
~Isabel~
"Apa masih sakit ?" Tanya Eric.
Dia berdiri dibelakangku, membantuku mengeringkan rambut. Caranya memperlakukanku, semakin membuatku jatuh cinta padanya.
Aku menggeleng. Sedikit nyeri, tapi tidak seberapa. Dari pantulan bayangannya di cermin, aku melihat dia tersenyum. Lalu dia mencium kepalaku.
"Aku beruntung memilikimu, Bells." Bisiknya sambil membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajahku.
Aku memegang tangannya yang ada dibahuku. "Aku yang beruntung memilikimu." Aku memutar tubuhku ke belakang. Sekarang posisiku dan Eric saling berhadapan. Dia menekuk lutut, berdiri dengan lututnya di hadapanku sambil menggenggam tanganku.
"Aku itu sangat buruk, Bells. Masa laluku ...." dia menunduk sambil tersenyum masam. "Kadang aku merasa tidak pantas memilikimu. Kau terlalu baik, bahkan aku merasa tidak pantas menjadi yang pertama untukmu."
Aku melihat matanya memancarkan kesedihan. Meski dia tidak pernah bercerita, aku bisa mengerti dengan masa lalunya. Apapun yang pernah dia lakukan, aku akan selalu berusaha menerimanya. Itu adalah masa lalunya, bagian dari hidupnya yang telah lewat. Aku tidak akan menghakiminya untuk sebuah masa lalu.
Aku menciumnya. Aku ingin mengatakan kalau aku tidak masalah dengan masa lalu yang menurutnya sangat buruk itu. Aku ingin dia tahu kalau aku bisa menerima dia apa adanya. Aku mencintainya tanpa syarat. Aku ingin dia merasakan cintaku melalui semua yang kulakukan untuknya.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan masa lalumu. Aku mencintaimu, Eric. Kekurangan, kelebihan, dan seluruh hidupmu." Aku menyisir rambutnya dengan jariku. Dia tersenyum lalu meraih satu tanganku yang bebas dan menciumnya.
"Terima kasih."
Eric menciumi tanganku berkali-kali hingga aku merasa kegelian.
"Hentikan, Eric !" Aku tertawa menahan geli.
Bukannya berhenti, Eric justru semakin menggelitikiku. Dia menggelitiki pinggangku sampai aku merasa ingin buang air kecil.
"Berhenti, Eric ! Kau bisa membuatku mengompol."
Dia tidak mempedulikanku. Dia terus saja tertawa dan menggelitikiku sampai aku rasanya ingin marah.
Tapi sebelum itu terjadi, Eric lebih dulu menangkap tubuhku. Dia memelukku erat seolah aku tidak akan kembali.
"Jangan pernah meninggalkanku, Bells. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu." Bisiknya diatas kepalaku. Aku mengangguk. Tanpa diminta pun aku akan melakukannya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Kataku tulus.
Kami berpelukan erat, saling merasakan degup jantung masing-masing. Aku merinding saat tiba-tiba Eric membisikkan sesuatu ke telingaku. Jantungku seperti mendapat pacuan dari defibrilator karenanya.
Apalagi saat Eric mengangkat tubuhku dan mendudukkanku diatas meja. Dia sangat memanjakanku, membuatku merasa utuh sebagai seorang wanita.
Aku suka caranya menyentuhku. Dia sangat tahu bagaimana cara membangkitkan monster dalam diriku. Karena tidak butuh waktu lama, kami telah hilang kendali. Kami membuat gaduh seisi ruangan. Tidak sedikit benda yang jatuh dan pecah karena tidak sengaja kami senggol. Kurasa Nick akan mengalami kerugian besar setelah ini.
Eric memberiku pengalaman baru lagi. Ah, kurasa dia benar-benar berpengalaman. Dia sangat tahu bagaimana cara memperlakukan wanita. Dia tahu semua titik sensitifku. Dan siang ini, Eric membuat waktu seolah berhenti. Ini adalah siang terpanjang dalam hidupku.
