
Hari ini kami berencana untuk melakukan SCUBA diving. Berhubung kondisi tubuhku tidak memungkinkan untuk memakai bikini, jadi Eric membawaku ke tempat menyelam terbaik disini.
Aku sangat antusias, karena aku belum pernah menyelam sebelumnya. Disini kami menyewa peralatan menyelam dari sebuah toko. Kami tidak sendiri, kami menyelam dalam sebuah tim yang terdiri dari 5 orang. Seorang instruktur akan memandu kami selama melakukan penyelaman.
Eric membantuku memakai peralatan menyelam. Dia memasangkan BCD, SCUBA tank, weight belt, masker selam, regulator sampai kaki katak padaku. Setelah beres denganku, Eric memasang peralatannya sendiri.
Begitu kami berlima siap, kami dipersilahkan masuk ke dalam air secara berurutan. Sebenarnya aku sangat gugup, karena ini adalah pengalaman pertamaku. Tapi Eric tidak pernah melepaskan tanganku. Kamipun masuk ke dalam air bersama-sama.
Sumpah demi apapun! Aku tidak pernah melihat surga di bawah air seperti ini. This is wonderful!
Di dalam air Eric tetap menggandeng tanganku. Meski aku tidak tahu apa yang dia katakan, tapi aku cukup paham dengan bahasa tubuhnya.
Kami menikmati keindahan bawah laut yang luar biasa. Ikan-ikan kecil yang berlarian dan bersembunyi di balik terumbu karang. Udang dan ikan yang bersembunyi dibawah pasir. Aku tidak tahu apa nama ikan-ikan itu. Tapi warna warni yang begitu cantik membuat kawanan ikan itu seperti pelangi berjalan. Mereka berhamburan saat rombongan kami datang.
Instruktur mengarahkan kami pada bangkai kapal yang telah berubah menjadi rumah ikan. Terumbu karang juga sudah tumbuh banyak disana. Sangat indah. Berbagai jenis ikan mengintip kami dari dalam rumahnya. Sesekali mereka akan berhamburan saat kami mendekat.
Aku menyesal tidak membawa kamera. Harusnya aku mengabadikan keindahan ini. Kami terus berkeliling dibawah air sampai sekitar 20 menit. Tentu kami tidak ingin kehabisan oksigen dibawah air. Karena kami masih bernafas menggunakan paru-paru.
Ternyata menyelam itu melelahkan. Meski hanya sebentar, tapi tubuhku terasa pegal semua.
"Kau hanya belum terbiasa, Bells. Mungkin suatu saat nanti kita bisa membeli rumah di tepi pantai agar kau terbiasa menyelam," kata Eric saat mendengarku mengeluh.
"Aku setuju!" seruku antusias. "Tidak perlu rumah mewah, rumah kayu sederhana yang nyaman untuk kita tinggali bersama anak-anak kita. Pasti sangat menyenangkan." Aku bertepuk tangan sambil tersenyum lebar.
"Baiklah, aku akan memasukkannya ke dalam daftar rencana masa depanku." Eric terkekeh sambil mengusap kepalaku.
Tidak lupa kami mengisi perut kami dengan aneka seafood bakar yang di jajakan di tepi pantai. Aku sangat menyukainya. Seafood disini masih segar, hanya dengan dibakar dengan sedikit bumbu saja rasanya sudah luar biasa.
Begitu perut kami kenyang dan telah berganti pakaian, kami berjalan-jalan di tepi pantai. Aku iri melihat orang-orang berjemur. Eric yang menyadari ekspresiku langsung merangkul bahuku.
"Kau bisa berjemur saat kita tidak sedang bulan madu, Sweetheart," kata Eric yang tidak melepaskan pelukannya di bahuku.
"Aku tidak mau tahu, kita harus kesini lagi suatu saat nanti," kataku sambil mengerucutkan bibir.
"Anything you want, My Beloved Wife!"
Kami terus berjalan menyusuri pantai. Saat sampai di tempat penyewaan jetski, Eric tiba-tiba berhenti melangkah.
"Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Mau mencoba itu?" Eric menunjuk jetski yang berjajar rapi di tepi pantai.
Tentu saja aku mau. Kalau untuk jetski, aku cukup menguasainya. Aku pernah beberapa kali naik jetski seorang diri.
"Tentu saja," jawabku bersemangat.
"Tunggu sebentar!" Setelah mengatakan itu, Eric berlari kecil menuju petugas penyewaan jetski. Setelah beberapa saat, aku melihat Eric melambai ke arahku. Dia memintaku menghampirinya.
"Pakai ini!" Eric membantuku memakai pelampung. Dan setelah kami berdua memakai pelampung, kami mulai menaiki jetski yang kami sewa.
