
~ERIC~
2 tahun kemudian
Seorang gadis kecil berlari ke arahku dengan senyum mengembang sempurna. Rambut coklat ikalnya dibiarkan tergerai dan menari-nari bersama hembusan angin. Namanya Naomi.
"I miss you, Eric." Naomi melompat ke dalam pelukanku. Aku menggendongnya dengan satu tangan. Tubuh berisinya sama sekali tidak membuatku kesulitan.
"I miss you too, Little Angel." Aku mencium pipi bulat gadis kecil itu.
"Tempat ini sangat sepi tanpa dirimu, Eric. Kau harus lebih memperhatikan kami." Naomi mengerucutkan bibir mungilnya yang semakin membuatku gemas. Untuk anak usia 6 tahun, terkadang ucapan Naomi terdengar seperti orang dewasa.
"Oh, Little Angel, andai tubuhku bisa membelah diri seperti amoeba. Aku pasti akan datang setiap hari kesini."
"Amoeba?" Aku tertawa melihat ekspresi Naomi. Gadis kecil itu mengerjap pelan dengan alis yang hampir menyatu. Membuat mata bulatnya semakin terlihat lucu.
Aku menurunkan Naomi diatas bangku. Lalu aku berjongkok di hadapannya. "Ya, amoeba. Dia bisa membelah tubuhnya menjadi dua. Jadi, jika kau menjadi amoeba, kau bisa berada di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan."
"Apa amoeba bisa menumbuhkan tangan baru?"
Apa baru saja ada yang menusukkan pisau di dadaku? Karena aku merasakan dadaku begitu sakit saat ini. Aku tidak suka topik pembicaraan seperti ini. Aku melihat tangan kiri Naomi yang hanya sebatas siku. Kadang aku merasa Tuhan itu tidak adil. Kenapa Dia tidak membiarkan orang-orang dewasa saja yang menderita? Naomi masih terlalu kecil untuk mengalami hal buruk seperti ini. Kupejamkan mataku saat bayangan wajah mungil yang telah kurenggut nyawanya dua tahun lalu melintas di kepalaku.
"Apa jika aku menjadi amoeba aku akan memiliki tangan yang utuh seperti milikmu?"
Aku menegakkan tubuh lalu duduk di sebelah Naomi. Kutarik tubuh kecilnya ke pelukanku. "Amoeba tidak memiliki tangan, Little Angel. Meski begitu, dia tetap memiliki kelebihan lain yang tidak bisa dilakukan manusia seperti kita. Kau harus ingat, Little Angel. Setiap makhluk yang diciptakan Tuhan itu memiliki keistimewaannya masing-masing. Termasuk dirimu." Aku menunjuk Naomi yang menengadahkan wajahnya. "Kau pandai dalam bernyanyi. Aku sangat menyukai suaramu. Kelak kau bisa menjadi penyanyi terkenal." Naomi mendengarkanku tanpa melepas pandangannya dariku.
"Apa aku juga bisa menjadi cantik seperti Josephine?"
"Josephine?" Aku mengangkat kedua alisku. Nama itu mengingatkanku pada seseorang.
"Hm. Dia adalah teman Mom yang memiliki toko kue. Aku sangat menyukai kue-kue buatannya."
Aku tersenyum lebar mendengar jawaban Naomi. Kueratkan pelukanku padanya. "Tentu, Little Angel. Kau bisa menjadi apapun yang kau inginkan. Kecuali amoeba." Naomi mengikik geli mendengar akhir kalimatku.
"Kau mau bernyanyi bersamaku?" Aku menjauhkan tubuhku untuk bisa melihat wajah Naomi.
"Gendong aku." Naomi langsung berdiri dan memeluk leherku dengan erat.
Aku membawa Naomi naik ke atas panggung. Aku menyetel gitarku dan Naomi menyesuaikan tinggi mikrofon dengan dirinya. Kami adalah pasangan duet yang bagus. Aku suka sekali dengan suara jernih Naomi. Dan aku sangat menyayangi Naomi. Dia adalah malaikat kecil yang dikirim Tuhan untuk menarikku dari keterpurukan.
