
"Kita kedatangan tamu." Tutur Isabel saat melihat Eric muncul dari dapur dengan bir dan keripik kentang ditangannya.
Eric melempar bir dan keripik kentangnya di sofa. Lalu dia berjalan cepat ke arah Elena yang memberikan senyum semanis madu.
"Pergi dari rumahku !" Desis Eric sambil menarik tangan Elena agar beranjak dari duduknya.
"Eric !" Isabel memperingatkan. Cengkeraman sekuat itu pasti menyakiti tangan Elena.
"Dia bukan tamu ! Dan aku tidak mengijinkannya menginjakkan kaki di rumahku." Ucap Eric penuh penekanan. Kedatangan Elena pasti hanya akan membawa masalah untuknya dan Isabel.
"Sakit, Eric." Elena meringis dibuat-buat. "Aku datang dengan niat baik. Sudah lama kita tidak bertemu, aku hanya merindukanmu." Ucap Elena sambil meringis pura-pura menahan sakit yang sebenarnya tidak seberapa itu.
Isabel maju, menyentuh lengan Eric yang mencengkeram tangan Elena. "Kau menyakitinya, Eric. Lepaskan dia." Pinta Isabel lembut sambil mengusap lengan Eric agar kekasihnya itu tenang.
Eric diam dengan wajah keras. Dia sangat murka dengan kedatangan Elena.
"Sakit, Eric." Rintih Elena lagi, yang jelas Eric tahu itu hanya kebohongan.
"Eric....lepaskan dia. Anggap aku meminta hadiah ketiga ulang tahunku." Isabel tidak tega melihat wajah kesakitan Elena.
Sekilas Eric melarikan iris kelabunya pada Isabel. Lalu dia menatap tajam pada Elena, menghempas kasar tangan wanita itu. Meskipun samar, Eric bisa melihat seringai licik Elena sebelum wanita itu merubah ekspresinya yang seolah kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah.
"Kau tidak apa-apa ?" Isabel menyentuh pundak Elena. Memperhatikan pergelangan tangan Elena yang merah akibat ulah Eric.
Elena mengangguk dan tersenyum kecil. "Jadi, hari ini kau ulang tahun ?" Elena balik bertanya.
"Ya." Isabel mengangguk.
"Ulang tahun ke berapa ?" Tanya Elena lagi.
"22." Jawab Isabel.
"So young." Ucap Elena sarat makna.
Sebuah senyuman kembali mengembang di wajah Elena. "Kebetulan aku membawa bahan makanan. Bagaimana kalau aku memasak untukmu ? Anggap saja ini hadiah ulang tahun dariku." Elena meminta dengan raut memohon.
Isabel melirik Eric yang masih berusaha menahan emosi dengan nafas memburu. Lalu dia menatap Elena lagi. "Baiklah." Jawab Isabel. Dia kembali melirik Eric yang mengusap wajah dengan kasar.
"Hanya sebentar." Isabel mengusap lengan Eric, seolah dia tahu kalau Eric tidak menyukai keputusannya membiarkan Elena memasak di rumahnya.
"Kau baik sekali." Elena memeluk Isabel. "Happy birthday." Ucapnya kemudian.
"Terima kasih." Balas Isabel. "Aku akan membantumu memasak."
Senyum Elena semakin lebar. Memang itu yang dia inginkan. Isabel menjauh dari Eric.
Sepeninggal Isabel dan Elena, Eric menghempaskan dirinya keatas sofa. Dia mengacak rambutnya frustasi. Dia tidak boleh membiarkan Elena berdekatan dengan Isabel. Isabel sangat mudah di provokasi, jika sampai Elena mengatakan hal yang tidak-tidak, Eric khawatir Isabel akan terpengaruh.
Sementara itu di dapur, Elena dan Isabel mulai mengeluarkan bahan makanan dari paper bag yang dibawa Elena.
"Kau membeli banyak sekali bahan makanan." Ucap Isabel yang sedikit terkejut Elena datang membawa semua itu. Seperti sudah di persiapkan.
Elena tersenyum, tangannya tidak berhenti bergerak dengan cekatan memilah bahan apa yang akan dia masak. "Terakhir aku kesini, lemari es itu sama sekali tidak ada isinya." Elena menunjuk lemari es di belakang Isabel. "Jadi aku membeli semua ini untuk persediaan."
Hati Isabel terasa dicubit. Tapi sebisa mungkin tidak dia tunjukkan. "Kau sering kesini ?" Rasa penasaran Isabel tidak bisa ditahan lagi. Untuk apa dia membawa banyak persediaan jika tidak sering kesini ?!
