100 Days

100 Days
Part 23



Pencarian selama hampir dua minggu masih belum membuahkan hasil. Mike sudah hampir kehilangan akal sehat. Kedua orang tuanya masih mengira kalau Isabel berada di apartemen Alice.


Orang-orang kepercayaan Mike sama sekali belum menemukan petunjuk. Bahkan, cctv di sekitar apartemen Alice dan perusahaan Aiden juga sama sekali tidak menunjukkan kemunculan Isabel.


Mike berpikir, mungkin sebaiknya dia berkata jujur pada kedua orang tuanya. Namun pesan singkat dari Alice mengurungkan niat Mike untuk mengatakan yang sebenarnya.


Alice menunggu di lobi Global B Company. Seorang OB mengantarkan secangkir teh untuknya atas perintah Mike.


"Maaf membuatmu menunggu," ujar Mike setibanya di lobi.


"Tidak masalah," balas Alice.


Mike duduk di sofa, bersiap mendengarkan informasi yang Alice berikan.


"Jadi, kau tahu dimana Isabel?"


Alice mrmbatin, "Maafkan aku Aiden. Aku harus mengatakannya pada Mike."


"Ya, tapi ...." Alice menggigit bibirnya. Dia tidak tega melihat Mike kalang kabut mencari Isabel. Meskipun harus melanggar janjinya pada Aiden, paling tidak Mike bisa merasa sedikit lebih tenang jika mengetahui Isabel baik-baik saja.


"Tapi apa, Alice? Di mana adikku?" Mike tidak dapat menutupi kekhawatirannya. Apalagi ucapan Alice yang menggantung seperti itu membuat Mike semakin penasaran.


Alice menghela napas, lalu melihat pada Mike sambil berkata, "Isabel tidak ingin ditemui." Alice sambil meremas ujung kemejanya. "Dia butuh waktu untuk sendiri."


Lagi-lagi batin Alice berkata, "Semoga Aiden memaafkanku."


"Katakan, Alice. Di mana adikku?" Jawaban Alice tidak membuat Mike puas. Dia tidak akan bisa tenang sebelum tahu keadaan adiknya baik-baik saja.


Desakan Mike membuat Alice gugup. Gadis itu menggerak-gerakkan ujung kakinya untuk mengusir kegugupan. Jujur, wajah Mike di saat seperti ini sungguh menakutkan. Pantas saja Isabel tidak berani membantahnya. Ya, meskipun tidak menampik juga kalau rasa sayang Mike pada adiknya tak kalah luar biasa.


"Dia ... dia tinggal di tempat tamanku." Jelas itu suatu kebohongan. Alice bahkan sama sekali tidak mengenal Eric. Setengah jujur setengah berbohong sepertinya tidak terlalu buruk.


"Di mana temanmu tinggal?" Tatapan tajam Mike membuat Alice semakin salah tingkah.


Bukannya menjawab, Alice meraih cangkir teh dari atas meja kaca lalu menyesapnya sedikit. Pandangan Alice jatuh pada cairan kecoklatan dalam cangkir itu, bingung harus menjawab apa.


"Alice?" Mike menelengkan kepala untuk melihat wajah Alice karena tak kunjung mendapat jawaban.


Alice meletakkan cangkirnya, mengembuskan napas pelan sebelum menjawab, "Maafkan aku, Mike. Aku sudah berjanji." Alice menundukkan wajahnya, menghindari tatapan tajam Mike.


Mike menepuk pahanya, mengalihkan pandangan dari wajah Alice lalu menyandarkan punggungnya di sofa seolah ingin mengatakan "ayolah, yang benar saja?"


"Tapi aku janji, dia akan baik-baik saja disana." Ucapan itu spontan terlontar dari bibir Alice karena melihat ekspresi Mike.


Bagus, Alice! Sekarang kau berjanji untuk hal yang kau sendiri tidak yakin.


