100 Days

100 Days
Part 110



Hari ini Isabel berniat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Karena malamnya dia akan ke Willow Spring untuk bertemu dengan Eric.


Benar apa yang dikatakan Cayla. Bila dua hati yang saling mencintai tidak bisa bersama, itu hanya akan membuat keduanya tersiksa.


Dalam video yang di kirim Claire semalam, Isabel bisa merasakan luka yang sangat dalam di hati Eric. Begitu pula dirinya, dia juga merasa tersiksa jauh dari Eric. Biarpun dia selalu berusaha menyangkalnya, namun pada akhirnya rasa sakit itu hanya semakin dalam dan pelan-pelan menggerogoti jiwanya.


Jika bersatunya kembali cinta mereka bisa menyembuhkan rasa sakit itu, maka Isabel akan memilih untuk kembali pada Eric.


"Hari ini kau bersemangat sekali." Komentar Cayla saat melihat Isabel sangat fokus pada pekerjaannya.


"Ada yang harus kulakukan sepulang kerja nanti." Balas Isabel tenpa melihat pada orang yang mengajaknya berbicara.


Cayla menoleh sambil mengangkat alisnya lantas kembali menatap ke layar komputer. "Apa ini tentang pria itu ?" Tanya Cayla tanpa menoleh lagi.


"Ya. Aku sudah mengambil keputusan." Jawab Isabel.


"Kau akan menerimanya kembali ?"


"Hm. Tidak sepatutnya dua orang yang saling mencintai dibuat terluka oleh cinta mereka."


Cayla tersenyum mendengar jawaban Isabel. Sudah dia duga kalau akhirnya mereka akan kembali bersama. Dan jujur saja Cayla juga berharap hal itu terjadi. Menurut Cayla, mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Meski usia mereka terpaut jauh, tapi keduanya terlihat saling melengkapi.


Isabel mendesah lega, pekerjaannya sudah selesai. Enam puluh menit lagi jam kerjanya habis, dan dia bisa segera pulang untuk bersiap-siap. Dia harus tampil maksimal untuk bertemu Eric malam ini.


"Arthur memanggilmu ke ruangannya." Cayla yang baru saja keluar dari ruang kerja Arthur menghampiri kubikel Isabel. "Semoga kau tidak lembur malam ini." Tutur Cayla sambil menepuk bahu Isabel.


Ada apa Arthur memanggil Isabel ? Ada yang salah dengan pekerjaannya ? Dengan raut wajah cemas, Isabel bangkit dari duduknya dan segera berjalan menuju ruang kerja Arthur.


"Sepertinya hari ini kau harus lembur, Ms. Bennings." Ucap Arthur saat Isabel baru saja menjejakkan kakinya di ruangan Arthur.


Isabel memejamkan matanya sambil merapatkan bibirnya menahan geram. Kenapa masih ada kesalahan dalam pekerjaannya ? Padahal dia sudah menelitinya sebelum membawanya pada Arthur.


"Entah apa yang mengganggu pikiranmu. Tapi laporanmu selisih 5$ antara debet dan kredit." Arthur menunjuk kolom debet dan kredit pada laporan yang dibuat Isabel. "Bukankah seharusnya ini seimbang ?"


Isabel melihat pada kesalahannya yang ditunjukkan oleh Arthur. "Aku akan memperbaikinya." Kata Isabel dengan lesu. Dia meraih setumpuk laporan yang dia kerjakan tadi dan membawanya keluar.


Isabel meletakkan tumpukan laporan itu diatas kubikelnya. Lalu dia meletakkan keningnya tepat diatas tumpukan laporan itu.


"Lembur, hm ?" Tanya Cayla.


"Sial sekali nasibku !" Jawab Isabel tidak bersemangat.


Tidak ingin membuang waktu lagi, Isabel segera memulai revisi. Karena sama saja dia harus mengerjakannya dari awal. Dalam pekerjaannya, selisih satu sen saja harus dicari letak kesalahannya dimana. Kalau tidak, pekerjaan itu tidak akan bisa terselesaikan karena semua laporan yang dia buat saling berkaitan.


Pukul 6 petang, Isabel baru bisa menyelesaikan pekerjaannya.


"Huft !" Isabel mengusap peluh di dahinya. Bekerja dengan fokus maksimal ternyata sangat menguras energi. Memang pada saat masih memegang pekerjaan tidak akan merasakan apapun, namun begitu tangan diletakkan, lelah itu baru terasa.


Kedua mata Isabel rasanya pedih sekali karena terlalu lama terkena paparan radiasi dari layar komputer yang dia gunakan untuk merevisi setumpuk laporan itu.


