100 Days

100 Days
Part 61



**Hallo, Love !


Jumpa lagi kitah, terima kasih bagi yang sudah sabar menunggu kelanjutan cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak like and vomment disini.


Happy reading,


Enjoy the story** !


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Debuman suara pintu tertutup menggema di safe house. Langkah lebar Eric membawanya ke dapur untukĀ  mengambil minuman dingin. Berharap minuman dingin bisa mendinginkan otaknya yang mendidih.


Eric berjengit saat mendapati Jordan duduk di meja makan sedang menyantap makan siangnya yang sudah terlewat dari jam seharusnya.


"Apa yang kau lakukan disini ?!" Eric setengah berteriak dengan sisa-sisa amarahnya.


Jordan mengedikkan bahu sambil memasukkan satu suapan carbonara lagi ke mulutnya. "Makan." Jawabnya santai.


Eric menatap tajam pada Jordan yang sama sekali tidak melihat ke arahnya. Lalu dia berjalan ke lemari es mengambil minuman dingin. Dia langsung menenggaknya hingga tandas.


Begitu selesai, dia bergegas meninggalkan dapur.


Jordan hanya memperhatikannya dalam diam sambil terus mengunyah carbonara. Dia tahu sesuatu baru saja terjadi pada adik angkatnya itu.


Eric mendaratkan pantatnya di sofa, lalu merogoh ponselnya di saku celana. Dia mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat lima panggilan tidak terjawab dari Carla. Great ! Dia melupakan Grey !


Sesaat kemudian dia menghubungi Carla untuk menjaga Grey sampai dia mengambilnya esok hari.


Tak lama berselang, Jordan sudah duduk disampingnya. Memperhatikan Eric dari atas sampai bawah dengan seksama. Lalu dia mengendus tubuh Eric. Mencium aroma mesiu di pakaian Eric.


"Kau bau mesiu." Kata Jordan.


Eric melirik sekilas pada Jordan sebelum kembali mengetik sebuah pesan di ponselnya.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Jordan yang sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang baru saja menimpa Eric.


Terdengar helaan nafas berat dari Eric. Pria itu meletakkan ponsel diatas meja lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Aku bertemu dengannya." Kata Eric penuh kebencian.


Jordan mengerutkan kening. "Dia ?" Jordan bingung. Lalu sebuah nama muncul dalam otaknya. Siapa lagi memang yang bisa membuat Eric semarah itu jika bukan Elena.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Eric, dan itu berarti dugaannya benar.


"Lantas kenapa pakaianmu bau mesiu ?" Tanyanya kemudian.


"Aku hampir membunuhnya."


"Apa ?!" Sontak Jordan menegakkan tubuhnya. Jawaban Eric membuatnya terkejut. "Apa kau sudah gila ?!"


Eric memutar mata malas. "Aku hanya membidik lima centi dari kepalanya. Dia tidak mati." Jawab Eric yang terdengar tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Jordan menghela nafas entah untuk apa. "Apa dia melakukan sesuatu padamu ?"


"Ya, kalau yang kau maksud dengan 'sesuatu' itu adalah merusak moodku."


"Mungkin sudah saatnya kau bicara baik-baik dengannya." Saran Jordan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Eric.


Mata Eric berkilat marah. Wajahnya mengeras. Jika saja dia tidak bisa mengontrol diri, sudah pasti dia akan menghajar Jordan saat itu juga. "Itu tidak akan pernah terjadi." Desisnya.


Jordan mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Untuk urusan yang satu itu, Eric tidak akan bisa dibujuk. Rasa benci dan sakit hatinya pada Elena sudah mendarah daging. Seperti plasma darah yang mengalir dalam nadinya.


"Kau tidak lupa 'kan kalau besok kita harus ke RCT untuk final checking ?" Tanya Jordan setelah beberapa saat mereka terdiam.


Eric menoleh, hampir saja dia lupa jika Jordan tidak mengingatkannya. Beberapa hari ini otaknya memang sedikit bermasalah. Ingatannya yang biasanya tajam tiba-tiba tumpul. Dan pikirannya hanya dipenuhi hal-hal yang menurutnya sangat konyol dan tidak masuk akal.


