100 Days

100 Days
Part 44



Dug dug dug


"Princess, kau sudah bangun ?" Jordan mengetuk pintu kamar Isabel. Hari sudah semakin gelap, tapi Isabel belum keluar dari kamar sejak pulang dari air terjun. Sepertinya dia kelelahan. Kelelahan berkelahi dengan Eric yang terus mengganggunya.


"Dia tidak akan bangun hanya dengan kau gedor pintunya." Ujar Eric yang berjalan menuju kamarnya. Eric tahu sendiri bagaimana susahnya membangunkan gadis itu. Dalam kondisi normal saja gadis itu sulit sekali dibangunkan, apalagi dengan kondisi tubuh yang kelelahan.


"Dia pasti kelelahan berkelahi denganmu." Bela Jordan.


Eric mendengus sambil tersenyum miring. Lalu dia masuk ke dalam kamarnya. Sementara Jordan, ketukan pintunya kini sudah berubah menjadi gedoran. Eric benar, tangan Jordan sampai nyeri menggedor-gedor pintu dari tadi. Tapi yang di dalam sepertinya tidak terusik sedikitpun.


Hingga Eric keluar lagi dari kamarnya, Jordan masih setia menunggu di depan pintu kamar Isabel.


"Sepertinya kau benar." Ucap Jordan putus asa saat usahanya membangunkan Isabel dengan menggedor pintunya tidak berhasil.


Eric tersenyum miring. Dia melenggang begitu saja meninggalkan Jordan yang terlihat seperti orang gagal memenangkan lotre.


Jordan mengikuti Eric ke teras depan. Keduanya duduk di lantai kayu tanpa alas. Membicarakan pekerjaan dan beberapa obrolan ringan.


"Aku akan pulang besok pagi." Ucap Eric.


"Bukankah besok kau masih ada pekerjaan disini ?"


"Chloe, ada sedikit masalah dengan kandungannya." Wajah Eric tampak khawatir.


Jordan tersenyum meremehkan. "Bukankah sudah ada suaminya disana ?" Sindir Jordan. Dia tahu, Eric belum rela adiknya menikah. Apalagi dengan cara seperti itu.


Lirikan mata elang Eric manunjukkan kalau dia tidak suka mendengar pertanyaan Jordan.


"Kurasa anak itu cukup bertanggung jawab. Belajarlah mempercayainya." Tambah Jordan.


Eric mendengus dengan senyum sinis di bibirnya. "Bagaimana aku bisa mempercayai orang yang sudah menghancurkan masa depan adikku ?"


Jordan menghela nafas. Eric memang keras kepala. Percuma menasehatinya saat ini. Jordan hanya berharap semoga Aiden tidak melakukan kesalahan lagi. Eric tidak akan memaafkannya untuk kedua kali.


"Kau menyukai gadis itu ?" Setelah diam beberapa saat, Eric membuka suaranya.


Jordan menoleh sebentar. Dia tersenyum, paham siapa yang dimaksud Eric. Lalu dia mengarahkan pandangannya ke depan. "Tentu. Dia baik, menarik. Kau tidak menyukainya ?"


Eric tersenyum tipis. "Kau paham apa maksudku."


Kali ini Jordan terkekeh. "Apa kau sedang cemburu ? Kulihat kau sangat menikmati kebersamaan kalian. Meskipun aku tahu egomu terlalu tinggi untuk mengakuinya."


Eric diam. Dia tidak menanggapi ucapan Jordan yang memojokkannya.


"Sampai kapan kau akan seperti ini ?" Eric menatap serius pada Jordan.


"Apa maksudmu ?" Jordan tersenyum kecil.


"Wanita itu tidak pantas untukmu. Sudah saatnya kau memikirkan kebahagiaanmu sendiri." Tukas Eric.


Senyum diwajah Jordan lenyap. Rahangnya mengeras dan wajahnya suram. Ekspresi yang sangat jarang dia tunjukkan. "Aku bahagia dengan hidupku." Jawabnya datar.


"Mulailah membuka hati."


Jordan menatap tajam pada Eric. "Apa kau bicara untuk dirimu sendiri ?" Sindir Jordan.


Kali ini Eric yang mengetatkan rahangnya. Jordan selalu punya cara untuk balik menyerangnya.


Eric memejamkan mata, menelan ludah kasar. Sangat terlihat jika dia menahan sesuatu dalam dirinya agar tidak meledak. "Jika gadis itu bisa membuatmu bahagia, dapatkan dia."


Tidak ada yang lebih diharapkan Eric dari Jordan selain kebahagiaannya. Saudara angkatnya itu sudah terlalu banyak berkorban untuk dia dan adiknya. Meskipun darah yang mengalir di tubuh mereka tidak sama, tapi Jordan berperan layaknya seorang ayah, kakak dan sahabat yang sempurna untuk Eric dan Chloe.


Dibalik sikap keras Eric, Jordan seperti penyeimbang dengan sikapnya yang santai dan tenang.


Jordan terlalu sering menyimpan lukanya sendiri. Dia tidak membiarkan siapapun melihat sisi lemah dalam dirinya. Sekalipun itu Eric.


"Kenapa tidak ada yang membangunkanku ?" Suara lantang Isabel memecah suasana tegang yang terjadi.


Gadis itu berdiri diambang pintu dengan wajah kesal tanpa dosa, karena saat dia membuka mata, ternyata jam makan malam sudah lewat. Dan dia terbangun karena perutnya kelaparan.


Jordan bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Isabel dengan senyum yang mengembang indah. "Ayo kita makan malam. Aku tahu kau kelaparan, Princess." Jordan mengacak rambut Isabel lalu berjalan mendahuluinya ke meja makan.


