100 Days

100 Days
Letter



~Isabel~


Kupandangi cincin rose gold bertahta berlian yang menjadi saksi penyatuan cinta kami dulu. Cincin yang sudah tidak kupakai lagi selama dua tahun ini. Aku masih menyimpannya meski aku tidak pernah memakainya. Kini cincin itu berada di tanganku. Aku tahu kenapa aku tidak pernah bisa membuang cincin itu. Aku terus menyimpannya karena jauh di lubuk hatiku masih tersimpan sedikit asa untuk kembali bersamanya. Karena aku masih mencintainya hingga saat ini.


Air mataku kembali menetes. Rasa sakit akibat kehilangan itu seperti digores kembali. Luka yang belum sepenuhnya pulih telah terbuka kembali. Seolah aku baru saja mengulang tragedi yang telah merenggut jiwaku.


Suara ketukan pintu membuatku berpaling dari cincin itu. Aku menyimpannya kembali ke dalam kotak dan meletakkannya di dalam laci nakas.


Finn datang membawa nampan berisi makanan. Dia berjalan ke arahku dengan senyum tipis.


"Aku membawakanmu sup daging. Makanlah, sejak kemarin perutmu tidak terisi apapun. Jangan mempersulit pekerjaanku, Josephine. Aku bisa dipecat oleh keluarga Bennings jika disini kau semakin kurus." Finn terkekeh di akhir kalimatnya.


Aku tahu maksud Finn itu baik, tapi aku sama sekali tidak berselera untuk makan.


Finn menghela nafas. Dia lantas duduk di sebelahku. "Kau punya banyak waktu untuk menggali setiap luka yang pernah kau rasakan supaya kau tahu apakah luka itu sudah pulih. Tapi kau tidak bisa berkompromi dengan asam lambungmu, Josephine. Kau harus ingat apa yang dikatakan oleh Doktermu."


Aku tidak menjawabnya. Aku tidak peduli dengan asam lambung.


"Semalam seorang pria datang mencarimu ke tempatku." Aku memutar kepalaku dengan cepat ke arah Finn. "Dia terlihat ... sangat kacau," lanjut Finn. Aku yakin orang itu adalah Eric. Jika dia bisa menemukan Finn, aku yakin dia sudah tahu dimana aku tinggal. Itu hal yang sangat mudah baginya, bukan?


"Apa yang kau katakan padanya?" tanyaku.


"Aku mengatakan kalau kau butuh waktu untuk sendiri."


Aku menatap hampa pada dinding kamarku. Satu bagian dari hatiku berharap Eric akan menerobos masuk ke dalam apartemenku dan mengatakan kalau dia mencintai dan merindukanku. Namun satu bagian lain dari hatiku mengatakan kalau semua itu tidak benar. Hubunganku dan Eric telah berakhir. Dia tidak seharusnya datang. Dan sudah seharusnya aku melupakan semua kenangan tentang dia.


"Dia menitipkan ini padaku." Aku menoleh, Finn memberikan sebuah amplop berwarna biru muda padaku.


Kuraih amplop itu dan kupandangi dengan seksama.


"Aku akan meninggalkan sup ini disini. Nanti saat aku kembali, aku ingin isi mangkuk ini sudah berpindah ke perutmu. Aku tidak ingin kau sakit, Josephine." Finn mengusap kepalaku lantas berdiri dan berjalan meninggalkan kamarku.


Aku masih duduk termangu di atas ranjang sambil memandangi amplop yang ditujukan untukku tanpa berniat untuk menyentuh sup dari Finn.


Tanganku bergerak ragu-ragu untuk membuka amplop itu. Di dalamnya ada sepucuk surat yang terlipat rapi. Kupejamkan mataku sambil menarik nafas dalam-dalam sebelum membukanya. Lalu kuhembuskan nafas perlahan sambil membuka mata. Kubuka lipatan kertas berwarna putih itu dan mulai membacanya.


Terima kasih sudah bersedia membaca suratku.


Aku sangat merindukanmu, Bells.


Aku tidak tahu harus mulai dari mana.


Terlalu banyak kesalahan yang kubuat padamu.