Eric memintaku duduk di depan. Dia bilang tubuhku kecil, dia takut aku akan terpental saat dia melakukan manuver-manuver yang tajam. Dia memang suka pamer. Dulu sewaktu di Amytville, dia pamer kemampuan offroad-nya. Sekarang dia mau pamer lagi kemahirannya mengendalikan jetski. Hh ... suami yang sombong! Tapi aku sangat mencintainya.
"Kau bisa mengemudikannya?" tanya Eric padaku.
"Sure," jawabku yakin.
"Aku ingin melihat kemampuanmu, Sweetheart." Eric berbisik di telingaku.
Baiklah, dia pikir hanya dia yang bisa sombong. Akan kutunjukkan kemampuanku padanya. Lihat saja!
Aku mulai melajukan jetski kami ke tengah laut. Aku benar-benar mengerahkan seluruh kemampuanku. Meski aku tidak begitu mahir, tapi aku cukup bisa mengendalikan jetski dengan kecepatan tinggi.
"Not bad," kata Eric saat kami melaju pelan di tengah laut.
Aku menurunkan bahuku lalu melirik keatas, karena posisi wajah Eric hampir diatas kepalaku. Dia yang memegang kemudi sekarang.
"Aku sudah mengeluarkan seluruh kemampuanku dan kau hanya bilang 'not bad'?" Aku mendengus kesal. Sungguh menyebalkan!
Eric tertawa melihatku menggerutu. "Aku akan menunjukkan padamu bagaimana bermain jetski," kata Eric setelah berhenti tertawa.
Aku belum sempat menjawab ucapannya, dia sudah mengambil alih kendali jetski dengan melajukannya sangat kencang sampai-sampai kukira jetski kami sudah tidak berada di permukaan air lagi.
Bukan hanya itu, Eric menunjukkan beberapa trik yang membuatku berdecak kagum. Kami menukik tajam, jumping, sampai melakukan gerakan berputar dengan satu poros. Jantungku rasanya mau melompat keluar karena aksi-aksinya. Dia sangat pandai memainkan adrenalinku. Harus kuakui, dia memang hebat.
Aku menyandarkan punggungku pada dada Eric. Kami berputar-putar pelan di tengah laut sambil menikmati sengatan sinar matahari yang mulai terik. Tidak masalah jika kulitku terbakar karena aku lupa memakai sunblock di tangan dan kakiku, asal bisa seperti ini, hidupku lebih bahagia dibandingkan memiliki kulit yang indah.
Kurasakan jantung Eric berdetak cepat di punggungku. "Kenapa jantungmu berdetak cepat sekali?" tanyaku.
"Kurasa karena ada dirimu di dekatku." Eric menunduk menatapku lalu mendaratkan satu kecupan di kepalaku.
Aku menengadah. "Give me a kiss," kataku sedikit manja.
Eric tersenyum lebar lantas menciumku. Hanya ciuman singkat, tapi aku menyukainya.
"Kau tahu, setiap hari yang kulalui bersamamu selalu membuat jantungku ingin melompat keluar dari dadaku. Kau sangat spesial, Bells. Kau telah merubah hidupku. Kau membuatku menjadi lebih baik dari diriku sebelumnya."
"Ini masih terlalu pagi untuk merayu, Eric." Aku mencubit lengannya yang keras.
"Aku tidak akan pernah bosan mendengar rayuanmu," kataku sambil menyandarkan kepala pada lengan kanan Eric.
"Dan aku tidak akan pernah bosan untuk ...."
"WATCH OUT ... WATCH OUT ...!!!" Aku mendengar suara orang berteriak.
Tiba-tiba tubuhku terlempar ke dalam air. Eric yang mendorongku. Tubuhku mengambang, meski sempat tenggelam karena Eric mendorongku cukup keras.
Namun itu bukan masalah. Dengan kedua mataku, aku melihat jetski yang aku tumpangi bersama Eric melayang di udara, melewati kepalaku.
Otakku masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Semuanya terlalu cepat. Yang aku tahu, Eric masih berada diatas jetski itu.
Sebuah speedboat mendorong jetski kami ke udara dengan sangat keras hingga aku bisa melihat beberapa serpihan entah dari jetski atau dari speedboat yang berjatuhan di sekitarku.
Lalu sebuah ledakan terjadi. Speedboat dan jetski itu sama-sama meledak pada jarak yang cukup jauh dariku. Telingaku berdengung hebat, mataku mengerjap pelan. Otakku masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
Apa yang terjadi? Otakku tidak bisa memahaminya.
Aku melihat beberapa speedboat penjaga pantai mendekat ke arahku. Seseorang menarikku keatas speedboat.
"Anda bisa mendengarku, Nona?" tanya seseorang sambil melilitkan selimut di tubuhku.