"Aku harus cepat." Gumam Isabel setelah melihat jam tangannya.


Dia merapikan kubikel lantas menyambar tas jinjingnya dan bergegas meninggalkan ruangan tempat dirinya bekerja.


"Ms. Bennings !" Suara Arthur tiba-tiba memanggil. Isabel membalik badannya dan mendapati Arthur berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Ya ?" Tanya Isabel. Dia sedang terburu-buru, tidak ada waktu untuk berbasa basi.


Nafas Arthur tersengal-sengal ketika dia sudah berada di depan Isabel, membuat gadis itu merasa tidak tega. Apalagi saat melihat Arthur kepayahan mengatur nafas.


"Baru saja Mr. Bennings meneleponku. Beliau sudah menunggumu di lobi." Kata Arthur masih dengan nafas tersengal.


"Dia belum pulang ?" Tanya Isabel.


"Mr. Bennings khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, Ms. Bennings." Jawab Arthur. Seolah mengingatkan tentang kejadian beberapa waktu lalu.


Dalam hati Isabel mengumpat. Dia ingin pulang sendiri agar tidak ditanya macam-macam oleh Mike. Tapi ternyata Mike menunggunya hingga selesai lembur.


"Terima kasih. Aku akan segera menemuinya." Kata Isabel. Dia segera berjalan cepat meninggalkan Arthur yang masih berusaha mengatur nafas. Semoga saja dia tidak pingsan.


Begitu sampai di lobi, Isabel melihat Mike sedang duduk di sofa sambil meminum kopi. Gadis itu menggeram kesal. Dia berharap Mike sudah berada di rumah dan sedang bermain bersama Liam agar dia tidak perlu tahu kemana Isabel akan pergi setelah ini.


Akhirnya, dengan langkah lesu Isabel menghampiri Mike.


"Ayo pulang !" Ajak Isabel tanpa berhenti melangkah. Dia melewati Mike begitu saja.


"Tidak sopan sekali !" Gerutu Mike. Dia lantas bangkit dan menyusul langkah Isabel.


Gadis itu tampak gelisah saat berada di dalam mobil Mike. Berkali-kali dia melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul 7 tapi mereka masih berada di jalan. Mike melajukan mobilnya dengan santai. Dia tidak tahu kalau adiknya saat ini sedang gelisah seperti orang yang sedang menahan buang air kecil.


"Bisa lebih cepat sedikit ?" Isabel mulai tidak sabar.


Mike menoleh sambil mengerutkan kening. Dia merasa heran dengan pertanyaan Isabel. Dan dia mulai curiga.


"Bisa saja. Tapi untuk apa ?" Selidik Mike.


"Tambah saja kecepatannya !" Jawab Isabel yang tidak ingin jujur.


"Katakan !" Cecar Mike. Dia yakin Isabel sedang menyembunyikan sesuatu.


"Aku lelah. Aku ingin cepat sampai rumah dan istirahat." Elak Isabel.


"Turunkan saja punggung kursinya ! Kau bisa merebahkan tubuhmu disana." Saran Mike.


Isabel berdecak lantas memutar bola matanya. Tidak mungkin dia jujur pada Mike jika dia ingin segera menemui Eric. Pasti kakaknya itu tidak akan mengijinkannya.


"Whatever !" Isabel mengikuti saran Mike. Dia menurunkan punggung kursinya dan pura-pura mengantuk agar Mike tidak lagi menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuat rencananya malam ini gagal sebelum direalisasikan.


Mereka tiba di rumah pukul 7 lebih lima belas menit. Isabel segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Dia buru-buru masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Tidak ada waktu lagi untuk tampil maksimal seperti yang dia bayangkan tadi siang. Isabel mengambil baju sekenanya. Awalnya dia ingin memakai dress yang cantik untuk bertemu Eric. Namun karena terburu-buru, Isabel asal mengambil kaos rajut merah marun kesayangannya dan celana jins hitam.


Tanpa polesan make up yang berarti, Isabel segera keluar dari kamar karena dia tidak ingin kehabisan waktu.


"Kau mau kemana ?" Tanya Emma saat berpapasan dengan Isabel di ruang keluarga. Dia mengerutkan kening keheranan dengan putrinya.


"Aku ada urusan diluar." Jawab Isabel, masih berjalan cepat dan tak lupa menghampiri Emma lantas mencium pipi ibunya itu.


"Makan malam dulu, Sayang." Kata Emma. Namun Isabel tidak menghiraukannya. Gadis itu berlalu begitu saja keluar dari rumah, membuat Emma menggeleng kepalanya.


