
Seperti kata Eric semalam, hari ini dia mendatangi kediaman keluarga Bennings.
Di depan gerbang, Eric sempat mendapat kesulitan karena Mike memberi perintah pada Greg untuk tidak membiarkan Eric masuk dengan ancaman akan memecatnya jika dia memberikan jalan.
"Ayolah, Greg ! Aku datang untuk menemui Jhon Bennings bukan Mike Bennings. Aku janji ini yang terakhir." Bujuk Eric.
"Maaf, Mr. Michaels. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku." Tolak Greg.
"Kau bisa bekerja padaku jika kau dipecat."
Greg terkekeh. Bukan masalah pekerjaan sebenarnya, tapi ini masalah loyalitas. Dia sudah bekerja pada keluarga Bennings lebih dari sepuluh tahun. Dan keluarga itu memperlakukannya dengan sangat baik. Jadi, dia tidak mungkin menghianati keluarga ini.
"Aku tidak akan menghianati orang yang sudah memberiku makan, Mr. Michaels." Ucap Greg.
Eric mengumpat dalam hati. Lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi Isabel.
"I'll pick you up." Ucap Isabel setelah mengetahui Eric mendapat masalah di gerbang.
Isabel setengah berlari menuruni tangga. Dia harus melakukan sesuatu.
"Mau kemana kau, Isabel ?"
Suara Mike terdengar dari arah belakang. Isabel menoleh. Mike berjalan mendekat, sambil memicingkan mata. Dia curiga kalau adiknya akan membuat ulah lagi setelah semalam merusak mobil dengan tindakan anarkisnya.
"Apa lagi yang akan kau lakukan kali ini ?" Tanya Mike dengan nada skeptis.
"Melakukan apa yang kuanggap benar." Jawab Isabel dengan berani.
Mike berjalan semakin dekat. "Dia disini, bukan ?!" Tebak Mike. Lalu dia mendengus sambil membuang pandangan kesamping. "Dia sudah menyakitimu dan kau masih saja membelanya." Kata Mike seraya mengarahkan tatapan tajamnya pada Isabel.
"Aku yang lebih tahu perasaanku. Kau tidak berhak mengatur kepada siapa aku akan menambatkan hatiku." Tukas Isabel.
Gadis itu hendak berbalik meninggalkan Mike, namun dengan cepat Mike menarik tangannya.
"Tidak semudah itu, Isabel !" Tegas Mike. "Kau masih menjadi tanggung jawab keluarga ini. Dan aku sebagai kakakmu tidak akan membiarkan kau disakiti lagi oleh pria b*rengsek seperti dia."
"Apa hakmu mengatur perasaanku ? Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Kau tidak berhak mengatur hubungan kami !" Suara Isabel meninggi.
"Aku berhak ! Karena aku kakakmu !" Suara Mike ikut meninggi.
Pertengkaran kedua kakak beradik itu menyita perhatian dari orang tua mereka yang sedang berada di serambi kanan rumah.
Jhon dan Emma pun bergegas mendatangi putra dan putri mereka yang sedang bersitegang.
"Ada apa ini ?" Tanya Jhon dengan wajah serius sambil berjalan mendekat. Emma yang ada di belakang pun mengikuti suaminya.
Mike melepaskan cekalan tangannya pada Isabel. Dia berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Sebenarnya dia tidak bermaksud jahat. Dia hanya tidak ingin adiknya disakiti lagi oleh pria yang pernah mencampakkan adiknya itu.
"Pria b*rengsek itu berani menunjukkan wajahnya disini lagi." Mike menjelaskan dengan emosi yang tertahan.
"Siapa ?" Jhon mengernyit bingung. Lalu Emma menyentuh pundak suaminya sambil menyebutkan sebuah nama. "Eric." Kata Emma.
Raut wajah Jhon berubah begitu mendengar nama Eric disebut. Meski dia tidak bertanya langsung pada Isabel, tapi Emma telah menceritakan semua yang terjadi pada putrinya. Bagaimana Isabel berpura-pura kuat saat Eric pergi, serta upayanya untuk mengetahui keberadaan Eric. Bagaimana rapuhnya Isabel saat tidak mampu lagi menyembunyikan rasa sakitnya. Hingga bagaimana hancurnya Isabel saat hubungan Isabel dan Eric kandas karena sebuah alasan yang tidak masuk akal menurut keluarganya.
Kekecewaan memang tertancap di hati Jhon saat mendengar itu semua. Dia sangat mempercayai Eric, tapi Eric telah menodai kepercayaannya dengan menyakiti Isabel. Membuat putrinya terluka.
Jhon menatap teduh putrinya yang tampak diselimuti emosi.
