100 Days

100 Days
S2. Honeymoon 2



~Isabel~


Aku terbangun saat merasakan perutku lapar. Pelan-pelan kugerakkan tubuhku yang masih berada dalam dekapan Eric. Begitu aku turun dari ranjang, aku melihat sekeliling.


"Holly shit !" Aku menepuk dahiku saat melihat kamar yang kami tempati sangat berantakan. Lalu aku memungut piyama yang semalam kukenakan dari lantai. Aku memakainya lantas berjalan menuju balkon.


Saat aku membuka pintu balkon, aku melihat pantai sudah sangat ramai pengunjung. Aku berdiri di dekat pembatas balkon menyaksikan orang-orang yang sedang menikmati kegiatan mereka.


Aku ingin sekali berselancar, tapi perutku sangat lapar. Aku memegangi perutku yang terasa melilit. Baru saja aku hendak berbalik, kurasakan tangan besar memelukku dari belakang hingga punggungku menempel pada dadanya. Dada liat yang selalu membuatku ketagihan untuk menciuminya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan," bisik Eric tepat di samping telingaku yang membuatku kegelian.


"Katakan !"


"Kau ingin bermain di pantai tapi perutmu kelaparan," jawab Eric.


Aku membalik badanku lalu memeluk pinggang suamiku. "Em ... sedikit meleset, tapi kau benar soal aku yang kelaparan," kataku.


"Itu wajar, Sweetheart. Ini sudah hampir sore dan kita belum makan apapun sejak semalam," kata Eric sambil menyelipkan rambutku ke belakang telinga.


"Selama itukah kita tidur ?" Mulutku menganga tidak percaya.


Eric terkekeh. "Kita tidak tidur semalaman, Sweetheart. Kau lihat hasil perbuatan kita ?" Eric sedikit menggerakkan kepalanya ke arah kamar sambil tersenyum nakal.


"Dan itu karena kau selalu menggodaku," kataku sambil memutar mata malas.


"Jangan memutar mata seperti itu dihadapanku," Eric menarik pinggangku lebih rapat. "Karena itu sangat menggodaku."


Belum sempat aku menjawab, Eric lebih dulu membungkam mulutku dengan ciumannya. Harusnya aku tahu kalau Eric tidak akan berhenti saat aku membalas ciumannya.


Tanpa melepas ciuman kami, Eric membawaku masuk ke dalam kamar. Dia menjatuhkan tubuh kami diatas sofa panjang yang ada di sisi kanan kamar. Dengan posisi setengah menindih tubuhku, Eric tidak berhenti memainkan bibirnya. Apalah dayaku yang selalu terbuai dengan permainan Eric ? Apapun yang dia lakukan padaku, aku menyukainya.


Puas bermain dengan bibirku, Eric menciumi leherku dan dengan sengaja meninggalkan jejaknya disana. Padahal jejak-jejak sebelumnya masih tergambar jelas hampir di seluruh tubuh bagian atasku.


Tidak hanya berhenti disana, Eric terus menciumi bagian tubuhku yang selalu menjadi favoritnya. Dan gairahku akan langsung melonjak saat Eric memanjakanku di bagian itu. Ah, dia selalu tahu apa yang membuatku tidak bisa menahan diri.


Aku mencengkeram rambutnya semakin kuat saat aku hampir berada di puncak. Namun tiba-tiba Eric berhenti. Aku menatap heran saat dia mengangkat wajah.


"Bukankah kau sedang lapar ?" Eric tersenyum miring sambil menatapku.


Aku tidak percaya ini. Apa yang dia katakan ? Aku tidak bisa membiarkannya disaat aku sudah seperti ini.


"Just do it, As*hole !" Aku semakin geram saat melihat seringainya semakin lebar.


"Tapi kau sedang lapar, Sweetheart."


Persetan dengan rasa lapar ! Berani sekali Eric mempermainkanku. Aku tidak bisa terima begitu saja kelakuan Eric padaku. Dia harus membalasnya.


Aku bangkit lalu berbalik menindih tubuhnya. Hal itu membuat Eric semakin tergelak kencang.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu," desisku tepat di depan wajahnya.