"Oh, shit !" Umpat Isabel saat melihat Mike sedang berbicara dengan Taylor di halaman rumah.


Isabel menggigit bibir sambil mengetukkan kakinya di lantai dengan ritme cepat dan teratur. Dia harus mencari cara untuk lolos dari Mike.


"Isabel !"


Terlambat ! Mike terlanjur melihatnya. Dia tidak punya jalan lain selain menghadapi kakaknya itu.


Perlahan Isabel berjalan mendekat pada Mike dan Taylor.


"Kau mau pergi kemana ?" Tanya Mike. Dari tatapannya, Mike mulai curiga. Pantas saja Isabel memintanya cepat-cepat melajukan mobil. Lelah ? Penampilan Isabel tidak menunjukkan rasa lelah sedikitpun.


"Aku ada sedikit urusan diluar." Jawab Isabel.


"Bukankah tadi kau bilang bahwa kau sangat lelah dan ingin segera istirahat ?" Mike menyipitkan matanya. "Urusan apa yang bisa membuat rasa lelahmu seketika menghilang ?"


"Ayolah ! Aku sudah dewasa. Haruskah aku melaporkan apapun yang ingin kulakukan ?" Isabel mengangkat kedua tangannya sambil menatap lelah pada Mike.


Mike memiringkan tubuhnya menghadap Isabel lalu melipat tangan di dada. Kedua matanya menyorot tajam pada adik perempuannya itu.


"Bagiku, kau masih menjadi adikku yang membutuhkan pengawasan." Kata Mike.


"Aku bukan Liam ! Aku bisa menjaga diriku sendiri." Ketus Isabel. "T, antar aku sekarang !" Isabel beralih menatap Taylor dengan tatapan galak.


"Tidak, Taylor !" Sergah Mike.


Taylor bingung. Dia menatap Isabel dan Mike bergantian seolah mencari jawaban apa yang harus dia lakukan.


"Aku hanya keluar sebentar. Apa masalahmu ?" Isabel mulai menaikkan intonasi suaranya.


"Kau ingin menemui b*jingan itu lagi ?"


"Bukan urusanmu !"


"Aku tidak akan mengijinkanmu keluar untuk bertemu dengannya lagi !"


"Aku berhak menentukan pilihanku sendiri !" Tegas Isabel. Dia beralih menatap Taylor yang berdiri di sisi mobil dengan wajah bodohnya melihat pertengkaran kakak beradik itu. "Antar aku sekarang !" Perintahnya pada Taylor.


Dipelototi seperti itu oleh Isabel, Taylor bergeser. Dia hendak membuka pintu mobil namun ucapan Mike mampu mencegahnya.


"Kalau kau berani mengantarkannya, aku akan memecatmu sekarang juga !" Ancam Mike pada Taylor, membuat pria itu beringsut mundur.


Isabel semakin geram. Dia sudah tidak punya banyak waktu lagi. Dia harus segera ke Willow Spring. Dengan gerakan cepat, Isabel menerobos tubuh Taylor dan membuka pintu mobil sisi kiri.


"Isabel !!" Teriak Mike yang dibuat geram oleh adiknya.


Isabel tidak peduli. Dia segera mengunci pintu dan menyalakan mesin mobilnya. Mike menggedor-gedor body mobil agar Isabel mengurungkan niatnya itu.


Bukan Isabel namanya, jika dia tidak keras kepala. Dia melirik sekilas pada Mike sebelum mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Mike dan Taylor bersama kepulan asap dan debu.


"Sial !" Mike menendang udara. Adiknya sangat susah di nasehati. Eric sudah menyakitinya. Pria itu tidak pantas bersama adiknya. Kenapa Isabel masih juga kembali pada b*jingan seperti itu ?


Mike merogoh saku celananya, mengambil ponsel. Dia menelepon Greg untuk tidak membukakan gerbang rumah jika mobil Isabel sampai disana.


"Jangan buka gerbangnya, Greg ! Isabel kabur." Perintah Mike pada Greg.


Greg menoleh ke kiri, dia bisa melihat BMW putih milik Isabel melaju dengan kencang. Greg bingung, Mike menyuruhnya untuk tidak membuka gerbang, tapi laju mobil itu sangat tinggi.


"Sir ! Mobil Nona Isabel melaju dengan kecepatan tinggi." Kata Greg.


"Jangan buka gerbangnya ! Dia tidak akan menabrakkan mobilnya sendiri." Perintah Mike semakin tegas.