"Eric disini ?" Tanya Jhon pada Isabel.
Meski deru nafasnya masih terasa bermaraton, Isabel mencoba mengendalikan emosinya. Dia menarik nafas dalam sambil memejamkan mata. Setelah itu dia menoleh pada sang ayah.
"Iya, Dad. Dia di depan gerbang." Jawab Isabel.
Jhon menghela nafas. Ekspresinya sulit dimengerti.
"Apa tujuannya datang kemari ?" Tanya Jhon.
"Dia yang akan menyampaikannya sendiri pada kalian." Isabel menatap ayah dan ibunya bergantian, lantas melirik sekilas pada Mike dengan tajam seolah berkata kalau tujuan Eric datang kesini bukan untuk menemui kakaknya itu.
"Kita bicarakan ini di ruang keluarga." Jhon berjalan mendahului anggota keluarganya yang lain menuju ke ruang keluarga. Ini masalah serius, harus dibicarakan sambil duduk dan dengan kepala dingin.
Mereka berempat duduk bersama di ruang keluarga. Jhon dan Emma duduk bersisian. Sedangkan Mike dan Isabel duduk dihadapan mereka dengan posisi saling berjauhan.
"Aku tahu kalau kau masih mencintainya, Nak. Tapi...." Jhon melipat bibir, menjeda ucapannya. "Apa yang telah dia lakukan padamu, tidak bisa kami terima dengan mudah."
Mendengar ucapan ayahnya, Isabel mengeraskan rahang. Pertanda buruk !
"Kau adalah putriku satu-satunya. Jika ada orang yang menyakitimu, itu sama saja dengan menyakitiku, menyakiti kami semua."
"Tapi dia sudah menyesal dan meminta maaf, Dad." Sela Isabel. Sebelum Jhon mengeluarkan pernyataan yang semakin menyakitkan, Isabel merasa perlu melakukan pembelaan terhadap Eric.
"Tidak sopan menyela pembicaraan orang tua !" Celetuk Mike, memperingatkan adiknya dengan ketus.
Isabel melirik tajam pada kakak laki-lakinya tapi tidak menanggapi karena itu hanya akan memperumit masalah.
"Dan kau sudah memaafkannya." Kata Jhon memperjelas maksud ucapan Isabel.
"Tapi bagi kami, orang tua dan kakakmu, apa yang dia lakukan sudah sangat menyakiti hati kami, Nak. Dia telah menodai kepercayaan yang kami berikan." Jelas Jhon.
"Kepercayaan itu ibarat sebuah kertas. Sekali kau meremasnya, maka kertas itu tidak akan bisa kembali seperti semula. Begitu juga dengan kami, Nak. Kami sangat mempercayainya, tapi dia telah menghancurkan kepercayaan itu. Dia membuatmu terluka. Dia meninggalkanmu tanpa memikirkan perasaanmu."
Hati Isabel terasa perih mendengar kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut ayahnya. Dia tahu Eric salah. Tapi bukankah dia sudah minta maaf dan menyesali perbuatannya ? Tuhan saja akan mengampuni umat-Nya yang bertaubat. Kenapa keluarganya tidak bisa memaafkan Eric ?
Isabel menunduk dalam. Hatinya sangat sakit. Bagaimana jika keluarganya tidak akan pernah merestui hubungannya dengan Eric ?
Kedua mata Isabel terasa panas. Air mata pun jatuh di pipi Isabel tanpa bisa dicegah. Gadis itu memejamkan mata, yang membuat air matanya menderas.
Isabel membersit ingus, perlahan dia mengangkat wajahnya yang telah basah, menatap penuh harap pada kedua orang tuanya.
Susah payah Isabel menelan ludah supaya bibirnya bisa mengeluarkan suara.
"Tolong beri dia satu kesempatan !" Isabel memohon, meminta penuh harap dengan menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
Emma menyembunyikan wajahnya yang juga telah basah dengan air mata dengan menunduk. Dia tidak tahan melihat putrinya berderai air mata. Sorot mata putrinya menunjukkan sebuah keputus asaan yang sangat dalam. Emma tidak kuat melihat putrinya seperti itu, seperti kehilangan gairah untuk hidup.
Hanya terdengar helaan nafas dari Jhon tanpa ada jawaban.
"Aku mohon, Dad. Beri dia satu kesempatan lagi. Beri kami satu kesempatan untuk membuktikan bahwa kami bersungguh-sungguh dengan komitmen kami." Isabel mengatupkan kedua tangannya.
Jhon menghembuskan nafas kasar. Lama kelamaan dia juga tidak tega melihat putrinya memohon seperti itu.
