
Tidak ada hal yang lebih menyenangkan lagi bagiku selain mendapat perlakuan hangat dari Eric. Setelah semalam Eric meminta maaf padaku, hari ini dia tidak lagi pergi bekerja. Dia memantau semuanya dari rumah. Sebenarnya Jordan saja sudah bisa meng-handle Skytech. Tapi disini Eric juga memiliki peran penting. Jadi dia tidak bisa seenaknya tidak mempedulikan Skytech dan hanya mengandalkan Jordan.
Tidak seperti biasanya yang hanya menghabiskan waktu dengan berkutat di depan layar laptop, hari ini Eric terlihat turun dari kamarnya dengan membawa gitar.
Diam-diam aku memperhatikannya. Ternyata Eric membawanya ke halaman depan. Dia duduk di dekat air mancur yang berada di sisi kanan halaman. Aku mengikutinya dan bersembunyi dibalik jendela agar bisa melihat Eric dengan jelas.
Disana Eric mulai memainkan gitarnya. Nada-nada indah mulai terdengar dari petikan gitar itu. Setelah selesai dengan dua lagu, aku memberanikan diri untuk keluar. Aku berjalan perlahan mendekat padanya.
Di akhir lagu ketiga, aku memberikan tepuk tangan sambil tersenyum pada Eric. Eric mengangkat kepalanya lalu melihat padaku.
"Kau punya suara yang bagus," pujiku.
Eric tersenyum. Aku hampir tidak mempercayainya. Eric tersenyum padaku. Hal yang tidak pernah dia tunjukkan padaku sebelumnya.
"Mau bernyanyi bersamaku?" tawar Eric.
Aku tidak tahu lagi bagaimana mendeskripsikan perasaanku saat ini. Ini kemajuan yang luar biasa. Yang bisa kulakukan adalah mengangguk lalu duduk di samping Eric.
"Lost stars? Adam Levine?" tanya Eric padaku. Aku mengangguk.
Dengan mata terpejam Eric mulai memainkan musiknya. Demi Tuhan! Ini adalah hari paling membahagiakan untukku. Kedua mataku berkaca-kaca. Kurasa sebentar lagi aku akan menangis.
Please don't see just a boy caught up in dreams and fantasies
Please see me reaching out for someone I can't see
Take my hand let's see where we wake up tomorrow
Best laid plans sometimes are just a one night stand
I'd be damned Cupid's demanding back his arrow
So let's get drunk on our tears and
God, tell us the reason youth is wasted on the young
It's hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?
Who are we? Just a speck of dust within the galaxy?
Woe is me, if we're not careful turns into reality
Don't you dare let our best memories bring you sorrow
Yesterday I saw a lion kiss a deer
Turn the page maybe we'll find a brand new ending
Where we're dancing in our tears and
God, tell us the reason youth is wasted on the young
It's hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?
I thought I saw you out there crying
I thought I heard you call my name
I thought I heard you out there crying
Just the same
God, give us the reason youth is wasted on the young
It's hunting season and this lamb is on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?
I thought I saw you out there crying
I thought I heard you call my name
I thought I heard you out there crying
But are we all lost stars, trying to light up the dark?
But are we all lost stars, trying to light up the dark?
"Hei, kau menangis?"
Aku terkesiap saat Eric menyentuh pipiku, menghapus air mataku. Aku bahkan tidak sadar kalau Eric telah menyelesaikan lagunya. Alih-alih menyanyi bersamanya, aku hanya menontonnya menyanyi hingga larut dalam rasa yang diberikan Eric pada lagu itu.
Eric mengerutkan keningnya. Dia menatapku begitu dalam.
"Who are you?" tanya Eric lirih sambil terus menatapku. Telapak tangannya masih berada di pipiku. Namun sesaat kemudian dia mengerjap cepat lantas menjauhkan tangannya dari wajahku.
"Maaf," katanya.
Aku menarik nafas dalam. "Tidak apa-apa," kataku sambil tersenyum kaku.