Seribu kata maaf rasanya tidak akan pernah cukup untuk menghapus semua luka yang kugoreskan di hatimu.


Aku menyesal, Bells.


Aku tahu kesalahanku tidak pantas mendapat pengampunan darimu.


Aku hanya ingin mengatakan, aku minta maaf.


Aku terperosok dalam jurang penyesalan yang akan selalu menghantuiku seumur hidup.


Rasa bersalah itu terus menyiksaku, menegaskan bahwa aku pantas menderita.


Aku pantas mendapatkannya, Bells.


Rasa sakitku tidak akan pernah sebanding dengan sakit yang kau rasakan.


Aku tidak tahu apa aku masih pantas mengatakannya.


Tapi kau harus tahu bahwa sampai detik ini aku masih sangat mencintaimu.


Aku membiarkan cintaku padamu terus hidup di dalam hatiku, karena hanya dengan cinta itu aku mampu bertahan hingga saat ini.


Aku mencintaimu, Bells. Aku sangat mencintaimu.


Eric.


Air mataku jatuh diatas kertas putih yang kupegang. Melelehkan goresan tinta hitam yang berhasil mencabik-cabik hatiku.


Aku bingung. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Disaat aku berusaha melupakannya, dia datang lagi membawa kata cinta.


Aku pernah mendengar cerita dari Sally bahwa sahabat Naomi adalah pria putus asa yang nyaris mengakhiri hidupnya karena kehilangan orang yang dia cintai. Kesalahan fatal membuatnya kehilangan anak dan istrinya. Ya Tuhan ... apa selama ini Eric begitu tersiksa karena rasa bersalahnya?


Isak tangisku semakin menjadi saat aku membayangkan betapa hancurnya hidup Eric. Ternyata bukan hanya diriku yang merasakan kehancuran. Aku tidak sendiri. Aku dan Eric sama-sama tersiksa dengan perpisahan ini. Kami sama-sama terluka karena perpisahan yang tidak kami inginkan.


Aku masih jauh lebih beruntung dari pada Eric. Banyak orang yang bersimpati padaku. Menganggap aku adalah korban. Aku juga mempunyai Finn yang selalu ada disaat aku terpuruk. Tapi Eric ... aku yakin dia hanya memendam semua ini sendirian. Dan faktanya, kami berdua sama-sama menjadi korban dari permainan takdir. Kami sama-sama terluka.


Betapa naifnya aku karena merasa menjadi orang yang paling menderita dalam tragedi ini. Kenyataannya Eric jauh lebih menderita dariku. Eric jauh lebih terluka dariku. Harusnya aku yang meminta maaf padanya. Aku yang membuatnya hidup di dalam neraka penyesalan.


Kuhapus air mataku saat kudengar seseorang mengetuk pintu.


"Josephine? Boleh aku masuk?" Suara Sally terdengar dari balik pintu kamarku.


Aku membersit ingus lalu sekali lagi menghapus sisa air mataku. Kupaksakan kakiku turun ke lantai dan melangkah ke pintu untuk membukanya.


"Kau baik-baik saja?" Sally mengusap lenganku. Dia tampak sangat khawatir. Aku ingin menjawab kalau aku tidak baik-baik saja. Aku hancur. Aku sakit. Aku terluka.


Aku membalik badan lantas kembali ke ranjang. Sebenarnya aku masih ingin sendiri. Aku tidak ingin bertemu siapapun. Namun rasa penasaran menggelitiki hatiku. Aku ingin Sally menceritakan semua yang dia ketahui tentang Eric. Aku ingin tahu seberapa dalam luka yang dirasakan Eric karena perpisahan ini. Aku harus tahu supaya aku tidak merasa menjadi orang paling menderita lagi. Aku ingin berbagi rasa sakit dengan Eric supaya dia tidak merasa sendirian lagi.


Sally menggenggam tanganku. "Apa aku mengganggumu?" tanya Sally. Dia tampak sangat hati-hati dalam berbicara. Mungkin dia takut aku terluka. Meski pada kenyataannya aku memang sudah terluka sejak lama.


