
"Apa yang kau katakan pada ibuku ? Dan apa yang kau lakukan disini ? Kalau kakakku atau ayahku melihatmu, bisa kupastikan kau tidak akan bisa keluar dari gerbang itu dengan mudah." Cecar Isabel sedikit mendesis begitu mereka keluar dari rumah.
"Kau benar-benar cerewet." Balas Eric. Dia membuka pintu Audi hitamnya untuk Isabel. Berjalan memutar ke kiri lalu masuk ke kursi kemudi.
"Dan kau benar-benar cari mati !" Tukas Isabel melotot tajam pada Eric yang baru saja mendaratkan pantatnya.
Eric tersenyum miring, menyalakan mesin mobilnya lalu mulai menekan pedal gas perlahan. Pandangannya fokus pada jalan yang akan membawanya ke gerbang yang jaraknya lumayan jauh dari halaman rumah.
"See, aku tidak mati, kan ?!" Katanya santai sambil mengedipkan sebelah matanya pada Isabel. Dan pastinya senyum indah itu dia pamerkan lagi.
Arrgh...!! Kenapa Isabel jadi begini ? Lagi-lagi terpesona dengan senyumannya. Ini bukan kali pertamanya melihat Eric tersenyum seperti itu. Memang tidak sering, tapi ini tuh Eric loh. Pria yang beberapa bulan lalu sangat dia benci.
Dan dengan bodohnya Isabel tidak berkedip untuk beberapa saat sampai Eric mengeluarkan suara lagi.
"Sekarang aku tahu dari mana kau mendapatkan mata indahmu itu." Kata Eric.
Hei..! Apa baru saja Eric menggombal di depan Isabel ? Ini benar Eric yang itu kan ?! Atau memang dia punya saudara kembar dan sekarang sedang bertukar peran ?
Yang membuat Isabel lebih terlihat bodoh lagi adalah pipinya yang semburat merah tidak tahu waktu. Wajahnya terasa panas karena ucapan Eric barusan. Dia menggigit bibir dalamnya keras-keras agar bibirnya tidak lancang dengan mengeluarkan senyum malu-malu.
Isabel berdehem, menutupi perasaannya yang hampir tidak terkendali. "Kurasa racun srigala sudah menginfeksi otakmu." Kata Isabel. Dia takut menyimpulkan ucapan dan sikap manis Eric sebagai kesungguhan. Pasti dia hanya ingin membuat Isabel terbang tinggi lalu menjatuhkannya. Bukankah Eric memang semenyebalkan itu ?!
Mobil itu sampai di depan gerbang yang terbuka otomatis saat Eric menurunkan kaca mobilnya lalu tersenyum pada Greg si penjaga gerbang.
Isabel sampai terheran-heran. Ada apa dengan orang rumahnya. Tadi Emma yang terlihat sangat akrab dengan Eric. Kini, bahkan penjaga gerbang rumahnya terlihat lebih mengenal Eric daripada Isabel.
"Kemana kita akan pergi ?" Tanya Isabel. Dia tidak ingin terjebak dalam situasi canggung. Dia akan bersikap biasa pada Eric seperti tidak pernah terjadi hal-hal mengejutkan beberapa hari lalu dan hari ini.
Eric mengedikkan bahu, melirik sekilas pada Isabel lalu kembali fokus pada jalan. "Mungkin berkendara berputar-putar sebentar sambil menunggu waktu makan malam." Jawabnya tanpa mengalihkan fokus dari jalan di depannya.
"Seriously ?" Isabel menyipitkan matanya sambil sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan. "Ini mengingatkanku pada pria yang dengan tega membuangku di tepi jembatan. Pilihan mobil yang bagus." Isabel menghentakkan punggungnya ke belakang.
Isabel masih ingat betul, dulu mobil ini juga yang dipakai Eric saat menurunkannya di tepi jembatan. Dan dengan tega meninggalkannya sendirian saat hari semakin gelap.
Bahkan Isabel masih ingat rasa takut yang menjalar ditubuhnya hingga akhirnya Mike datang menjemput.
