100 Days

100 Days
The Story



~Isabel~


Kutarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Bersiap mendengarkan cerita Sally. Aku meyakinkan diriku bahwa aku telah siap dengan apapun yang akan kudengar nanti.


Sally menghembuskan nafas pelan. Dia melipat bibir seperti ragu untuk membagi cerita denganku. Dia menatapku beberapa saat. Mungkin dia sedang membaca ekspresiku. Setelah beberapa saat dia mulai bercerita.


"Aku bertemu Eric sekitar satu tahun yang lalu. Saat aku pulang kerja, aku tidak menemukan Naomi di rumah. Biasanya dia selalu ada di rumah ketika aku pulang, tapi tidak waktu itu. Hanya satu tempat yang menjadi tujuanku. Naomi biasa bermain di rooftop dengan Pilly, bonekanya. Namun saat aku sampai di rooftop, aku menemukan Naomi bersama seorang pria asing. Aku panik, kukira pria itu orang jahat. Aku berlari dan langsung menarik tangan Naomi untuk berdiri dan menjauh dari pria itu." Pandangan Sally menerawang, dia sedang mengingat saat pertama kali bertemu dengan Eric.


"Kau tidak akan percaya dengan apa yang kulihat, Josephine," kata Sally sambil menatapku sedih. "Aku melihat seorang pria dengan penampilan sangat menyedihkan. Rambutnya hampir sebahu, jambangnya lebat, tubuhnya kurus dengan pakaian seadanya. Kukira dia adalah ODGJ. Dia duduk bersimpuh di lantai bersama Naomi. Dia tidak bicara apapun, tapi kulihat matanya merah bekas menangis. Saat aku mendekap Naomi dengan posesif, dia hanya memandangku sendu. Tatapannya kosong. Dan saat itu aku tahu, dia hanyalah orang asing yang sedang terluka." Sally menghela nafas, kedua matanya berkaca-kaca.


"Sampai saat Naomi mengatakan padaku bahwa pria itu sedang berdiri di atas pembatas gedung waktu Naomi datang kesana. Naomi juga mengatakan bahwa pria itu adalah malaikat penolongnya saat pita pemberian ayahnya terbang terbawa angin. Pria itu juga memasangkan pita di rambut Naomi. Namun aku harus tetap waspada. Aku membawa Naomi kembali ke rumah tanpa mempedulikan pria itu. Aku juga memperingatinya untuk tidak mengganggu putriku lagi."


Sally mengambil tissue dan menyeka air matanya. "Ternyata dia adalah orang yang keras kepala. Sejak hari itu, aku sering menemukan Naomi bersamanya di rooftop. Aku sempat khawatir, ini bukan hal yang normal terjadi. Seorang pria dewasa berteman dengan seorang anak kecil dan setiap hari bermain bersama. Aku memarahi putriku, memperingatkannya dengan tegas bahwa mereka tidak seharusnya berteman. Tapi ucapan Naomi membuat hatiku tercubit. Naomi mengatakan padaku bahwa pria itu sedang sakit. Aku pikir dia sakit secara medis, namun bukan itu yang terjadi. Selama Naomi tidak kuperbolehkan bermain dengannya, pria itu tetap datang ke rooftop setiap hari. Lalu aku memutuskan untuk menemuinya. Jika dia memang sakit, mungkin aku bisa membantunya mendapatkan rekomendasi dokter yang bagus di sini. Namun lagi-lagi aku dibuat tercengang dengan fakta bahwa bukan tubuhnya yang sakit, melainkan jiwanya."


Sampai pada cerita ini, air mataku mulai menetes.


"Aku mengajaknya ke rumahku. Lalu aku mengajaknya bicara. Aku mencoba mencari tahu apa yang terjadi padanya." Sally menatapku dengan tangan yang semakin erat menggenggam tanganku. "Dia sangat menderita, Josephiene. Dia putus asa mencari keberadaan istrinya. Dia mengatakan bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal yang membuatnya kehilangan anak dan istrinya. Jika hari itu dia tidak bertemu Naomi, dia tidak akan ada di dunia ini lagi, Josephine. Dia berniat mengakhiri hidupnya dengan melompat dari rooftop."