Isabel sudah sampai di depan gerbang. Dia menurunkan kaca mobilnya, melihat ke arah Greg.


"Buka gerbangnya, Greg !" Perintah Isabel.


Greg yang masih menempelkan gagang telepon di telinganya menjadi bingung berada diantara dua perintah berbeda dari dua majikannya.


"Jangan buka gerbangnya !" Ulang Mike lagi.


"Maaf, Nona....."


"AKU BILANG, BUKA GERBANGNYA, GREG !" Teriak Isabel memotong ucapan Greg.


Dari seberang telepon, Mike pun berteriak untuk tidak membuka gerbang. Greg semakin kebingungan dibuatnya.


"B*rengsek !" Umpat Isabel. Dia menaikkan kaca mobilnya lantas melaju mundur hingga sekitar sepuluh meter.


Jarak itu masih terlihat jelas oleh Greg. Dia melihat Isabel menyalakan fog lamp diiringi raungan mesin mobilnya yang semakin kencang. Kepulan asap mulai terlihat di belakang mobil Isabel. Mobil itu meraung-raung seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya. Dan dalam hitungan satu....dua....


"Maaf, Sir." Greg segera meletakkan gagang teleponnya dan memencet tombol 'open', ketika Isabel menginjak pedal gas dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti sengaja hendak menabrak pintu gerbang. Sungguh diluar dugaan Mike.


Sedikit saja terlambat memencet tombol, Greg tidak tahu apa yang akan terjadi pada Isabel. Gadis itu terlihat sangat serius ingin menabrakkan mobilnya pada pintu gerbang.


Mobil yang dikendarai Isabel berhasil melewati gerbang rumahnya, meski lampu mobilnya yang sebelah kanan harus pecah karena menabrak pintu gerbang yang belum sepenuhnya terbuka.


Persetan dengan kakaknya yang akan mengulitinya nanti. Yang Isabel inginkan saat ini adalah cepat sampai di Willow Spring untuk bertemu Eric.


Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota yang ramai. Ini adalah akhir pekan, wajar jika jalanan sangat ramai.


Isabel berkali-kali mengumpat dan menekan klakson saat mobil yang melaju di depannya menghalangi laju mobil yang dia kendarai.


Pukul 8 lebih 25 menit Isabel baru sampai di Willow Spring. Dia memarkir mobilnya dengan sembarangan di depan cafe. Dia tidak akan sempat memarkirkan mobilnya di basement. Itu akan memakan banyak waktu. Bahkan ban depan bagian kanan mobilnya keluar lajur hingga moncong mobil itu hampir menabrak dinding cafe.


Sebelum turun dia merapikan penampilannya yang sempat awut-awutan. Dia menyisir rambutnya dengan jari lalu bergegas turun.


Di depan pintu cafe, dia berhenti. Dia mengatur nafas terlebih dulu sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Dari luar Isabel bisa melihat tempat itu sangat ramai. Terutama di bagian meja yang dekat dengan panggung.


Claire bilang, sudah tiga hari Eric selalu menyanyi disana. Dan itu semakin menarik pengunjung cafe untuk datang. Penampilan natural Eric menjadi daya tarik tersendiri bagi Willow Spring.


Bahkan ada beberapa pengunjung yang terang-terangan menunjukkan kekagumannya pada Eric. Mereka selalu datang ke Willow Spring hanya untuk melihat Eric bernyanyi. Ternyata, suara Eric banyak menghipnotis para perempuan disana.


Perlahan Isabel mengangkat tangannya, membuka pintu cafe. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung mengarah pada seorang pria yang sedang duduk diatas panggung memangku gitar sambil melantunkan lagu patah hati. Itu...Eric.


Kaki Isabel terasa berat untuk melangkah. Dia berdiri di ambang pintu sambil terus menatap pria yang sangat dia cintai menyanyi dengan sepenuh jiwa.


Untuk beberapa waktu tidak ada yang menyadari kehadirannya. Dia berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca. Hingga saat kedua iris birunya bertemu dengan iris kelabu pria yang sedang bernyanyi diatas panggung. Mereka saling mengunci pandangan. Seolah pandangan itu berubah menjadi wujud abstrak diri mereka yang berlari mendekat dan saling berpelukan melepas rindu. Rindu yang teramat sangat, seperti sudah ribuan tahun mereka tidak bertemu.



*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Cie.....yang berhasil ketemuan lagi.....


Kenapa nggak langsung tabrak aja, Bells ? Pake pandang-pandangan segala.


Biarin deh mereka saling meresapi rasa rindu dulu. hehhee


See you next part, Love.