"Hei, aku tidak sekejam yang kau pikirkan. Aku tidak benar-benar meninggalkanmu waktu itu." Eric membela diri. Kenyataannya memang dia tidak benar-benar pergi saat itu. Dia berputar arah lalu memarkir mobilnya agak jauh di depan tapi tetap bisa memantau gadis itu.
"Benarkah ?! Kalau kau tak benar-benar pergi, lantas dimana kau waktu itu ?! Yang kulihat hanya mobil berlalu lalang dengan kecepatan tinggi yang membuatku semakin ketakutan."
Eric mengurangi laju mobilnya, menatap lekat gadis yang sedang meruncingkan bibir di sebelahnya. "Aku minta maaf. Kurasa waktu itu aku memang sangat keterlaluan." Kata Eric menyesal. "Tapi aku lega saat aku melihat ada seorang pria yang menemukanmu di sana. Awalnya kukira dia orang yang berniat jahat padamu. Karena kau terlihat ingin berlari darinya. Tapi waktu kau memeluknya, aku yakin orang itu tidak berbahaya." Jelas Eric. Dia melihat semuanya dari kejauhan. Hanya saja dia tidak tahu jika orang itu adalah Mike.
Isabel tertegun. Itu artinya Eric memang tidak benar-benar meninggalkannya. Yang tahu kejadian waktu itu hanya dirinya, Mike dan Alice. Dan tidak mungkin kedua orang itu menceritakannya pada Eric. Bahkan Mike tidak tahu kalau yang membuatnya terlantar adalah Eric. Kalau sampai Mike tahu, satu poin minus lagi untuk Eric.
"Tapi.....aku puas telah berhasil membuatmu ketakutan." Tambah Eric dengan seringai jahil.
Sontak satu pukulan mendarat di lengan Eric. Eric meringis. Luka di lengannya memang sudah kering, tapi jika dipukul seperti itu tetap saja akan menimbulkan rasa nyeri.
"Kau menyebalkan !" Hardik Isabel. Dia kesal, setelah Eric membuatnya tersentuh dengan ceritanya, lalu seenaknya saja menyeringai tanpa dosa seperti itu.
"Aku hanya berusaha jujur padamu." Eric tidak terima.
Isabel malas menanggapi karena pasti hanya akan berujung dengan perdebatan alot yang tak kunjung usai. Toh dia juga sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi.
"Dari mana kau tahu tempat tinggalku ?" Tanya Isabel memecah keheningan yang terjadi beberapa saat diantara mereka.
"Dengan nama besar keluargamu ?" Eric tersenyum miring dengan alis terangkat. "Itu sangat mudah."
Tentu saja sangat mudah. Nama besar keluarganya cukup berpengaruh untuk perekonomian kota besar itu. Siapa yang tidak kenal Jhon Bennings ? Meskipun sekarang lebih aktif dengan badan amal, tapi warisannya di dunia properti tetap melegenda di kota itu.
Isabel mendengus. Apa yang dikatakan Eric betul juga. Tapi apa yang membuat Eric nekat datang kesana ?
"Ibuku bilang kau datang mencari kakakku. Untuk apa ?"
Eric mengerutkan hidung sebentar lalu menarik bibir kebawah. Dia membuang pandangan ke sisi kiri jalan sebentar sebelum menjawab. "Soal itu....aku bohong." Katanya ragu-ragu.
Rasanya tidak bisa menahan rasa penasaran bagi Isabel. Gadis itu menggeser posisi duduknya hingga setengah menghadap Eric.
Eric melirik sekilas dan pria itu langsung membuang muka ke samping kiri sekejap sambil menggigit bibirnya. Dia sedang gugup.
Sekali lagi melirik pada Isabel. "Apa ?" Tanyanya saat melihat Isabel yang terus menatapnya dengan seribu pertanyaan yang belum terjawab.
Hampir saja Eric tersedak ludahnya sendiri. Dia menetralkan perasaannya dengan berdehem. Membersihkan tenggorokannya yang terasa gatal. "Jadi kau menganggap ini kencan ?" Dia balik bertanya, menutupi kegugupannya.