Masih dengan posisi bersandar di sofa, Mike memicingkan mata pada sahabat adiknya itu. Dia juga tampak tidak senang dengan ucapan Alice. Dia baru bisa tenang kalau sudah mengetahui keadaan Isabel secara langsung.


Alice mengangkat wajah, "Setidaknya berikan dia waktu untuk memulihkan hatinya," katanya lagi sambil menatap penuh harap. "Kehilangan orang yang sangat dia cintai pasti tidaklah mudah. Aku yakin jika suasana hatinya sudah membaik, Isabel akan kembali dengan sendirinya."


"Ada benarnya juga ucapan Alice. Untuk menerima kenyataan seperti ini pasti tidak mudah. Aku tahu bagaimana rasanya. Ya Tuhan, harusnya aku mengerti perasaan adikku," batin Mike.


Tidak ada salahnya memercayakan Isabel pada Alice. Mike mencondongkan tubuhnya dengan siku terlipat dipaha. "Aku percaya padamu, Alice. Tolong jaga Isabel untuk kami."


Alice menunduk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak sepenuhnya jujur pada Mike membuatnya sedikit terbebani dengan permintaan itu. Bagaimana dia bisa menjaga Isabel kalau dia sendiri tidak bisa menemui sahabatnya itu?


"Jika terjadi sesuatu pada Isabel, segera hubungi aku," tambah Mike.


"I will." Alice tidak bisa menjanjikan apapun. Semoga saja Aiden menepati ucapannya untuk menjaga Isabel dengan baik. Karena kalau sampai terjadi hal buruk pada gadis itu, Alice lah orang pertama yang akan berurusan dengan keluarga Bennings. Dan itu pasti sangat sangat buruk!


*****


Hampir setiap hari Chloe datang ke Willow Spring untuk memantau keadaan Isabel. Dia tidak pernah melewatkan waktu luangnya untuk menatap layar yang menampilkan rekaman cctv di safe house Eric.


Sepanjang yang dia lihat, Isabel hanya duduk melamun dan menangis. Sesekali dia terlihat memakan makanan yang dibawakan Eric meskipun hanya sedikit.


Terkadang Grey -kucing peliharaan Eric- mendatangi Isabel dan tertidur di pangkuan gadis itu. Hanya pada saat itu bibir Isabel terlihat bergerak mengeluarkan kata-kata sambil mengelus bulu lembutnya. Mungkin dia merasa berbicara dengan seekor kucing lebih terasa nyaman daripada dengan manusia lain.


"Sampai kapan aku harus menjadi babysitter gadis itu?" Eric menutup laporan keuangan yang baru saja selesai dia baca lalu menatap lelah pada Chloe.


Chloe melirik sebentar pada kakaknya, lalu pandangannya kembali pada layar laptop.


"Isabel, Eric! Gadis itu memiliki nama," tukas Chloe.


"Terserah! Kenapa bukan kau saja yang mengurusnya?" gerutu Eric. Setiap malam harus tidur di sofa sambil menjaga gadis patah hati sungguh membuat Eric tersiksa.


Chloe memutar tubuhnya menghadap Eric yang duduk bersandar di kursi kerjanya dengan tangan terlipat di dada. "Kurasa orang yang dulu menahannya disini adalah seorang pria. Dan pasti itu bukan aku," sindir Chloe.


Eric memutar mata malas sambil mengangkat kedua tangannya. Memang benar dia sendiri yang awalnya menahan gadis itu di tempatnya untuk membuat gadis itu berhenti menghalangi pernikahan adiknya. Tapi yang terjadi sekarang sungguh diluar dugaan. Justru dia sendiri yang terperangkap dalam permainannya.


"Aku sudah mau mengantarnya pulang, tapi dia menolak. Aku terpaksa membiarkannya tinggal disini."


"Maka biarkan dia tinggal," tukas Chloe.


