
"Jangan mendekat! Kau gila, Jordan! Pergi!" Isabel bergerak mundur hingga tubuhnya membentur pintu kemudi. "Tolong...! Eric...! Tolong aku, Eric...!"
"Oh, come on ! Kau disini bersamaku dan yang kau panggil justru Eric? Oh, kau mematahkan hatiku lagi, Cantik." Jordan menjauhkan wajahnya dari jendela lalu berkacak pinggang.
Isabel masih merapatkan tubuhnya pada pintu sebelah kiri. Dia tidak ingin melihat wajah Jordan. Dia takut.
"Hei, aku hanya bercanda. Tidak perlu takut padaku." Jordan kembali mendekatkan wajahnya ke jendela. Okay, caranya bercanda memang tidak lucu. Di tempat gelap seperti ini dan tidak ada orang lain selain mereka berdua, tentu saja bercanda seperti itu membuat Isabel sangat ketakutan. Jordan menyesal.
"Tidak! Jangan mendekat!" Sergah Isabel.
"Aku minta maaf, Princess." Jordan berusaha membujuk. "Dengar, jika aku memang memiliki niat buruk terhadapmu, kenapa aku harus menunggu sekarang? Aku punya banyak kesempatan melakukannya padamu selama di safe house." Jordan menunjukkan penyesalan yang sesungguhnya.
Isabel mencerna ucapan Jordan. Benar juga. Jika memang Jordan berniat jahat, dia sudah punya banyak kesempatan. Tapi, bagaimana jika ada motif lain ? Gadis itu terlihat berpikir keras.
"Okay, jika kau tidak percaya padaku, aku akan menelpon Eric agar dia menyusul kesini." Jordan mengeluarkan ponselnya dari saku celana untuk menelpon Eric. Sepertinya memang dia membutuhkan bantuan untuk membuat gadis itu percaya padanya.
"Tidak perlu." Cegah Isabel. Baiklah, gadis itu memilih untuk mempercayai Jordan. Semoga bukan keputusan yang salah.
"Dengar, Princess. Aku tidak ingin kau takut padaku. Akan lebih baik jika ada orang lain selain kita disini." Kata Jordan dengan sungguh-sungguh. Kehadiran Eric mungkin akan membuat Isabel merasa lebih nyaman.
Isabel memutar tubuhnya, membuka pintu sebelah kiri lalu turun dari mobil. Dia berjalan ke arah Jordan. "Aku percaya padamu." Isabel menatap wajah Jordan, disana dia melihat raut penyesalan pria itu.
"Aku akan menelpon Eric." Kata Jordan, mengacungkan telunjuknya. Pria itu langsung menghubungi adik angkatnya untuk menyusul mereka agar Isabel merasa nyaman.
Isabel mebiarkannya. Lagipula tidak ada salahnya juga Eric menyusul mereka.
Setelah sedikit berdebat--dengan segala umpatan dan sumpah serapah--akhirnya Eric bersedia menyusul. Selesai dengan panggilannya, Jordan memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Jadi, ada apa di tempat ini?" Isabel berusaha mencairkan suasana. Dia melihat sekeliling dan hanya pendar cahaya bulan yang dia lihat.
"Disana." Jordan menunjuk arah barat. Pria itu menyalakan senter dari ponselnya lantas mulai berjalan ke arah yang dia tunjuk tadi. "Kau bisa berjalan lebih dulu." Jordan mempersilahkan Isabel mendahuluinya. Kali ini dia enggan untuk menyentuh Isabel. Takut gadis itu merasa tidak nyaman.
"Aku dibelakangmu saja." Kata Isabel. Gadis itu meraih tangan Jordan dan menggandengnya. Isabel tahu, Jordan pasti merasa tidak enak dengannya. Tapi tidak akan menyenangkan jika suasananya terus canggung seperti itu.
Jordan melihat tangannya yang digandeng Isabel. Pria itu tersenyum lantas kembali berjalan menyusuri jalan setapak berbatu.
Jalan setapak itu membawa mereka ke sebuah batu besar. Permukaan batu itu dipahat layaknya anak tangga untuk naik ke atas batu tersebut.
"Watch your step, Princess." Jordan naik lebih dulu. Dari atas dia mengulurkan tangan membantu Isabel naik.
Sesampainya diatas, Isabel kembali dibuat takjub dengan pemandangan yang dia lihat. Batu yang mereka naiki ternyata memiliki permukaan yang datar, meskipun ada beberapa bagian yang berlubang atau menggunduk.
Isabel dibuat menganga dengan keindahan yang disuguhkan dihadapannya. Kedua matanya berbinar melihat jutaan lampu dari hampir seluruh wilayah Amytville dibawah sana yang tampak seperti taburan bintang di langit.