"Kau lupa." Jordan mendengus malas. "Apa yang terjadi denganmu ? Kudengar Jose juga mengeluh dengan perubahan sikapmu belakangan ini."


Eric membuang muka, dia mengalihkan pandangan pada keranjang tidur Grey yang sedang ditinggalkan pemiliknya. "Kau saja yang kesana." Ucap Eric, mengabaikan pertanyaan Jordan.


Senyum miring tercetak di wajah Jordan. Pria itu melipat kaki, merentangkan kedua tangannya di punggung sofa. "Kau takut bertemu calon kakak iparmu lagi ?" Ejek Jordan.


"Tutup mulutmu, keparat !" Eric melirik tajam pada Jordan lalu memalingkan wajah ke sembarang arah.


"Sudahlah, Brother." Jordan mnurunkan kakinya, lantas menumpukan kedua sikunya di paha. Dia menatap Eric sambil tersenyum, "Sampai kapan kau akan terus menyangkalnya?"


Eric diam. Dia menggertakkan gigi-giginya. Dia sendiri ragu dengan apa yang dia rasakan saat ini.


Yang jelas, beberapa waktu ini dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia jadi sering uring-uringan hanya karena hal sepele. Moodnya benar-benar sangat buruk.


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu."


"Apa kau merasa ada yang hilang dari dirimu selama dia tidak ada ?" Jordan menatap Eric penuh selidik. Dia yakin Eric mulai menyukai Isabel, hanya saja adik angkatnya itu terlalu gengsi untuk mengakuinya.


Sejak berpisah dari Elena, Eric tidak pernah bersungguh-sungguh dalam berhubungan dengan wanita. Dia akan memulai dan menyudahi hubungannya dengan sesuka hati. Tapi kali ini Jordan merasa kalau Eric tengah memakai hatinya untuk melihat Isabel.


Eric masih diam. Dia bingung. Dia tidak tahu apakah ini adalah rasa kehilangan seperti kata Jordan. Yang dia tahu, otaknya mulai kacau sejak Isabel pergi.


Sedetik kemudian Eric tampak berpikir. Alisnya hampir bertaut, lalu dia menoleh pada Jordan dengan mata sedikit menyipit. "Kenapa tidak kau tanyakan itu pada dirimu sendiri ? Bukankah kau menyukainya ?"


Jordan menarik bibir kebawah, sedikit menelengkan kepalanya dengan alis terangkat. "Aku sudah pernah mengatakannya padamu. Ya, aku menyukainya. Tapi rasa sukaku tidak cukup untuk menumbuhkan rasa ingin memilikinya." Jordan kembali menyandarkan punggungnya di sofa. "Aku tidak ingin disebut pedofil." Kata Jordan sambil terkekeh. Usianya memang sudah 31 tahun, satu tahun lebih tua dari kakaknya Isabel. Dan itu berarti dia terpaut sepuluh tahun dari Isabel. Hmm....jarak yang cukup jauh, bukan ?!


"Dan kau pikir dia tidak terlalu kecil untukku?" Sarkas Eric, usianya yang hanya dua tahun lebih muda dari Jordan membuatnya merasa terlalu tua untuk Isabel. Bukan ! Dia tidak terlalu tua untuk Isabel, tapi gadis itu yang terlalu muda untuknya.


Ya, meskipun usia gadis itu sudah 21 tahun, tapi wajahnya masih seperti anak belasan tahun. Bahkan Eric sempat mengakuinya sebagai keponakan saat di kantor Aiden, dulu. Apa lagi kalau bukan karena tampilan fisiknya yang tampak terlalu muda dibandingkan dirinya.


Jordan terkekeh geli. "Jadi kau mengakuinya ?" Jordan memastikan.


"Aku tidak bilang seperti itu." Sangkal Eric dengan gugup. Entah apa yang membuatnya gugup. Tapi dia bisa merasakan punggungnya basah karena keringat di ruangan ber-AC ini.