Eric terdiam saat aku membungkam mulutnya dengan ciuman. Aku menciumnya dengan liar. Lalu aku melakukan apapun untuk mencari kenikmatanku sendiri. Dan aku yakin Eric juga menyukainya. Dia selalu menyukai sentuhanku di seluruh bagian tubuhnya.


Hingga aku menyatukan tubuh kami. Desahan kami pun kembali memenuhi ruangan. Aku terus bergerak menuju puncak yang aku inginkan. Disini aku yang memimpin dan aku yang mengendalikan. Pada saat aku mencapai titik klimaks yang membuatku melayang, aku menjatuhkan tubuhku diatas tubuh Eric sambil mengatur nafas.


Setelah nafasku teratur, aku kembali menggerakkan tubuhku. Aku bergerak dengan ritme teratur dari pelan lalu semakin cepat. Aku bisa mendengar racauan Eric memanggil namaku.


Dan pada saat itulah aku berhenti. Aku melepaskan penyatuan kami dan merapikan piyamaku.


"Aku lapar," kataku sambil berjalan meninggalkan Eric.


"Come on, Bells !" Dia menggeram frustasi karena aku meninggalkannya disaat dia hampir mencapai puncak. Rasakan ! Selesaikan saja sendiri !


Tapi perkiraanku meleset. Aku lupa kalau suamiku itu mempunyai kecepatan gerak seperti Barry Allen. Tiba-tiba saja tubuhku terlempar keatas ranjang dan memantul bersamaan dengan Eric yang menyergapku. Aku tahu kali ini dia tidak akan memaafkanku.


"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang baru saja kau perbuat padaku."


Hanya itu yang kuingat terakhir kali karena setelah itu Eric menyerangku secara bertubi-tubi hingga aku kuwalahan menghadapinya. Dan payahnya, aku pun ikut menikmati apa yang dia lakukan padaku.


Oh, God ! Harusnya aku membalas dendam padanya karena sudah mengerjaiku. Kenapa justru aku yang dikerjai lagi ?


"Kurasa akan ada yang mati kelaparan di hotel ini," gumamku saat pergumulan kami telah usai. Aku membungkus rapat-rapat tubuh polosku dengan selimut.


"Kelaparan dan kelelahan," sahut Eric. Dia terkekeh sambil bergerak meraih gagang telepon yang ada diatas nakas. Dia memesan cukup banyak makanan untuk kami. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi.


Aku mendesah pelan lalu menggeleng kepalaku. "Harusnya aku yang mengerjainya."


Sambil menahan rasa laparku, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Aku merasa semakin mencintai Eric. Dia bukan hanya Bos idaman di Willow Spring, tapi dia juga suami idaman di hatiku.


"And I love you more." Aku merasakan kecupan hangat di dahiku.


Saat aku membuka mata, Eric sudah memakai pakaian lengkapnya. Dia tersenyum kepadaku.


"Kau mau makan dalam keadaan seperti ini atau mau mandi dulu ?"


"Aku sangat lelah, Baby. Biarkan aku istirahat sebentar." Aku merengek seperti anak kecil sambil mengerucutkan bibir.


"Baby ?" Kulihat Eric menaikkan sebelah alisnya. "Kapan terakhir kali aku mendengarmu memanggilku seperti itu ?"


Dia menyindirku. Aku memang tidak pernah memanggilnya dengan panggilan mesra. Selama ini aku selalu memanggil namanya saja. Tentu dia heran saat aku memanggilnya dengan sebutan 'baby'.


"Sejak ... baru saja," kataku sambil tersenyum menggoda. Lantas aku duduk dengan selimut yang masing membalut tubuhku seperti kepompong. "Atau aku harus memanggilmu ... sweetheart, darling, my lord, my king, my beloved husband ?" Aku menyebutkannya dengan gaya sensual.


"Jangan menggodaku lagi atau kita akan benar-benar mati kelaparan disini ! Sekarang, cepatlah mandi dan kita akan pergi ke pantai melihat sunset setelah selesai makan !" Eric menatapku dengan tegas.


