
Setelah sekian lama, akhirnya Isabel akan menginjakkan kakinya lagi di Willow Spring. Dia sudah tinggal disana cukup lama, tapi untuk saat ini, kembali ke tempat itu rasanya seperti mau memasuki ruang interogasi.
Isabel mendengus geli. Pasti Grace, Leah dan Claire akan mengejeknya habis-habisan. Isabel yang dulu mengatakan tidak tertarik dengan tipe pria seperti Eric, justru sekarang jatuh hati padanya. Sungguh hal yang tidak dia sangka juga sebelumnya. Karena ternyata dia juga sama saja dengan para pegawai Eric yang menggilai Bossnya itu.
"Aku harus membawa sesuatu untuk menyumpal mulut mereka." Gumam Isabel saat mobil yang ia kendarai sudah dekat dengan Willow Spring.
Isabel sedikit menundukkan kepalanya, melihat ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu yang akan dia bawa untuk teman-teman berisiknya.
Senyum kecil tersungging di bibir Isabel saat ia melihat toko kue di sebelah kanan jalan.
Toko kue itu cukup ramai. Setelah Isabel masuk, dia baru tahu kalau toko itu hanya menjual cupcake. Tak apalah, yang penting dia tidak datang dengan tangan kosong.
Iris biru Isabel memindai deretan cupcake yang dipajang di showcase. Berbagai macam warna dan varian rasa bisa dia temui disana.
Dia memilih beberapa cupcake dengan macam-macam rasa. Saat hendak membayar, dia baru teringat kalau kekasihnya belum mendapat bagian. Ya, dia melupakan buah tangan untuk Eric.
Isabel kembali ke showcase. Memilih, kira-kira cupcake rasa apa yang disukai Eric.
"Coklat almond ? Red velvet ? Tiramisu ? Apa ya ?" Isabel menggigit ujung kukunya bingung. Dia sama sekali tidak tahu kesukaan Eric.
"Payah ! Makanan kesukaannya saja aku tidak tahu. Padahal dia tahu banyak tentangku." Isabel menggerutu lirih agar tidak disangka sakit jiwa karena bicara sendiri.
"Lemon cupcake with vanilla frosting." Suara merdu itu mendayu di telinga Isabel, membuat gadis itu menoleh ke kanan. Dia melihat seorang wanita cantik sedang tersenyum hangat padanya.
"Hai, Isabel. We meet again." Sapa Elena ramah.
"Hai, kau disini juga ?" Pertanyaan retoris.
Kedua iris coklat terang Elena melirik pada deretan cupcake di sebelah kanannya. "Untuk Eric, bukan ?!" Tanyanya sambil menaikkan sebelah alis.
Isabel tersenyum malu-malu. Apa dia sangat mudah dibaca, hingga tebakan Elena begitu pas padanya ? Ah, mungkin Jordan yang bercerita pada Elena kalau dia dekat dengan Eric.
"Aku tidak tahu apa yang dia sukai." Isabel tersenyum kaku.
"Lemon cupcake. Dia tidak begitu suka manis." Ucap Elena.
Disini Isabel merasa sangat bodoh. Dia kekasih Eric, tapi justru Elena yang tahu kue rasa apa yang disukai oleh kekasihnya.
Jangan berpikir macam-macam, Isabel ! Mereka sudah bersahabat lama, wajar kalau dia lebih tahu segala hal tentang kekasihmu. Isabel membatin, mengingatkan dirinya sendiri.
"Begitu ?" Isabel melirik cupcake berwarna kuning dan putih pucat dalam showcase. "Terima kasih sudah memberitahuku." Ucap Isabel tulus.
Elena memilin ujung rambut dengan mata tajamnya yang melirik dingin pada Isabel saat gadis itu meminta di bungkuskan beberapa cupcake rasa lemon untuk Eric.
Tatapan Elena berubah hangat lagi saat Isabel kembali memalingkan wajah padanya. "Terima kasih sudah membantuku memilih. Aku harus segera pergi." Ucap Isabel. Gadis itu tersenyum tipis, berusaha menepis rasa aneh dalam hatinya. Rasa tidak suka ketika ada wanita lain yang lebih memahami Eric. Mungkin ini yang dinamakan cemburu ?
