100 Days

100 Days
Part 89



Karena insiden penyerangan tempo hari, Mike melarang adiknya kembali bekerja untuk sementara waktu. Ya....meskipun sempat terjadi perdebatan cukup alot antara keduanya, tapi demi kebaikan Isabel sendiri, akhirnya gadis cantik berambut pirang itu menuruti perintah kakaknya.


"Aku bosan Alice." Keluh Isabel sambil menelungkupkan badan diatas kasur saat Alice berkunjung ke rumahnya.


"Kalau bosan kau bisa menelpon kekasihmu dan mungkin bisa mencoba phones*x..."


"Ieww....stop it Alice. You're disgusting !" Potong Isabel saat Alice mulai meracau tentang pelajaran s*xnya lagi.


Alice tersenyum nakal. Dia menggerakkan tubuhnya dengan sensual merangkak diatas ranjang Isabel. "Mau mencobanya ?" Tanyanya sensual.


Tak pelak tingkah Alice membuat Isabel menatapnya tajam lantas menimpuk wajah sahabatnya itu dengan bantal. "Enyah kau !"


Alice terbahak-bahak sampai dia bergulingan sambil memegangi perutnya yang kaku. "Kurasa kau perlu mencobanya sesekali. Eric is a hot guy." Goda Alice sambil mengerling nakal.


"I know that." Sahut Isabel yang hanya terdengar seperti gumaman pelan.


"Apa menurutmu aku masih terlalu muda untuk menikah ?" Tanya Isabel tiba-tiba.


Alice yang tadi masih senyum-senyum menggoda Isabel sontak terdiam. Dia mengerjap beberapa kali sebelum kembali pada kesadarannya dan tertawa lebar hingga Isabel harus menyumpal mulut Alice dengan guling.


"Aku serius !" Kata Isabel.


Alice mengatur nafas .agar bisa berhenti tertawa. Setelahnya dia baru menjawab. "Selama kau siap menjalani komitmen seumur hidup, menurutku tidak ada kata 'terlalu muda' untuk menikah." Alice melirik Isabel yang mendengarkannya dengan mimik serius. "Apa kau sudah tidak tahan lagi ?" Alice tersenyum jahil sambil menaik turunkan alisnya.


"Bukan begitu !" Sergah Isabel. Dia memainkan ujung guling yang dia peluk. "Dia ingin aku menjadi istrinya." Kata Isabel malu-malu.


"Dia melamarmu ?" Alice menutup mulutnya tidak percaya.


"Not really." Isabel mengedikkan bahu. "Maksudku, dia ingin aku menjadi istrinya, tapi dia akan menunggu hingga aku siap."


"Ooh.....manis sekali.....!" Alice menautkan jemarinya sambil memejamkan mata membayangkan Eric yang berlutut di depan Isabel sambil bertanya, 'will you marry me, when you're ready ?'


"Lalu apa yang kau katakan padanya ?" Tanya Alice penasaran.


"Aku akan menjawab 'bersedia' jika aku sudah siap." Raut Isabel berubah murung. "Hanya saja.....untuk saat ini aku belum berpikir untuk menikah. Tapi dia...." Isabel menggantungkan ucapannya. Dia menghela nafas, membayangkan betapa Eric sangat mengimpikan pernikahan meskipun dia tidak menunjukkannya. "Dia lebih parah dari Aiden." Lanjut Isabel lirih.


Alice mengernyit bingung. Dia mencoba memahami kalimat multi makna sahabatnya itu.


"Aku tidak tega melihatnya kesulitan mengendalikan dirinya saat berdua denganku. Dia....terlihat sangat frustasi." Jelas Isabel yang paham dengan kebingungan Alice.


"Come on, Bells !" Alice menepuk dahinya. "Dia pria dewasa. Bahkan kakakmu sudah memiliki anak berusia 4 tahun pada usia itu...."


"Eric lebih mudah setahun dari kakakku." Potong Isabel tidak terima jika usia Eric disamakan dengan Mike.


