100 Days

100 Days
Part 26



Setengah jam kemudian Eric keluar dari kamar dengan setelan jas berwarna biru tua. Isabel yang tengah menonton televisi menoleh ke arah suara derap langkah Eric.


Mata biru Isabel sempat tak berkedip beberapa detik. Dia ....


"Jangan lupa berkedip, matamu bisa kering," kata Eric dengan nada datar. Rupanya dia menyadari jika Isabel memerhatikannya.


Saat itu juga Isabel membuang wajah sambil menggeram. Bodoh! Ia merutuki kebodohannya sendiri yang telah memerhatikan Eric sampai sebegitunya. Bukan maksud Isabel untuk tidak berkedip. Dia hanya ... memerhatikan. Itu saja. Dan lihatlah akibatnya, Eric bisa besar kepala karena mengira Isabel terpana olehnya.


Eric melenggang begitu saja keluar dari safe house. Orang seperti dia mana peduli dengan gadis yang sedang menggeram dan mengumpat dalam hati akibat ucapannya.


Isabel menggeram keras saat Eric sudah menghilang di balik pintu.


"Sialan! Ingin sekali kujahit mulut iblisnya itu!" makinya sambil memukul sofa.


Setelah menghabiskan sarapan buatan Isabel dan tidak menanggapi ucapan terima kasihnya, Eric kembali membuat Isabel meradang dengan ucapannya yang sangat menjengkelkan.


"Tidak, tahan amarahmu Isabel! Abaikan saja ucapannya. Anggap itu sebagai bayaran untuk tetap tinggal disini," gumamnya.


Berkali-kali Isabel meyakinkan dirinya sendiri untuk bersabar menghadapi sikap Eric yang seenaknya, karena ia memang pemilik tempat ini.


Isabel tidak buta. Beberapa hari ini Isabel merasa Eric tidaklah seburuk yang terlihat. Meski tidak ditunjukkan terang-terangan, Eric tetap memerhatikan dirinya. Terlepas itu permintaan Chloe atau bukan, tapi Isabel bisa melihat sedikit kebaikan dalam diri Eric. Sedikit! Sampai pagi ini saat Isabel berusaha bersikap baik padanya, Eric kembali bersikap menyebalkan. Mungkin lebih baik Isabel mendiamkannya saja. Berpura-pura tidak melihat dan tidak mendengarnya. Ya, sepertinya itu lebih baik.


Eric menghadiri peresmian hotel baru milik sahabatnya, Nicholas. Bukan hanya Eric, Aiden juga di undang dalam peresmian itu.


Nicholas adalah sepupu Ethan, sahabat Aiden. Dan yups! Dia adalah orang yang sama dengan mantan Alice. Namun baik Ethan maupun Aiden tidak ada yang mengetahuinya.


Aiden, Ethan dan Nick tengah asyik berbincang saat Eric menghampiri mereka.


"Hotel yang bagus, Nick." Sebuah suara bariton membuat ketiganya menoleh serempak pada pria yang berjalan mendekat pada mereka.


"Eric! Senang kau bisa datang." Senyum lebar mengembang di bibir Nick.


Eric mendekat lantas memeluk dan menepuk punggung sahabatnya itu.


"Kukira aku ketinggalan pestanya," gurau Eric.


"Mana mungkin aku memulai acara sebelum sahabatku datang." Nick beralih pada Aiden dan Ethan. "Kalian harus mengenal pria berbahaya ini." Nick bicara seolah Eric adalah orang yang harus ditakuti. "Dia hampir merampok seluruh hartaku," lanjutnya.


"Berhentilah membual, Nick," tukas Eric yang hanya bisa tersenyum miring dengan ocehan sahabatnya itu.


"Aku tidak membual. Kau meretas bank ku di LA, Jerk! Dan kau hampir merampok seluruh uangku, jika kau lupa!" Nick bicara dengan alis terangkat.


"Aku tidak serius, Nick. Aku hanya ingin memberimu sedikit pelajaran," balas Eric.


"Dan kau berhasil menakutiku," sahut Nick.


Keduanya tertawa keras saat mengingat awal persahabatan mereka dimulai dari permusuhan akibat perempuan, di mana kekasih Eric berselingkuh dengan Nick. Dan ternyata perempuan itu juga mempunyai kekasih lain selain mereka. Merasa sama-sama ditipu dan dipermainkan, keduanya bekerja sama untuk memberi sedikit pelajaran pada perempuan itu dan kekasihnya.


"Oh, aku hampir lupa mengenalkanmu pada sepupuku." Nick melirik Ethan dan Aiden bergantian. "Ini Ethan sepupuku dan itu Aiden sahabatnya."


"Eric." Eric menjulurkan tangannya pada Ethan yang dibalas dengan perkenalan oleh Ethan. Dan pada Aiden, dia hanya menatap tajam tanpa menyapa.


"Aku sudah mengenalnya," kata Eric datar, menunjuk Aiden dengan matanya. Hubungan keduanya memang tidak begitu baik. Kenyataan bahwa Aiden telah menghancurkan impian dan hidup Chloe masih membekas dihatinya. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menerima Aiden dalam keluarganya. Jika saja Aiden bukanlah ayah dari calon keponakannya, Eric akan dengan senang hati menghancurkan Aiden.


Nick dan Ethan mengernyitkan dahi melihat Aiden dan Eric bergantian.


"Dia calon adik iparku," tambah Eric, menjawab pertanyaan yang tak terucap dari kedua orang itu.


Aiden mengedikkan bahu dan menaikkan sebelah alisnya seolah berkata 'itu benar'. Memang mau bereaksi seperti apa lagi dia? Toh kenyataannya hubungan dia dan Eric memang tidak baik.