Elena mengangguk anggun. Sesaat sebelum Isabel berbalik, dia berkata, "Kau terlihat sangat mencintai Eric." Suaranya terdengar santai dan ringan, tapi entah kenapa Isabel merasa tidak nyaman dengan ucapan itu.
Mencoba tetap berpikir positif, Isabel tersenyum. "Memang. Aku sangat mencintainya." Katanya dengan mantap. Sebenarnya Isabel kurang yakin dengan kata 'sangat' itu. Tapi yang dia tahu, dia takut kehilangan Eric, kehilangan semua perhatiannya.
Senyum Elena semakin lebar, jenis senyuman yang bisa membuat para pria bertekuk lutut. "Pertahankan itu." Kata Elena dengan tatapan tak lepas dari Isabel. Lalu dia mengarahkan pandangan keluar toko, sedikit menelengkan kepala, melihat langit dari balik dinding kaca toko. "Terkadang badai bisa datang saat langit terlihat sangat cerah." Ucapnya kemudian.
Isabel mengikuti arah pandang Elena. Langit hari ini sangat cerah. Mana mungkin akan datang badai. Isabel tidak tahu bagaimana bisa Elena menyimpulkan seperti itu. Tapi Isabel merasa bulu-bulu halus di sekitar leher belakangnya berdiri. Lalu dia mengusapnya pelan.
"Cuaca sangat cerah hari ini. Mana mungkin akan ada badai." Sahut Isabel tanpa bermaksud menyinggung.
Elena tertawa kecil. Dia menatap Isabel dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mungkin saja. Karena alam mempunyai cara kerja yang tidak bisa dipahami manusia." Ucapnya sambil menyunggingkan senyum. Senyuman berbisa yang dapat membunuh siapa saja tanpa disadari.
Elena adalah wanita cantik yang sangat ramah, tapi Isabel merasakan atmosfer kurang nyaman saat berada di dekatnya. Tidak ingin berpikiran macam-macam, Isabel memilih untuk pergi saja.
Isabel melirik jam di pergelangan tangannya, "Aku harus pergi." Katanya, menunjukkan raut tidak enak karena harus meninggalkan Elena ditengah obrolan. "Senang bertemu denganmu, Elena. Dan terima kasih." Isabel mengangkat goodie bag berisi cupcake ditangannya.
"Tidak masalah. Aku senang melakukannya." Balas Elena, denyum diwajahnya yang tidak pudar sedikitpun.
Setelah itu Isabel berbalik dan meninggalkan Elena. Wajah Elena berubah datar saat Isabel melangkah keluar dari toko kue. Sedetik kemudian bibirnya melengkung, membentuk seringai licik. "Aku yang akan menjadi badaimu, Sweetheart. Dan akan kubawakan bencana besar dalam hidupmu. Get ready soon, little bunny !" Gumam Elena.
*****
Setelah berhasil melewati cecaran pertanyaan dan ejekan dari trio Ericers, Isabel berjalan menuju ruang kerja Eric untuk memberikan cupcake yang dia beli tadi.
Isabel mengetuk pintu, setelah mendapat sahutan dari dalam, Isabel membuka pintu kaca ruangan itu.
"Surprise !" Ucap Isabel sambil melongokkkan kepalanya ke dalam.
Eric mengangkat wajah dan senyumnya langsung mengembang saat melihat wajah siapa yang muncul dari balik pintu.
"Benar-benar kejutan kau datang kesini, Sweet berry." Eric menggeser kursi kebesarannya lantas berdiri, berjalan menghampiri Isabel yang juga melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan.
"Berapa hari kita tidak bertemu ?" Tanya Eric pura-pura tidak tahu. "Aku sudah sangat merindukanmu." Tambahnya sambil merentangkan kedua tangan, menyambut Isabel dengan pelukan.
"I miss you too." Balas Isabel manja dalam pelukan Eric.
"Apa aku mengganggu ?" Isabel menengadah, menatap wajah kekasihnya.
Eric menarik ujung bibirnya kebawah, menaikkan sebelah alisnya, "Cukup mengganggu." Katanya sambil balas menatap Isabel.
Isabel mencebik, "Kau tidak asyik !"
Eric tertawa, "Tapi aku suka kau menggangguku." Kecupan di puncak kepala Isabel mampu membuat senyum gadis itu kembali merekah.
