100 Days

100 Days
Part 24



Satu minggu menjelang pernikahan, Aiden dan Chloe mulai disibukkan dengan berbagai macam persiapan. Sebenarnya tidak seberapa banyak, karena mereka memercayakan semuanya pada WO. Hanya saja mereka harus memastikan jika segala sesuatunya berjalan sesuai rencana.


"Apa kau tidak ingin ke Willow Spring?" Chloe bertanya pada Aiden yang sedang memeriksa beberapa foto design ballroom yang akan mereka gunakan untuk resepsi.


Aiden mengangkat wajahnya sebentar lalu kembali melihat beberapa foto di tangannya. "Aku ingin, tapi ...." Aiden tak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya membuang napas lalu merapikan lembar-lembar foto itu hingga menjadi satu tumpukan rapi.


"Aku tidak ingin membicarakannya, okay," kata Aiden dengan suara lembut tapi tanpa senyuman. Aiden menghindari topik tentang Isabel, karena itu masih menyakiti hatinya.


"Dengar Aiden, kau tidak harus melakukan semua ini. Aku bisa membesarkan anak ini sendiri. Kembalilah padanya."


Saat itu juga raut wajah Aiden berubah tidak senang. Apa-apaan gadis ini? Aiden tidak habis pikir, mengapa Chloe bisa berbicara seperti itu? Di mana-mana seorang perempuan yang hamil di luar nikah akan meminta pertanggungjawaban dari orang yang menghamilinya. Tidak perlu diminta, meskipun tanpa cinta Aiden tetap akan bertanggung jawab. Tapi Chloe malah memintanya untuk pergi.


"Aku tidak ingin membebanimu, Aiden. Isabel membutuhkanmu. Dia sangat rapuh tanpamu." Chloe tulus dengan ucapannya.


"Dan membiarkan anakku tumbuh tanpa ayahnya?" Aiden menatap kesal lalu meraih tangan Chloe dan menggenggamnya. "Aku melakukan ini karena aku ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan." Aiden membuang napas, memandang Chloe dengan tatapan lelah. Lelah dengan rasa perih dan sakit karena kehilangan orang yang dia cintai. Lelah dengan kesalahan yang terlanjur dia perbuat. "Aku akan tetap menikahimu," tegasnya.


"Tidak ada cinta diantara kita, Aiden. Beda dengan Isabel. Kalian saling mencintai. Dan aku tidak ingin ada yang terluka karena diriku." Chloe menarik tangannya. Kesedihan yang menumpuk dihatinya karena melihat Isabel dan Aiden yang terluka, membuat kelopak matanya digenangi air mata. Meskipun Aiden berusaha menutupi luka batinnya, tapi Chloe bukanlah gadis yang tidak peka. Dia bisa melihat kedua manik biru Aiden menyiratkan luka yang sangat dalam.


"Mungkin diantara kau dan aku tidak ada cinta. Tapi anak dalam rahimmu membutuhkan cinta ayah dan ibunya."


Ucapan Aiden menohok hati Chloe. Anak tidak bersalah itu tetap membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Namun masih ada yang mengganjal di hati Chloe. Dia tidak bisa membiarkan Isabel terpuruk seperti itu. Sebagai sesama perempuan, Chloe bisa merasakan perih dan sakitnya Isabel.


Satu pemikiran muncul begitu saja di otak Chloe, "Bagaimana kalau kita menikah sampai anak kita lahir? Setahun mungkin. Setelah itu kita berpisah baik-baik dan menjalani hidup kita masing-masing. Aku janji tidak akan membatasimu untuk menemui anak kita," jelas Chloe, seperti mendapat ide dari novel-novel romance yang sering dia baca.


Aiden tidak menjawab. Hanya gelengan kepala dengan raut wajah keheranan yang dia dapatkan. Apa sebenarnya yang ada di otak gadis ini?


Tak ingin berdebat lagi, Aiden memilih beranjak dari duduknya dan meninggalkan Chloe yang masih berharap bisa bernegosiasi dengan calon suaminya itu.