"Baiklah...."
"Dad !" Seru Mike. Dia tidak bisa membiarkan ayahnya memberi kesempatan pada pria yang telah menghianati kepercayaan keluarganya itu.
Jhon menatap tegas pada Mike, dan Mike pun menelan lagi kata-katanya yang sudah berada diujung lidah. Dia menghempaskan punggungnya ke sofa dengan kasar karena kecewa dengan keputusan sang ayah.
Senyum tipis Isabel mengembang. Dia seperti menemukan oase di tengah gurun pasir.
"Satu kesempatan untuk mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Tapi aku tidak bisa berjanji untuk menerima hubungan kalian kembali." Kata Jhon dengan tegas.
Meski ucapan Jhon terasa seperti godam yang menghantam hati Isabel, paling tidak Jhon sudah memberi satu kesempatan untuk Eric. Tinggal bagaimana Eric meyakinkan keluarganya untuk menerima hubungan mereka kembali.
Jhon meminta Mike menghubungi Greg untuk membiarkan Eric masuk. Mike harus mengesampingkan emosi karena ayahnya sudah mengambil keputusan. Dia segera menghubungi Greg dengan ponselnya.
"Masuklah ke kamarmu !" Perintah Jhon pada Isabel.
Isabel mengernyit. Kenapa dia harus masuk ke kamar ? Apa yang akan mereka lakukan pada Eric ? Kenapa dia tidak boleh berada disana ? Isabel tidak mau. Dia takut keluarganya akan melakukan hal diluar dugaan jika dia tidak berada di sisi Eric. Paling tidak, Isabel ingin memberi dukungan dan semangat untuk Eric.
"Kau masih dalam masa hukuman. Apa yang kau lakukan semalam tidak bisa dibenarkan, Isabel." Kata Jhon lagi.
Jika situasinya tidak setegang sekarang, Isabel pasti sudah memutar bola matanya. Kebrutalannya semalam memang sedikit berlebihan. Tapi tanpa melakukan semua itu, Isabel pasti tidak akan bisa bertemu Eric dan menyelesaikan masalah mereka.
"Sekarang, Isabel !" Seru Jhon.
Daripada nanti ayahnya berubah pikiran, Isabel memilih untuk menurut. Dengan langkah malas dia berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju ke kamarnya. Sesekali dia menoleh dan melihat raut tegas sang ayah yang masih memperhatikannya.
Sengaja Isabel tidak menutup rapat pintu kamarnya. Dia duduk bersila mengintip dari celah pintu kamar ke ruang keluarga. Meski tidak terlihat sepenuhnya, tapi dia masih bisa mendengar apa yang akan mereka bicarakan disana.
Dengan tatapan seolah ingin menguliti dan tanpa bicara sepatah katapun, Mike membimbing Eric masuk ke ruang keluarga.
Jantung Eric berdetak tidak karuan. Ini adalah peradilan paling menegangkan dalam hidupnya. Menghadapi tiga hakim terkejam tanpa pembelaan dari pengacara, membuat bulu kuduk Eric berdiri. Tapi dia harus siap. Dia harus menghadapi semua ini apapun resikonya.
"Duduklah !" Perintah Jhon pada Eric dengan nada berwibawa dan tegas. Tidak terlihat emosi ataupun benci. Justru Jhon terlihat siap mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Eric.
Suasana di ruang keluarga seketika berubah mencekam. Apalagi saat melihat wajah Mike yang bersiap menjadi algojo jika tersangkanya diputuskan bersalah.
Eric menelan ludah. Dia sangat gugup. Dalam hati dia bertanya-tanya, dimana Isabel ? Kenapa dia tidak ada disana untuk membantunya meyakinkan kelurganya tentang hubungan mereka ?
"Aku memberimu satu kesempatan untuk mengutarakan maksud kedatanganmu kesini." Kata Jhon dengan tegas yang berhasil menarik pikiran Eric dari lamunan singkatnya.
Sekali lagi Eric menelan ludah. Melihat tatapan tegas Jhon membuat nyali Eric menciut. Dimana tekad kuat yang dia rasakan beberapa menit lalu ? Kenapa bibirnya terasa sulit digerakkan disaat seperti ini ? Lidahnya pun terasa kaku. Suaranya menghilang entah kemana. Bahkan udara pun seolah enggan untuk dia hirup.
Mampukah Eric meluluhkan hati keluarga Isabel jika seluruh tubuhnya seolah mati rasa seperti ini ?
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Mari kita berdoa bersama-sama, semoga Eric diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi peradilan ini.
Mengheningkan cipta, mulai !
See you next part, Love.