Isabel memutar mata malas. Eric tidak pernah mau kalah. "Datang kerumahku lalu mengajakku makan malam. Apa itu tidak terdengar seperti kencan ?"
Terlihat bibir Eric berkedut. Dia menahan senyum. "Jika kau menganggapnya seperti itu." Katanya.
"Baiklah, kita tidak berkencan ! Kau hanya kebetulan datang ke rumahku, bicara sok akrab dengan ibuku dan kebetulan lagi aku berada dalam mobilmu untuk mendengarkan semua omong kosongmu. Kau puas ?!" Isabel membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan lalu melipat tangan di dada sambil mencebik kesal.
Tawa Eric pecah. Sungguh dia merindukan wajah cemberut itu. Rasanya sudah sangat lama tidak melihatnya. "Kau sangat menggemaskan."
"Dan kau sangat menyebalkan !" Semburnya.
Eric kesulitan meredakan tawanya. Dia sampai harus menggigit bibirnya agar tawa itu tidak lagi terdengar. Gadis di sampingnya sudah dalam mode siaga.
"Maafkan aku." Eric mengalah. "Baiklah, kita sedang berkencan sekarang." Katanya sambil melirik ke kanan.
"Aku tidak mau berkencan denganmu." Ucap Isabel ketus. Memalingkan wajah ke kanan.
"Hei, kau marah ?" Eric tiba-tiba menepikan mobilnya. Dia mencondongkan tubuhnya untuk bisa melihat wajah Isabel yang sedang berpaling ke sisi kanan. Dan kenapa Eric terlihat gusar ?
Bibir Isabel terkatup rapat. Rasanya sangat kesal saat Eric tidak mengakui jika mereka memang sedang kencan.
Eric menyentuh bahu Isabel, "Aku minta maaf. Aku hanya bercanda." Kata Eric yang suaranya terdengar sangat lembut di telinga Isabel.
Dan hal itu membuat hati Isabel menghangat. Isabel mula khawatir dengan kejiwaannya. Kenapa akhir-akhir ini segala sesuatu tentang Eric sangat berpengaruh terhadap suasana hatinya ?
Ada getaran halus yang membuat wajah Isabel terasa panas saat tangan besar Eric mendarat di bahunya. Ini mengingatkan Isabel dengan kejadian tiga hari lalu dimana Eric mencium pipinya.
Isabel menggigit bibirnya, masih memalingkan wajah ke sisi kanan. Dia tidak ingin Eric melihat wajahnya yang merona. Pasti sangat memalukan.
Terdengar suara helaan nafas Eric menjauh. Apa Eric sudah menyerah untuk merayu Isabel ? Secepat itukah dia menyerah untuk meluluhkan hati seorang gadis yang sedang merajuk ?
Isabel melirik melalui ujung matanya. Eric sudah kembali ke posisinya semula.
Eh ? Dia bergerak. Tapi apa yang dia lakukan ? Isabel penasaran, tapi dia enggan untuk menoleh.
"Aku ingin memberikanmu ini." Suara Eric terdengar lagi.
Mau tidak mau Isabel menoleh. Dia melihat Eric menyodorkan sebuah kotak berwarna hitam berukuran 20x15.
Kerutan di kening Isabel menandakan jika dia penasaran, tapi dia enggan untuk bertanya. Gengsi !
"Ambillah ! Ini milikmu." Kata Eric.
Apa itu sebuah hadiah ? Hadiah untuk kencan pertama mereka ? Apa sudah saatnya Isabel merubah pemikirannya tentang Eric yang tidak romantis ?
Jantung Isabel berdegup kencang. Dan Isabel benci itu. Dadanya terasa sesak. Mungkin Eric menciptakan mesin penyedot oksigen di mobilnya yang membuat paru-paru Isabel mengkerut karena kehabisan senyawa itu.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Cie,,,, yang mulai pinter ngegombal.....
Eh itu kotak isinya apaan yak ? Bantu Isabel jawab dong !
See you next part, Love.