"Whatever !" Alice tidak peduli. "Sebagai seorang pria normal, dia juga mempunyai kebutuhan sendiri yang tidak bisa dia dapatkan dari kekasihnya. Wajar jika dia memilih untuk menikahimu agar bisa memenuhi kebutuhan itu." Alice beringsut duduk, pun sama dengan yang Isabel lakukan. Mereka duduk berhadapan dengan Alice yang menggenggam tangan Isabel. "Jika kau benar-benar mencintainya, jangan membuatnya terlalu lama menunggu. Karena kau tidak pernah tahu kapan hati seseorang akan lelah dan memilih untuk mundur."


Isabel merasa tertampar dengan kata-kata Alice. Eric memang mengatakan jika dia akan menunggu sampai dirinya siap. Tapi sampai kapan ? Berapa lama waktu yang dibutuhkan Isabel untuk menyiapkan hatinya ? Bagaimanapun juga--seperti yang Alice bilang--Eric pria normal, bagaimana kalau dia lelah dan akhirnya berpaling pada gadis lain yang bisa memenuhi kebutuhannya tanpa harus menikahinya lebih dulu ? Tidak bisa Isabel bayangkan, rasanya kehilangan cinta untuk kedua kalinya. Pasti sangat sakit !


Isabel mendesah kasar. "Kau benar. Aku tidak bisa membiarkannya terlalu lama menunggu."


Dering ponsel Isabel diatas nakas membuyarkan lamunan sesaat gadis itu. Dia meraihnya dengan sedikit mencondongkan tubuh.


Pucuk dicinta ulampun tiba. Seperti sebuah ikatan batin yang kuat, disaat Isabel memikirkannya, saat itu pula Eric menelpon.


Rupanya Eric sudah memasuki gerbang rumah Isabel.


"Wow." Komen Alice saat Isabel menutup teleponnya. "Jadi dia serius ?"


"Apa ?"


"Seorang pria memilih berkencan di rumah kekasihnya saat kedua orang tuanya di rumah. Kau pikir dia mau apa ? Dia sedang berusaha menarik hati orang tuamu, Bells."


Isabel melempar ponselnya asal diatas ranjang. "Itu karena aku tidak diijinkan keluar rumah sampai kasus sialan itu selesai."


"Tapi dia cukup bernyali. Kalau aku seorang pria dan aku berniat menikahi kekasihku, aku juga akan melakukan apa yang dia lakukan." Alice merebahkan diri dengan sedikit membanting tubuhnya. Lalu dia menghela nafas. "Seandainya ada pria yang mencintaiku seperti itu." Ujarnya sambil menatap langit-langit kamar.


"Suatu saat nanti kau akan menemukannya." Isabel beranjak turun dari ranjang untuk merapikan penampilannya. "Bagaimana dengan Nick ? Sepertinya dia orang baik." Isabel menggerai rambutnya yang tadi dia ikat asal-asalan. Eric lebih suka melihat rambutnya digerai.


"That j*rk !" Dengkus Alice.


"Cobalah bertemu dengannya. Eric bisa membantumu." Kata Isabel sembari menyisir rambut.


"Big No ! Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi." Tolak Alice mentah-mentah.


Isabel berjalan mendekat ke ranjang lalu berhenti tepat di samping Alice sambil berkacak pinggang. "Kalau begitu sebaiknya kau pulang sekarang karena aku ingin bertemu dengan kekasihku. Kecuali kau ingin menjadi katak yang siap menangkap nyamuk diantara kami." Ucap Isabel skeptis.


Alice bangkit dengan wajah cemberut. "Kau mengusirku ? Bagus, Bells !" Alice pura-pura marah. Dia turun dari ranjang, menyambar tas diatas nakas lalu melipat tangan di dada sambil memicing pada Isabel. "Kau mengusirku seolah kalian akan menggunakan kamar ini saja." Balas Alice tak kalah skeptis.


"Just get out of my room !" Isabel mendorong tubuh Alice keluar dari kamarnya.