Dan air mataku semakin deras. Aku tidak tahu jika selama ini Eric se-depresi itu untuk menemukanku.


"Dia sangat mencintaimu, Josephine. Atau aku harus memanggilmu ... Isabel?"


Aku menatap Sally dengan mata yang sudah basah. Yang aku rasakan saat ini hanyalah sakit. Dadaku terasa sesak sekali mendengar semua ini.


"Maafkan aku, andai aku tahu Isabel istri Eric adalah dirimu," kata Sally menyesal.


"Jangan meminta maaf, Sally. Aku yang telah membuat Eric seperti itu. Ini semua salahku." Ya, kesalahan ini ada padaku. Aku yang telah menyakiti Eric hingga dia menjadi seperti itu.


Sally menggeleng. "Tidak, Josephine. Aku mengenalmu sejak kau datang kesini dengan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan Eric. Kau dan Eric, kalian sama-sama terluka. Aku adalah saksi betapa hancurnya kalian saat kalian tidak bersama. Kau tahu apa yang kulihat dari kalian?" Sally mentapku lekat. Aku menunggu  apa yang akan dia katakan. "Kalian memiliki cinta yang sama besar. Kalian tidak bisa hidup terpisah. Kalian tersiksa menahan rindu. Kalian tidak pernah bisa benar-benar melupakan satu sama lain. Kalian adalah belahan jiwa yang tidak bisa dipisahkan. Kalian ditakdirkan untuk hidup bersama. Dan asal kau tahu, dia tidak pernah melepaskan cincin pernikahan dari jarinya."


Oh, Sally. Apa yang kau katakan memang benar. Mau tidak mau, suka tidak suka, kami memang selalu terikat dengan api cinta yang tak bisa mati meski dunia berusaha memadamkannya. Namun kau tidak tahu betapa sulit bagi kami untuk bisa bersama.


Aku tidak akan menyalahkan keluargaku. Aku mengerti kenapa mereka begitu posesif terhadapku. Bagi mereka, Eric telah menggoreskan kekecewaan dua kali dalam hati mereka. Eric telah menyia-nyiakan kesempatan kedua yang diberikan keluargaku. Meski aku menyangkal, mereka tetap merasa terluka saat melihatku tersakiti.


Sepeninggal Sally, aku membuka kembali laci nakas dan mengambil kotak kecil berisi cincin rose gold cantik yang terlihat semakin indah di mataku. Kuambil cincin itu lalu kesematkan di jari manisku.


"Aku mencintaimu, Eric. Aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu." Aku mencium cincin itu.


Ada yang aneh dalam hatiku setelah aku mengucapkannya. Aku merasa hatiku lega, seolah beban berat yang menindih dadaku dicabut. Aku bisa bernafas ringan. Dan rasa itu terasa semakin kuat. Rasa cinta dan rindu yang coba kupupus selama ini. Nyatanya, aku tidak pernah bisa melakukannya. Semua rasa itu bersembunyi dengan baik di sudut hatiku. Ketika pemicunya muncul, rasa itu meledak, mengisi seluruh hatiku dengan cinta dan kerinduan yang begitu besar.


"Jadi ... kau sudah memutuskannya?" Aku berpaling ke belakang, melihat Finn berjalan ke arahku.


Finn membawaku duduk di sofa sederhana yang menghadap jendela. Kami duduk bersebelahan. Finn menghela nafas lantas menoleh padaku. "Sejak awal aku tahu kau tidak pernah bisa melupakannya. Semua yang kau katakan bahwa kau mulai bisa mengalihkan perhatianmu darinya, aku tahu kau hanya berpura-pura melupakannya. Kau sedang membohongi hatimu sendiri, Josephine. Kau tahu kenapa kau memilih kue sebagai pengalihanmu? Itu bahkan bukan sebuah pengalihan. Kau memilih kue karena kau memiliki kenangan tersendiri dengan kue saat bersamanya. Apa aku benar?" Finn mengangkat sebelah alis dan menarik salah satu sudut bibirnya keatas.