Ya, aku bisa mendengarnya. Tapi mulutku terkunci rapat. Kedua mataku masih menatap ke arah kobaran api dan kepulan asap hitam dari ledakan itu.
Sesuatu yang sangat berat baru saja dilempar ke dadaku. Ada tangan tak terlihat yang meremas jantungku dengan sangat kuat hingga rasanya untuk bernafas pun sulit. Otakku masih bertanya-tanya, masih berusaha menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi.
Sel-sel di otakku bekerja dengan sangat lambat. Seketika aku menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.
Pandanganku masih terkunci pada objek yang sama saat aku merasakan tubuhku berguncang karena seseorang.
"Nona, apa Anda bisa mendengarku?"
Lagi-lagi suara itu terdengar. Suara orang yang sama. Aku menoleh padanya. Seorang pria paruh baya dengan seragam penjaga pantai duduk di depanku. Aku tidak tahu kenapa wajahnya terlihat khawatir. Tapi dia terus mengajakku bicara.
Kurasa bukan hanya otakku yang melemah. Indra pendengaranku juga sepertinya mengalami penurunan kemampuan. Orang itu terus mengajakku berbicara, tapi aku tidak bisa mendengarnya. Aku hanya bisa melihat bibirnya bergerak-gerak.
Lalu aku merasakan speedboat yang aku tumpangi bergerak menjauh dari lokasiku tadi. Aku merasa ada sesuatu yang tertinggal disana.
Sesaat sebelum speedboat itu sampai di pantai, aku menoleh ke belakang. Aku masih merasa bahwa aku meninggalkan sesuatu disana. Lalu aku merasakan pipiku basah. Aku menangis? Untuk apa?
Seorang perempuan dengan seragam yang sama dengan pria paruh baya yang bersamaku datang. Dia membimbingku, merangkulku berjalan menuju mobil yang berada di bibir pantai.
Perempuan itu menyuruhku duduk di bagian belakang mobil yang terbuka, lalu memberiku air minum.
Aku meminumnya sedikit dengan tangan gemetar. Lalu seseorang lagi datang. Seseorang dengan sebuah kotak berwarna orange bertuliskan 'MADICAL'.
Orang itu melakukan sesuatu padaku, aku tidak begitu memperhatikan apa yang dia lakukan. Dia juga menanyaiku sesuatu yang aku tidak mengerti. Aku hanya menatapnya karena telingaku tidak bisa mendengar dengan baik apa yang dia tanyakan.
Air mataku terus mengalir, tapi mulutku masih terkunci rapat. Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Yang aku rasakan, aku hanya ingin mengeluarkan air mataku.
Orang yang terakhir tadi pergi, tinggal aku dan seorang perempuan yang membawaku ke mobil tadi. Aku tidak tahu kenapa perempuan itu peduli sekali padaku. Dia mengusap-usap bahuku sambil mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar dengan jelas.
Tunggu!
Harusnya aku tidak sendiri disini. Aku tadi datang dengan seseorang. Otakku mencoba mengingat-ingat apa yang kulakukan disini. Lalu sekelebat wajah seseorang muncul. Aku mengangkat wajah, menatap perempuan di sampingku. Mungkin dia bisa menjawab pertanyaanku.
"Dimana suamiku?"
Perempuan itu tidak menjawab. Tapi justru memelukku. Apa dia juga tidak bisa mendengar dengan baik sepertiku?
Samar-samar aku mendengar dia mengatakan sesuatu. Lalu pandanganku terpaku pada sebuah speedboat yang menepi ke bibir pantai.
Beberapa orang berlari mendekat ke arah speedboat membawa tiga buah tandu. Lalu mereka menurunkan tiga orang dari speedboat dengan cara membopongnya ke tandu.
Aku melepaskan pelukan perempuan itu, aku melompat turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah tandu yang mereka bawa ke tepi pantai. Selimut yang membungkus tubuhku jatuh teronggok diatas pasir.
Aku mengenali orang diatas tandu itu. Aku berjalan semakin mendekat untuk memastikan. Seseorang berusaha menahanku, aku berontak. Aku menghempaskan tangan yang menyentuh bahuku. Hingga aku berhasil menggapai tandu itu.
Nafasku tercekat, paru-paruku mengalami gagal fungsi dalam waktu seketika. Itu Eric, itu suamiku. Aku menjerit histeris, aku meraung, memanggil-manggil namanya tapi dia tidak menyahut. Aku merasa mataku semakin gelap, sendi-sendi dalam tubuhku melemas. Tubuhku luruh diatas pasir. Aku merasakan seseorang menangkap tubuhku lalu semuanya menjadi gelap.
*
*
*
*
*
tbc.
Apa yang terjadi selanjutnya?
See you next part, Love.