Ethan dan Nick mengatupkan bibir rapat-rapat. Pasalnya mereka tahu jika pernikahan itu terjadi karena kesalahan. Hanya saja mereka tidak tahu jika keduanya terhubung.


Suara deheman Nick memecah keheningan sesaat yang terjadi. Ethan yang mendapat kode dari Nick segera bersuara, "Well, kami akan mengambil minum lagi." Ethan menunjukkan gelasnya yang sudah kosong. "Senang berkenalan denganmu, Eric." Ethan merangkul bahu Aiden dan segera membawanya menjauh dari Eric agar mereka tidak berkelahi dan merusak acara.


Ethan sudah sering mendengar cerita tentang Eric dari Nick. Yang dia tahu, Eric adalah seorang programmer hebat yang hampir saja membuat Nick bangkrut dengan menghancurkan bisnis sepupunya itu.


Seperti yang Nick katakan tadi. Nick mempunyai tiga bank yang cukup besar di LA, California dan Hawai. Eric sudah berhasil meretas database bank di LA, dan bersiap akan membagikan seluruh uang di bank itu pada korban perang di Palestina. Bukan hanya itu, Eric bahkan pernah iseng masuk ke sistem database NASA, dan dia berhasil.


Beruntung sesaat sebelum Eric menekan tombol enter, sebuah pesan masuk ke emailnya. Pesan berisi video Elena--kekasih Eric yang berselingkuh dengan Nick--dengan seorang pria yang Eric kenal sebagai teman kerja Elena sedang bercumbu di sebuah kamar hotel.


Ternyata video itu juga dikirim pada Nick. Dan dari situ Eric dan Nick bekerja sama untuk menghancurkan kedua badut yang sudah merusak pesta mereka. Berkat Elena, mereka bersahabat hingga sekarang.


"Darah yang mengalir di tubuh mereka sama, Ethan," jawab Aiden malas.


Aiden yang merasa bersalah memang tidak berniat melawan Eric. Sebenci apapun Eric padanya, dia tidak peduli.


"Dan kau tidak bilang padaku kalau kau punya kakak ipar hebat seperti dia?" Ethan ternyata diam-diam mengagumi kemampuan Eric.


"Agar kau bisa menjilatnya? Sorry to say, tapi kau tidak akan berhasil," pupus Aiden. Eric bukanlah orang yang mudah di dekati untuk urusan bisnis. Dia orang yang pemilih.


Ethan melihat sebentar pada Eric yang sedang berbincang dengan Nick dan satu orang berwajah timur tengah yang baru saja bergabung dengan mereka.


"C'mon, Dude! Kakak iparmu itu sangat hebat. Dia akan sangat menguntungkan untuk bisnis," kta Ethan.


Aiden mengibaskan tangannya, tidak berminat menanggapi Ethan. Mau tidak mau Ethan berhenti membahas Eric.


"Bagaimana kabar Isabel?" tanya Ethan setelah meneguk habis wine dalam gelasnya.


"Berhentilah minum atau kau akan mabuk sebelum acara dimulai." Aiden memeringatkan, karena Ethan sudah menghabiskan terlalu banyak wine yang disajikan.


"Aku tidak akan mabuk." Ethan menukar gelas kosongnya dengan gelas berisi wine yang dibawa pelayan. "Kau dan Isabel sudah berakhir?"


Aiden memutar bola mata malas. "Aku dan dia memang harus berakhir. Tidak perlu mengingatkan lagi."


Ethan menepuk bahu Aiden. "Aku bertanya, Dude. Bukan mengingatkan." Ethan menyesap wine-nya lagi. "Keparat Boyd itu bercandanya sudah keterlaluan. Aku bisa menghajarnya untukmu," kata Ethan dengan napas yang bau alkohol.


"Kalau aku mau, aku bisa menghajarnya sendiri." Aiden menyesap wine. "Tapi itu tidak akan merubah apapun."


"Keparat itu sudah menghancurkan hidupmu dan kau masih menganggapnya teman?"


"Ayolah, Ethan. Aku bukan pendendam."


"Kalau begitu ...." Ethan tersenyum jahil pada Aiden, "Isabel's free?" Ethan menaik turunkan alisnya.


"**** you!" balas Aiden dengan jari tengah tepat di depan wajah Ethan.


Ethan terkekeh. "Beberapa hari lagi kau akan menikah, Dude. Aku hanya ingin menghiburnya," goda Ethan lagi. Ethan merasa menggoda Aiden adalah hal yang menyenangkan sejak sahabatnya itu akan menikahi Chloe.


"Mati saja kau!" geram Aiden.


Meskipun dirinya sudah memutuskan hubungan dengan Isabel, tapi dia masih tidak rela jika Isabel dimiliki orang lain. Hati memang tidak pernah bisa di bohongi. Entah sampai kapan Aiden akan terus mencintai Isabel.


Menikah dengan Chloe sama sekali tidak merubah perasaannya terhadap Isabel. Tentang bagaimana nantinya dia menjalani rumah tangga dengan Chloe pun belum terlintas dalam pikirannya. Jalani saja apa adanya meskipun tanpa cinta.


Mungkin tidak akan ada malam pertama untuk mereka. Bahkan mungkin untuk malam-malam selanjutnya juga tidak akan terjadi apa-apa. Pernikahan ini hanya untuk memberikan cinta dan kasih sayang sepenuh hati untuk anak mereka.


Aiden rasa Chloe juga tidak berharap banyak dengan pernikahan ini. Terbukti beberapa kali Chloe meminta Aiden membatalkan pernikahan. Jadi, biarlah semua mengalir seperti air. Yang terpenting anak mereka tidak akan kekurangan cinta dan kasih sayang.


Mungkin suatu saat nanti Aiden bisa berhenti mencintai Isabel. Mungkin. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa akan datang.


***


tbc.