100 Days

100 Days
Part 104



"Sial !" Umpat Eric tertahan sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah lagi. Dia masih tersungkur di lantai akibat tinjuan keras Mike.


Belum puas dengan satu pukulan, Mike meraih kerah kemeja Eric dan memberi beberapa pukulan lagi. "B*jingan ! Aku akan menghabisimu !" Ucap Mike disela serangannya pada Eric.


Mike menarik kerah Eric agar pria itu berdiri. Darah segar keluar dari hidung dan bibir Eric. Sepertinya hidung Eric patah. Jangan salah, Mike belajar jiujitsu semasa sekolah. Jadi pukulannya pun bukan pukulan sembarangan.


Begitu Eric berdiri, Mike menghantamkan lututnya pada perut atas Eric lantas melayangkan pukulan lagi ke wajah Eric.


Habis sudah nasib Eric ditangan Mike. Wajahnya yang belum pulih harus kembali mendapat serangan bertubi-tubi. Ditambah lagi ulu hatinya yang terasa sangat nyeri akibat hantaman lutut Mike. Hingga dia tersungkur ke belakang.


Mike mengangkat kakinya hendak menyerang Eric yang terbatuk-batuk di lantai. Tapi dengan cepat tangan Eric menahannya. Sudah cukup ! Jika dia membiarkan Mike terus menghajarnya seperti itu, bisa-bisa dia pulang hanya tinggal nama. Dan dia tidak akan bisa menikah dengan Isabel.


Eric meludah darah ke lantai, lalu dia mendorong kaki Mike hingga pria itu hampir terjengkang.


Setelah itu Eric bangkit sambil memegangi ulu hatinya yang nyeri luar biasa.


"Aku datang dengan niat baik." Jelas Eric.


"Persetan dengan niat baik !" Mike bersiap menyerang Eric lagi, namun terhenti saat suara jeritan dari arah belakang terdengar begitu memekakkan telinga.


"MIKE....!!!" Jeritan itu terdengar seperti tali kekang yang mengikat leher Mike. Tubuh Mike membatu. Tangannya masih mengepal kuat di udara sampai dia membalik badan dan melihat ibunya membekap mulut dengan tangan sambil melotot tidak percaya melihat adegan action yang terjadi di teras rumahnya.


Emma menurunkan tangannya yang dia gunakan untuk membekap mulut. Lalu dia berjalan mendekat pada dua bocah besar yang sedang berkelahi seperti anak kecil yang berebut mainan.


"Apa yang kalian lakukan ?!" Emma bertanya dengan nada geram. Hidungnya kembang kempis menahan kesal melihat kelakuan dua bocah besar itu.


"Ya Tuhan, Eric !" Emma berjalan ke arah Eric dengan raut khawatir. Dia memegang wajah Eric lalu memiringkannya ke kanan dan ke kiri, memeriksa seberapa parah luka itu. "Ini harus segera diobati."


Setelah itu Emma membalik badan, menatap tajam pada putranya. "Kau !" Emma menunjuk Mike. "Ambil kotak obat !" Titah Emma.


Mike terlihat ingin protes tapi Emma lebih dulu menegakkan telunjuknya dengan tegas. "Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi preman, Mike Bennings ! Ambil kotak obat itu, SEKARANG !" Tegas Emma.


Mike menggertakkan giginya dan terpaksa mengikuti perintah sang ibu.


Emma berbalik pada Eric. Dia menatap prihatin dengan kondisi pria di depannya itu. "Ayo masuk ! Aku akan mengobati lukamu." Kata Emma.


Eric mengangguk lantas berjalan di belakang Emma sambil memegangi wajahnya yang terasa panas dan nyeri. Hhh...! Berasa operasi plastik tahap dua kalau begini.


Emma membawa Eric ke ruang tamu. Mereka duduk di sofa bersisian agar Emma lebih mudah mengobati luka Eric.


Sesaat kemudian Mike datang membawa kotak berwarna putih berisi obat-obatan. Dia meletakkan kotak itu dengan kasar diatas meja. Menatap penuh ancaman pada Eric lantas berlalu meninggalkan ruang tamu.


