
Aku memasukkan gitarku ke dalam kotak. Aku menengadah menatap langit yang sedikit mendung. Aku tersenyum saat Naomi menghampiriku dengan membawa sebuah kotak berwarna coklat polos ditangannya.
"Mom, memberikan ini untukmu," kata Naomi sambil mengulurkan kotak itu padaku.
Aku menegakkan tubuh lalu menerima kotak dari Naomi. Saat kubuka ternyata isinya adalah cupcake.
"Aku membeli terlalu banyak. Kau harus mencobanya. Aku yakin kau akan menyukai rasanya." Sally, ibunya Naomi berjalan mendekat padaku.
"Apa kabar, Sally?" Aku pun berjalan mendekat dan mencium pipinya.
"Kami merindukanmu, Eric," balas Sally. "Bagaimana urusanmu? Apa sudah selesai?" lanjut Sally.
"90%. Aku membutuhkan beberapa detail lagi."
"Semoga secepatnya selesai." Sally menepuk bahuku. "Ayo, Naomi. Saatnya pulang." Sally mengulurkan tangannya pada Naomi.
"Boleh aku pulang bersama Eric? Aku masih merindukannya," rengek Naomi pada ibunya.
"Tidak, Naomi! Anak gadis tidak boleh pulang bersama laki-laki," tegas Sally. Aku tertawa mendengarnya. Sally benar-benar protektif terhadap Naomi. Sejak dini dia sudah mengajarkan pada Naomi untuk selalu menjaga kehormatannya. Pengalaman hidup Sally yang keras membuatnya sebisa mungkin mengajarkan putrinya untuk menjadi gadis yang tangguh.
"Jangan menertawakanku, Eric! Kalau kau mempunyai anak perempuan, kau akan tahu bagaimana menjadi diriku," hardik Sally sambil melirik padaku.
Tawaku langsung berhenti. Anak? Andai anakku masih hidup. Sampai sekarang aku bahkan tidak pernah tahu anakku laki-laki atau perempuan.
"Maafkan aku, Eric." Sally menyentuh lenganku sambil menatapku menyesal. Aku tersenyum kecil padanya.
"Tidak apa, Sally. Aku mengerti," kataku. Lalu aku berjongkok di depan Naomi. "Kau harus pulang bersama ibumu, Little Angel. Aku janji minggu depan aku akan kesini lagi." Aku mencubit pipi bulat gadis kecil itu.
"Janji?" Naomi mengacungkan kelingking kecilnya. Aku menautkan jari kelingkingku pada kelingking kecilnya. "Aku janji," kataku.
Setelah itu Naomi bersedia pulang dengan Sally. Aku memperhatikan dua orang ibu dan anak itu dengan perasaan miris. Rasa bersalah dan kehilangan masih menganga dalam hatiku hingga sekarang.
Aku menghela nafas lalu menenteng kotak gitarku. Di tangan kiriku ada satu kotak kue dari Sally. Aku berjalan santai menuju mobil yang kuparkir di luar taman.
Saat aku masuk ke mobil, ponselku berdering. Panggilan masuk dari Chloe.
"Kau sudah kembali dan kau belum juga datang kemari? Kapan kau akan ke rumah? Anna terus menanyakanmu, Eric," kata Chloe saat aku menerima panggilannya.
"Sampaikan maafku pada Anna. Aku akan kesana besok pagi."
"Jangan menghilang lagi, Eric. Aku mengkhawtirkanmu."
Aku menghela nafas lelah sambil menggaruk alisku. Sejak hamil anak keduanya, Chloe jadi jauh lebih cerewet.
"Aku harus pergi. Katakan pada Anna, aku merindukannya. Sampai jumpa, Chloe." Aku harus segera mengakhiri panggilan ini. Hormon kehamilan membuat Chloe bisa mengoceh berjam-jam tanpa lelah. Aku heran, apa yang sebenarnya dilakukan Aiden pada adikku. Kehamilannya kali ini membuatku hampir tidak mengenal adikku sendiri.
Kuletakkan ponselku di kursi samping. Lalu aku mulai menyalakan mesin mobil. Tidak ada lagi yang ingin kukerjakan. Aku akan kembali ke apartemen dan menghabiskan waktu untuk membuat kolase yang sempat tertunda.