Aku baru menyadari hal itu. Finn benar. Aku memiliki urusan yang belum selesai tentang kue dengan Eric. Aku memilih kue, karena dulu saat bersama Eric aku tidak pernah berhasil membuatnya. Aku hanya ingin membunuh waktu dan mencari kesibukan dengan melakukan hal yang tidak kukuasai. Namun tanpa sadar, pilihanku adalah kembali pada hal yang membuatku dekat dengannya.


"Sekarang, aku ingin kau berpikir jernih. Disini tugasku adalah membuat kondisi psikologismu kembali baik seperti dulu. Aku tidak ingin kau terburu-buru memutuskan. Pikirkanlah dengan baik. Temukan jawaban atas semua keraguan di lubuk hatimu yang terdalam. Aku percaya kau mampu melakukannya ... Isabel." Finn tersenyum. Dia berdiri, menepuk bahuku dua kali lantas berjalan keluar dari kamarku.


Finn benar. Aku harus membuat keputusan. Dan aku memutuskan bahwa aku harus bertemu dengan Eric. Aku harus tahu apa yang kurasakan setelah aku bicara dengannya nanti. Aku tidak bisa menyangkal bahwa sampai saat ini aku masih sangat mencintainya. Dan aku juga tahu kalau dia merasakan hal yang sama denganku. Namun masalah ini harus diperjelas sekarang. Kami perlu bicara, menyelesaikan apapun yang belum selesai diantara kami. Meski hasilnya nanti akan menyakitkan, kami harus bicara.


Dengan memgumpulkan seluruh keberanian dalam diriku, aku berdiri di depan pintu apartemen Eric. Tidak hanya sekali dua kali aku mengangkat tangan untuk mengetuk  pintu berwarna coklat tua itu. Aku melakukan inhale dan exhale berkali-kali, namun aku tidak juga bernyali untuk mengadu buku-buku jariku dengan papan kayu di hadapanku.


"Sekarang atau tidak sama sekali, Isabel. Kau sudah sampai disini. Apa kau ingin mundur sekarang?" kataku pada diriku sendiri.


Sejujurnya aku tidak tahu apa yang akan kukatakan pada Eric saat bertemu dengannya nanti. Aku hanya bermodal keyakinan bahwa Eric menginginkan hal yang sama denganku. Menyelesaikan apa yang tidak sempat kami selesaikan dulu. Semoga saja aku tidak salah menduga.


Hampir sepuluh menit aku berdiri di depan pintu. Kutarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan perlahan. Entah sudah berapa kali aku melakukannya. Namun kali ini aku merasa keberanianku terkumpul, berpusat menjadi satu dan menyalurkan tenaga pada tanganku untuk bergerak mengetuk pintu itu.


Aku mengetuk pintu dua kali. Kugenggam erat tali tasku dengan gugup menunggu seseorang akan membuka pintu di hadapanku. Kugigiti bibirku untuk mengurangi kegugupan yang kurasakan.


Telingaku terbuka lebar saat samar-samar aku mendengar sahutan dari balik pintu. Jantungku berpacu cepat. Tanganku berkeringat. Lalu terdengar suara seseorang memutar anak kunci. Sedetik kemudian gagang pintu itu bergerak. Perlahan pintu itu terbuka, menampilkan seseorang dengan kaos abu-abu yang mengintip dari celah pintu. Begitu melihat aku berdiri di depan pintunya, dia membuka pintu itu lebar-lebar dengan tatapan terkejut. Dia menatapku seolah tidak percaya bahwa aku benar-benar berdiri di hadapannya.


"Bells?" Aku bisa membaca bahasa bibirnya, meski suaranya tidak dapat kudengar.


Aku memaksakan senyum canggung. "Hai," sapaku lirih nyaris tak bersuara. Kurasa tenggorokanku terlalu kering untuk mengeluarkan suara. Sekarang aku tidak bisa mundur lagi. Apapun yang terjadi, I don't really care!


*


*


*


*


*


tbc.


Gimana part-part terakhir menuju ending? Happy ending? Sad ending?


See you next part, Love.