Eric memeluk gitarnya lalu menundukkan kepala.
"Kurasa aku harus meminta maaf atas sikapku terhadapmu selama ini." Eric berpaling padaku. "Aku terlalu banyak bermimpi buruk."
"Mimpi buruk? Seperti apa?"
Eric menghela nafas. Dia memandang lurus kedepan. "Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Lalu kulihat seseorang menangis sambil membelakangiku. Tapi aku tidak pernah tahu siapa dia. Sekeras apapun aku mencoba, aku tidak pernah mendapatkan jawaban. Aku mencoba menggapainya, tapi dia semakin jauh." Eric menoleh padaku lagi. "Apa kau tahu siapa orang itu?"
Aku tidak tahu siapa yang dimimpikan Eric. Tapi orang yang selalu memanggil dan menangis untuk Eric adalah diriku.
"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin saat ini ada seseorang yang sangat merindukanmu." Dan orang itu adalah aku.
"Awalnya kukira itu adalah Elena. Tapi bukan. Aku sangat yakin dia bukan Elena. Setiap dia mau berpaling padaku, aku selalu terbangun dari tidurku. Dan semua mimpiku itu terasa semakin nyata saat aku berada di safe house. Aku merasa begitu dekat dengan orang itu. Aku merasa aku pernah bersamanya disana."
Entah kenapa mendengar Eric menceritakan semua itu membuat air mataku mengucur deras. Mungkin pengaruh hormon. Tapi aku tidak bisa menahan air mataku lagi.
Saat melihatku menangis, Eric meletakkan gitar di sisi tubuhnya lalu bergeser sedikit menghadapku.
"Kenapa kau menangis? Apa kau tahu sesuatu?" Eric mengernyit.
Aku menunduk dan menghapus air mataku. Lalu Eric mengangkat daguku untuk menatapnya.
"Apa yang kau ketahui dariku?"
Aku tidak sanggup mendapat cecaran pertanyaan seperti itu. Mulutku terkunci rapat. Dan aku hanya mampu menatap nanar kedua mata Eric.
Kulihat kerutan di dahi Eric semakin dalam. "I know this eyes," gumam Eric. Lalu tangannya beralih ke pipiku. Dia menghapus air mata yang membasahi pipiku dengan ibu jarinya.
Tatapannya semakin dalam padaku. Seperti terhanyut dalam tatapan Eric, aku membiarkan Eric yang semakin mendekatkan wajahnya. Hingga saat Eric mencium bibirku.
Eric memejamkan matanya. Dia menciumku dengan sangat lembut. Aku tidak kuasa menolak. Aku merindukannya. Aku merindukan ciuman ini. Kedua mataku terpejam seiring air mata haruku yang menetes. Dan aku membalas ciuman Eric.
Eric melepaskan ciumannya setelah cukup lama kami berciuman. Dia menempelkan keningnya pada keningku dengan mata terpejam sambil mengatur nafas.
"I know this feeling," gumam Eric masih dengan posisi yang sama. Lalu dia menjauhkan wajahnya dariku. Dia menatapku lekat seolah mencari jawaban dari pertanyaan yang menggumpal di hatinya.
"Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?"
Aku tidak tahu kenapa hari ini lidahku seakan mati rasa. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun saat Eric mencecarku dengan pertanyaan. Aku ingin mengatakan kalau aku istrinya dan di dalam rahimku sedang tumbuh bayinya. Tapi aku tidak bisa.
Dering ponsel Eric menginterupsi suasana menegangkan ini.
"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud membuatmu menghianati suamimu," kata Eric sebelum beranjak menjauh untuk menerima panggilan.
Aku masih berdiam ditempat menatap Eric yang menghilang dibalik pintu.
"Aku istrimu. Akulah yang selalu memanggil namamu. Dan akulah yang tidak pernah berhenti mencintaimu, Eric."
*
*
*
*
*
tbc.
Ayo Eric sedikit lagi. Pecahkan teka tekinya.
See you next part, Love.