Dari Bill's Park ke apartemenku hanya berjarak 10 menit. Aku sengaja memilih apartemen sederhana ini untuk tinggal karena disini dekat dengan Bill's Park dan yayasan pendidikan untuk anak difabel.
Aku meletakkan gitarku di samping single bed. Lalu kuletakkan kotak kue dari Sally diatas nakas. Aku duduk diatas kasur untuk melepas sepatu yang membuat kakiku gerah.
Aku membawa sepatuku ke rak lalu aku ke dapur untuk mengambil segelas air dingin. Apartemen ini tidak begitu luas, tapi aku sangat nyaman tinggal disini. Sangat pas untuk ukuran orang yang tinggal sendirian sepertiku.
Aku berjalan kembali keatas ranjang sambil meminum air putih dari gelas. Pandanganku tertuju pada bingkai kolase dengan pola wajah yang sama sekali belum berbentuk. Masih banyak yang harus kulakukan dengan kolase itu.
Kuletakkan gelasku diatas nakas lalu kuambil kotak kue yang ada di sebelahnya. Aku membuka kotak itu. Ada 4 cupcake dengan varian rasa berbeda-beda.
Aku tersenyum melihat cupcake itu. Aku ingat dulu aku pernah mengajari seseorang untuk membuat cupcake, tapi dia tidak pernah berhasil jika membuatnya sendiri. Dan pada akhirnya dia akan memborong cupcake lalu memaksaku menghabiskannya untuk menghilangkan kekesalan.
Kuhela nafas berat. Aku merindukannya. Meski sudah sangat lama aku tidak mengetahui kabarnya, rasa yang ada di hatiku tidak pernah berubah. Cinta dan rindu yang ada dalam dadaku hanya untuknya. Kuangkat tanganku ke depan wajah. Di jariku masih melingkar cincin yang pernah menjadi bukti ikatan kami. Tanda putih yang melingkar di jariku, menjadi pertanda bahwa aku tidak pernah melepaskannya.
Kualihkan perhatianku pada cupcake di dalam kotak. Gadis kecilku, Naomi tidak bisa berhenti memuji rasa kue itu sepanjang hari. Aku jadi penasaran, apa memang rasanya seenak itu?
Diantara semua cupcake di kotak itu, aku memilih varian rasa lemon. Aku tidak begitu suka manis. Berbeda dengan dia yang sangat menggilai kue manis. Aku sering mengingatkannya kalau kue-kue itu tidak baik untuk kesehatannya, tapi dia selalu keras kepala. Ya, wanita keras kepala yang telah membawa pergi separuh jiwaku.
Aku merasakan dejavu pada gigitan pertama. Pelan aku mengunyah kue itu.
"Kau yakin tidak akan gagal lagi?"
"Oh, ayolah, Eric! Dukung aku, aku ingin membuatkanmu cupcake terlezat yang pernah kau makan seumur hidupmu."
"Sure, Sweetheart. Aku akan mengajarimu lagi."
Aku merasa kesulitan menelan cupcake di dalam mulutku. Dadaku terasa sesak sekali.
"Hei, Sweetheart. Kenapa kau menangis?"
"Kurasa aku tidak akan pernah bisa membuatkanmu cupcake terlezat. Aku tidak bisa, Eric. Aku sama sekali tidak bisa membuat kue. Lihatlah, kue yang kubuat selalu berakhir keras seperti ini."
"Berikan padaku! Ini adalah cupcake terlezat yang pernah kumakan seumur hidupku. Kurasa pembuatnya menambahkan getah karet sebagai penambah cita rasa. Tapi ini adalah cupcake paling lezat yang pernah kutemukan."
"Kau menyebalkan!"
"I love you more, Sweetheart."
Cukup. Aku tidak akan bisa memakan cupcake itu lagi. Terlalu banyak kenangan yang bisa membuatku hilang kendali.
Aku mengembalikan cupcake lemon itu dalam kotak lalu menyimpannya lagi diatas nakas. Lebih baik aku segera menyelesaikan kolaseku. Masih banyak hal tertunda yang harus kukerjakan supaya pikiranku teralihkan.
