
"Ikut aku."
Tanpa menunggu respons Isabel, Eric membalikkan badan dan melangkah menuju ruangannya.
Samar Isabel mendengkus. Sumpah, hari ini Isabel sedang tidak ingin berdebat. Dia yang biasanya bersemangat membantu meracik minuman, mendadak malas untuk melakukan apapun.
Tapi perintah Bos tidak bisa diganggu gugat. Dengan langkah gontai, Isabel menyusul arah perginya Eric.
Isabel masuk ke ruangan Eric dengan perasaan yang entah seperti apa. Dia sendiri juga tidak tahu. Yang jelas rasanya sungguh tidak enak.
"Ada apa?" tanya Isabel tanpa melihat wajah Eric. Dia lebih tertarik untuk melihat pesawat telepon berwarna hitam yang berada di atas meja kerja Eric.
"Duduk," perintah Eric.
Isabel mengikuti perintah itu tanpa menjawab. Dia duduk perlahan di hadapan Eric.
Beberapa saat Eric masih diam. Lalu dia membuka laci di bawah mejanya. Sedikit menunduk lalu mengeluarkan sebuah benda dari sana. Benda pipih berwarna hitam yang sangat Isabel kenal. Benda dengan logo apel milik Isabel.
"Ambillah." Eric meletakkan ponsel pintar itu di hadapan Isabel. "Aku sudah mengisi dayanya."
Isabel menunduk. Dia tidak berminat untuk mengambil benda itu. Karena baginya, ponsel itu hanya akan mengingatkannya pada Aiden. Yang artinya itu hanya akan membuatnya sakit.
"Ambillah," ulang Eric. Dia mengernyit, kenapa Isabel tampak tidak senang dia mengembalikan ponselnya?
"Simpan saja. Aku tidak membutuhkannya," kata Isabel.
Eric semakin bingung. Ada apa dengan gadis ini? Bukankah dulu dia sangat marah saat Eric mengambil ponselnya? Sekarang Eric mengembalikannya, tapi dia justru menolak.
"Ehem." Eric berdehem, dia bingung harus bereaksi seperti apa. "Terima kasih untuk yang tadi." Kalimat Eric berhasil membuat Isabel mengangkat wajah.
"Terima kasih? Untuk apa?" batin gadis itu.
"Terima kasih sudah bersikap baik pada adikku." Eric tahu tidak mudah berada di posisi Isabel. Tapi melihat Isabel yang tidak menyerang Chloe secara verbal maupun fisik seperti dulu, cukup membuat Eric tenang. Setidaknya, tidak ada yang berniat menyakiti Chloe lagi.
Isabel tercengang, apa dia tidak salah dengar? Eric berterima kasih untuk sikapnya pada Chloe? Ditambah lagi, nada suaranya sedikit lembut.
"I-itu--" Isabel menggigit bibir, "--tidak perlu berterima kasih," lanjutnya.
Eric tersenyum tipis. "Okay." Eric melirik ponsel yang masih belum disentuh Isabel dari tadi. "Kenapa tidak kau ambil ponselmu?"
Gadis itu memejamkan mata. Haruskah dia menjawab pertanyaan itu?
"Maaf, aku harus kembali bekerja." Gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Eric tanpa menoleh lagi. Dia juga tidak menyentuh ponsel itu sedikit pun.
Ada apa dengannya? Eric melongo melihat kepergian Isabel. Dia mengambil lagi ponsel milik Isabel. Dia lihat sebentar lalu memasukkannya lagi ke dalam laci.
Terserah kalau Isabel tidak mau mengambilnya, yang penting Eric sudah berniat mengembalikan benda itu. Tanpa memikirkan gadis itu lagi, Eric kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Tak terasa jam makan siang sudah lewat. Eric keluar dari ruangannya, berniat makan siang di ruangan khusus yang memang disediakan untuk pegawai. Dia mengedarkan pandangan ke arah depan cafe yang ramai pengunjung. Dia berjalan dengan santai menuju bagian belakang cafe tempat makan siang berada.
"Di mana gadis itu?" batin Eric saat tak melihat Isabel di bagian minuman atau di mana pun di lantai satu.
Eric berbelok saat melihat Jose keluar dari pintu dapur. "Dimana gadis itu? Aku tidak melihatnya." Eric bertanya pada Jose.
Pria latin itu tampak berpikir sejenak. Setelah paham yang dimaksud adalah Isabel, dia lantas menjawab, "Sejak keluar dari ruanganmu, dia tidak turun lagi, Bos."
Dahi Eric berkerut, "Dia keatas?" Jose mengangguk.
"Lanjutkan pekerjaanmu." Eric menepuk bahu Jose lantas berjalan ke arah dapur.
Jose menggeleng dengan satu alisnya yang naik. "Bos aneh sekali. Kenapa tidak pernah menyebut nama kekasihnya? Selalu saja 'dia', 'gadis itu'." Jose mengangkat bahu lantas meninggalkan area dapur.
Eric menaiki anak tangga menuju lantai empat. Sebelum masuk ke safe house, dia berhenti di depan lift makanan berukuran 50x50 cm. Eric menekan sebuah tombol saat lampu di atas lift itu berubah warna dari merah menjadi hijau. Dan pintu itu terbuka. Eric mengambil nampan yang berisi makanan dan minuman dari sana.
Eric membuka pintu safe house dangan tangan kanan, sementara tangan kirinya menopang nampan.
Tempat yang pertama dia tuju adalah meja makan, untuk menaruh makanan yang dia bawa. Lalu dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Tapi dia tidak menemukan Isabel sepanjang penglihatannya.