Chloe memejamkan mata melihat punggung Aiden yang kian menjauh, membuat air matanya terjatuh. Tidak mudah berada di posisinya saat ini. Dia tidak pernah mengira kalau hidupnya akan seperti ini. Usaha keras untuk mencapai cita-citanya sebagai penari profesional harus kandas karena kecelakaan yang tidak dia inginkan. Kecelakaan yang dia nikmati tanpa sadar. Untuk sekarang dia sudah bisa berdamai dengan kenyataan. Kenyataan pahit yang harus dia jalani. Jalan hidup yang hanya Tuhan saja yang tahu seperti apa skenarionya.


Apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Tak akan bisa mengubah bubur menjadi nasi kembali. Jangan dibuang! Yang bisa dilakukan sekarang adalah menambah cita rasa bubur itu agar menjadi enak untuk dimakan.


Hari dimana dia mengetahui kalau dirinya hamil adalah hari yang sama saat dia diterima di sekolah tari paling bergengsi di negara ini. Seleksi yang harus dijalani Chloe sangat ketat. Dari ribuan pendaftar, hanya 20 orang yang diterima, Chloe salah satunya. Dan dalam kondisi hamil, dia tidak akan mungkin bisa mengejar mimpinya itu. Bisa saja setelah melahirkan dia mencoba kembali merajut mimpinya yang berhenti. Namun, apakah nantinya semua akan terlihat sama setelah ini?


Di tempat lain, Eric mengambil napas lalu mengembuskannya perlahan. Tangan kanannya bergerak membuka pintu berwarna coklat tua di lantai empat cafe miliknya. Lagi-lagi dia harus mengalah dengan Chloe.


"Well, Eric. Sepertinya kau harus membiasakan tubuhmu dengan rasa pegal karena sofa sialan itu lagi," gumam Eric sebelum melangkah masuk ke safe house.


Namun saat Eric memasuki safe house, kedua mata Eric disuguhkan dengan pemandangan yang tidak biasa.


Di sofa tempat biasanya Eric tidur, Isabel terlihat meringkuk dengan Grey yang juga tertidur pulas dalam dekapan gadis itu.


Eric berjalan mendekat ke sofa. Satu alisnya terangkat kala melihat Isabel yang tertidur pulas di sana tanpa selimut.


"Kenapa dia tidur disini?" gumamnya. Dia menggeleng lantas segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri.


Eric keluar dari walk in closet dengan kaos putih dan celana krem selutut. Wajahnya sudah terlihat lebih segar setelah mandi.


Saat dia keluar dari kamar, Isabel masih terlelap dengan posisi yang sama seperti saat dia tinggalkan tadi. Bahkan Grey juga sangat pulas dan terlihat sangat nyaman dalam posisinya.


Eric mendekati Isabel lalu berjongkok. "Hei, bangunlah!" Eric menggoyang bahu Isabel.


Kedua mata Isabel mengerjap perlahan, merasakan sentuhan di bahunya.


"Eh, dia tersenyum? Padaku?" batin Eric sambil mengerutkan dahi, heran dengan apa yang baru saja terjadi. Ini pertama kalinya Isabel tersenyum padanya. Meski sepertinya dia tidak sadar. Apa yang salah dengannya? Karena setahu Eric, Isabel sangat membencinya.


"Bangunlah! Kenapa kau tidur disini?" Tak larut dalam keheranannya, Eric membangunkan Isabel lagi.


"Ayo, bangunlah! Tidurlah di dalam," tambah Eric.


Isabel membuka matanya. Lalu dia meregangkan ototnya yang membuat Grey melompat turun karena tidurnya terganggu.


"Kau saja yang tidur di dalam," katanya dengan suara lirih. Tanpa memedulikan Eric yang masih berjongkok di hadapannya, Isabel kembali menyembunyikan iris birunya di balik kelopak mata.


"Dia tidur lagi? Apa-apaan ini?" Eric menggeleng kepalanya melihat tingkah Isabel yang tidak seperti biasanya.