Saat Alice dan Isabel sampai di pintu, Eric juga baru saja menginjakkan kakinya di teras rumah.


"Hai Eric !" Sapa Alice sambil mengangkat tangan kanannya.


"Alice. Kau disini juga ?" Balas Eric.


Alice tersenyum lebar lalu menunjukkan wajah kesal. "Aku sudah diusir." Dia berjalan mendekat pada Eric, sedikit menarik lengan Eric, mendekatkan wajahnya pada pria itu. "Her room is free." Bisiknya nakal pada Eric.


Eric terkekeh mendengarnya. "Terima kasih informasinya." Eric balas berbisik.


Keduanya tertawa dengan lelucon yang hanya mereka berdua saja yang tahu. Isabel di belakang Alice hanya menatap heran pada mereka.


"Bye, Eric." Alice melambai pada Eric sambil berjalan membelakangi pria itu.


"Bye, Alice." Balas Eric. "Hei, Alice !" Panggil Eric tiba-tiba. Alice menoleh, menatap Eric seolah bertanya 'ada apa ?'


"Nick titip salam untukmu." Kata Eric.


Tanpa menjawab, Alice menatap garang pada Eric lantas mengacungkan jari tengah sambil menggeram 'f*ck you !' sebelum membalik badan dan meninggalkan dua orang yang tertawa kencang melihat tingkahnya.


"I miss you so much." Isabel berjalan mendekat lantas menghambur dalam pelukan Eric.


"Yeah, me too, Sweetheart." Eric mengecup sekilas kening Isabel.


"Ayo masuk." Isabel menggerakkan kepalanya ke arah pintu rumah, mempersilahkan Eric untuk masuk.


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah dengan Isabel yang melingkarkan tangannya di pinggang Eric. Eric menyapa kedua orang tua Isabel yang kebetulan sedang bersantai di ruang keluarga. Setelah itu, dia dan Isabel menuju ke taman belakang. Disana lebih nyaman untuk bersantai dan mengobrol. Mereka duduk di kursi rotan dekat kolam renang. Beberapa saat kemudian seorang maid membawakan makanan dan minuman untuk mereka.


"Lebam di wajahmu sudah mulai pudar." Komen Eric sambil memperhatikan wajah Isabel yang menyisakan bekas lebam memudar.


Isabel mengangkat alis. Lebam itu memang sudah tidak sakit. Hanya menyisakan bekas berwarna kehijauan. "Aku sudah bosan di rumah." Keluhnya.


"Lantas ?" Eric menaikkan sebelah alisnya.


"Aku ingin mencari hiburan." Bibir Isabel mengerucut. "Sedikit berbelanja, makan es krim atau menonton film sepertinya sangat menyenangkan."


Eric tertawa kecil mendengar penuturan kekasihnya. "Tapi kau tidak aman diluar, Bells. Bagaimana jika ada yang mencelakaimu lagi ?"


Isabel mendengus kesal. Jawaban Eric sama saja dengan apa yang dikatakan ayah, ibu dan kakaknya. "Kau sama saja dengan mereka." Gerutunya.


Eric mengacak rambut Isabel dengan gemas. "Karena kami peduli dengan keselamatanmu, Sayang." Katanya tersenyum geli melihat kekasihnya merajuk.


Lalu tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Isabel. Dia mengangkat wajah, menatap Eric dengan puppy eyesnya. "Kalau aku pergi denganmu, kau akan menjagaku, kan ?"


Eric yang semula tersenyum langsung merubah ekspresinya menjadi datar. Tentu saja dia akan menjaga kekasihnya itu dengan nyawanya. Tapi bahaya yang mengancam Isabel tidak hanya dari satu arah. Apalagi polisi belum berhasil menangkap Jim. Untuk Dale dan Ivanov, kedua orang itu tidak sulit di bekuk. Tapi lain dengan Jim. Pria itu bukan orang biasa. Dia pernah bergabung dengan satuan khusus, dia adalah mata-mata yang pernah bertugas untuk meringkus gembong kokain di Colombia, meskipun akhirnya dia dikeluarkan dari satuannya karena terlibat penyelundupan heroin ke Brazil diluar misi.