Emma hanya bisa menggeleng pelan kepalanya. Anak ini....benar-benar ya...


Emma meraih kotak obat dari atas meja. Dia mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan luka Eric. Dengan telaten dia membersihkan luka itu. "Maaf atas ketidaksopanan putraku. Dia....akhir-akhir ini emosinya memang sering meledak-ledak."


"Tidak apa-apa Mrs. Bennings. Saya memang pantas menerimanya." Eric tersenyum tipis. Dia cukup tahu apa yang dirasakan Mike sebagai seorang kakak.


Emma tersenyum hangat mendengar ucapan Eric. Dia tahu Mike hanya terlalu menyayangi Isabel, tapi kalau cara Mike seperti ini, Emma juga tidak suka. Dan dia tidak akan membenarkan perbuatan Mike ini.


Sesekali Eric mengernyit menahan perih saat alkohol menyentuh kulitnya yang terluka. Tapi di satu sisi, dia merasakan hatinya menghangat. Dia menatap Emma lekat-lekat. Tanpa sadar kedua matanya basah. Bukan hanya lukanya, matanya yang tidak terluka pun kini terasa panas. Tiba-tiba dia merasakan ruang kosong dalam hatinya perlahan menghangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Hingga tanpa sadar dia mengangkat tangannya, menyentuh tangan Emma yang sedang menyeka bekas pukulan Mike. Dia....merindukan ibunya.


Emma mengernyit saat Eric tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya. Dan saat dia menatap Eric, dia melihat mata pria itu berkaca-kaca.


Buru-buru Eric melepaskan tangan Emma saat dia menyadari bahwa yang berada di hadapannya ini bukan ibunya. Dia menunduk lalu mengusap pangkal matanya untuk menghilangkan jejak kesedihan dan kerinduan yang dia rasakan.


Namun Emma bukanlah orang yang tidak peka. Emma pernah mendengar dari Isabel bahwa kedua orang tua Eric sudah meninggal. Dan Emma bisa melihat kerinduan yang amat besar dari kedua mata Eric akan sosok seorang ibu. Emma memegang sisi wajah Eric dan menariknya agar menoleh kepadanya.


"Aku akan mengobati lukamu lagi." Kata Emma dengan lembut. Senyumnya terasa sangat mendamaikan hati Eric.


Terbesit rasa iba dalam hati Emma. Dia pernah berada dalam posisi yang hampir sama dengan Eric. Dia kehilangan semua yang dia miliki hingga akhirnya Jhon menariknya dari keterpurukan dan membuatnya bahagia hingga sekarang.


Eric mengangguk. Dia membiarkan Emma melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Sudah selesai." Ujar Emma sambil menata obat-obatan yang dia gunakan tadi ke dalam kotak.


"Terima kasih, Mrs. Bennings. Anda baik sekali." Ucap Eric.


Emma tersenyum. Dia meyentuh bahu Eric. "Aku akan memanggil Isabel. Aku yakin ada banyak hal yang harus kalian bicarakan." Emma segera beranjak. Namun sebelum pergi, Emma kembali menoleh pada Eric. "Tolong jangan terlalu memaksanya. Dia....sedang dalam kondisi yang tidak stabil." Kata Emma.


Begitu Emma meninggalkan ruang tamu, Eric menyandarkan punggungnya di sofa. Dia merasa beruntung Isabel memiliki ibu yang sangat pengertian. Namun keberuntungan itu seolah habis saat tiba-tiba Mike mendudukkan tubuhnya dengan kasar di seberang Eric.


Eric mendelik malas. Apa lagi yang akan Mike lakukan padanya ?


"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Michaels !" Ancam Mike.


Eric menghela nafas lelah. Dia tahu tidak akan mudah melewati pagar yang satu ini.


"Aku sudah mengatakan padamu. Aku datang dengan niat baik. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin menyembuhkan luka yang pernah kugoreskan pada hati Isabel. Aku ingin Isabel kembali padaku." Terang Eric.


