100 Days

100 Days
3 Days (List Keinginan)



Setelah kami sampai di tempat parkir. Kami langsung masuk ke dalam mobil kami. Aku menghela nafas berlahan lalu mengeluarkannya. Aku melihat ke arah Shita yanh terlihat masih kesal.


"Ta, udah deh. Kamu gak lihat pelayan tadi ketakutan. Malu aku, tapi lucu juga sih. Sampai buat heboh gitu." ucapku.


"Mereka tu pantes di gituin. Gile lo, harga seporsi kecil gitu masak 50 rebu! Yang bener aja!!" sergah Shita.


"Aduh Ta, kecilin volume lo. Masuk telinga semua ini." seruku sembari menutup kedua telingaku.


"Iye maaf. Lagian bikin kesel aja. Jadi laper lagi kan gua." sahutnya.


"Mau masuk lagi?" tanyaku menggoda.


"Gile lo! Mau miskin mendadak di sini hah?! Kagak jadi ke Bali kita!" sergah Shita.


"Busettttt!! Ni mulut apa toak?! Emak lo ngidam apa sih!" hardikku menutup mulut Shita.


"Brisik loh." seru Shita.


"Lo yang brisik!" sahutku.


"Awas gua mau ambil camilan." seru Shita mencoba pindah ke jog belakang.


"Ampunn!! Kenapa gak lewat luar aja sih?" seruku memukul pantat Shita yang tepat berada di depan mukaku.


"Mau nyemil kagak lo?!" tanya Shita.


"Boleh deh." sahutku.


"Eh minta mie remesnya dong." sambungku.


Shita memgulungkan serenceng jajanan ringan ke arahku. Kami pun menikmati camilan dengan santainya.


"Tre. Lo tadi mau ngomong apa Tre?!" tanya Shita.


"Apa'an?!" tanyaku kembali.


"Kagak udah sok amesia lo. Tadi pas di dalem. Cepet cerita! Penasaran banget gua." serunya.


"Gak ah. Ntar kamu hate lagi. Mulut kamu pedes gitu kalau hujat orang." jawabku.


"Ehh gua ngomong apa adanya ya. Lagian, lo pohon duit gua, mana mungkin gua bakar. Jatoh miskin lagi gua." sahutnya.


"Bisa gak sih, kamu gak terlalu jujur. Benci gua." seruku.


"Bodo yang penting gua gak munafik. Benci gua sama orang munafik!!" sergah Shita merasa kesal.


"Kamu PMS ya?! Jauh banget ke Ega. Haaa kamu belum bisa move on ya?!" tanyaku menggoda.


"Brisik lu. Bikin tambah bete aja." serunya.


"Udah lu cerita sekarang juga. Atau lu nyesel kenal sama gua." ancam Shita.


"Maksud lo?!" sahutku.


"Sebenarnya bukan hal yang serius sih Ta." ucapku.


Aku tertegun memandang kosong ke arah kakiku yang tak terlihat di bawah setir mobilku. Shita dengan penasaran beranjak pindah ke kursi depan kembali. Dia menyamankan posisi duduknya menghadap ke arahku.


"I am here. Why? Why??" seru Shita.


"Sok Inggris lo." jawabku dengan sendu.


"Ta. Sebenarnya dari dulu aku punya banyak keinginan Ta. Pengen banget sekarang aku wujudkan dalam hidupku sebelum aku tiada di dunia ini, Ta." tuturku. "Tapi aku malu Ta. Apa lagi sama kamu."


Aku menatap malu ke arah Shita. Sangat ragu mengatakan apa yang ingin aku sampaikan. Akan tetapi. Aku juga ingin mati tenang.


Shita menepuk pundakku untuk menyakinkanku.


"Tre, lo bilang. Apa keinginan lo?!" tanya Shita penuh semangat.


"Anu Ta. Sebenarnya. Sebenarnya aku. Aku pengen banget makan naget sepuasku. Mukbang kaya di JoyTube. Pasti enak ya?!" tuturku dengan sendu.


Shita tak bergeming mendengar ucapanku. Aku pun malu dengan apa yang aku katakan. Dengan berani aku menoleh ke arah Shita. Aku terkejud saat aku melihat mata Shita seakan berkaca tersorot sinar lampu dari arah luar.


"Taaaa, tuuu kan gituuu. Pasti kamu mau bully aku kan." ucapku dengan sendu.


"Tre! Kita benar-benar jodoh Tre. Kita soulmate banget Tre." seru Shita.


"Lo tau?! Gua juga pengen itu." tutur Shita menyeka air matanya. "Gua pengen makan naget banyak. Sosis banyakkk..."


"Minum cola,, makan nyemil sepuasnya." selaku.


"Sumpah gua banget. Tre." seru Shita.


"Okay. Kalau gitu ayo kita buat list Tre. Kita buat List keinginan kita yang pengen kita kakukan. Kita wujudkan semua bareng Tre. Pumpung kita ada kesempatan. Pumpung lo masih banyak duit." sungut Shita.


"Sae aja lu. Tapi boleh juga." sahutku.


"Tapi Ta. Masih banyak yang aku pengen." tuturku.


"Apa-apa?? Biar gua catat." tanya Shita.


Shita mencoba mencari buku di dalam tas ranselnya. Yqng tergantung di jog bagian belakang tempat dia duduk.


"Mana sih buku gua." gumam Shita.


"Tre apa Tre?! Lo bilang ke gua cepat." titah Shita sudah siap dengan buku dan bulpen di tangannya.


"Anu Ta. Selain tadi. Sebenarnya aku mau sesuatu hal." ucapku dengan malu.


"Iya apa?! Gua udah siap nyatet keles!!" sergah Shita.


"Aku mau masuk WC umum kusus cowok." ucapku dengan lirih.


"What's!? Serius lu?!" seru Shita.


"Ihh kamu gitu kan. Aku cuman penasaran aja. Isi nya bagaimana. Sama kaya punya di wc cewek apa enggak. Kan selama ini kita gak boleh masuk ke wc cowok! Aku kan jadi penasaran." jelasku.


"Ya kan lu bisa lihat di internet. Gak ada keinginan yang lain gitu?!" tanya Shita.


"Banyak! Tapi itu salah satunya." tuturku.


"Okay kita catet. Trus apa lagi." tanya Shita.


Malam itu, aku memceritakan banyak hal yang ingin aku lalukan dalam hidupku. Shita pun terheran-heran dengan semua keinginanku. Hampir ada beberapa keinginan kita sama. Seperti masuk ke rumah hantu dan karaokean bersama. Bernyanyi lepas di tempat umum, walau suara kami parau.


"Apa lagi?! Biar aku catat semuanya." ucap Shita.


Shita membuatkan sebuah daftar keinginan yang akan kami wujudkan bersama. Aku juga menyuruh Shita untuk memasukan keinginannya di daftar yang kami buat.


Saking banyaknya, kertas yang kami gunakan pun tidak muat menampungnya. Kami memutuskan untuk sedikit demi sedikit mewujudkannya.


Siapa tau nanti kami punya keinginan lain lagi.



Malam itu kami tidur cukup larut malam. Bahkan kami tak tau, terlelap jam berapa malam itu. Benar-benar malam yang berkesan buat kami berdua. Kami sampai tidur berhadap-hadapan dengan tangan yang saling bergenggaman.


...****************...