Saat aku mengerjapkan mataku, aku melihat langit sudah gelap. Aku tidak tahu berapa lama kami tertidur setelah pergulatan panas kami. Yang jelas, aku terbangun masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun di tubuhku. Hanya ada selimut yang membungkus tubuh kami.
Aku tersenyum melihat Eric yang masih terlelap sambil mendekapku. Wajahnya terlihat sangat damai. Tanganku pun rasanya gatal untuk tidak menyentuhnya.
Perlahan Eric membuka matanya. Sepertinya dia terganggu dengan sentuhanku di wajahnya.
"Kau sudah bangun ?" Tanyanya saat pertama membuka mata. Dan hanya kujawab dengan deheman.
Aku mendesis saat mencoba bangkit dari tidurku.
"Ada apa ?" Eric meraih bahuku dengan raut wajah khawatir.
Dia mengerutkan kening saat melihatku tertawa.
"Kau benar-benar mengerjaiku." Kataku sambil terkekeh.
Sekali lagi aku mencoba untuk bangkit dengan menahan sakit di sekujur tubuh akibat ulah Eric. Monster ini telah meremukkan tulang-tulangku.
"Aku minta maaf. Aku tidak menyangka kau bisa mengimbangiku seperti itu. Kau cepat belajar, Bells." Kata Eric yang diakhiri seringai jahil.
"Dan kita membuat Nick mengalami kerugian besar." Kataku sambil menunjuk beberapa barang yang berserakan di lantai.
Eric tertawa saat melihatku berjalan dengan aneh ke kamar mandi.
"Aku akan membantumu."
"Tidak !" Sergahku. Tubuhku masih dalam keadaan polos. Aku yakin dia tidak akan melepaskanku jika aku membiarkannya membantuku.
Eric mendesah kecewa. "Ayolah, biarkan aku membantumu ! Aku janji tidak akan menyiksamu lagi."
Dilarang pun percuma. Eric berjalan menghampiriku dengan tubuh polosnya dan langsung mengangkat tubuhku. Dia membawaku masuk ke dalam kamar mandi.
Dia menurunkanku ditepian jacuzzi. Sementara dia mengisi air dan menuang sabun beraroma anggur ke dalamnya.
Sambil menunggu air itu penuh, dia memijat bahuku. Dan sesekali dia menciuminya.
"Aku lelah, Eric." Keluhku saat dia tidak berhenti menciumi bahuku.
Eric tersenyum mendengar keluhanku. "Aku tahu." Katanya. Lalu dia mematikan kran karena air sudah penuh.
Dia tidak membiarkanku masuk ke dalam jacuzzi sendiri. Dia menggendongku lagi. Romantis sekali, bukan ?! Snow White telah bertemu dengan Prince Charming.
Ah, rasanya nyaman sekali. Berendam dalam air hangat setelah melakukan lari maraton 100 kilometer.
"Berbaliklah, aku akan membersihkan punggungmu."
Eric memutar tubuhku hingga membelakanginya. Dia mulai menggosok punggungku secara perlahan. Jujur saja, ini enak sekali.
"Eric !" Aku menepuk tangan Eric yang mulai bergerak nakal.
Aku hanya bisa menggeleng kepalaku. Aku baru tahu kalau Eric benar-benar pervert. Aku salut selama ini dia bisa menahan diri terhadapku. Padahal di dalam dirinya ada monster yang bisa meremukkan tubuhku seperti hari ini.
"Giliranku membersihkan punggungmu." Kataku sambil membalik tubuh.
Ah, sial ! Harusnya aku menyuruhnya membalik badan lebih dulu.
"Jaga pandanganmu, pervert !" Kataku sambil membalik paksa tubuh besarnya.
"Kau merusak kesenanganku." Meski menggerutu, dia menurut juga. Lalu aku mulai menggosok punggungnya.
Kami berendam selama hampir 30 menit. Ujung jariku sampai berkerut. Dan Eric menepati janjinya. Kami tidak melakukan apapun selain membersihkan diri.
Aku sempat kebingungan saat selesai mandi. Aku hanya mengenakan bathrobe, sementara di dalam lemari hanya ada lingerie.
"Nick bilang kalau pakaian ganti kita ada di lemari." Kata Eric.
