
Pertama kali melangkah memasuki salah satu gedung pencakar langit ternama dengan status baru tidak membuat nyali Isabel menciut. Dengan setelan blouse biru muda dan rok pensil dibawah lutut berwarna khaki yang mempunyai belahan hingga setengah paha, langkah Isabel tampak sangat mantap menuju lantai 15 dimana dirinya akan bekerja sebagai staf Divisi keuangan.
Handbag Channel berwarna krem menggantung indah di lengannya. Berjalan dengan langkah tegap yang anggun dan dagu terangkat tapi tetap menebar senyum menawan pada setiap orang yang dia jumpai, menjadi salah satu daya tarik tersendiri dimata mereka yang bekerja disana.
Tentu saja mereka mengenal siapa gadis cantik berambut pirang yang sedang menunggu pintu lift terbuka bersama beberapa pegawai lain itu. Tapi tidak ada seorangpun yang memperlakukannya istimewa, karena mereka sudah mendapat ultimatum dari CEO mereka untuk bersikap biasa dan memperlakukan pegawai baru di Divisi Keuangan--yang adalah adiknya sendiri--itu layaknya pegawai lain pada umumnya. Sanksi bila melanggar tidak berat, hanya perlu membereskan barang-barang dan silahkan menghadap HRD sambil menyerahkan surat pengunduran diri. Mudah bukan ?!
Ya, ini adalah hari pertama Isabel bekerja magang di perusahaan yang dipimpin sang kakak Mike Bennings.
"Isabel Bennings ?" Suara seorang wanita menginterupsi langkah kaki Isabel saat dia memasuki lorong yang akan membawanya menuju ruangan dimana para staf Divisi Keuangan sedang bekerja.
Isabel menoleh, "Ya." Jawabnya mantap.
Wanita itu menghampiri Isabel sambil tersenyum ramah. "Hai, aku Cayla." Wanita yang berusia sekitar 27 tahun itu berjalan menyejajarkan langkah dengan Isabel sambil memperkenalkan diri.
"Hai, Cayla." Balas Isabel ramah.
"Well, sebenarnya aku yang akan membimbingmu. Mr. Bennings menunjukku sebagai mentormu." Terang Cayla.
"Kalau begitu, kuharap aku tidak akan merepotkanmu." Kata Isabel dengan nada guyon.
"Semoga saja. Karena aku suka sekali memberi hukuman pada mereka yang merepotkanku." Balas Cayla mengerling jenaka sambil tertawa kecil.
Awal yang bagus. Sepertinya Mike memilihkan mentor yang cukup menyenangkan. Cayla terlihat mudah bergaul dan tidak kaku. Dia juga terlihat sangat menarik dengan rambut hitam dan kulit putih bersihnya. Wajah Asianya terlihat mencolok diantara pegawai yang lain.
"Kau akan bekerja di kubikel sebelahku agar aku mudah memantau pekerjaanmu." Cayla menunjuk kubikel di samping kirinya. Isabel menurut, dia meletakkan tasnya di sisi kiri kubikel bersebelahan dengan komputer yang akan dia gunakan untuk bekerja.
"Ayo, aku akan mengantarmu menemui Arthur." Cayla menggandeng tangan Isabel menuju sebuah ruangan yang berada tidak jauh dari kubikel mereka. Arthur adalah Kepala Divisi tempat mereka bekerja.
Cayla mengetuk pintu coklat itu dua kali. Setelah mendengar sahutan dari dalam, Cayla memutar kenop pintu sambil berbisik, "Jangan melihat name tag di atas mejanya. Atau kau akan mendapat masalah." Cayla mengakhiri kalimatnya dengan senyum ramah lalu memberikan ruang pada Isabel untuk masuk ke dalam.
Lima belas menit kemudian Isabel keluar dari ruangan Arthur dengan membawa setumpuk berkas berisi jobdesk dan pekerjaan yang harus dia pelajari dengan bantuan Cayla.
"Arthur Snowbear ?" Isabel bertanya pada Cayla begitu dia sampai di kubikelnya. Dan disitu Isabel tidak bisa menahan tawanya lagi. Arthur si Kepala Divisi berusia 35 tahun bertubuh tambun dengan jenggot panjang dan kumis tebal, lengkap dengan kacamata bulat tebalnya yang saat berjalan lebih terlihat seperti beruang kehabisan nafas.
Buru-buru Isabel membekap mulutnya saat mendapat kode dari Cayla untuk diam.