Eric berdiri lalu ikut bergabung bersama Chloe di sofa. "Tinggallah disini sampai gadis itu bersedia pergi," pinta Eric sungguh-sungguh.


Embusan napas pelan terdengar dari hidung Chloe. Dia meraih tangan Eric lalu menggenggamnya erat. "Dia membenciku, Eric." Chloe menatap lekat kedua manik kelabu kakaknya. "Dia membutuhkanmu. Bantu dia melewati hari buruknya. Dia menghindari keluarga dan sahabatnya karena terakhir kali dia pergi, hubungan mereka sedang tidak baik. Hanya kau, Eric. Dia tidak menolak kehadiranmu. Hanya kau yang bisa membantunya saat ini." Ucapan Chloe terdengar sangat tulus. Dia merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Isabel.


"Karena dia menumpang di tempatku." Eric melepaskan tangan Chloe yang menggenggam tangannya dengan kesal.


"Eric," suara Chloe terdengar memelas, "bayangkan jika aku yang berada di posisinya. Lihatlah dia! Dia sangat berantakan, tubuhnya juga semakin kurus. Apa kau tidak kasihan padanya?"


Eric berdecak mendengar ucapan Chloe. Dia tidak habis pikir, kenapa adiknya bisa sebaik itu pada orang yang membenci dan hampir mencelakainya?


"Okay, dia bisa tinggal disini selama yang dia inginkan, tapi aku tidak akan tidur di sofa sialan itu lagi. Aku akan pulang ke rumah."


"Tidak, Eric! Bagaimana jika dia menyakiti dirinya sendiri?"


"Jika dia memang ingin menyakiti dirinya sendiri, pasti dia sudah melakukannya."


"Bisa saja dia tidak melakukannya karena kau ada di sana. Ayolah, Eric! Aku tahu kau bukan orang yang sekejam itu." Lagi-lagi Chloe menggunakan rayuan melasnya pada Eric.


"Jangan memaksaku, Chloe!" Eric menegakkan telunjuknya kearah Chloe, isyarat dia tidak ingin dibantah. Membuat Chloe yang sudah membuka mulutnya untuk protes, menutup mulutnya kembali.


Eric kembali ke meja kerja dan melanjutkan pekerjaannya, membiarkan Chloe yang terus melihatnya dengan tatapan kesal.


"Apa peduliku padanya? Konyol!" batin Eric.


Chloe mendekati meja kerja Eric, melipat tangan di dada dengan tatapan kesal pada kakak yang telah merawatnya sejak orang tua mereka meninggal itu.


Beberapa saat Chloe berdiri disana, Eric tidak memedulikannya. Dia tetap fokus pada pekerjaan. Hingga saat Chloe menarik beberapa lembar kertas yang ada di hadapan Eric lalu memasukkannya ke dalam map file.


"Eric yang kukenal tidak akan membiarkan seseorang yang sedang terpuruk untuk jatuh lebih dalam lagi," kata Chloe sambil menjauhkan map file ditangannya dari Eric, berharap Eric mendengarkan ucapannya.


Eric sedikit mendongakkan kepala untuk melihat wajah Chloe. Wajahnya tampak sangat kesal dengan apa yang dilakukan Chloe. Tapi dia tidak akan bisa marah pada adiknya itu.


Chloe adalah segalanya untuk Eric. Dia akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk adiknya. Selama ini Eric bisa berperan menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untuk Chloe.


Kebahagiaan Chloe adalah prioritas bagi Eric. Tapi dalam hal ini ... haruskah Eric bersikap egois sekali ini saja? Atau dia harus mengalah lagi demi kebahagiaan adiknya?


***


tbc.


Temukan jawaban Eric di part selanjutnya yes !


Jangan lupa doain Alice supaya bisa menjaga Isabel lewat telepati juga ya, kasian dia entar kalo kebanyakan mikir jadi stres, hehehe.


See you next part.


Big love and big hug from me,