Elena mengerutkan kening, menghentikan gerakannya memilah bahan. "Lumayan." Jawabnya. Dia melanjutkan lagi aktivitasnya.
Lagi-lagi Isabel merasa hatinya dicubit berkali-kali. Apa dibalik kegagalan rencananya untuk berkunjung kesini ada hubungannya dengan Elena ? Apa Eric memang tidak ingin Isabel tahu kalau Elena sering datang kesana ?
"Aku suka memasak untuk Eric. Aku tahu semua makanan kesukaannya." Terang Elena tanpa ditanya.
Okay, ini terasa mulai....menyakitkan. Isabel menghirup nafas banyak-banyak agar bisa tetap tersenyum meski cubitan di hatinya semakin keras.
"Makanan apa yang kau sukai ?" Tanya Elena.
"Aku suka apa saja." Jawab Isabel. Dia memang bukan tipikal orang yang pilih-pilih makanan. Dia juga bukan tipikal orang yang peduli dengan berat badan. Tapi, meskipun begitu, tubuhnya tetap langsing dan menarik. Kecuali tinggi badannya mungkin.
Elena menjentikkan jarinya, setelah mendapatkan ide bagus. "Burrito !" Serunya. "Kita masak burrito saja."
"O-kay." Jawab Isabel sedikit ragu. Bukan karena dia tidak suka burrito. Tapi dia tidak pernah memasaknya, jadi dia tidak tahu apa saja yang perlu disiapkan. "Tapi...aku belum pernah memasak burrito sebelumnya." Kata Isabel jujur.
"Tenang saja." Elena mengedipkan matanya. "Ini adalah hari ulang tahunmu, jadi aku yang akan memasaknya."
Isabel merasa tidak enak jika dia tidak membantu apa-apa. "Apa yang bisa aku bantu ?"
"Mm...." Elena melarikan iris coklat terangnya pada bahan-bahan untuk membuat burrito. "Kau bisa membantuku mencincang daging dan memotong sayuran."
"Baiklah." Isabel bergerak ke ujung meja pantry untuk mengambil chopper, namun suara larangan Elena menghentikannya.
"Kau harus mencincangnya dengan pisau." Kata Elena.
What ? Pisau ? Kenapa tidak memakai chopper saja ? Bukankah itu lebih praktis ? Batin Isabel.
Elena tersenyum, "Eric lebih suka jika dagingnya dicincang kasar dengan pisau." Terang Elena saat melihat raut bingung di wajah Isabel. Dan akhirnya Isabel beralih mengambil pisau daging.
Selesai mencincang daging, Isabel mengambil pisau lain untuk memotong sayuran. Lagi-lagi perintah Elena membuat Isabel mengurut dada.
"Jangan terlalu kecil memotong paprikanya. Eric tidak suka. Apa kau bisa membuat guacamole ?"
"Ya." Jawab Isabel singkat. Dia mulai gerah dengan tingkah Elena yang sejak tadi selalu mengatakan apa yang disuka dan tidak disukai Eric. Apa dia sedang berusaha menunjukkan seberapa kenal dia dengan Eric ? Isabel mulai tidak suka dengan kondisi ini. Tapi dia berusaha sabar. Tetap melakukan apapun yang di perintah Elena.
Begitu Isabel mulai menghaluskan alpukat, Elena bersuara lagi. "Tambahkan lagi alpukatnya. Eric menyukai burrito dengan banyak guacamole."
"Aku suka apapun yang kau masak, Sweetheart." Tiba-tiba Eric muncul, berjalan mendekat pada Isabel yang terlihat mulai tidak nyaman dengan Elena. Dia berdiri di samping Isabel, melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Isabel lantas mencium sekilas pipi gadis itu.
Isabel tersentak saat Eric sedikit menarik tubuh gadis itu agar lebih menempel dengan tubunya, seolah ingin menegaskan kalau hubungan mereka sangat kuat.
Diam-diam Elena mengepalkan kedua tangannya. Membuang pandangan sebentar sambil menggertakkan gigi. Sedetik kemudian dia kembali menatap pasangan mesra di depannya dengan senyum lebar yang palsu.
"Kau membuatnya kesulitan memotong alpukat, Eric." Keluh Elena. Pemandangan di depannya betul-betul membuat hatinya mendidih.
Isabel merasa tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Akhirnya dia meminta Eric untuk kembali ke ruang keluarga, menunggu masakan mereka matang.
"Kau menatapku seolah aku akan memakan kekasihmu." Cibir Elena. "Santai saja. Tunggu kami selesai memasak."