Jordan melipat bibir. Dia menahan senyum geli melihat raut wajah Eric saat ini. "Kurasa dia juga menyukaimu." Ucap Jordan kemudian. Dia mengucapkannya bukan tanpa alasan. Dia tahu pasti apa yang dia bicarakan.


Eric mengerjap beberapa kali. Pandangannya langsung mengarah pada Jordan,meneliti ekspresi kakak angkatnya itu. Bibirnya setengah terbuka karena terkejut mendengar ucapan Jordan.


Tapi itu tidak lama. Detik berikutnya Eric berkata, "Dengan kemampuan bicaramu, tidak heran usaha kita melejit dengan pesat." Eric tersenyum miring lalu menggeleng kesal. Dia yakin Jordan hanya ingin memancingnya untuk bicara jujur.


Jujur ? Memangnya kejujuran seperti apa yang Eric sembunyikan ? Ekspresi wajah Eric langsung berubah mengingat pertanyaan yang keluar dari hatinya sendiri.


Apa aku memang mulai menyukainya ? Apa aku....jatuh cinta padanya ?


Ahhh...aku pasti sudah gila !


Batin Eric menggeliat. Cepat-cepat dia menggelengkan kepala, mengusir pemikiran itu. Tapi sialnya, justru hati Eric semakin berontak untuk mengeluarkan kejujuran itu.


"Aku tidak bicara omong kosong, Dude. Kau punya peluang yang sangat bagus dengannya." Jordan mengusap dagunya. "Tentu saja setelah kau menjinakkan kakaknya." Tambah Jordan sambil tertawa geli.


"B*rengsek !" Eric melempar bantal sofa ke wajah Jordan yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Apa ?" Jordan meletakkan bantal yang baru saja mendarat diwajahnya. "Nama baikmu sudah tercoreng dimata kakaknya, Dude. Butuh kerja keras untuk membersihkannya." Jordan menyipitkan matanya, lalu berkata "Tidakkah kau sadari ? Saat menghadapi Mike, kau bisa menekan temperamenmu yang biasanya meledak-ledak jika yang dituduhkan padamu tidaklah benar. Dan itu....sangat bukan dirimu, Brother." Ledek Jordan dibarengi kekehannya yang lagi-lagi membuat Eric kesal.


"Kurasa kau perlu memeriksakan otakmu pada Nora. As*hole !" Ketus Eric


"Kau.....kejam !" Jordan mengeluarkan ekspresi terluka yang dibuat-buat.


"Dengarkan aku, Brother. Jujurlah pada hatimu. Kalau kau memang menginginkan gadis itu, kau harus mengejarnya. Kau tahu dimana bisa menemuinya." Jordan beranjak, menepuk bahu Eric dua kali lantas meninggalkan Eric yang masih duduk termenung di ruang tamu.


Eric berpikir keras. Apa benar dirinya jatuh cinta pada Isabel ?


Eric mendesah kasar, dia menyandarkan kepalanya pada punggung sofa. Menengadah sambil memejamkan mata rapat-rapat.


Bayangan Isabel kembali muncul dalam matanya yang terpejam. Bagaimana raut kesal, marah, sedih, gugup hingga wajah jahil gadis itu menari-nari dalam ingatan Eric. Lalu dia melihat senyum tulus Isabel yang dia lihat untuk pertama kalinya, saat berdansa di pernikahan Chloe. Perlahan wajah tersenyum Isabel terlihat begitu dekat dengannya. Hingga saat kedua mata gadis itu terpejam dan dengan bodohnya Eric menikmati ciuman singkat mereka yang tidak pernah mereka duga. Sangat menikmatinya.


Tiba-tiba kedua sudut bibir Eric tertarik keatas. Dia tersenyum, merasa geli dengan apa yang dia pikirkan saat ini.


"Kurasa aku memang jatuh cinta padanya."


*


*


*


*


*


*


tbc.


Segini dulu yak,


Puas kan lihat bang Eric jujur dengan perasaannya.


Udah fix ya, kalo bang Eric emang jatuh cinta dengan Isabel.


Berdoa saja semoga saya tidak punya keinginan untuk menyiksa mereka lagi, hehehe....


See you next part, Love.