100 Days

100 Days
Part 114



Dua minggu yang dijanjikan Eric telah tiba. Hanya dalam waktu singkat dia mampu menyiapkan sebuah pesta yang mewah di ballroom salah satu hotel bintang lima milik sahabatnya, Nick.


Setiap detail pesta, dia sendiri yang memilih. Dengan bantuan teman dan sahabat, Eric berhasil melakukannya. Dia mampu membuktikan keseriusannya pada keluarga Bennings bahwa dia layak menjadi menantu dalam keluarga mereka.


Dimulai saat prosesi pemberkatan di gereja, Eric dibuat terpana oleh mempelai wanitanya. Isabel yang biasanya terlihat bagai remaja, berhasil di sulap menjadi seorang wanita dewasa yang sangat cantik bak bidadari.


Dengan gaun pengantin berwarna putih gading, dia berjalan di dampingi sang ayah menuju altar untuk diserahkan pada Eric.


Prosesi sakral ini hanya dihadiri beberapa kerabat dan berlangsung dengan khidmat. Eric dan Isabel resmi mengucap janji suci pernikahan mereka dan sah dinyatakan sebagai suami istri.


Air mata haru dan bahagia mengiringi prosesi ini. Bahkan Mike yang notabene menolak hubungan mereka pun turut merasa bahagia karena adiknya telah resmi menyandang nama belakang orang lain.


Selesai dengan prosesi pemberkatan, kedua mempelai melanjutkan pesta di ballroom hotel bintang lima milik Nick.


Dalam mengerjakan sesuatu, Eric adalah orang yang sangat detail. Setiap pilihan yang dia gunakan dalam pesta ini selalu dengan pertimbangan yang matang.


Banyaknya tamu undangan yang hadir juga sudah dia perhitungkan. Dia sengaja memilih hotel milik Nick karena disini Skytech yang memegang kendali keamanan.


Tamu yang diundang keluarga Bennings bukanlah orang-orang sembarangan. Kebanyakan mereka adalah orang-orang terpandang yang kemanapun selalu didampingi bodyguard. Jadi keamanan adalah salah satu hal utama yang diperhitungkan Eric.


Tentu dia tidak ingin ada kekacauan di pestanya karena masalah persaingan bisnis.


Suara denting gelas mengalihkan perhatian seluruh tamu undangan. Jhon berdiri diatas panggung sambil memegang microphone.


"Selamat malam semuanya." Jhon membuka sambutannya dengan gaya santai. Orang-orang pun memdengarkan dengan seksama.


"Ini adalah hari paling berat untukku. Rasanya baru kemarin aku mengajari putriku memakai sendok untuk makan. Mengajarinya cara mengayuh sepeda. Bahkan aku masih ingat bau susu di bajunya ketika dia tertidur. Namun hari ini, aku melepaskannya. Aku membiarkannya memilih untuk dipanggil dengan nama belakang orang lain." Jhon mengusap pangkal matanya yang terasa basah. "Damn ! Apa aku sudah setua itu ?" Jhon mengumpat pelan lantas terkekeh dengan leluconnya sendiri, disambut tawa dari tamu undangan yang mendengarnya.


Tapi tidak dengan Isabel. Mempelai wanita itu justru menangis mendengar sambutan sang ayah.


"Eh, aku tidak pernah menyangka akan secepat ini menyerahkan putriku pada laki-laki yang mengaku mencintainya." Jhon terkekeh lagi. "She's just too young." Jhon mengerutkan alis, menunjukkan seberapa berat dirinya harus melepas putri tercintanya untuk bersama lelaki pilihannya sendiri. "Tapi kebahagiaan putriku adalah hal yang paling penting dalam hidupku."


Tepuk tangan riuh terdengar memenuhi ruangan.


"Aku mempercayakan putriku padamu Mr. Michaels. Jaga dia, cintai dia, hargai dia sebagaimana kami memperlakukannya dengan sangat istimewa."


Kalimat penutup itu Jhon sampaikan sambil menatap serius pada Eric. Dari mejanya, Eric membalasnya dengan memgangguk yakin sambil menggenggam erat tangan Isabel.


Orang kedua yang naik ke panggung adalah Mike. Eric terlihat cukup tegang saat Mike mulai memegang microphone, mengingat bagaimana kakak iparnya itu menolak dengan keras pernikahan ini.


Namun sungguh diluar dugaan. Hal yang pertama dilakukan Mike adalah tersenyum ke arah dirinya dan Isabel.


"Happy wedding, My Little Bells ! Jadilah wanita yang kuat karena mulai hari ini, aku melepaskan tanggung jawabku padamu. Aku tidak akan bisa melindungimu lagi seperti dulu. Karena kau sudah memilih jalanmu sendiri bersama orang yang kau cintai. Akan ada orang lain yang selalu melindungi dan menjagamu. Tapi satu hal yang perlu kau ingat, aku akan selalu menyayangimu, adik kecilku."