Ingatan satu tahun lalu masih terukir jelas di kepalaku. Tanpa Naomi, aku pasti sudah membusuk di dalam tanah dimakan belatung. Laki-laki bodoh dengan penampilan persis seperti orang gila yang sengaja ingin menjatuhkan diri dari lantai 10 sebuah gedung flat.
Tangan kecil itu menyentuh kakiku saat aku berada di rooftop flat yang dia tinggali dengan ibunya, bersiap terjun tanpa parasut.
"Apa kau orang gila?"
Pertanyaan itu membuatku berpaling dari jalan raya dibawah sana. Aku memindai gadis kecil dengan rambut ikal di ikat ekor kuda yang menatapku dengan alis berkerut karena silau terkena sinar matahari. Bintik-bintik hitam di wajahnya membuat gadis itu terlihat sangat manis. Dia mendekap boneka unicorn berwarna merah muda dengan tangan kanan. Sedang tangan kirinya yang hanya sebatas siku, menggantung begitu saja di sisi tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan disana?" Gadis itu tampak sangat penasaran.
"Pitaku lepas. Bisa bantu aku memasangnya?" Gadis kecil itu mengulurkan sebuah pita berwarna biru muda dengan tangan yang masih memegang boneka unicorn.
"Tuan, apa kau tidak bisa mendengar suaraku? Apa kau bisu dan tuli?" Gadis itu masih bertanya dengan polos.
Aku ingin menjawab kalau aku bukan hanya bisu dan tuli, tapi aku telah kehilangan seluruh hidupku dan seluruh jiwaku. Aku tidak punya alasan lagi untuk hidup. Tapi kedua mata bulat yang begitu jernih itu membuat lidahku kelu. Aku tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
"Pitaku!" Gadis kecil itu memekik saat hambusan angin menerbangkan pita di tangannya.
Seperti sebuah takdir, pita itu terbang ke arahku dan mendarat di lenganku. Aku ingin tidak peduli dan membiarkan pita itu terbang terbawa angin. Tapi tanganku bergerak sendiri mengambil pita itu.
Lalu kakiku bergerak turun dari pembatas. Gadis itu langsung menghambur dan memeluk kakiku. "Terima kasih, Tuan. Kau adalah malaikatku. Pita itu hadiah ulang tahun dari ayahku. Dan aku hampir saja menghilangkannya."
Aku merasa hatiku tertusuk-tusuk mendengar penuturan gadis kecil itu. Malaikat? Ya, aku adalah malaikat maut yang telah merenggut nyawa anakku sendiri.
Gadis kecil itu melepaskan kakiku lantas mengapit boneka unicorn dengan lengan kirinya. Tangan kanannya terjulur kepadaku. "Namaku Naomi Frost."
Kedua mataku masih terpaku pada netra jernih itu. Aku membayangkan, jika anakku masih hidup, dia pasti akan memiliki mata sejernih itu. Netra biru yang jernih seperti milik ibunya. Dan saat ini dia sudah berusia 2 tahun. Pasti sangat lucu melihatnya berlari sempoyongan menyambut uluran tanganku untuk menggendongnya.
Lamunanku buyar saat aku merasakan tanganku ditarik pelan. Aku menunduk, mengalihkan pandanganku pada tangan mungil yang memegang tangan kananku. Kulit lembut itu terasa hangat saat menyentuh kulitku. Pasti tangan anakku juga akan terasa selembut dan sehangat ini saat bersentuhan dengan kulitku.
Gadis kecil itu memaksaku menjabat tangannya. "Siapa namamu, Tuan? Oh, aku lupa," kata gadis itu lantas mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Setelah itu dia menarik tanganku untuk duduk di lantai. Tangan kecilnya mengulurkan benda kecil berwarna merah ke tanganku. Kurasa itu pecahan batu bata yang permukaannya di haluskan.
"Aku bisa membaca. Tulis saja namamu dengan ini," kata gadis itu.
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku juga tidak tahu kenapa aku menuruti perintah gadis kecil ini. Aku menuliskan namaku dengan batu itu di lantai.
"E-ric." Gadis itu mengeja namaku. "Jadi namamu Eric?" Aku mengangguk. "Dan kau tidak tuli?" Aku menggeleng. "Baiklah, Eric. Bisa membantuku memasangkan pita itu untukku. Aku tidak bisa memasangnya dengan satu tangan." Gadis itu berkata dengan gaya seperti orang dewasa. Dia kelihatan sama sekali tidak terbebani dengan kekurangannya. Dia tampak baik-baik saja meski fisiknya tidak sempurna.
