
Eric tidak menyangka akan melihat sisi rapuh Isabel. Gadis yang biasanya tampak berani, berapi-api dan galak, sekarang terlihat seperti macan yang kehilangan taringnya. Yang Eric lihat saat ini hanyalah seorang gadis yang terluka dan sangat rapuh.
Eric duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan menyangga tubuhnya sambil terus memandang Isabel yang selama dua jam ini masih memeluk lutut di lantai sambil menangis. Meskipun suara isakannya sudah tidak lagi terdengar, tapi Eric masih bisa melihat air mata meleleh dari manik biru dengan pandangan kosong itu.
"Mau sampai kapan dia seperti itu?" batin Eric.
Jujur Eric bingung harus bagaimana. Lebih baik menghadapi Isabel yang menantang dan memaki dirinya daripada Isabel yang hanya duduk memeluk lutut dengan tatapan kosong dan mata bengkak yang terus meneteskan air mata.
Eric berjalan mendekati Isabel. Dia berdiri di hadapan gadis itu dengan kedua tangan masuk dalam saku celana pendeknya. Mulutnya beberapa kali terbuka dan menutup, bingung harus mulai bicara dari mana.
"Bangunlah, kau akan sakit jika duduk disitu terus," kata Eric tulus. Pria itu tidak menyangka Isabel akan jadi seperti ini setelah tahu permasalahan sebenarnya. Dia pikir Isabel sudah tahu kalau Chloe hamil, ternyata tidak. Rasa bersalah muncul dalam benak pria bermanik kelabu itu.
Isabel hanya diam. Entah apa dia mendengar ucapan Eric atau tidak. Dalam otaknya hanya ada pertanyaan apakah Aiden-nya benar-benar melakukan itu pada Chloe. Aiden yang selama dua tahun ini menjaganya dengan baik. Aiden yang selalu mencintainya dengan tulus. Aiden yang menerima dia apa adanya.
Tidak juga mendapat respons dari Isabel, Eric menghela napas pelan. Andai saja yang di hadapannya ini Chloe, dia pasti akan segera memeluk dan menenangkannya.
Tapi, mengingat bagaimana hubungan diantara mereka sebelumnya, Eric lebih memilih untuk menjaga jarak. Dia tahu Isabel sangat membencinya.
"Hey, bangunlah," bujuk Eric lagi. Namun hanya suara detak jarum jam yang menjawab.
Akhirnya Eric memberanikan diri untuk menyentuh bahu Isabel sambil berusaha membujuknya lagi. " Ayo bangunlah."
Bukannya menuruti kata-kata Eric, Isabel justru menepis kasar tangan kokoh itu dari bahunya.
"Jangan sentuh aku!" ketusnya.
"Okay." Eric mengangkat kedua tangannya sebentar seperti orang menyerah, bingung harus berkata apa lagi. Satu tangannya di pinggang dan satunya lagi mengurut pangkal hidung. Gadis ini membuat Eric pusing dengan sikapnya.
Jika tidak dalam keadaan seperti ini, pasti sudah terjadi perdebatan dan pertengkaran sengit antara keduanya.
Kini kedua tangan Eric berada di pinggang, sambil melihat kondisi Isabel yang terlihat berantakan dan menyedihkan. Lalu, dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam 9 malam, lantas mau sampai kapan gadis itu meratapi nasib disana?
Tanpa berkata apapun, Eric melangkah keluar kamar. Dia membiarkan pintu terbuka untuk memudahkannya mengawasi Isabel, kalau-kalau gadis itu nekat menyakiti dirinya sendiri.
Eric mengambil beberapa camilan dan minuman dari dapur lalu membawanya ke ruang tamu. Eric melipat selimut yang biasa di pakai Isabel dan merapikan beberapa buku serta camilan yang ada di meja.
Tangannya meraih remote yang tergeletak di lantai lalu menekan tombol berwarna merah untuk menyalakan tv. Perlahan dia merebahkan tubuhnya di sofa sambil memakan potato chips.
"Eric pasti berbohong. Aidenku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aidenku sangat mencintaiku. Dia selalu menjagaku. Tidak mungkin dia melakukannya pada Chloe. Itu ... itu pasti bukan anak Aiden. Bukan... itu bukan anak Aiden. Itu pasti anak orang lain. Aku yakin itu anak orang lain. Aiden hanya akan memiliki anak denganku. Dia sangat mencintaiku. Dia tidak akan mengkhianatiku. Ini semua bohong! Mereka membohongiku. Aiden tidak akan meninggalkanku. Aiden akan selalu ada untukku. Karena dia sangat mencintaiku. Dia mencintaiku ...."
Hati Isabel terus menjerit sakit, namun tidak ada satu katapun yang lolos dari bibirnya meskipun hanya sebagai isakan. Suara hatinya yang menjerit hanya mampu menggaung dalam otak, menyisakan tatapan hampa dari dua manik indahnya.