"Kau tidak mendengarkan ucapanku." Gerutu Cayla.
Isabel menggeser kursinya mendekat pada Cayla. "Apa itu nama asli ?" Bisiknya.
Cayla sedikit menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya pada wajah Isabel yang juga sedikit menunduk. "Kuharap di dalam tadi kau tidak tertawa. Dia akan membuatmu lembur jika sampai itu terjadi." Cayla balas berbisik.
"Aku mati-matian menahan tawa sampai pipiku terasa kram."
"Baguslah." Cayla menegakkan tubuhnya kembali. "Dia memiliki kejelian tingkat dewa. Pastikan tidak ada kesalahan sedikitpun pada pekerjaanmu sebelum kau bawa padanya. Dia juga sangat disiplin. Kau harus menyelesaikan pekerjaanmu tepat waktu. Itulah kenapa dia menyandang predikat pegawai teladan selama tiga tahun berturut-turut." Terang Cayla.
Isabel mengangguk-angguk mengerti. Penampilan Arthur memang tidak meyakinkan, tapi Isabel bisa melihat ketegasan dari sorot mata pria itu. Setiap kalimat yang dia ucapkan juga terdengar seperti lantunan nada magis yang membuat siapa saja yang mendengarnya akan dengan mudah menuruti perintahnya.
"Oh." Isabel menaikkan kedua alisnya. Tidak heran Mike menempatkannya disini. Mike pasti menginginkan adiknya itu belajar tentang kedisiplinan dan kejelian dari seorang Arthur Snowbear.
Menjadi seorang pemimpin memang butuh gemblengan yang kuat. Dan Mike mempunyai orang-orang dengan kualitas kerja yang tidak diragukan lagi kemampuannya untuk mendidik Isabel. Sekalipun Isabel tidak begitu tertarik untuk memimpin salah satu bisnis keluarganya.
*****
"Bagaimana pekerjaanmu ?" Tanya Eric. Hari pertama Isabel bekerja, pria itu menjemputnya di depan lobi kantor. Sengaja datang untuk memberikan motivasi pada Isabel.
"Cukup menyenangkan. Kepala Divisi tempatku bekerja sangat keren."
"Apa dia seorang pria ?" Eric mengerutkan kening, mulai was-was.
Isabel tergelak. "Ya. Dia seorang pria." Jawabnya sambil membayangkan wajah Arthur Snowbear dengan segala kelebihannya.
Eric diam. Tawa Isabel terlihat begitu lepas. Bisa jadi Kepala Divisinya adalah seorang pria muda yang berwajah rupawan. Eric tidak suka ini. Pasti Mike sengaja menempatkannya disana agar Isabel berpaling dari Eric. Sungguh licik !
"Hei, kau kenapa ?" Isabel berhenti tertawa dan menyentuh lengan Eric yang diam dengan wajah masam.
"Apa dia berwajah tampan ?" Tanya Eric serius. Jika memang Mike berniat memisahkannya dari Isabel dengan menyusupkan seseorang dalam hubungan mereka, Eric tidak akan tinggal diam. Tidak peduli jika itu adalah kakak kandung kekasihnya.
Isabel memasang wajah serius juga. Pegangannya pada lengan Eric mengendur, berubah menjadi elusan lembut. "Meskipun dia tampan, bagiku kaulah pria paling tampan di dunia."
Suara helaan nafas terdengar. Eric membuang pandangannya ke samping lalu kembali menatap Isabel serius. Dia memegang bahu Isabel dengan tegas. "Dengar. Jika kakakmu berpikir bisa membuatmu berpaling dariku dengan mengenalkanmu pada pria lain, katakan padanya bahwa usahanya sia-sia. Aku akan membuat wajah pria itu tidak berbentuk lagi hingga kau akan merasa jijik hanya untuk melihatnya dari jauh." Kata Eric.
Isabel tersenyum lalu dia memeluk Eric erat. Dia tahu kekasihnya sedang cemburu. Sebenarnya dia tidak bermaksud membuatnya cemburu. Tapi sepertinya Eric berpikiran terlalu jauh.
Eric tidak menjawab. Pikirannya masih terpacu pada Kepala Divisi yang--entah siapa namanya--berhasil membuat kekasihnya tertawa lepas.
Perlahan Isabel melepas pelukannya. Dia membelai rahang Eric yang terasa keras. Mungkin karena menahan amarah pada Mike. Atau mungkin karena cemburu. Bisa jadi juga karena keduanya.