Gadis itu memutar posisi duduknya hingga membelakangiku, memberi isyarat padaku untuk segera memasangkan pita di kepalanya. Lalu aku memasang pita itu pada ikatan rambutnya. Ini bukan hal sulit, karena saat Chloe kecil, aku sering melakukannya.
Naomi kembali memutar tubuhnya hingga berhadapan denganku setelah aku selesai memasang pitanya. Dia duduk bersila memeluk bonekanya. "Apa kau tinggal di dekat sini?" Aku menggeleng. Rumahku terletak setengah jam dengan mengendarai mobil ke tempat ini. Dan entah berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk sampai kesini dengan berjalan kaki. Aku bahkan tidak sadar bahwa aku telah berjalan sejauh ini.
"Dimana tempat tinggalmu? Oh, tidak!" Gadis itu menepuk dahinya sendiri seolah melupakan sesuatu. "Maaf aku terlalu banyak bicara. Kata Mom, banyak bicara dengan orang asing bisa membahayakan diriku. Orang asing senang menculik anak-anak untuk dijual ginjalnya."
Apa anak ini tidak sadar bahwa yang dia ajak bicara saat ini adalah orang asing? Apa dia tidak takut padaku? Maksudku, orang asing dengan penampilan mengerikan sepertiku.
"Aku tinggal di sini. Hanya aku dan Mom, karena Dad sudah meninggal. Aku selalu bermain disini. Mom bilang aku tidak boleh bermain terlalu jauh saat Mom sedang bekerja. Jadi aku selalu bermain dengan Pilly disini, karena di rumah sangat membosankan. Aku tidak suka bermain dengan anak lain. Mereka sering mengejekku. Hanya Pilly yang tidak pernah mengejekku."
Awalnya kukira Pilly adalah nama seseorang. Sampai saat Naomi memperkenalkan boneka unicorn-nya padaku. Hari itu aku menghabiskan waktu dengan mendengarkan celotehan anak berusia 5 tahun yang cukup membuatku tercengang. Pikirannya jauh lebih dewasa dari usianya. Aku merasa tertampar berkali-kali. Bagaimana bisa aku yang sudah setua ini mempunyai pikiran dangkal untuk mengakhiri hidupku di tempat yang jauh dari rumah.
Hari itu, dari Naomi aku belajar banyak hal. Gadis kecil itu tanpa sadar telah membuka mataku bahwa hidup memang tidak selamanya berjalan sesuai yang kita harapkan. Ada kalanya rasa sakit, kecewa dan kehilangan melintas dalam kisah hidup kita untuk membuat kita lebih dewasa. Jika anak sekecil itu, dengan segala kekurangan yang dia miliki masih mempunyai semangat luar biasa untuk mengubah dunia menjadi lebih baik, maka aku hanyalah orang dewasa bodoh yang tidak bisa memaknai hidup.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir aku bisa tersenyum. Naomi adalah malaikatku. Darinya aku belajar melanjutkan hidup yang kurasa sudah hancur dan tidak akan pernah bisa kuperbaiki lagi. Darinya aku belajar menerima semua derita yang kurasakan sebagai pelajaran hidup yang sangat berharga. Naomi adalah malaikat yang telah menyelamatkan jiwaku.
"Eric! Aku menunggumu!" seru Naomi sambil memasang wajah bosan.
Aku segera mengakhiri lamunanku dan kembali ke duniaku yang sekarang.
"Baiklah, Little Angel. Kau mau lagu apa?" Aku mengacak rambutnya gemas.
"Let It Be," jawab Naomi antusias. Lagu The Beatles ini adalah favorit Naomi.
"Okay, let's play the music," kataku. Aku mulai memainkan dawai gitar dan mengiringi Naomi menyanyi di depan anak-anak komunitas penyandang disabilitas yang selalu berkumpul di Bill's Park setiap satu minggu sekali.
*
*
*
*
*
tbc.
Akhirnya Eric bisa move on. Eh? Move on? Yakin dia sudah bisa move on dari mantan istrinya?
See you next part, Love.