"Aku tidak ingin mengambil resiko, Bells." Eric membelai wajah Isabel, berharap gadis itu mengerti. "Jim Calderon belum berhasil ditangkap. Dia adalah yang paling berbahaya. Dan dia bisa berada dimana saja untuk kembali mencelakaimu." Jelas Eric.


"Sebenarnya apa hubungan Jim Calderon dengan kalian ?" Tanya Isabel.


Eric membuang pandangan ke arah lain. Bukan Jim, tapi Elena. Eric ingin berteriak seperti itu. Tapi kebodohan Jordan membuat Eric tidak bisa menjebloskan wanita itu ke dalam bui. Eric masih memikirkan cara lain bagaimana dia akan mendapatkan bukti keterkaitan Jim dengan Elena mengenai kasus ini.


"Terkadang seseorang tidak memerlukan alasan untuk melakukan hal buruk. Sebagian dari mereka melakukan itu karena mereka menyukai sensasinya." Jawab Eric ambigu.


Isabel mendesah pelan. Menjadi bagian dari orang-orang hebat terkadang memang melelahkan dan membosankan sekaligus menakutkan. "Bagaimana kalau drive in cinema ?" Isabel masih berharap. "Kita tidak perlu keluar dari mobil. Dan kurasa itu cukup aman." Katanya dengan wajah memohon.


Giliran Eric yang menghembuskan nafas kasar. Dia menggaruk kepalanya sambil membuang pandangan ke samping. Bukan karena dia tidak mau ke drive in cinema dengan Isabel, tapi diluar sana memang sedang tidak aman untuknya.


"Ayolah, kumohon !" Isabel menangkupkan kedua tangannya dengan wajah memelas. "Hanya menonton dan kita langsung pulang."


Eric membasahi bibirnya, dia terlihat berpikir keras. Kalaupun dia mau, belum tentu keluarga Isabel mengijinkan.


"Please !" Isabel menarik-narik ujung kemeja Eric seperti anak kecil yang merengek untuk dibelikan mainan.


Helaan nafas berat keluar dari mulut Eric. Dia menatap lelah pada Isabel. Dia....tidak tega melihat wajah melas Isabel seperti itu.


"Baiklah. Hanya menonton dan kita langsung pulang. Aku akan meminta ijin pada orang tuamu. Semoga mereka mengijinkan." Eric menyerah. Dengan berat hati dia mengabulkan keinginan Isabel.


"Yeay.....!!!" Isabel bersorak kegirangan lantas melompat dalam pelukan Eric. Eric hanya bisa memijit pangkal hidungnya sambil tersenyum kecil dengan tingkah kekanakan Isabel.


*****


Disinilah mereka sekarang. Di area parkir yang sangat luas untuk menonton film dari dalam mobil mereka. Setelah berhasil membujuk kedua orang tua Isabel dengan menjanjikan keselamatan anak mereka selama berada di luar rumah.


"Ini adalah hari terbaikku selama beberapa hari ini." Ujar Isabel saat film yang mereka tonton baru saja dimulai.


"Kau tahu, ini adalah pengalaman pertamaku menonton di drive in cinema seperti ini." Kekeh Eric.


"Oya ? Suatu kehormatan bisa menemanimu untuk pertama kali di drive in cinema." Isabel membuat gerakan courtsey sambil duduk.


"Setelah masalah ini selesai, aku janji akan mengajakmu berlibur. Offroad sepertinya ide bagus."


Mendengar kalimat terakhir Eric, Isabel spontan melotot galak. Dia masih ingat bagaimana jantungnya mau copot dulu sewaktu diajak offroad ke Amytville.


"Aku hanya bercanda." Kekeh Eric saat melihat reaksi Isabel. "Aku akan mengajakmu berlibur ke tempat yang romantis." Eric mengedipkan sebelah matanya menggoda.