"Aku membawakanmu sesuatu." Kata Isabel setelah melepas pelukan. Dia mengangkat goodie bag di tangannya.
"Cupcake ?" Eric mengernyit, membaca goodie bag bertuliskan nama toko kue yang cukup terkenal di kota itu.
Eric merangkul bahu Isabel dan menggiringnya ke sofa. Mereka duduk bersebelahan.
"Lemon cupcake ?" Eric menarik keluar isi goodie bag itu. Dia tersenyum tipis, pilihan Isabel sangat tepat. Dari semua jenis cupcake, dia sangat menyukai jenis yang itu karena rasanya yang segar dan tidak terlalu manis.
Tanpa ragu, Eric mengambil satu cupcake dan mulai menggigitnya. Eric terlihat sangat menyukai kue sebesar kepalan tangan itu.
Ada bagian hati Isabel yang berderit ngilu saat mengingat bagaimana dia sampai bisa memilih varian rasa itu.
"Kau menyukainya ?" Tanya Isabel. Kedua iris birunya tetap menyorot Eric yang ingin mengambil satu kue lagi setelah yang pertama habis.
"Ini adalah yang paling aku suka karena rasanya yang tidak terlalu manis. Kau tahu, makanan manis bisa membuatmu terkena diabetes." Jawabnya lalu kembali menggigit cupcake di tangannya.
Isabel tersenyum getir. Sepertinya Elena sangat mengenal Eric. Isabel merasa iri. Apa ini benar-benar hanya rasa iri ? Sepertinya ini bukan sekedar rasa iri, tapi cemburu. Ya, Isabel merasa cemburu pada Elena yang lebih memahami Eric.
"Kau tidak bertanya, bagaimana aku bisa memilih kue itu ?" Pancing Isabel. Dia ingin tahu, sejauh apa Eric mengenal Elena.
Sejenak Eric berhenti mengunyah. Isabel benar. Gadis itu tidak tahu kalau dia sangat suka kue jenis ini. Ah, mungkin hanya kebetulan tebakan Isabel benar. Eric tidak ingin berprsangka buruk.
"Aku tahu kau menyukai kue itu dari seseorang yang tadi aku temui di toko." Ucap Isabel.
"Seseorang ? Siapa ?" Tanya Eric lalu kembali menggigit kuenya.
"Elena." Dan Eric hampir saja menyemburkan kue dalam mulutnya.
"Kau baik-baik saja ?" Isabel menepuk pelan punggung Eric saat kekasihnya itu terbatuk-batuk. Lalu dia mengambil segelas air putih diatas meja kerja Eric.
Eric meminum air dari gelas yang diberikan Isabel hingga tandas. Tenggorokan dan hidungnya terasa panas. Bukan hanya karena tersedak, tapi juga karena hatinya yang mendadak panas mendengar sebuah nama yang keluar dari bibir Isabel.
"Makan dengan pelan. Aku membelinya khusus untukmu." Kata Isabel sambil terus mengusap punggung Eric.
Ini bukan kebetulan. Eric yakin Elena sudah mulai menjalankan rencana busuknya. Ya, Elena yang di temui Isabel di toko kue pasti adalah Elena si wanita ular itu.
Kepalan tangan Eric menguat hingga memperlihatkan urat-uratnya yang menonjol. Lalu dia menoleh, melepaskan kepalan tangannya dan menangkup wajah Isabel.
"Berjanjilah padaku." Eric menatap lekat kedua iris biru Isabel yang tampak kebingungan dengan perubahan sikap Eric. "Kalau kau bertemu dengan wanita itu lagi, menjauhlah. Jangan pernah bicara apapun padanya." Lanjut Eric dengan tegas.
Sedikit aneh bagi Isabel. Tapi meski tidak paham maksud Eric, dia tetap mengangguk. Jika Eric memperingatkannya seperti itu, pasti itu adalah yang terbaik untuknya.
"I love you, Bells. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu." Bisik Eric lirih sambil membawa Isabel dalam dekapannya posesif dan protektif.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Harus hati-hati nih. Badai bisa datang kapan dan dimana saja. Elena memang selalu membawa atmosfer mengerikan.
See you next part, Love.