
Rasa nyeri akibat benturan di kepala membuat Isabel membuka matanya lebar-lebar. Dia meringis mengusap dahinya yang terbentur body mobil.
"Eric!"
Seakan ditarik paksa ke dalam badai meteor. Isabel merasakan tubuhnya berguncang hebat.
"Berpegangan putri tidur!" Perintah Eric dengan wajah yang menampilkan senyum paling menyebalkan yang pernah Isabel lihat.
Isabel segera melakukan perintah Eric meski mulutnya tak berhenti menyumpahi pria yang tampak tersenyum puas disampingnya itu.
Kedua mata Isabel membulat saat tahu dimana mereka saat ini.
"Sungai?!" Isabel melihat di depan ada sungai yang cukup lebar. Dilihat dari laju mobil Eric, pria itu tidak bermaksud untuk berhenti. Justru dia akan menyeberangi sungai itu.
"Oh, shit! Eric! Stop, Eric!" Isabel menjerit-jerit ketakutan saat ban mobil itu sudah menyentuh bibir sungai.
"It's gonna be fun." Eric menyeringai. Sementara Isabel merapatkan kelopak mata lekat-lekat merasakan guncangan keras disertai suara air yang tersibak sambil merapalkan mantra penenang.
"Buka matamu. Kau tidak akan menyesal." Ucap Eric.
"Kau gila, Eric ! Bagaimana kalau kita terseret arus? Aku masih ingin hidup. Eric!" Isabel masih merapatkan kelopak matanya. Dia merasa benar-benar takut.
"Ayolah! Ini sangat menyenangkan. Buka matamu." Bujuk Eric lagi.
Guncangan yang dirasakan Isabel berhenti. Tapi tidak dengan suara riak air yang gemericik.
Kenapa berhenti? Apa sudah sampai di seberang? Gadis itu mencoba membuka matanya sedikit.
Kedua mata Isabel langsung melebar saat mengetahui dimana mobil itu berhenti. Di tengah sungai.
"Eric! Apa yang kau lakukan?! Aku tidak mau mati konyol disini. Bersamamu pula!" Dengan segala upaya Isabel bergerak gelisah mencari pegangan, menatap horor arus air dibawahnya.
"Tenang. Kau tidak akan mati disini. Lihatlah!" Eric menunjuk arah kanan Isabel.
Isabel memutar kepalanya ke arah yang ditunjuk Eric. Wajah ketakutannya berubah seketika saat melihat objek yang ditunjuk Eric. Sebuah jembatan yang dipenuhi tanaman merambat berwarna hijau dengan bunga warna warni yang bermekaran.
Sudut bibir Isabel tertarik keatas membentuk sebuah senyuman. Dia takjub melihat pemandangan itu. Sangat indah.
"Harusnya kita lewat jembatan itu." Kata Eric. Isabel melempar pandangan tajam pada pria itu. "Lantas kenapa kita lewat sini?"
Eric menarik bibir kebawah sambil mengedikkan bahu. "Lebih menantang." Jawabnya dengan santai.
Mulut Isabel menganga mendengar jawaban itu. Sungguh saat ini dia ingin mencekik Eric dan menggantungnya dibawah jembatan.
"Ayolah, kau tidak akan bisa melihat keindahan itu dari atas jembatan. Lagipula lewat bawah lebih menyenangkan." Eric tersenyum miring.
Jawaban Eric mengingatkan Isabel pada tempat dimana dirinya berada saat ini. "Kau benar-benar gila, Eric! Sekarang cepat jalankan mobilnya, karena aku tidak ingin terseret arus disini." Desak Isabel.
"Arus seperti ini tidak akan bisa menyeret mobil. Jangan berlebihan." Eric masih berkilah. Berbeda dengan Isabel, pria itu sangat menikmati tantangannya. Menikmati bagaimana adrenalinnya terpacu dengan hebat.
Isabel mendelik kesal. "Cepat jalan atau aku akan mencekikmu!"
Eric mengalah. Perlahan dia melajukan mobilnya menyeberangi sungai. Guncangan keras kembali mereka rasakan. Kali ini Isabel tidak menutup mata. Dia melihat bagaimana cara Eric mengendalikan mobil dengan tenang. Seolah ini hal biasa untuknya.
"Berpegangan, Nona manja!" kata Eric saat Isabel lagi-lagi terantuk body mobil. Isabel mendelik malas.
Mobil sudah berhasil menyeberangi sungai. Kini mobil itu melaju di jalan setapak keluar dari bibir sungai. Rute selanjutnya bukanlah jalan raya, tapi Eric melajukan mobilnya masuk ke dalam hutan. Ya benar, hutan.
"Jangan bercanda, Eric!" Nada bicara Isabel terdengar was-was saat mobil yang mereka tumpangi terus mendekat ke area hutan.
Eric tersenyum miring. "Welcome to the jungle, sleeping beauty."