"Kau suka?" Jordan menyejajarkan diri dengan Isabel. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Ini luar biasa. Indah sekali." Jawab Isabel dengan tatapan terpaku pada pesona Amytville dimalam hari.
Jordan duduk dengan menegakkan lutut dan menopang tangannya yang bertaut diatas lutut.
Diikuti Isabel yang juga ikut duduk disampingnya.
"Lighthill." Jordan menyebutkan nama tempat itu. Tatapannya menerawang jauh ke bawah dimana kota Amytville terlihat begitu indah di malam hari.
Isabel menoleh, pantulan cahaya lampu kota membuat tempat itu sedikit lebih terang dibandingkan dibelakang tadi. Disitu dia bisa melihat wajah Jordan yang terlihat lebih eksotis karena bias cahaya.
"Aku dan Eric menemukan tempat ini secara tidak sengaja. Saat kami dikejar anggota jaringan narkoba, pemasok shabu yang kami edarkan. Kami bersembunyi disini." Terang Jordan.
"Kenapa mereka mengejar kalian?" Isabel memutar posisi duduknya menghadap Jordan. Dia sangat penasaran dengan kisah hidup mereka yang seperti film action.
"Karena kami berhenti mengedarkan barang mereka." Jordan menoleh sambil tersenyum. "Kami beruntung, satu bulan kejar-kejaran dengan mereka, akhirnya jaringan itu berhasil di tumpas oleh BIN."
Jordan menghela nafas, dia terlihat begitu lega. Pria itu menelan ludah sebelum melanjutkan ceritanya. "Selama mereka mengejar kami, kami tidak pernah pulang. Kami tinggal berpindah-pindah." Jordan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Isabel yang duduk bersila. Dia melipat kaki mencari posisi ternyaman. Sejenak Jordan memperhatikan wajah Isabel yang terkena remang cahaya lampu kota, she looks so....beautiful.
"Berpindah-pindah ?" Isabel mengernyit, bukankah saat itu Chloe masih kecil ? Bagaimana caranya mereka hidup nomaden dengan membawa seorang bocah?
Jordan merasa ditarik kembali dari ketertarikannya pada aura yang terpancar dari wajah Isabel. Dia membuang pandangan ke bawah. "Ya. Dan tempat ini selalu menjadi favorit kami." Jordan tersenyum, "Kau tahu, dibawah batu ini ada goa kecil yang bisa kami gunakan untuk tinggal. Tidak ada orang lain yang tahu kecuali kami."
Isabel membuang nafas tidak percaya. "Goa?" Gadis itu mengangkat alisnya. "Jadi, kalian berteman dengan Mr. Flintstones?" Isabel terkekeh membayangkan Jordan dan Eric memakai baju ala kartun zaman bahula itu.
Jordan tersenyum lebar, dulu dia juga sempat berpikir seperti itu. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika dirinya akan tinggal di gua seperti manusia purba. "Kau bisa tertawa sepuasnya, Princess." Jordan mengacak rambut Isabel yang tak berhenti tertawa.
"Lalu, bagaimana dengan......" Isabel tidak meneruskan kalimatnya. Mulutnya masih enggan menyebut nama Chloe.
Seakan bisa membaca pikiran Isabel, Jordan menyambungnya, "Chloe? Dia kami titipkan pada Elena. Kami tidak mungkin membahayakan adik kami dalam pelarian itu." Terang Jordan.
Elena ? Ya, Elena yang sama dengan mantan kekasih Eric yang berselingkuh dengan Nick.
"Saudara kalian?" Isabel tertarik dengan siapa Elena.
Jordan menggeleng. "Dia teman kami dari kecil. Meskipun dia agak 'sinting', tapi dia menjaga Chloe dengan cukup baik."
"Ya. Dia sangat cantik, tapi dia memanfaatkan kecantikannya untuk mendapatkan keuntungan dari laki-laki yang dikencaninya."
Jawaban Jordan membuat Isabel sedikit terkejut hingga dia spontan mengeluarkan kata 'oh' yang terdengar seperti 'benarkah ?' Dengan satu alisnya terangkat.
Jordan mengulum senyum dengan reaksi Isabel. Pria itu terkekeh. "Terdengar seperti 'j*lang'?" Ucap Jordan dengan frontal.
"I didn't say that!" Peringat Isabel yang tidak ingin terdengar menghakimi orang yang bahkan tidak dia kenal.
Jordan terkekeh. "Yes she is." Jordan membuang pandangan ke arah lampu di bawah yang terlihat sangat indah. "Tapi dia j*lang yang baik untuk teman-temannya." Lanjutnya.
