100 Days

100 Days
3 Day (Hari Keberangkatan)



Pagi itu aku mengecek semua alat-alat yang ingin kami bawa. Aku juga membeli beberapa komponen mobil. Sebenarnya Shita yang membantuku. Bahkan Shita menyarankanku membeli tambahan bagasi belakang atau anhang, untuk mengangkut barang-barang kami yang tak sedikit.


Keluar rumah saat mendengar suara mobil dari halaman rumah. Datang seseorang membawa sebuah mobil yang aku kenal.


Edan. Batinku.


Aku menghampiri lelaki itu. Dan menandatangani sebuah berkas tanda terima. Aku juga menyuruh lelaki itu untuk membantuku memasang anhang yang sudah aku beli, di bagian belakang mobil. Tak berselang lama, Shita datang bersama Ayah dan Ibunya.


"Makasih ya Pak." ucapku kepada lelaki itu.


"Iya mba, sama-sama. Permisi." sahutnya sebelum pergi dari rumahku.


"Tre, udah siap?" tanya Shita menghampiriku.


"Siap dong. Tapi belum di masukin." ucapku.


Bibi Rohayah, ibu Shita. Menghampiri dan memelukku. Dia menangis dalam pelukanku. Begitu juga dengan Pak Rojak. Ayah Shita. Dia menghampiriku dan mengusap punggung dan kepalaku. Terlihat dia berusaha menahan tangisnya.


"Bu, Pak. Tenang aja. Aku akan jaga Shita seperti sodaraku sendiri kok. Makasih banyak ya, udah ijinkan Shita untuk menemaniku." ucapku kepada Pak Rojak dan Bu Rohayah.


"Iya iya. Bapak yakin kalian akan baik-baik aja. Kalian harus nikmati perjalanan kalian ya." ucap bapak Rojak.


Aku hanya mengangguk melempar senyuman ke arah Pak Rojak dan Bu Rohayah.


"Ya sudah. Bapak bantuin rapikan. Ayo-ayo." jawab Pak Rojak.


"Oh iya. Aku lupa." sahutku.


Kita pun bersama merapikan barang yang tidak sedikit itu. Pak Rojak menasehati kami banyak hal. Dia berpesan bahwa kami harus saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Sekuat apa ego kita, seburuk apa hati kita. Kita harus tetap bersama-sama. Pulang bersama, datang pun juga harus bersama.


"Jangan lupa, nanti sering-sering upload poto id Joystagram. Bapak udah bisa pakai hape lebar punya Shita. Nanti bapak lek lek foto kalian berdua." tutur Pak Rojak.


"Like Pak ya Ampun." sela Shita.


Kami pun tertawa bersama melalui waktu yang terasa sangat singkat itu.


......................


Shita memeluk ibunya dengan sangat hangatnya. Aku merasa iri dengan Shita. Walau ibu dan bapak Shita sering bertengkar. Tapi mereka masih tetap bersama memberikan kasih kepada Shita. Tidak seperti Papa dan Mamaku.


"Ayunda, kamu hati-hati ya di jalan nanti. Kalian harus bersama kemana-mana. Kalau capek istirahat. Jangan ngebut-ngebut. Waktunya ibadah, kamu harus Ibadah. Kalau istirahat, lebih baik di Masjid atau tempat ibadah lainnya. Ya." tutur Bu Rohayah.


"Iya Buk." sahutku.


"Bapak cuman mau ngingetin pesan bapak yang tadi. Di inget terus yo Nduk." ucap Pak Rojak.


"Iya Pak. Oh ya Bu. Ini ada uang sedikit buat bapak dan ibuk." ucapku memberikan sedikit uang ke pada Bu Rohayah.


"Tre. Lho apa-apa'an sih!! Gue gak suka ya lho kaya gini." sergah Shita.


"Pak, Buk, Tre. Ini tu gak percuma tauk. Jangan baper dulu napa." seruku. "Buk, aku minta tolong sama ibu. Selama aku pergi. Tolong rawat rumah ini ya buk. Ibu bapak boleh kok tinggal di rumah ini. Aku pengen rumah ini di rawat. Ini uang, untuk bayar listrik. Dan juga buat kebutuhan bapak dan ibu. 3 bulan itu bukan waktu yang lama. Kalau Shita gak kerja, bapak sama ibu mau makan apa?!"


"Tapi Tre. Seriusan itu tebel." sela Shita.


"Aku belum selesai ngomong Ta. Aku dah nebak kok, kalian pasti akan nolak. Apa lagi kamu Ta. Jadi uang ini, aku pengen Ibu dan bapak kelola. Kan ada rumah Nenek yang kosong ini. Sambel pecel buatan ibu enak banget. Ibu sama bapak bisa gunakan uang ini buat buka usaha di rumah ini. Buat jualan pecel sama gorengan, Pak, Buk." sambungku. "Uang 10.JT cukup kok buat bikin angkringan. Aku pengen Bapak dan Ibu usaha. Rawat rumah ini, jaga rumah ini. Selama aku pergi. Nenek pasti suka banyak orang yang datang ke rumah ini buat jajan nasi pecel buatan ibu."


"Sepuluh Yuto?! Pak Sepuloh Yuto Pak." seru Bu Rohayah.


"Walah Buk. Makasih banget Nduk makasih. Kamu baik banget. Bapak janji. Bapak sama ibu akan jaga rumah ini. Bakalan buka usaha angkringan. Bapak juga bisa buka bengkel buk di sini. Deket jalan raya ini lho." tutur Pak Rojak.


"Bener Pak, itu yang aku mau." timpalku.


"Makasih ya Tre. Kamu baik banget sama keluarga aku." ucap Shita mendekat ke arahku.


"Keluarga kamu sekarang jadi keluarga aku Ta. Kan orang tuamu yang bilang, kalau kamu harus anggap aku kaya sodara sendiri. Atau kamu mau aku anggap jadi pembantu?!" godaku kepada Shita.


"***** lah Lu!" sergah Shita.


"Ehh ti ati, di pidana lho kamu." sahutku.


"Itu Anjay *****!!" timpal Shita.


"Nah di sebut." sahutku.


"He wes wes wes. Kalian ini mau berangkat atau mau ribut?! Udah mau siang ini. Udah berangkat sana. Nanti kemaleman." titah Pak Rojak.


"Astagfirullah! Aku di usir. Ha haha ha." sahutku.


"Iya kita anak durhaka, pergi yuk, sebelum di kutuk jadi kodok. Tambah jelek kita." timpal Shita.


"Pak, Buk. Kita pergi ya." seruku masuk ke dalam mobil.


"Iya Nduk hati-hati." sahut Pak Rojak.


"Nduk masakan ibu jangan lupa di makan. Keburu basi." seru Bu Rohayah mengingatkan.


"Iya Buk. Terimakasih. Assalamu'alaikum." seruku.


"Wa'allaikum salam." sahut mereka.


Dengan berlahan aku membawa mobil sport putih itu keluar halaman rumahku. Begitu berdebar dadaku. Rasa bahagia dan haru aku rasakan bersamaan. Aku bahagia, akan mewujudkan keinginan terakhirku. Tapi aku sedih, karna waktuku terus berputar.


...****************...