Gigi Isabel bergemelutuk melihat senyum menyebalkan Eric. Tidak bisa dibiarkan. Eric tidak bisa menyiksanya seperti ini. Dengan gerakan cepat, Isabel memukul lengan Eric. "Stop, Eric!"
Dan saat itu juga Eric menginjak pedal rem hingga membuat mobil itu berhenti. Eric memutar tubuhnya menghadap Isabel. Dia diam menunggu reaksi gadis itu.
"Kenapa harus lewat hutan?!" Pertanyaan itu sangat menuntut. Isabel belum pernah masuk hutan sebelumnya. Karena terlalu sering membaca buku-buku urban legend, dia mempunyai ketakutan tersendiri saat harus masuk ke dalam hutan secara langsung.
Eric menatap lekat gadis itu. Sedetik kemudian dia tersenyum smirk. Melihat senyum itu, perasaan Isabel sungguh tidak karuan. Gadis itu ingin berteriak marah. Sungguh, tingkat menyebalkan Eric sudah mencapai level dewa.
"Mau turun?" Goda Eric kemudian tanpa menghilangkan senyumnya yang sama sekali tidak menarik untuk Isabel.
Gadis itu menelan ludah. Melihat ke kanan dan kiri. Ternyata mereka sudah lumayan jauh masuk dalam hutan. Jalan setapak yang tadi dilewati pun sudah tidak terlihat. Lalu dia kembali mengarahkan matanya pada Eric yang menaikkan alis menunggu jawaban.
Setelah berpikir dan menarik nafas berat, Isabel menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia tidak ingin ditinggalkan sendiri di hutan belantara ini.
"Good. Berpeganganlah yang kuat agar kau tidak terlempar keluar dari mobil." Eric tersenyum menang. Dia membenarkan posisi duduknya dibalik kemudi lalu mulai menginjak pedal gas lagi.
Berkali-kali Isabel menahan nafas saat jalur yang dilewati adalah jalanan terjal yang sempit. Suara raungan mobil itu menggema diseluruh hutan. Tak jarang ban mobil hampir selip saat melaju di medan yang basah.
Sebenarnya hutan ini tidak begitu menyeramkan. Sangat jauh dengan yang dipikirkan Isabel tadi. Tidak gelap juga, karena sinar matahari masih bisa menembus dedaunan dari pohon-pohon tinggi yang usianya mungkin sudah ratusan tahun.
Beberapa hewan liar juga tampak berlarian saat mendengar deru mobil yang mereka tumpangi. Seperti rusa, b*bi hutan, monyet, kelinci pun ada.
Tidak hanya hewan liar, bunga-bunga liar yang tumbuh menyebar di area hutan ini juga tampak begitu indah. Sungguh, ini tidak terlihat seperti hutan dalam film horor, tapi ini seperti hutan bangsa elf. Sangat indah.
Hanya saja yang membuat jantung Isabel berpacu tak beraturan adalah cara Eric menikmati keindahan itu. Mana ada menikmati keindahan alam dengan mengendarai jeep di tengah hutan seperti ini ? Biarpun Eric bilang jeep itu sudah dia modifikasi untuk medan offroad, tetap saja bagi Isabel semua ini jauh lebih menakutkan dari menyeberangi sungai tadi.
"Kau menikmatinya?" Tanya Eric tanpa mengalihkan fokus dari medan terjal ke sekian yang mereka lewati. Jangan sampai pria itu lengah. Sedikit saja gagal fokus, mobil mereka bisa terbalik.
"Yang ada kau membuatku sakit jantung!" Ketus Isabel sebelum kembali berteriak karena guncangan yang dirasa hampir membuat mobil itu terguling.
Isabel membulatkan mata. Dia sudah seperti berkali-kali terkena serangan jantung dan Eric bilang itu belum seberapa? Oh God! Kurang menakutkan bagaimana lagi coba?!
Belum sempat Isabel mempersiapkan jantungnya, mereka sudah sampai di medan yang dimaksud Eric.
"No.....no...no...Eric! Stop, Eric, stop!" Isabel berteriak histeris saat mobil mereka menukik di tikungan tajam, jalannya sempit naik turun dimana di sisi kanannya adalah jurang yang sangat dalam.
"Please, Eric, stop! I'm scared! Eric, I'm scared!" Isabel tidak bisa mengendalikan ketakutannya lagi. Dia memejamkan mata, menutup wajahnya dengan telapak tangan sangat ketakutan.
Bagaimana tidak, saat dia menoleh ke kanan, dia tidak melihat tanah dibawahnya. Yang dia lihat adalah jurang yang entah berapa puluh meter dalamnya. Membuat desiran nyeri di dadanya sangat menyakitkan. Sementara di sisi kirinya adalah tebing tinggi yang sewaktu-waktu bisa longsor.
"Hey, open your eyes!" Eric menyentuh bahu Isabel. Sedikit menarik tangan gadis itu agar dia membuka matanya.