Aku mengernyit. "Tidak ada apapun disana selain lingerie." Kataku. Aku sudah memeriksanya berkali-kali semalam. Dan aku yakin aku tidak melewatkan apapun.
Eric ikut memeriksa lagi lemari itu. Saat tidak menemukan apapun selain lingerie, Eric mengusap dagunya.
"Nick sialan !" Eric mengumpat sambil berkacak pinggang. "Dia sengaja melakukan ini. Membuat kita tidak memiliki pakaian untuk dipakai."
Aku melotot mendengarnya. Lantas kami harus bagaimana ? Lama-lama kami bisa sakit kalau hanya memakai bathrobe seperti ini.
"Aku akan memberi perhitungan pada bedebah itu."
Eric berjalan menuju nakas dan membuat panggilan dengan telepon hotel. Dia menelepon layanan kamar.
"Akan ada yang mengantar pakaian untuk kita." Kata Eric setelah selesai menelepon.
Tidak sampai 10 menit, seorang pegawai hotel datang mengantar sebuah kotak yang katanya titipan dari Nick.
Eric menerima kotak itu dan segera membawanya masuk. Dia membuka kotak itu diatas ranjang. Aku ikut duduk di sampingnya.
Ada sebuah gunting dan kertas di dalamnya.
Kertas itu berisi sebuah pesan yang sangat menggelikan. Jika Nick ada disini, aku pasti sudah memukul kepalanya.
Sebuah gunting untuk merusak pakaian. N*ked is the best choice.
"F*ck Nick !" Eric mengumpat lalu meremas kertas itu dan membuangnya sembarangan.
Lalu Eric mengambil sebuah dress lengkap dengan pakaian dalam untukku. Disana juga ada sepaket pakaian untuk Eric.
"Ini dari Nick ?" Aku heran, bagaimana dia bisa tahu ukuran pakaian dalamku ?
"Ya, ini dari keparat itu." Jawab Eric sambil mengeluarkan pakaiannya dari dalam kotak.
"Ini ukuranku. Bagaimana bisa dia tahu ?"
Ah, pasti Alice.
Eric mendengus pelan lalu tersenyum jahil. "Pakailah pakaianmu di kamar mandi ! Kita butuh lebih banyak energi untuk ...."
"Aku akan mengganti pakaianku." Aku sengaja memotong ucapannya karena aku sudah tahu apa yang akan dia bicarakan selanjutnya.
Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan memakai pakaianku. Dress ini pas sekali di tubuhku. Pilihan yang bagus.
Saat aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Eric sudah memakai kaos santai dan celana jins.
"Kau cantik sekali." Eric memujiku saat aku berjalan ke arahnya.
"Terima kasih, tapi pujian tidak bisa membuatku kenyang." Kataku sedikit manja sambil melingkarkan tanganku di pinggangnya.
Eric mencubit hidungku gemas. "Aku akan memesan makanan. Kau mau makan apa ?"
"Apapun. Aku sangat lapar."
Aku duduk di tepi ranjang. Sementara Eric memesan makanan melalui layanan kamar.
Tidak sampai satu jam makanan yang kami pesan sudah datang. Eric memesan makanan cukup banyak. Mumpung gratis. Dan kami memakannya dengan rakus.
Ternyata bukan hanya aku yang kelaparan. Aku tersenyum melihat Eric makan dengan sangat lahap. Dia seperti anak kecil yang bertemu makanan favoritnya.
Tiga hari yang diberikan Nick kami habiskan untuk bersenang-senang. Kami sama sekali tidak keluar dari kamar. Kami mengobrol, bercanda, menonton film, dan melakukan apapun yang kami sukai.
Kalau boleh, aku ingin hidup seperti ini terus. Hanya berdua dengan Eric tanpa dibuat pusing dengan urusan apapun. Tapi itu tidak mungkin, bukan ?! Kami tetap harus kembali ke dunia nyata. Dan kami harus melewati tiga tahun yang penuh syarat untuk membuktikan bahwa kami memang bisa menjadi partner hidup yang baik.
*
*
*
*
*
tbc.