"Galak sekali !" Aku menggerutu sambil berusaha turun dari ranjang. Dan sialnya, aku lupa jika aku membelitkan selimut itu berkali-kali ke tubuhku yang membuat kakiku jadi sulit bergerak. Akhirnya akupun terjatuh dari atas kasur. Sekali lagi, jika bukan karena suamiku yang mempunyai kecepatan gerak seperti Barry Allen, aku yakin wajahku sudah mencium lantai saat ini.


"Kau ceroboh sekali," kata Eric sambil membantuku untuk berdiri. Dia mengurai belitan selimut di bagian kakiku agar aku lebih mudah berjalan.


"Kau tidak harus melakukan ini, Bells. Aku sudah melihat setiap inchi bagian dari tubuhmu." Eric tersenyum jahil padaku.


Aku menepuk tangan Eric yang hendak menarik selimut itu dari tubuhku. "Jaga tanganmu, Mr. Michaels !"


Setelah mengucapkannya, aku segera berjalan menuju kamar mandi. Eric hanya terkekeh melihat kelakuanku. Apalagi saat aku menjatuhkan selimut itu tepat sebelum aku masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa yang tadi kukatakan ? Kau tidak harus melakukan itu, Sweetheart !" Kudengar Eric tertawa diluar sana.


Aku tidak menjawab. Aku ingin segera membersihkan tubuhku yang rasanya sudah sangat lengket. Namun saat aku melewati kaca wastafel, mataku terbelalak melihat pemandangan di sekujur tubuhku.


"ERIC ! APA YANG KAU LAKUKAN PADA TUBUHKU ?!"


Apa-apaan ini ? Leher, bahu, dada dan lengan atasku penuh dengan kissmark ciptaan Eric.


"Kau tahu, kissmark sebanyak ini bisa menghabiskan satu botol foundation, Eric !"


Ah, sial ! Kalau begini caranya, aku tidak bisa memakai bikini. Bagaimana aku bisa berjemur di pantai kalau aku tidak memakai bikini ?


Seperti sudah kehilangan selera untuk mandi, aku hanya membersihkan tubuhku sekadarnya saja. Aku buru-buru keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe untuk protes pada Eric.


Namun saat aku keluar, aku dibuat terkejut dengan kehadiran beberapa orang janitor yang sedang membersihkan kamar kami. Lantas dua petugas hotel juga terlihat menata menu yang di pesan Eric diatas meja.


Eric berjalan menghampiriku yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi. Lalu dia mencium keningku. "Kau membuat mereka salah tingkah, Sweetheart," bisiknya di dekat telingaku.


Aku memperhatikan mereka satu persatu. Dan aku bisa melihat mereka menahan senyum sambil mengerjakan pekerjaan mereka secepat mungkin. Aku yakin mereka mendengar teriakanku tadi.


Oh, God ! Malunya diriku ! Aku tidak tahu harus menaruh wajahku dimana. Apa yang mereka pikirkan tentang diriku ? Ya, Tuhan ! Ini memalukan sekali.


Seperti bisa membaca pikiranku, Eric menenggelamkan wajahku ke dadanya. Dia membiarkanku menyembunyikan wajah dalam dekapannya.


"Lain kali aku akan membuat yang lebih banyak lagi." Sekali lagi Eric berbisik diatas kepalaku. Tapi kali ini kubalas dengan pukulan di dadanya. Eric terkekeh dan semakin mendekapku erat.


"Tenggelamkan aku di Laut Merah."


"Aku belum ingin menjadi duda."


"Kirim saja aku ke bulan."


"Bukankah kita baru saja kembali dari bulan ?"


"F*ck you, Eric." Kenapa sifat menyebalkan Eric harus kembali disaat seperti ini ?


*


*


*


*


*


tbc.


mohon maaf untuk sementara bakal slow update ya, sambil nunggu kondisiku bener-bener fit lagi. terima kasih untuk doa kalian. love kalian semua pokoknya 😘😘😘


See you next part, Love.