Begitulah Jordan. Dia sangat pandai menyembunyikan emosi.


"Kau tidak ikut makan malam ?" Tanya Isabel pada Eric yang masih berdiam ditempatnya.


"Aku akan menyusul." Jawabnya datar tanpa menoleh sedikitpun.


"O--kay." Sahut Isabel lirih.


Eric mendengar langkah Isabel yang semakin menjauh. Dia berharap Jordan akan membuka hatinya lagi. Dari yang Eric lihat di Lighthill, Jordan tertarik dengan gadis itu. Meski Eric tidak yakin dengan perasaan Isabel terhadap Jordan. Karena Eric tahu, bagaimana gadis itu meratapi kekasihnya.


"Kau harus bahagia, brother." Gumam Eric.


*****


"Kenapa mendadak seperti ini ? Kau bilang kita disini tiga hari. Harusnya masih ada sehari lagi." Isabel merajuk karena tiba-tiba Eric menyuruhnya berkemas.


Isabel menghentakkan pantatnya diatas ranjang sambil bersidekap. Bibirnya mengerucut dengan wajah yang merah dan hidung kembang kempis.


"Kalau kau tidak mau pulang, aku akan meninggalkanmu disini." Ancam Eric.


Isabel mengunci bibirnya rapat-rapat. Dia belum puas keliling Amytville. Jordan bilang hari ini akan mengajak Isabel ke kebun anggur. Dan tiba-tiba saja Eric menyuruhnya berkemas-kemas.


"Aku akan tetap pulang dengan atau tanpa dirimu." Tukas Eric.


Kesabaran Eric hampir habis hanya untuk membujuk gadis ingusan keras kepala dihadapannya itu. Dia tidak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini dalam hidupnya. Menghadapi anak manja yang sedang merajuk.


Selama ini Eric tidak pernah dibuat repot oleh Chloe. Adiknya itu sangat mandiri, pemikirannya juga dewasa. Eric bersyukur mempunyai adik seperti Chloe.


Akhirnya Jordan turun tangan. Mendengar perdebatan kedua orang itu membuat telinganya panas. Dia membuang nafas kasar lalu beranjak dari sofa, ikut masuk ke kamar Isabel.


Jordan menepuk bahu Eric dari belakang, memberi isyarat pada Eric untuk keluar. Jordan yang akan membujuk Isabel. Dengan cara Eric seperti itu, Isabel akan terus merajuk.


Eric keluar dari kamar Isabel. Dia sudah mengemasi barang-barangnya semalam. Dia menunggu di ruang tamu, sementara Jordan membujuk Isabel.


Lima belas menit kemudian Jordan dan Isabel keluar dari kamar. Meskipun wajah Isabel cemberut seperti keset kamar mandi yang tidak pernah dicuci, tapi Eric bisa melihat Jordan membawa ransel di bahunya.


Eric tersenyum miring. Jordan memang perayu ulung. Atau mungkin dirinya saja yang terlalu kaku. Terserah, yang penting bisa pulang hari ini dan segera mengetahui kondisi kandungan Chloe dengan mata kepalanya sendiri.


Jujur Eric sebenarnya khawatir dengan pernikahan Chloe. Dia takut Chloe akan menderita dengan pernikahan itu. Apalagi jelas-jelas suami adiknya masih mencintai mantan kekasihnya. Eric takut Chloe merasa tertekan.


Ditambah lagi kabar kalau kandungannya sedikit bermasalah. Eric yakin itu ada hubungannya dengan kondisi psikis Chloe.


Maka dari itu Eric ingin segera kembali dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri kondisi Chloe.


"Kau puas ?!" Desis Isabel saat melintas di depan Eric. Eric semakin melebarkan senyumnya, gadis itu sungguh menggemaskan.


"Kalau kau kesini lagi, ajaklah dia." Kata Jordan yang berjalan beriringan dengan Eric menuju mobil.


Eric menatap tajam pada Jordan. "Tidak."


"Dia mau pulang kalau kau mengajaknya kesini lagi." Jordan terkekeh.


"Kenapa bukan kau saja yang menjemputnya ? Merepotkan."


"Lewatlah jalur utama." Jordan melemparkan ransel Isabel pada Eric, yang ditangkap dengan kesal, mengabaikan ucapan Jordan.


Jordan berdiri di samping pintu tempat Isabel duduk dengan menekuk wajah.


"Hati-hati, Princess. Kalau dia mengganggumu lagi, hajar saja dia." Jordan berbisik pada kalimat terakhirnya.


Hal itu membuat Isabel terkekeh. Mengingat bagaimana dia bisa berkelahi habis-habisan dengan Eric kemarin. Rasanya sangat puas bisa membalas pria itu.


Jordan menunjuk Eric sambil memperingatkan. "Jalur utama !"


Eric menatap malas pada Jordan lalu menyalakan mesin mobilnya.


"Good bye, Jordan !" Isabel melambaikan tangannya.


"Good bye, Princess." Balas Jordan dengan senyumnya. Senyum yang akan Isabel rindukan.


Setengah jam kemudian.


"Jordan !"


Suara yang tidak asing. Tapi bukankah mereka baru saja pergi ? Jordan membalikkan tubuhnya. Kejutan ! Isabel tersenyum sumringah sambil berlari kecil ke arah Jordan yang baru saja selesai membetulkan kran yang bocor di dapur.


Jordan mengernyit. Kenapa Isabel kembali lagi ? Lalu pandangannya jatuh pada pria yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan wajah ditekuk.


Sesuatu baru saja terjadi.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Nah lo, ngapain juga mereka balik lagi ?


See you next part, Love.