Seperti yang Eric duga, hati Mike sama sekali tidak tersentuh. Justru tatapan yang terasa semakin dingin yang dia dapatkan.


"Tidak semudah itu, Michaels ! Aku akan jadi orang pertama yang akan menghalangi keinginanmu !" Desis Mike. Dia tidak bisa membiarkan adiknya dipermainkan oleh pria di hadapannya ini lagi. Mike sangat kecewa pada Eric. Disaat dia mulai bisa menerima hubungan keduanya, Eric justru menghancurkan kepercayaan keluarganya dengan meninggalkan Isabel. Beruntung, kali ini Isabel tidak lagi kabur dari rumah. Meski gadis itu lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Tapi, setidaknya Isabel masih berada dalam pengawasan keluarganya sendiri.


"Dan aku tidak akan berhenti berusaha mendapatkan hati Isabel kembali, kakak ipar !" Tukas Eric sambil menyeringai. Meski kali ini kemungkinan besar dia akan ditolak oleh Isabel, tapi dia tidak akan menyerah. Kekacauan ini adalah ulahnya, dan dia harus memperbaikinya.


Rahang Mike semakin mengeras mendengar sebutan Eric untuknya. Kakak ipar ? Mati saja dulu !


"Aku bukan kakak iparmu, dan tidak akan pernah !" Tekan Mike. Dia tidak akan rela adiknya menikah dengan pria yang telah mencampakkannya seperti itu. "Aku ti......"


"Mike !" Seruan itu membuat kalimat Mike terpotong. Pria itu mengatupkan bibirnya kesal dengan deru nafas cepat. Kenapa ibunya selalu datang disaat yang tidak tepat ?


Emma melangkah anggun menghampiri dua bocah besar yang hampir berkelahi lagi sambil menggeleng lelah.


Emma duduk di sofa yang sama dengan Eric. "Maaf, Nak. Putriku sedang tidak ingin bertemu siapapun." Emma menghela nafas. "Sepertinya, kau harus datang lagi lain kali."


"Tidak ada lain kali ! Dia tidak diijinkan menginjakkan kakinya di lahan keluarga ini !" Tukas Mike dengan tegas.


Emma menatap lelah pada Mike. Bisa tidak kalau putranya itu diam untuk sebentar saja ? Niat kedatangan Eric itu baik, tidak seharusnya dia bersikap terlalu kasar seperti itu. Boleh saja dia menolak kedatangan Eric, tapi tidak harus dengan cara kasar begitu, kan ? Disini, yang berhak memutuskan adalah Isabel. Dia ingin menemui Eric atau tidak, ya tergantung dia.


"Saya mohon, Mrs. Bennings. Saya perlu menjelaskan semuanya pada Isabel. Saya harus meminta maaf padanya." Eric mencoba merayu Emma.


"Maaf, Nak. Aku tidak bisa memaksa putriku untuk menemuimu." Emma tersenyum. Mike melipat tangan di dada sambil terus mengintimidasi Eric dengan tatapannya.


"Saya akan melakukan apa saja asal diijinkan untuk bertemu dengan Isabel." Eric belum menyerah.


Sebenarnya, Emma kasihan melihat Eric seperti itu. Tapi bagaimana lagi ? Isabel tidak ingin menemui Eric, dan dia tidak bisa memaksanya.


Baru saja Emma membuka mulut untukĀ  bicara, Isabel tiba-tiba muncul di belakang mereka.


"Tidak perlu !" Ucap Isabel sambil terus berjalan mendekat. Senyum Eric langsung mengembang ketika melihat gadis yang dia rindukan muncul dihadapannya.


"Kuberi waktu 10 menit. Setelah itu pergilah ! Dan jangan pernah datang kesini lagi !" Isabel menatap datar pada Eric.


Senyum Eric surut. Tapi, tidak apalah. Dengan waktu 10 menit, Eric mempunyai kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan mereka. Semoga saja Isabel mau mempertimbangkan untuk memaafkannya.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Hancur hancur deh muka Eric. Salah sendiri datang ke kandang macan.


Hm....di part selanjutnya....Isabel bakal kasih maaf nggak ya ?


See you next part, Love.