Kakinya melangkah menuju kamar. Saat dia membuka pintu, dia melihat Isabel meringkuk di sofa. Dia berjalan mendekat. Matanya menangkap tubuh gadis itu bergetar. Tanpa harus melihat, sudah pasti gadis itu sedang menangis.
Eric ragu, harus menenangkan gadis itu atau tidak. Sekarang dia hanya berjarak setengah meter dari sofa. Posisi Isabel membelakanginya, jadi gadis itu tidak sadar jika Eric berada di sana.
Sebenarnya ada apa dengannya? Kenapa dia menangis seperti itu? Aarrgh ...! Eric menyugar rambutnya kasar.
"Boleh?" Eric meminta izin untuk duduk di sebelah Isabel. Gadis itu mengangguk, tidak berani menunjukkan wajahnya yang sembab.
"Aku membawakanmu makanan. Makanlah dulu," kata Eric. Isabel menggeleng, tidak ada nafsu makan sama sekali.
Eric bersandar di sofa. Dia bingung harus berkata apa lagi. Mereka terdiam hingga hampir lima menit. Dan lima menit duduk berdua dalam keadaan diam itu terasa seperti satu hari.
"Kenapa kau menangis?" tanya Eric. Isabel tidak menjawab. Dia malah memeluk lutut lalu membenamkan wajahnya di atas lutut sambil menangis.
Wajah Eric mengkerut. Kenapa lagi dia? Kenapa malah seperti itu?
Dengan ragu Eric menggerakkan tangannya mengusap lengan Isabel. Gadis itu tidak menepis tangan Eric.
Eric menarik napas dalam-dalam lantas mengembuskannya perlahan. Setelah itu dia menggeser duduknya lalu menarik tubuh Isabel dalam pelukannya.
"Aku pasti sudah gila." Eric menggeleng pelan kepalanya. Dia tidak mengira akan menenangkan gadis itu dengan cara memeluknya.
Suara isakan Isabel mereda. Gadis itu mengusap sisa air mata saat masih dalam pelukan Eric. Kepalanya menengadah, dan sekarang kedua mata mereka bertemu.
Apapun yang dipikirkan Eric saat memeluknya, Isabel merasa harus berterima kasih. Dia merasa seperti mendapat pelukan dari kakaknya, Mike. Sangat menenangkan.
"Feel better?" tanya Eric dengan tatapan tak lepas dari mata Isabel.
"I feel better now. Thank you," jawab Isabel.
Keduanya diam dan membiarkan kedua mata mereka saling bicara dengan bahasa yang tidak dimengerti satu sama lain.
"Well," Eric melepaskan pelukannya. Memutus kontak mata di antara mereka. "Setidaknya kau tidak mati tenggelam dalam air matamu."
Isabel memicingkan mata. Dia mendengkus kasar. Orang yang baru saja memberinya pelukan memang benar-benar Eric.
Spontan Isabel memukul bahu Eric dengan cukup keras hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
"Kau memukulku? Setelah aku memberimu pelukan?" Eric tidak terima. Pria itu menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan gadis di sebelahnya.
"Iya aku memukulmu. Apa mulutmu itu tidak bisa mengeluarkan kata lain selain kata-kata tajam seperti itu?" Isabel melotot dengan matanya yang sembab. Meskipun tidak tampak menakutkan sama sekali. Malah terlihat lucu bagi Eric.
Eric mengusap wajah Isabel dengan telapak tangannya lalu tergelak kencang. Sungguh dia tidak tahan untuk tidak tertawa.
Isabel yang tidak bisa menghindar menjadi semakin kesal dengan Eric. Dia membalasnya dengan mendorong tubuh Eric. "Kau menyebalkan!"
Eric memegangi perutnya yang terasa kaku karena tertawa. "Sudah. Ayo kita makan," ucap Eric dengan masih menyisakan tawa dalam kalimatnya.
"Aku tidak mau," tolak Isabel.
Eric berhenti tertawa. Tanpa aba-aba dia menarik tangan Isabel agar bangkit dari sofa. "Aku tidak ingin--"
"Kau tidak ingin ada yang mati kelaparan di rumahmu," potong Isabel dengan wajah merah menahan kesal.
Eric tersenyum. "Aku tidak ingin kau sakit," katanya.
Isabel terdiam, tidak menyangka Eric akan mengatakan hal itu.
"Karena jika kau sakit, aku akan kehilangan tenaga gratisanku," lanjut Eric yang mendapat respons pukulan lagi di bahu pria itu dari Isabel.
Eric berlari kecil menghindari serangan susulan dari Isabel. Isabel yang sudah bersungut-sungut kesal berjalan cepat menyusul Eric. Rasanya ingin sekali menjahit mulut tajam Eric. Hingga langkahnya terhenti di meja makan di mana Eric menurunkan piring makanan dan juga minuman dari nampan untuk mereka berdua.
Pria itu masih terkekeh melihat ekspresi kesal Isabel. "Aku lapar. Ayo makan sekarang," katanya.
Isabel berjalan perlahan ke meja makan. Sungutnya yang tadi siap menyeruduk Eric sudah menghilang, bersamaan dengan hilangnya perasaan campur aduk yang membuat dia menangis tadi.
Tidak disangka sedikit kebaikan Eric bisa membuat suasana hatinya membaik.
***
tbc.
Ngerasain gag sih kalau sikap Eric sedikit melunak pada Isabel ? Semoga nggak jahatin Isabel lagi. Kalau tidak mau didatangi Jordan yang akan dengan senang hati menghajarnya.
See you next part, Love.