"Astaga!" Alice terkejut Isabel datang tiba-tiba dengan menyeret koper di tangannya.
"Jangan banyak bicara, Alice. Kau tahu apa masalahnya." Isabel berlalu melewati Alice yang masih berdiri di depan pintu.
Alice menutup pintu. "Jangan gila, Bells!"
Mendengar reaksi Alice membuat Isabel memutar bola matanya malas. "Please, Alice!"
Dan Alice membiarkan sahabatnya itu melakukan apa yang dia inginkan. Tentu saja dia tidak melupakan satu hal penting. Memberi kabar pada Mike tentang keberadaan Isabel di apartemennya, karena pesan itu yang disampaikan Mike semalam sebelum Alice meninggalkan rumah keluarga Bennings. Mike sudah menduga kalau Isabel akan melakukan aksi boikot seperti ini. Dan lihatlah sekarang! Siapa yang sedang kabur dari rumah.
Melihat undangan pernikahan sudah di sebar, Isabel yakin Chloe tidak menepati janjinya. Hal itu membuat Isabel kembali memikirkan cara untuk memberi pelajaran pada Chloe. Pernikahan ini harus batal. Apapun caranya, pernikahan ini tidak boleh terjadi.
Kembali lagi Isabel menjelma menjadi stalker. Kali ini dia beruntung. Niatnya mengawasi Willow Spring dia batalkan saat pandangannya menangkap siluet Chloe di dalam toko buku tidak jauh dari Willow Spring. Waktunya tidak banyak lagi, dia harus bergerak cepat sebelum pernikahan itu terjadi.
"Hai, Chloe. I need to talk to you," kata Isabel sambil menarik paksa tangan Chloe keluar dari toko buku tanpa memedulikan apa yang sedang dilakukan gadis itu disana.
Isabel menyeret Chloe ke sebuah gang di sela bangunan-bangunan tinggi di pusat kota itu. Cukup sepi disana, adapun orang yang melintas juga tidak peduli dengan kedua gadis itu.
Tubuh kecil Isabel tidak menghalanginya untuk mendominasi keadaan. Dia membuat Chloe terhimpit antara tembok bangunan dan dirinya. Satu tangannya dia letakkan di sisi kepala Chloe, meskipun dia harus sedikit mendongak karena postur tubuh yang lebih pendek. Dan satu tangannya lagi dia gunakan untuk mencengkeram wajah Chloe, yang berhasil membuat Chloe takut.
"Kenapa undangan itu masih di sebar? Apa kau lupa dengan janjimu, hah?" desis Isabel dengan wajah penuh amarah.
"Maaf, Isabel. Aku belum punya kesempatan untuk bicara dengan mereka." Suara Chloe bergetar.
"Aku tidak mau tahu!" Isabel menghempas wajah Chloe lalu memukul keras dinding di samping kepala Chloe dengan telapak tangan yang membuat gadis itu memejamkan mata karena takut.
Chloe menahan tangisnya. Dia takut. Dia merasa bersalah. Karenanya dia tidak berani membalas Isabel dan lebih memilih menangis sambil pasrah atas apa yang akan dilakukan Isabel terhadapnya.
"Aku bisa lebih nekat dari ini." Isabel Menepuk pipi Chloe. "Jika kau tidak melakukan apa yang aku perintahkan, aku bisa dengan mudah menyakitimu. Dan kau tahu, aku tidak main-main dengan ucapanku."
"Dan aku juga tidak main-main dengan ucapanku, Nona." Suara bariton seorang pria masuk ke pendengaran Isabel yang membuat gadis itu memutar kepala ke arah sumber suara.
Dari arah kanan, tampak sosok Eric yang berjalan mendekat dengan kedua tangan yang masuk dalam saku mantelnya.
Hal pertama yang ada di otak Isabel saat melihat Eric adalah ingin mencakar wajah pria gila itu.
"Kebetulan kau disini," kata Isabel. Dia berjalan berlawanan arah dengan Eric, hingga akhirnya dia berhadapan dengan pria bermantel hitam itu.
Kedua manik mereka bertemu dan saling mengacungkan pedang tak kasat mata.
"Bukan kebetulan, tapi kau yang membawa pergi lawan bicaraku," kata Eric tanpa melepaskan tatapannya.
Sial, Isabel tidak melihat Eric di toko buku itu.
"Maksudmu dia?" Isabel menunjuk Chloe yang masih berdiri di tempatnya. "Aku akan memberinya pelajaran karena tidak menepati janji," lanjut Isabel.
Ucapan Isabel membuat Eric semakin geram. Eric melihat adiknya yang masih bersandar pada tembok sambil menangis. "Pulang, Chloe!" perintahnya.
"Tidak! Sampai aku memberinya pelajaran," cegah Isabel.
"Eric ...." Chloe ragu untuk melangkah.
"Now!" bentak Eric.
Masih dengan wajah yang basah, Chloe mengikuti perintah kakaknya.