Dengan tangan kecilnya, Isabel mengarahkan wajah Eric untuk menunduk melihatnya. "Kau lihat pria gemuk berkacamata di sebelah sana ?" Isabel mengarahkan pandangannya pada seorang pria bertubuh tambun yang baru saja keluar dari pintu lobi. Eric mengikuti arah pandang Isabel. "Itu adalah Arthur Snowbear. Kepala Divisiku."
Eric menoleh cepat pada Isbabel yang sudah mengeluarkan cengiran lebar. Tahu kalau Eric akan bereaksi seperti itu.
"Snowbear ?" Eric mengangkat alis. Sedetik kemudian dia tertawa. Ternyata ada nama manusia seperti itu di dunia ini. Kini dia tahu kenapa Isabel bisa tertawa sekeras itu hanya karena seorang Arthur Snowbear. Dan dia sadar, kecemburuannya sangat tidak beralasan. Cemburu pada Arthur Snowbear ? Lebih baik berendam di kutub utara.
"Terima kasih." Ucapan Isabel membuat tawa Eric berhenti. "Terima kasih sudah cemburu. Itu membuatku merasa sangat dicintai olehmu."
Eric tersenyum, membelai pipi Isabel dengan ibu jarinya. "Kau tahu aku sangat mencintaimu. Melihatmu tertawa lepas karena pria lain membuatku ingin membunuh pria itu."
"Meskipun itu Arthur Snowbear ?"
Eric mengangguk. "Meskipun itu Arthur Snowbear."
"Kau sangat kejam." Cibir Isabel. Dia tahu Eric tidak sungguh-sungguh ingin membunuh Arthur. Itu hanyalah ungkapan kecemburuannya.
"Karena hidupku juga kejam, Bells. Aku tidak ingin ada pria lain yang membuatmu tertawa lepas seperti itu selain aku."
"And I love you more than that." Isabel memeluk Eric lagi. Isabel menganggap ucapan Eric adalah bentuk kalimat lain dari 'I love you'.
"Ehmm " Deheman seseorang memaksa mereka melepas pelukan dan menoleh pada sumber suara. Mike !
"Jaga sikap Anda, Mr. Michaels. Saya harap Anda sadar diri dimana Anda berada saat ini." Mike menatap galak pada Eric lalu beralih pada adiknya.
Isabel mendelik sebal karena kakaknya sudah merusak keromantisannya dengan Eric. Ingin Isabel memaki kakaknya. Dasar pria kurang kasih sayang ! Tapi itu pasti akan sangat menyakiti perasaan kakaknya.
"Tentu, Mr. Bennings. Saya akan mengantar kekasih Saya pulang ke rumah sekarang." Kata Eric, seolah kata 'pulang ke rumah' adalah tempat lain yang membuatnya leluasa bermesraan dengan kekasihnya.
Mike mengetatkan rahangnya. Andai saja mereka tidak berada di tempat terbuka seperti ini, Mike ingin sekali menghajar kekasih adiknya yang jelas-jelas sudah menantangnya.
"Aku pulang bersama Eric." Isabel mencium pipi kakaknya lantas menggamit lengan Eric dan berjalan beriringan meninggalkan Mike yang hanya bisa mendesah pasrah karena kedua orang tuanya sudah merestui hubungan mereka. Eric cukup cerdik untuk mendapatkan simpati kedua orang tuanya. Karena dengan begitu, Mike tidak lagi menjadi masalah untuknya.
"Kurasa kakakmu saat ini sangat ingin membunuhku." Bisik Eric.
"Sangat ! Lihat saja wajahnya yang merah padam."
"Tapi tidak semudah itu untuk menyingkirkanku." Yakin Eric.
"Kurasa dia mulai menyukaimu."
"I'm sorry, I'm straight." Tukas Eric, membuat Isabel memukul lengan pria itu gemas.
Mereka tertawa. Menoleh sedikit ke belakang, memastikan Mike masih berdiri disana dengan tatapan garang.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Ada yang mau kenalan dengan Arthur Snowbear ? Sebenarnya banyak ya orang-orang seperti Arthur ini di dunia nyata. Penampilan luarnya tidak meyakinkan, tapi memiliki kemampuan kerja yang luar biasa. So, don't judge a book by its cover !
Eh, itu bang Eric suka banget ya nentangin Mike. Untung aja udah pegang restu dari camer. Kalo nggak pasti sudah dilibas ama si Mike.
Enjoy the story, jangan lupa share cerita ini ke temen-temen kalian ya, biar makin rame.
See you next part, Love.