Isabel menatap tidak percaya pada Jordan. Namun dia segera mengenyahkan pikiran macam-macam dari otaknya. "Kalian masih berhubungan baik?" Isabel mencoba mencari sudut pandang yang baik dari mereka.
Jordan diam sesaat. Dia menatap lekat Isabel untuk beberapa detik. "Not really." Jawabnya kemudian sebelum pria itu memutuskan pandangannya.
Isabel merasa Jordan enggan menceritakan perihal hubungan mereka lebih jauh. Dia cukup tahu diri untuk tidak bertanya lagi.
"Jadi.....dimana letak gua yang kalian tempati, Mr. Flintstones ?" Isabel mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Elena.
Jordan kembali dibuat terkekeh dengan pertanyaan Isabel. "Tepat dibawah kita."
Isabel penasaran dengan tempat itu. "Apa sekarang masih ada?" Jordan mengangguk mengiyakan.
"Aku ingin melihatnya." Isabel merangkak ke arah tepi tebing.
"Disana gelap, Princess. Hati-hati." Jordan memperingatkan Isabel yang sudah berada di tepi tebing sedang melongokkan kepalanya kebawah mencari gua yang dimaksud Jordan.
"Aku tidak bisa melihatnya." Ucap Isabel yang masih celingukan mencari keberadaan gua 'bersejarah' itu.
Jordan mendekat, dia menunjuk arah kiri Isabel dimana ada turunan berbatu bepagar semak yang hanya samar-samar terlihat karena hanya diterangi cahaya bulan. "Disana."
"Aku ingin berkunjung ke rumah Mr. Flintstones saat siang." Tutur Isabel yang masih sangat penasaran dengan gua itu.
Jordan bangkit, dia berdiri mengusap kedua tangannya yang kotor terkena tanah. "Next time, Princess." Jordan menatap Isabel yang masih berjongkok melihat kebawah. "Ayo." Jordan mengulurkan tangannya ingin membantu Isabel berdiri.
Isabel mendongak ke arah Jordan, dia menerima uluran tangan pria itu dan segera berdiri dengan bantuan Jordan meskipun sebenarnya dia bisa bangun sendiri.
"Hey, hati-hati!" Dengan cepat Jordan menahan tubuh Isabel yang hampir terpeleset. Kaki kiri gadis itu menginjak kerikil kecil dan hampir saja membuatnya celaka.
Gadis itu memegang dada, menahan jantungnya yang terasa mau keluar dari tempatnya karena takut. Bisa mati dia kalau sampai jatuh dari atas tebing batu itu.
"Kau tidak apa-apa?" Jordan melihat wajah syok Isabel. Gadis itu belum menjawab, dia masih ingat bagaimana perjalanan mengerikannya dengan Eric kemarin.
Jordan menyentuh pipi Isabel, menariknya untuk mengalihkan pandangan gadis itu dari dasar tebing yang hanya berwarna hitam karena tidak terkena cahaya.
"Kau sudah aman. Jangan takut." Pria itu khawatir. Dia bisa melihat dengan jelas raut ketakutan di wajah cantik Isabel.
Isabel menatap lekat mata Jordan, hingga beberapa saat tatapan mereka tidak terputus. Isabel menemukan kenyamanan saat menatap mata itu. Dia merasa aman, seolah mata itu selalu mengawasi dan menjaganya.
Berbeda dengan Jordan, pria itu berusaha memutus tatapan mereka, namun seolah dia sudah tenggelam terlalu jauh, dia tidak bisa melepaskannya.
Wajah cantik yang terbias dengan cahaya bulan dan lampu kota itu telah menghipnotisnya. Membawanya terseret masuk ke dalam pusaran rasa yang membuat jantungnya berdentum hebat.
Perlahan Jordan mendekatkan wajahnya hingga tatapannya beralih pada bibir ranum yang sangat menggoda untuk dia sentuh. Gadis itu memejamkan mata saat hembusan nafas Jordan terasa hangat menerpa wajahnya. Seolah mendapat ijin, pria itu semakin mendekat, memiringkan wajahnya untuk bisa meraih bibir ranum itu dengan bibirnya.
"Oh shit! Really?!"
Suara seseorang yang tiba-tiba muncul membuat dua orang yang hampir saja menyatukan bibir mereka itu langsung menjauhkan wajah dengan salah tingkah.
*
*
*
*
*
tbc.
Nah lo, ketangkep satpol pp tuh, wkwkwk......
Ditunda dulu deh gituannya. Lain kali dilanjut lagi.
See you next part, Love.