Isabel mencubit pinggang Eric, membuat pria itu mengaduh. "Aku tidak sabar menunggu saat itu. Aku akan menagih janjimu." Isabel mengarahkan pandangannya ke depan. "Sebaiknya kita menonton filmnya. Kita sudah tertinggal beberapa menit. Atau kau ingin membuat film sendiri mungkin." Isabel melirik sambil tersenyum jahil.


"Jangan memancingku, Bells. Orang tuamu sedang mengawasi kita. Aku bisa mematikan audionya, tapi mereka masih bisa melihat kita saat ini." Kata Eric sedikit kesal karena Isabel menyerang titik lemahnya.


Untuk bisa mengajak Isabel keluar, Eric menghubungkan kamera dalam mobilnya dengan ponsel Jhon. Alasannya hanya satu. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, Jhon bisa segera mengambil tindakan. Meskipun beberapa bodyguard Jhon terus menempel mereka pada jarak aman.


Isabel tertawa melihat wajah kesal Eric. Dan akhirnya mereka hanya bisa menonton film romantis tanpa bisa beradegan romantis karena ada mata yang selalu mengawasi.


Sesuai perjanjian, usai menonton film Eric segera mengantar Isabel pulang. Namun di tengah jalan, tiba-tiba Isabel meminta Eric untuk menepikan mobilnya.


"Ada apa ?" Tanya Eric. Isabel tidak mengatakan untuk apa dia meminta Eric menepi.


Tanpa menjawab, Isabel segera turun dari mobil.


"Bells !" Panggil Eric. Terlambat, Isabel sudah berjalan menjauh dari mobil. Eric segera menyusul.


Dengan mengeratkan jaket denim yang melekat di tubuhnya, Isabel berjalan menyeberangi jalan. Tepatnya dia menghampiri seseorang yang sedang berdiri di samping sebuah mobil yang kacanya terbuka. Orang itu terlihat sedang marah-marah pada orang yang berada di dalam mobil.


Isabel berdiri sekitar dua meter di belakang orang itu. Kehadirannya tidak disadari oleh mereka. Dia diam, berdiri mematung disana dengan tubuh kaku saat mendengar apa yang diucapkan orang itu. Setengah tidak percaya, tapi dia mendengarnya dengan sangat jelas.


Ya, Isabel mendengar saat orang itu--Jordan--menyebut orang yang berada di dalam mobil--Elena--adalah otak dari penyerangan terhadap Isabel.


Cukup ! Isabel menggeleng keras kepalanya. Elena sudah sangat keterlaluan. Hanya karena cinta butanya pada Eric, membuat wanita itu nekat mencelakainya.


Amarah sudah bergemuruh dalam dada Isabel. Nafasnya berat hingga suara hembusan udara terdengar dari hidungnya. Kedua tangannya mengepal kuat. Ini tidak bisa dibiarkan. Isabel harus menghajar wanita j*lang itu.


Sambil menghentakkan langkah, Isabel mendekat. Dia menarik tubuh Jordan agar tidak menghalangi jalannya. Jordan terbelalak dengan kehadiran Isabel yang tiba-tiba dan dengan keadaan sangat marah seperti itu. Tapi dia tidak menghentikannya.


Dengan gerakan kasar Isabel membuka pintu mobil. Menarik lengan Elena dengan kasar hingga wanita itu terseok-seok mengikuti langkah Isabel.


Tanpa berkata apa-apa, Isabel mendorong tubuh Elena hingga jatuh tersungkur ditanah. Lalu dia berdiri diatas tubuh Elena dengan kaki berada di sisi kanan dan kiri pinggang wanita itu.


Nafasnya cepat, wajahnya merah padam dengan segala kemarahan yang membuncah dalam dadanya. Lalu tiba-tiba Isabel menekuk kakinya dan menghujani wajah Elena dengan tiga tinjuan keras.


Elena meringis memegangi wajahnya yang terasa panas dan nyeri. Sudut bibirnya robek hingga mengeluarkan darah.