Aku menggeleng. Kupejamkan mataku untuk menguatkan hati. "Katakan, Sally. Ceritakan semua yang kau ketahui padaku," kataku.


Sally menggeleng. "Mr. Gerard melarangku membebani pikiranmu, Josephine."


"Aku siap mendengarkan semuanya, Sally. Aku harus tahu semua yang dia alami. Aku harus tahu seberapa dalam dia terjatuh dalam penderitaannya."


"Josephine ...." Sally menggantung ucapannya. Dia melirik kertas yang aku pegang. "Jadi, kau sudah membacanya?"


Aku menelan ludah. Membaca surat ini adalah kesalahan karena ini hanya membuatku semakin ingin tahu apa yang terjadi padanya selama dua tahun ini. Surat ini membuatku ingin terlibat lagi dalam kehidupannya. Padahal seharusnya aku melupakan semua yang terjadi diantara kami.


"Aku ingin mengetahuinya," kataku.


Sally menoleh ke arah pintu. Aku tahu dia takut pada Finn untuk menceritakan semuanya. Aku juga bisa mengerti kenapa Finn melakukan itu. Dia tak lebih hanya ingin menjagaku dari trauma akibat tragedi itu. Finn pernah berkata kalau aku sangat beruntung. Trauma berat yang kualami tidak sampai membuatku mengalami PTSD.


Tapi kali ini, setelah aku membaca surat ini, aku yakin pada diriku sendiri. Aku siap. Aku mampu mendengar semua kenyataan pahit yang terjadi pada kami.


Aku ingin mendengar semua yang diketahui Sally sebelum aku bertemu dengan Eric. Aku harus tahu seperti apa kehidupan yang dia jalani setelah berpisah denganku.


"Kau yakin ingin mendengarnya?" Sally memastikan lagi. Dia menggenggam tanganku semakin erat.


"Aku tidak akan meminta jika aku tidak yakin," kataku.


Sally menghela nafas. Dia melepaskan tanganku lalu mengambil mangkuk sup yang sudah hampir dingin. "Kau harus makan ini lebih dulu," katanya.


Aku tahu Sally adalah orang yang sangat gigih. Tapi aku tidak ingin dia menerapkan kegigihannya itu saat ini. Aku hanya ingin mendengar dia mengatakan semuanya.


"Aku akan menceritakan semuanya, semua yang aku ketahui setelah kau mengisi perutmu. Aku dengar dari Mr. Gerard kau tidak makan apapun sejak kemarin," bujuk Sally.


"Percuma kau menolak. Aku yakin keingin tahuanmu akan mengalahkan egomu, Josephine."


Aku tidak mungkin lagi menolak jika aku ingin mengetahui semuanya. Sally bukan orang yang mudah untuk dibujuk.


Dengan telaten Sally menyuapiku. Tapi sayang, aku tidak bisa melanjutkannya setelah suapan ketiga. Rasanya aku seperti menelan serpihan kaca. Semakin kutelan, semakin aku merasa sakit.


"Cukup, Sally." Aku menepis halus sendok yang di sodorkan Sally padaku.


Sally menurunkan tangannya. "Setidaknya perutmu tidak kosong lagi, Josephine. Kau harus tahu, jika kau sakit, akan ada orang lain yang jauh lebih sakit hanya karena mendengar beritanya," kata Sally sembari meletakkan mangkuk sup kembali ke tempatnya semula.


"Sekarang ceritakan semuanya padaku." Aku mulai tidak sabar. Jantungku berpacu dengan cepat memompa aliran darahku hingga ulu hatiku berdesir nyeri.


Sally menatapku lekat. Dia menghela nafas dalam. "Apapun yang kau dengar dariku, mungkin akan terdengar menyakitkan," kata Sally. Dari caranya menatapku, dia seperti meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini tidak akan mempengaruhi mentalku.


"Katakan padaku," kataku. Aku siap mendengarnya. Apapun itu, aku lebih baik mengetahuinya sekarang sebelum aku memutuskan untuk menemui Eric atau tidak.


Dan ya, aku siap.


*


*


*


*


*


tbc.


See you next part, Love.