Isabel tidak kuasa lagi menahan air matanya yang kian menderas. Tidak peduli pada maskaranya yang luntur.


"Dan untukmu, Mr. Michaels ! I'll keep watching you !" Mike menutup sambutannya dengan mengarahkan dua jari ke matanya lantas kepada Eric sebagai penegas ucapannya.


Para tamu undangan mengira itu hanya gurauan hingga mengundang tawa riuh diantara tepuk tangan mereka. Namun bagi Eric, itu adalah sebuah ancaman.


Eric menelan ludah, dia tahu Mike serius dengan kata-katanya. Dan dia bertekad untuk membuktikan pada Mike bahwa dirinya layak menikah dengan Isabel.


Lalu orang ketiga yang naik ke atas panggung adalah Jordan. Seperti biasa, Jordan selalu membawa aura ceria untuk orang-orang disekitarnya. Wajahnya yang selalu tersenyum membuat orang-orang betah memperhatikannya.


Jordan mengetuk-ngetuk kepala microphone, berpura-pura mengecek apakah tersambung dengan loud speaker atau tidak.


Bibir Jordan terlihat bergerak-gerak ingin mengucapkan sesuatu, tapi dia tidak kunjung mengucapkannya. Lantas dia mengerutkan alis sambil menatap kedua mempelai.


"Sepertinya aku baru saja patah hati." Ucap Jordan sambil menunjukkan ekspresi tidak nyaman yang disambut tawa para tamu undangan.


"You're a lucky man, Dude ! You're so damn lucky to have her !" Seru Jordan sambil menunjuk Eric. "Aku hanya tidak menyangka kalau gadis secantik ini lebih memilih menjadi pengantinmu dari pada diriku." Tawa para tamu terdengar lagi. "Well, meskipun kita tidak sedarah, aku sangat menyayangimu seperti adikku sendiri. Jadi, aku membiarkanmu menang bersaing dariku." Jordan terkekeh. "'Cause we are family more than just a family. Dan kau tahu bagaimana hubungan itu mengikat kita. Sampai kapanpun kau adalah saudaraku. Hiduplah dengan bahagia, Brother ! Jangan biarkan apapun menghalangi kebahagiaanmu." Jordan beralih menatap Isabel. "Welcome to our family, Princess !"


Tangan Eric dan Isabel saling menggenggam kuat. Mereka tahu, patah hati yang diucapkan Jordan bukanlah omong kosong. Tapi mereka berusaha menerimanya. Jordan sedang berkorban untuk kebahagiaan mereka. Dan mereka akan membalas pengorbanan Jordan dengan hidup bahagia. Membuktikan pada dunia bahwa mereka mampu menjalani hubungan ini dengan baik.


Pernikahan yang diadakan secara mendadak memang tidak sedikit menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak. Banyak yang berasumsi bahwa pernikahan ini didasari oleh kesepakatan bisnis hingga rumor bahwa anak gadis keluarga Bennings telah berbadan dua.


Jhon adalah salah satu penggiat penolakan seks bebas di kalangan remaja. Dia juga aktif dalam berbagai organisasi yang mengayomi korban pergaulan bebas. Jadi, tidak heran kalau banyak yang menduga bahwa pernikahan mendadak ini dilakukan untuk menutupi aib keluarga Bennings.


Hal itu bahkan terdengar sampai di telinga Eric dan Isabel saat mereka sudah turun ke lantai dansa.


"Aku akan mejelaskan pada mereka." Kata Eric yang mencoba membuat Isabel tenang setelah mendengar pembicaraan orang lain tentang dirinya yang dikira hamil.


Mereka melakukan switch. Eric berganti pasangan dansa dengan Mrs. Ambrose, wanita yang tadi sempat membicarakan Isabel.


"Lain kali berhati-hatilah saat berbicara, Mrs. Ambrose." Ucap Eric setelah beberapa saat berdansa sambil berbasa-basi. Mrs. Ambrose tampak terkejut, namun tidak berani menjawab. "Istriku tidak sedang hamil. Kami hanya ingin segera menikah. Jadi jangan menyebar gosip yang bisa merusak nama baik keluarga kami, karena nantinya bukan hanya kami yang merugi." Lanjut Eric yang berhasil membuat Mrs. Ambrose gemetar.


Eric memang mengucapkannya sambil tersenyum, tapi Mrs. Ambrose bisa menangkap aura menakutkan dari setiap kata yang terucap dari bibir Eric.