Dingin. Hatinya terasa sangat dingin mengalahkan rasa dingin dari lantai yang merayap ke tubuhnya. Rasa dingin itu perlahan mengikis oksigen yang masuk dalam otak. Menyisakan rasa sakit dan lelah hingga kesadarannya direnggut oleh alam bawah sadar.
Suara benda jatuh membuat Eric berjingkat. Kepalanya terasa sedikit pusing karena tarikan paksa dari alam bawah sadarnya.
"Jam 2," gumam Eric saat melirik arlojinya. Ternyata dia tertidur cukup lama. Dengan mata yang masih berat untuk terbuka, dia menggertakkan kepalanya ke kanan dan kiri lalu meluruskan tulang belakang dengan tangan yang menjulur keatas untuk meregangkan otot yang pegal karena tidur di sofa.
Kedua matanya terbuka lebar saat mengingat di kamarnya ada seorang gadis yang sedang duduk dilantai sambil menangis. Dengan langkah hati-hati Eric berjalan ke kamar. Saat sampai di depan pintu, Eric berhenti. Antisipasi jikalau Isabel masih ingin sendirian. Kepalanya terjulur ke dalam, melihat kondisi Isabel.
Tiba-tiba rasa iba itu muncul saat melihat gadis di kamarnya yang sedang duduk berselonjor dengan tangan terkulai di samping tubuhnya. Kepalanya bersandar pada dinding dengan kedua mata yang terpejam. Rambutnya yang terurai terlihat berantakan, hingga sebagian menutupi wajahnya. Mata bengkak, hidung merah dan jejak air mata yang mengering menandakan waktu yang digunakannya untuk meluapkan kesedihan cukup lama.
Eric masuk dengan langkah sangat pelan hingga tidak membuat bunyi apapun saat kakinya beradu dengan lantai. Dia mendekat pada Isabel, lalu berjongkok di samping gadis itu.
Dipandanginya wajah sayu yang tampak sangat sedih -bukan sedih tapi sakit- itu. Napasnya berat dan teratur. Tanpa sadar Eric menggerakkan tangannya, menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah Isabel.
"Kasihan sekali," batinnya.
Rasa sesal Eric kian menjadi setelah melihat kondisi Isabel yang seperti itu. Benar apa kata Chloe. Gadis ini terlalu mencintai Aiden hingga saat harus kehilangan, dunianya seolah ikut hancur bersama hatinya.
Pantas saja Chloe tidak pernah membenci gadis ini meskipun sudah menyakiti dan mengancamnya. Karena pada kenyataannya, justru gadis inilah yang paling tersakiti.
Tidak tega rasanya membiarkan gadis malang itu tertidur di lantai. Eric mengangkat tubuh Isabel dan membaringkannya diatas ranjang. Gadis itu bahkan tidak menggeliat sedikitpun saat Eric memindahkan tubuhnya.
"Tidurlah dengan nyenyak agar besok kau punya tenaga untuk meluapkan kesedihanmu lagi," kata Eric saat menarik selimut untuk menutupi tubuh Isabel yang terasa dingin saat kulit mereka bersentuhan.
Eric berharap gadis itu meluapkan semua kesedihannya hingga tidak bersisa, agar dia bisa segera melanjutkan hidup dengan bahagia.
Jari Eric menyingkirkan anak rambut yang berada di dahi gadis itu. "Kau bisa mendapatkan pria lain yang tulus mencintaimu selain Aiden."
Kedua mata Eric masih memerhatikan gadis yang terlelap dibalik selimut itu hingga beberapa saat. Mungkin setelah ini Eric akan melepaskan Isabel. Disaat seperti ini, dia pasti sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang yang menyayanginya. Sama seperti Chloe yang membutuhkan dukungannya saat mimpi-mimpinya hancur karena Aiden. Apalagi keluarga Isabel saat ini sedang sibuk mencari keberadaan gadis itu.
Masalah pernikahan, tidak akan ada yang berubah. Semua harus berjalan sesuai rencana. Karena, walau bagaimanapun Aiden harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Anak Chloe lebih membutuhkan ayahnya daripada seorang gadis yang patah hati. Hanya saja, Eric tidak akan terlalu keras lagi pada gadis itu.
Eric kembali ke ruang tamu dan merebahkan lagi tubuhnya di sofa. Dia meletakkan kepalanya diatas bantal lalu menarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya. Gadis itu sudah bisa tidur dengan posisi yang nyaman, jadi paling tidak dia tidak merasa khawatir lagi.
Eh, khawatir?
Mungkin hanya rasa kasihan.
Perlahan kedua mata Eric pun terpejam. Deru napasnya mulai teratur dengan dengkuran halus, terlelap dalam mimpi indahnya.
***
tbc.
See you next part, love !