"Stay here!" Isabel menahan lengan Chloe dengan kasar. Hal itu membuat Eric bereaksi dengan menghempas tangan Isabel dari lengan Chloe.
Eric mencengkeram tangan Isabel, lalu mengisyaratkan pada Chloe untuk pergi dengan tatapan matanya.
"Jangan menyakitinya, Eric." Chloe tampak memohon yang hanya dibalas dengan tatapan mata Eric.
Meskipun khawatir dengan Isabel, tapi Chloe pergi juga karena tidak ingin membuat Eric semakin murka. Isabel meronta, namun tenaga Eric terlalu kuat untuknya.
"Aku sudah pernah memperingatkanmu untuk berhenti." Mata Eric beralih pada Isabel.
"Dan aku tidak pernah menyetujuinya," balas Isabel.
Eric menarik tangan Isabel hingga tubuh gadis itu membentur dada bidangnya. "Kurasa pria gila ini perlu menjelaskannya sekali lagi," desis Eric.
"Apa yang kau lakukan?" Isabel kembali terseok-seok saat Eric menyeretnya.
Eric membawa Isabel ke arah Willow Spring. Tanpa memedulikan tatapan dari orang-orang yang melihat, Eric terus melangkah masuk ke dalam cafe berlantai empat itu.
Entah sudah berapa banyak umpatan dan makian yang keluar dari mulut Isabel. Eric sama sekali tidak berkeinginan untuk meladeni. Eric tetap tidak melepaskannya.
Di lantai satu para pengunjung dan pegawai yang melihat adegan mereka hanya bisa saling pandang dan bisik-bisik. Isabel mengira Eric akan membawanya ke ruang kerjanya. Tapi tidak, Eric membawa Isabel naik ke lantai dua.
Di lantai dua ini terdapat beberapa ruangan dengan dinding kaca gelap setinggi dada orang dewasa yang tersambung dengan dinding kaca dua arah di bagian atasnya. Ruangan-ruangan itu sepertinya sering menjadi tempat meeting atau mungkin tempat bagi para pengunjung yang menginginkan privasi.
Tapi bukan lantai dua yang menjadi tujuan Eric. Dia masih menaiki anak tangga lagi yang membawa mereka ke lantai tiga.
Mata Isabel di buat kagum dengan design ruangan di lantai tiga itu. Dengan dinding yang hampir seluruhnya dari kaca, tanaman hidup yang ada di beberapa titik ruangan, dan furniture yang sebagian besar terbuat dari kayu membuat lantai tiga ini seperti alam terbuka. Ditambah lagi dengan ornamen bunga-bunga dan lukisan alam yang menempel di dinding. Membuat Isabel sejenak melupakan alasan dirinya berada disana.
Sekali lagi langkah Eric tidak berhenti disana. Hingga langkah Eric berhenti di lantai empat.
Disini terlihat sepi, tidak seperti tiga lantai dibawahnya yang cukup banyak pengunjung. Tidak ada furniture atau ruang selain sebuah lorong yang berujung dengan sebuah pintu coklat tua. Dinding kaca di sebelah kiri membuat Isabel bisa melihat pemandangan di luar cafe dengan jelas. Dan ke sanalah Eric membawa Isabel, ruangan dengan pintu coklat tua.
Eric membuka pintu satu-satunya yang ada disana. Eh, Eric tidak terlihat memutar anak kunci atau menekan passcode, tapi pintu itu langsung terbuka. Apa memang ruangan itu tidak dikunci?
Eric menarik Isabel masuk ke dalam. Sungguh mengejutkan. Itu bukan sekedar ruangan. Isabel seperti memasuki sebuah apartemen.
Bagaimana tidak, ruangan disana sangat luas. Pertama yang Isabel lihat adalah ruang tamu yang hanya terdiri dari satu set sofa bundar berwarna abu-abu yang cukup besar dengan sebuah televisi besar yang menempel di dinding serta sebuah meja di sudut ruangan dengan satu pot tanaman di sampingnya. Selebihnya kosong. Di bagian belakang ada pantry lengkap dengan mini bar dan beberapa perabot pendukung kelengkapan urusan dapur lainnya. Entahlah, hanya itu yang Isabel lihat.
Sebenarnya masih ada satu ruangan lagi. Tapi Isabel tidak tahu bagaimana isinya. Pintunya tertutup. Isabel yakin itu adalah kamar tidur.
Hingga akhirnya Eric melepaskan tangan Isabel dengan mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh di sofa ruang tamu.
"Mau apa kau bawa aku kesini?" Isabel meringis memegangi tangannya yang merah karena Eric mencengkeramnya terlalu kuat.
"Kau pikir apa? Kau akan berada disini sampai adikku menikah," jawab Eric dibarengi sebuah seringai di bibirnya.
***
tbc.
Apa yang akan terjadi selanjutnya ?
Bisakah Isabel kabur dari Eric ?
Tunggu dan baca part selanjutnya !
See you, love !