Bukan hanya Eric yang berganti pasangan dansa. Kini Isabel sedang berdansa dengan Aiden. Mantan kekasih yang sekarang menjadi adik iparnya. Lucu, bukan ?!


"Aku dulu pernah bermimpi berdansa denganmu di acara seperti ini. Sebagai suamimu." Ucap Aiden. Pria itu menatap dalam pada Isabel, menerawang jauh ke masa lalu dimana mereka pernah merajut mimpi bersama untuk menikah.


Lalu tiba-tiba Aiden tertawa. "Sayang sekali, aku hanya berjodoh menjadi adik iparmu."


Isabel ikut tertawa mendengar ucapan Aiden. "Siapa yang menyangka ? Menjadi kakak iparmu tidak pernah ada dalam rencana hidupku." Balas Isabel.


"Terima kasih, Bells." Ucap Aiden dalam. Isabel mengernyit tidak mengerti.


"Terima kasih untuk semua waktu yang dulu pernah kita lewati bersama. Sekarang aku bisa tenang. Kau telah menemukan kebahagiaanmu. Kau bisa melanjutkan hidupmu dengan baik setelah aku menyakitimu."


"Jangan berkata seperti itu ! Kita sama-sama belajar dari masa lalu. Kita bisa jadi teman baik sekarang. Kita sama-sama masuk dalam lingkaran persaudaraan Michaels." Isabel tertawa kecil mengingat rumitnya hubungan dalam keluarga mereka. "Paling tidak kita bisa sama-sama bahagia sekarang. Sebagai keluarga."


"Kau benar." Aiden tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada wanita yang sedang duduk sambil memangku bayi di salah satu meja. "Kurasa aku mulai jatuh cinta lagi." Kata Aiden tanpa mengalihkan pandangan dari istrinya.


Isabel menoleh, mengikuti arah mata Aiden lalu ikut tersenyum. Dia bersyukur Aiden dapat menemukan tambatan hatinya lagi. Isabel berharap mereka juga bisa hidup bahagia selamanya.


Sementara itu di salah satu sudut ruangan, dua orang pria dewasa yang masih setia dengan status lajangnya berdiri bersisian sambil menyesap champagne. Joe dan Jordan.


"Kau bahagia ?" Tanya Joe.


"Ya dan tidak." Jawab Jordan. Joe menoleh sambil menyesap champagne-nya lagi.


"Aku bahagia karena adik-adikku sudah menemukan kebahagiaan mereka. Tapi aku tidak bahagia karena aku menjadi satu-satunya yang tidak memiliki pasangan." Terang Jordan tanpa diminta.


Joe tertawa mendengar ucapan Jordan karena itu mengingatkannya pada seseorang. "Kau tidak sendiri, kawan ! Pria yang berdiri dismpingmu juga tidak memiliki pasangan." Kata Joe sambil menepuk pundak Jordan.


Jordan menolah lantas ikut tertawa. "Jadi, kita mulai berkencan ?" Gurau Jordan.


Joe menarik bibir kebawah. "Sepertinya tidak ada lagi wanita yang mau dengan kita." Jawabnya.


"Gue nggak bisa pulang sekarang, Ra ! Nggak bisa seenaknya gitu dong ! Lo urus aja....ah....sorry !" Tiba-tiba seorang wanita yang sedang menelepon dengan bahasa asing menabrak Jordan hingga membuat minuman dalam gelasnya tumpah membasahi jas yang dikenakan Jordan.


"Maaf, Sir ! Aku tidak sengaja." Kata wanita itu merasa bersalah.


"Tidak apa, Nona." Jawab Jordan. Pandangan Jordan jatuh pada dress putih yang dikenakan wanita itu yang juga basah terkena minuman.


"Kurasa bukan hanya aku yang basah." Jordan menunjuk dress bagian perut wanita itu.


Wanita itu melihat ke arah yang ditunjuk Jordan. Lalu dia tersenyum canggung.


"Aku Jordan." Jordan mengulurkan tangannya.


"Aku Cayla." Jawab wanita itu seraya membalas uluran tangan Jordan. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat hingga sebuah suara membuat tatapan mereka terputus.


"Aku Joe." Kata Joe dari balik punggung Jordan bermaksud menggoda kedua orang itu.


Dengan kikuk Cayla segera menarik tangannya. "Maaf, aku harus membersihkan gaunku." Cayla pamit. Dia berjalan cepat untuk mencari toilet dan membersihkan dress putihnya.


Jordan masih memandang kemana arah perginya Cayla. Lalu Joe tiba-tiba menghela nafas dan berkata, "Sepertinya aku akan menjadi satu-satunya orang yang tidak memiliki pasangan." Ujarnya sambil menenggak champagne dalam gelasnya hingga tandas.


*


*


*


*


*


*


to be continued / the end