"Aku baik-baik saja." Isabel meyakinkan Eric. Meskipun sebenarnya dia tidak yakin baik-baik saja. Disini dia bisa menyimpulkan kalau dia tidak suka dengan Elena. Entahlah, yang jelas ucapan Elena yang seolah tahu segalanya tentang Eric membuatnya muak.
Setelah Isabel meyakinkan Eric, Eric kembali ke ruang keluarga. Dia memberi tatapan peringatan pada Elena sebelum meninggalakan mereka berdua.
Isabel menghembuskan nafas lega saat sesi memasaknya dengan Elena selesai. Ini adalah acara memasak paling memuakkan yang pernah dialami Isabel. Sungguh, jika saja dia tidak menghargai upaya Elena yang katanya ingin memasak sebagai hadiah ulang tahun--yang apa-apanya selalu tentang apa yang Eric suka dan tidak suka--dia pasti sudah meninggalkan wanita itu dan lebih memilih memakan keripik kentang sambil bermanja-manja di pangkuan Eric.
"Aku akan memanggil Eric." Isabel hendak berbalik, tapi tangan Elena menahannya.
"Biar aku saja." Kata Elena. Tidak peduli respon Isabel, Elena melenggang meninggalkan meja makan yang sudah tertata rapi.
Sumpah, rasanya Isabel ingin menjejalkan burrito ukuran raksasa ke mulut Elena. Apa tadi dia bilang ? Memasak untuk hadiah ulang tahun ? Hh...Ini namanya memasak makanan kesukaan Eric.
"Baby, Makanan sudah siap. Ayo kita makan siang."
Suara itu masih bisa di dengar dengan jelas oleh Isabel. Isabel mendengus kasar, menggertakkan giginya saat mendengar panggilan Elena untuk Eric. Baby ? Hah ! Dia pikir siapa dirinya ?!
Elena kembali dengan senyum indah yang selalu menghiasi wajahnya. Diikuti Eric beberapa langkah dibelakangnya.
Elena mengambil satu burrito dan meletakkannya di sebuah piring. "This is special for you, Babe." Elena meletakkan piring di depan Eric yang duduk di sebelah Isabel. Isabel semakin geram. Sejak tadi mulutnya sudah gatal ingin mengumpati Elena. Namun sentuhan lembut di tangan kirinya, membuat Isabel menahan diri.
"Yang mana buatanmu, Sweetheart ?" Tanya Eric lembut pada Isabel. Dia tidak melirik sedikitpun pada burrito yang di sodorkan Elena.
"Aku tidak ingat." Jawab Isabel jujur. Mana mungkin dia mengingat-ingat gulungan mana yang dia buat. Apalagi dia melakukannya sambil menahan kekesalan setengah mati.
Sorot mata Elena menunjukkan kemarahan besar meskipun bibirnya masih menunjukkan senyuman. Kurang ajar ! Eric tidak mempedulikannya.
"Well," Eric membalik sebuah piring. "Kita makan bersama." Katanya sambil mengambil satu burrito ke piringnya. Lalu dia mengambil pisau dan garpu, memotong dan menyuapkan burrito pada Isabel.
"Enak ?" Tanya Eric. Isabel mengangguk sambil terus mengunyah. Eric melirik arlojinya. "Actually, this is our brunch." Eric menyuapi Isabel lagi. "Tak apa. Nanti kita makan siang lagi di luar, okay ?!" Eric memotong lalu menyuap burrito ke mulutnya sendiri.
Senyum di wajah Elena lenyap. Dia menarik piringnya kembali dan memakannya sendiri.
Sementara Eric, dia makan satu piring dan satu garpu dengan Isabel. Dengan telaten dia menyuapkan burrito pada Isabel dan dirinya sendiri secara bergantian. Sesekali mengobrol, tanpa peduli pada sepasang mata yang menatapnya geram dan memotong makanannya seolah ingin mencincang seseorang.
Ini sungguh pemandangan yang menjijikkan untuk Elena. Dia marah melihat perlakuan manis Eric terhadap Isabel. Dia tidak terima.
Aku tidak akan tinggal diam. Kau akan tahu dengan siapa kau berurusan, anak ingusan ! Elena menatap sinis sepasang kekasih itu.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Hahaha.....emang enak di kacangin ?! Tapi....Elena emang pantas digituin sih. Bener tuh caranya bang Eric, daripada diusir mending suruh ngelihat keromantisan mereka aja.
Oya, tak kasih bocoran dikit. Sini deketan tak bisikin.
Setelah novel ini tamat akan ada sekuelnya lagi loh. Kali ini nyeritain tentang Liam. Iya, Liam yang itu. Anaknya Mike, keponakan Isabel. Lain kali deh aku kasih blurb-nya. Tunggu kabar dariku yes.
See you next part, Love.