Tidak ambil pusing, Eric beranjak ke dapur untuk memasak, memenuhi panggilan perutnya yang sudah bermain orkestra sejak tadi, meskipun saat ini sudah jam 10 malam.


Selesai makan, Eric kembali ke sofa dengan membawa cemilan dan bir dingin. Malam ini ada pertandingan sepak bola tim favoritnya, Barcelona. Pertandingan yang tidak akan dilewatkannya.


Eric sangat fokus menonton laga tim favoritnya itu, tidak memedulikan gadis yang masih meringkuk tidak jauh darinya. Entah dia terganggu dengan teriakannya saat tim favoritnya berhasil mencetak gol, atau teriakan kekecewaan saat gagal mengeksekusi bola dan saat kebobolan gol. Eric asyik sendiri.


Tapi sepertinya Isabel juga tidak merasa terganggu sama sekali. Terlihat dari tidurnya yang seperti orang mati. Kegaduhan yang dibuat Eric tidak memengaruhi tidurnya.


Bisa jadi juga karena ini adalah tidur ternyenyaknya selama beberapa hari ini, mengingat malam-malam sebelumnya dia selalu terjaga dengan peluh keringat membasahi dahi dan napas terengah-engah hingga tiga sampa lima kali dalam semalam.


Pertandingan sepak bola sudah selesai dengan kemenangan Barcelona 3-1 atas Atletico Madrid. Tentu saja menjadi euforia tersendiri bagi pendukung tim pemenang.


Eric tersenyum puas dengan hasil pertandingan itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi, Eric membereskan sisa makanan dan minuman teman menontonnya tadi. Setelah itu, pandangannya jatuh pada gadis yang masih meringkuk seperti bayi di sofa yang sama dengannya.


"Pulas sekali. Biasanya dia sering terbangun." Eric membatin melihat tingkah Isabel yang aneh menurutnya.


"Mungkin dia sudah bisa menerima kenyataan. Baguslah, dia bisa segera pergi dari sini," batin Eric lagi.


Eric melirik kasur besar berwarna putih di dalam kamarnya. Eric memang merindukan kasur itu. Tapi, melihat Isabel yang memintanya tidur di dalam dengan suara lirih seperti tadi, membuatnya merasa tidak tega.


Jika saja Isabel masih sama meledak-ledaknya seperti di awal dia membawanya kemari, pasti dengan senang hati Eric akan membiarkannya tidur di sofa. Tanpa harus diminta sekalipun.


Hanya saja, sekarang keadaannya berbeda. Gadis itu sedang dalam keadaan sangat rapuh. Bahkan dia meminta Eric tidur di dalam dengan suara halus, apa iya Eric tega membiarkannya tidur di sofa sementara dia bisa tidur dengan nyaman di kasur empuk yang luas?


Dan satu lagi, untuk pertama kalinya gadis itu tersenyum saat mengetahui kedatangannya. Tersenyum? Eric menggeleng kepalanya dengan cepat. Mengusir pemikiran yang tidak-tidak. "Dia pasti tidak sadar melakukannya," tepis Eric.


"Apa aku pindahkan saja dia? Tapi, jarak ke kamar cukup jauh, bagaimana kalau dia terbangun? Bisa-bisa dia menuduhku yang tidak-tidak."


Eric mengurungkan niatnya untuk memindahkan Isabel. Sekedar antisipasi jika gadis itu akan berpikiran buruk tentangnya. "Hei, kenapa aku peduli dengan apa yang dia pikirkan?" Sekali lagi Eric menggeleng keras.


Akhirnya Eric masuk ke kamar mengambil dua selimut dan satu bantal.


Sepertinya ini lebih baik. Eric menutupi tubuh Isabel dengan selimut. Lalu dia memasang bantal di ujung sofa yang berlawanan dengan Isabel. Dia ikut tidur di sana dan menggelung tubuhnya dengan selimut tebal seperti gadis itu.


***


tbc.