Aku berjalan ke jendela. Jangan berharap disini ada balkon. Ini hanya apartemen sederhana yang kebetulan bisa membuatku merasa tenang. Sedikit lebih baik dari flat, tapi aku sangat menyukainya.
Apartemenku terletak di lantai 7. Pemandangan disini cukup bagus. Dari jendela ini aku bisa melihat Bill's Park yang selalu ramai dengan anak-anak. Mengingatkanku pada safe house dimana aku bisa melihat anak-anak bermain di taman yang terletak di sebelahnya.
Jalanan disini juga bersih dengan tanaman hias yang terawat di sisi kanan dan kiri jalan. Aku suka melihat orang-orang berjalan kaki di bawah sana. Aku juga suka dengan orang-orang di sekitar sini. Keramahan tetap terjaga dengan baik di tempat ini.
Aku menajamkan penglihatanku saat aku menangkap siluet seseorang. Kuperhatikan baik-baik wanita yang berdiri di sebuah halte. Seorang wanita dengan blus coklat dan celana jins hitam. Rambut pirangnya tergerai menutupi sebagian wajah saat dia menunduk. Caranya memainkan tali tas, itu sama persis dengan ....
"Itu dia!"
Aku berlari keluar dari kamar. Aku menekan tombol lift berkali-kali, namun lift itu tak kunjung terbuka. Ini terlalu lama. Aku tidak bisa menunggu lagi. Kuputuskan untuk turun melalui tangga. Aku berlari secepat yang kubisa hingga berkali-kali aku menabrak orang yang berpapasan denganku.
Aku dengar mereka mengumpat padaku. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin cepat sampai di halte dan memastikan bahwa wanita itu benar-benar dia.
Nafasku mulai terengah. Berlari menuruni tangga dari lantai 7 bukanlah hal yang mudah. Apalagi sekarang aku tidak pernah berlatih lagi. Mungkin juga pengaruh usiaku yang semakin tua.
Aku membungkuk, tanganku bertumpu pada lutut. Aku mengatur nafasku yang terengah saat sampai di depan gedung apartemen. Waktuku tidak banyak. Aku menoleh ke kiri. Wanita itu masih berada disana. Dia tampak sibuk memainkan ponselnya. Aku harus cepat. Tidak peduli nafasku yang masih terengah, aku kembali berlari ke halte.
Itu dia, benar-benar dia. Langkahku melambat, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Setelah dua tahun aku hanya bisa merindukannya dan memandangi wajahnya di dalam layar dan di dalam foto, hari ini aku bisa melihatnya secara langsung.
Oh tidak! Wanita itu mengantre untuk naik ke dalam bus. Aku harus mengejarnya.
Suara klakson yang saling bersahutan terdengar memekakkan telinga saat aku menyeberang. Persetan dengan mereka! Aku sudah berlari dengan kecepatan maksimal yang kubisa. Tapi bus itu mulai melaju. Aku terus berlari mengejar. Kugedor-gedor badan bus supaya bus itu berhenti. Aku berteriak memanggil sopir bus, supaya dia menghentikan laju bus yang dia kendarai.
Sekitar 20 meter dari halte, bus itu berhenti. Aku berhasil. Aku berlari ke pintu. Sopir bus membuka pintunya untukku. Aku bergegas naik ke dalam bus lalu kuperhatikan satu persatu penumpang yang ada. Aku berjalan dari bagian depan bus hingga ke belakang. Kedua mataku terus memindai setiap wajah yang kulihat.
Dimana dia? Aku yakin dia naik bus ini. Kenapa aku tidak bisa menemukannya? Tidak ada satupun dari wajah itu yang kukenal. Aku bertanya pada beberapa penumpang tentang wanita berambut pirang yang memakai blus coklat. Tapi mereka menggeleng. Tidak ada yang melihat wanita itu masuk ke dalam bus.
Ya Tuhan! Aku yakin itu dia. Aku yakin aku melihatnya. Aku tidak percaya ini. Aku yakin itu dia, kenapa dia tidak ada disini? Aku sangat merindukannya, Tuhan. Biarkan aku bertemu dengannya. Biarkan aku meminta maaf padanya.
*
*
*
*
*
tbc.
See you next part, Love.