Setelah tiga tinjuan maut itu, Isabel bangkit. Dia menunjuk wajah Elena yang terlihat syok dan kesakitan, tidak mengira jika anak ingusan seperti Isabel mempunyai kekuatan yang luar biasa saat sedang marah.


"That's for my face !" Serunya. "Kau salah mencari lawan, B*tch !" Kata Isabel dengan penuh penekanan.


Eric berdiri di samping Jordan. Keduanya menelan ludah tidak percaya dengan pemandangan yang baru saja mereka lihat. Dan anehnya, mereka sama sekali tidak berkeinginan untuk mencegah aksi brutal Isabel.


"Itu....menyakitkan." Ujar Jordan sambil meringis membayangkan seperti apa rasanya dipukuli seperti itu.


"That's awesome." Eric tersenyum menyeringai. Jujur dia saat ini sangat bangga dengan kebrutalan Isabel.


Mereka berdua hanya berdiri menonton seperti orang bodoh. Gadis manja kekanakan yang mereka kenal baru saja berubah menjadi xena.


Sebelum menyingkir dari tubuh Elena, tak lupa Isabel meninggalkan jejak sepatunya di perut wanita itu. Dengan kekuatan penuh tentunya. Setelah itu dia berbalik meninggalkan Elena yang terbatuk-batuk merasakan nyeri luar biasa di bagian tubuhnya yang menjadi sasaran kemarahan Isabel.


Namun baru dua langkah, Isabel membalik badan. Dia menatap bengis pada Elena. "Kau !" Isabel menunjuk wanita yang terlihat menyedihkan itu. "Tidak diundang ke pernikahanku dengan Eric !" Serunya yang lantas kembali mengayun langkah.


Mulut Elena menganga mendengar ucapan Isabel. Dia tidak percaya. Eric tidak mungkin akan menikah dengan gadis itu. Kedua mata Elena bergerak liar, mencoba menyangkal kenyataan pahit ini. Mata Elena terasa berat, pandangannya buram karena kelopak matanya yang sudah penuh dengan air mata. Dan akhirnya air mata itu jatuh meski tanpa suara isakan saat melihat Isabel yang berjalan melewati Eric langsung menghambur dalam pelukan Eric dan mencium bibirnya dengan panas di depan kedua matanya.


Elena merasakan jantungnya seperti diremas. Elena menangis dalam diam. Bukan karena sakit yang dia rasakan akibat pukulan Isabel, tapi sakit di dalam hatinya. Baru kali ini Elena merasakan sakit luar biasa. Baru kali ini Elena merasa hatinya hancur berkeping-keping. Dan baru kali ini Elena merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Hai.....semua ! sori nih up nya malem banget. gag tau kenapa hari ini tuh mood aku jelek banget buat nulis. tapi akhirnya part ini selesai juga.


eh pada seneng gag tuh Elena dihajar habis-habisan ma Isabel ? Kalo aku sih seneng banget. apalagi pas nulisnya sambil ngebayangin.......


tadi ada yang denger soal undangan pernikahan gag ? emang beneran bakal nikah mereka ? yakin udah siap ? nikah itu gag gampang loh. iya enak pas yang enak-enaknya. tapi sebenernya nikah itu seperti proses mendewasakan diri. namanya proses pasti banyak ujian dan cobaan ya. dan biasanya yang namanya ujian ato cobaan itu seringnya yang nggak enak deh. tapi....proses itu kalo dijalani bersama dengan ikhlas, pasti bakal bisa ngelewatin segala badai yang menghadang (ciye....ada band dong, hhaha).


yaelah malah ceramah. abaikan saja ! kadang akunya suka halu, hehhee


oya kemaren judul part nya kelewatan ya, dari 86 langsung 89. tapi udah aku benerin sih. gag ada yang ngingetin sih. tenang aja, aku nggak baperan kok untuk nerima kritik dan saran. aku mah woles orangnya.


enjoy this long part, dears ! jangan lupa dukungannya loh ya, ato aku ngambek nih, nggak aku terusin lagi ceritanya.


See you next part, Love.