"Tidak, Eric! Aku takut." Isabel menepis tangan Eric dan menolak untuk membuka mata.
"Mobilnya sudah berhenti. Sekarang buka matamu." Eric mencoba menenangkan gadis itu. Jujur dia merasa bersalah. Dia tidak mengira kalau Isabel akan setakut itu.
Perlahan Isabel menurunkan tangannya. Mencoba membuka mata sedikit, memastikan jika Eric tidak membohonginya.
Benar, mobil itu sudah berhenti. Isabel memalingkan wajah pada Eric. Sungguh, wajahnya saat ini sangat pucat. Tangannya sedingin es dan tubuhnya gemetar hebat.
"Hei, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu ta.....kut." Eric terkejut saat tiba-tiba Isabel memeluknya sangat erat. Gadis itu menangis. Eric mengusap punggung gadis itu menenangkan.
"Sumpah demi Tuhan aku ingin membunuhmu, Eric." Isabel mendesis dalam pelukan Eric. Suaranya bergetar, tidak dapat menyembunyikan betapa takut dirinya.
Eric terkekeh mendengar desisan Isabel. Meskipun sedang ketakutan, gadis itu masih sempat berpikir untuk membunuhnya.
"Kau memelukku, bukannya membunuhku." Celetuk Eric.
Isabel menjauhkan tubuhnya lalu memukul dada Eric berkali-kali. "Aku membencimu, Eric ! Aku sangat membencimu!"
Eric menangkap tangan Isabel yang terus mencoba untuk memukulnya. "Lihatlah ke belakang." Kata Eric disela makian dan umpatan yang keluar dari mulut Isabel.
Jeritan Isabel berhenti, dia menatap bingung pada Eric lantas mengikuti ucapan pria itu untuk melihat ke belakang.
Wow!
Kesan pertama yang dilihat Isabel adalah, AMAZING!!!
Mereka berada diatas gunung, tapi pemandangan di depan mereka seperti lautan yang sangat luas. Lautan awan yang menutupi hampir seluruh kaki gunung, menyatu dengan birunya langit.
Isabel turun dari mobil, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tangannya menutup mulut yang menganga kagum dengan ciptaan Tuhan yang sedang dia nikmati keindahannya.
"This is amazing! Indah sekali!" Isabel sampai melompat-lompat kecil saking takjubnya.
Hell ! Dimana gadis yang tadi gemetar berwajah pucat dengan tangan sedingin es? Dimana gadis yang tadi ingin membunuh seseorang?
"Masih ingin membunuhku?" Sindir Eric sarkas.
Isabel menoleh, menunjukkan wajah cemberut. "Tentu saja." Setelah mengatakan itu, dia kembali mengagumi keindahan alam disana.
Setelah cukup lama beristirahat, menghabiskan bekal makanan dan sepertinya Isabel sudah pulih dari ketakutannya, Eric segera beranjak.
"Kita harus melanjutkan perjalanan." Ujar Eric.
"Sebentar lagi." Isabel masih ingin melihat matahari tenggelam disana. Pasti sangat indah. Langit temaram, matahari berwarna jingga yang perlahan tenggelam dalam lautan awan. Uh,,,,pasti sangat cantik.
"Kau mau menginap di tengah hutan?" Isabel langsung menatap nyalang pada Eric. Tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah. Dia baru ingat kalau saat ini mereka berada di atas gunung. Dan mereka harus melintasi hutan lagi untuk sampai ke peradaban manusia.
Isabel bangkit dari duduknya. Dia mendekat pada Eric yang sudah bersiap membuka pintu mobil.
"Apa jalan yang akan kita lewati sama seperti tadi?" Tanya Isabel takut-takut.
Pertanyaan itu dijawab dengan senyum khas Eric. Senyum menyebalkan ! Tanpa bersuara lagi Eric segera naik ke mobil. Meninggalkan Isabel yang berdiri mematung dengan ekspresi kesal dan takut yang bercampur menjadi satu.
Mau tidak mau Isabel segera mengikuti Eric naik ke mobil kalau tidak ingin ditinggal sendirian disana.
Isabel bisa bernafas dengan lega sekarang. Ternyata jalur yang dilewati tidak securam sebelumnya. Memang di sisi jalan masih ada tebing yang sangat dalam. Tapi kondisi jalan yang cukup lebar membuat jalan itu tidak semenakutkan jalur sebelumnya.
Hanya butuh waktu 30 menit lagi bagi mereka untuk sampai di pemukiman warga.
Perjalanan yang normalnya bisa ditempuh dalam waktu 7 jam, kali ini memakan waktu hampir seharian.
Pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan oleh Isabel. Petualangan yang akan selalu membekas dalam benak gadis itu.
*
*
*
*
*
tbc.
Bagaimana part ini? apa sudah cukup menegangkan petualangannya?
See you next part, Love.