
Bruk !
Isabel mengangkat wajah, menatap Cayla yang berdiri di depan kubikelnya sambil menyilangkan tangan di depan dada dengan wajah ditekuk. Setumpuk berkas baru saja Cayla hentakkan di kubikel Isabel.
"Pastikan pekerjaanmu sempurna sebelum masuk ke ruangan Arthur !" Tutur Cayla dengan mimik serius. Sepertinya Isabel sedang tidak fokus, semua pekerjaannya hari ini dikembalikan dari ruangan Arthur. Yang berarti masih terdapat kesalahan atau kekurangan dari pekerjaan itu. Sebagai pembimbing, Cayla yang bertanggung jawab terhadap kinerja Isabel, dan dia ikut terkena omelan Arthur. Sebelumnya, Cayla selalu memeriksa pekerjaan Isabel sebelum masuk ke ruangan Arthur. Tapi sejak satu minggu yang lalu, Cayla mulai melepaskan Isabel untuk memeriksa sendiri pekerjaannya sebelum dibawa ke meja keramat Arthur. Memang masih ada beberapa kekeliruan atau kekurangan, tapi tidak seperti hari ini. Pekerjaan Isabel hari ini sangat diluar standar Arthur.
"Selamat lembur, Cantik." Ucap Cayla sebelum melangkah ke kubikelnya sendiri.
Isabel mendesah, lalu membenturkan pelan keningnya pada kubikel. "Sudah kuduga." Gumamnya.
"Fokus, Isabel !" Suara tegas Cayla terdengar lagi.
"Akan kuperbaiki lagi." Isabel mengangkat kepalanya dengan malas. Satu jam lagi waktunya pulang, tapi dia masih harus merevisi setumpuk laporannya yang baru saja dikembalikan Arthur.
Cayla menggeser kursinya mendekat pada Isabel. Wajah Asia cantiknya miring, menatap penuh selidik dengan mata menyipit pada Isabel. "Apa kau sedang ada masalah ?" Tanyanya kemudian.
Isabel menoleh. "Tidak. Kecuali seorang kakak posesif yang selalu meneror dengan pesan peringatan supaya aku selalu menjaga diri. Kau tahu ? Dia lebih cerewet daripada nenek-nenek menstruasi." Jawabnya dengan bibir mengerucut. Memang sejak ulang tahunnya dua minggu lalu, setiap ada waktu luang, Mike mengirim pesan pada Isabel supaya adik semata wayangnya itu menjaga diri dan tidak bersikap murahan terhadap Eric.
Cayla tertawa lebar mendengar jawaban itu. CEO-nya yang tampan dan selalu tampak berwibawa dibilang seperti nenek-nenek menstruasi oleh pegawai magang. "Itu artinya Mr. Bennings sudah tepat menempatkanmu di divisi ini. Arthur akan mendisiplinkanmu." Kata Cayla sambil terkekeh. Dia menggeleng lemah kepalanya lalu menggeser kembali kursinya ke tempat semula.
"Kau sama sekali tidak membantu." Gerutu Isabel lirih. Gadis itu mulai memeriksa kembali laporan yang dia buat.
"Kurasa itu hanya cara Mr. Bennings mengungkapkan rasa sayangnya padamu." Kata Cayla. Meskipun matanya fokus pada layar komputer dan jari-jarinya fokus pada keyboard, tapi dia masih bisa menangkap gumaman pelan Isabel.
"Aku tahu dia sangat menyayangiku. Tapi terkadang sikapnya terlalu berlebihan." Isabel memiringkan bibirnya kesal. "Dia selalu mencampuri hubunganku dengan Eric."
"Itu karena dia menginginkan yang terbaik untukmu, Dear. Dan sebaiknya kau bergegas menyelesaikan pekerjaanmu atau kau akan lembur sendirian hari ini." Cayla menaikkan alisnya, mengingatkan Isabel jika pekerjaannya masih menggunung.
Menghembuskan nafas kasar, Isabel kembali fokus pada pekerjaannya. Saking fokusnya, Isabel tidak menyadari kalau sekarang hanya dirinya lah satu-satunya orang yang tersisa di ruangan itu. Dengan Arthur di ruangannya sendiri tentu saja. Pria tambun itu akan selalu menunggu anak buahnya yang lembur hingga selesai, sebagai salah satu bentuk tanggung jawabnya. Tapi bagi anak buahnya, itu adalah salah satu bentuk intimidasi terselubung. Bisa membayangkan kan, bagaimana rasanya bekerja sambil dimandori seperti itu ?!
Jam yang menempel di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sudah waktunya makan malam, tapi Isabel baru saja keluar dari ruangan Arthur.
Dengan langkah gontai, Isabel kembali ke kubikelnya. Mengemas barang-barang miliknya dan ingin segera pulang. Hari ini adalah lembur pertamanya. Dan ternyata rasanya sangat melelahkan.
Sampai di basement, Isabel berjalan cepat menuju mobilnya. Namun sialnya, ada sebuah mobil suv hitam yang tiba-tiba melaju kencang ke arahnya.
Suara decitan ban mobil menggema seiring tubuh Isabel yang jatuh tersungkur ke lantai basement. Si pengendara suv itu menghentikan laju mobilnya beberapa meter dari tubuh Isabel yang tidak sadarkan diri. Dia menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya, mengintip keadaan Isabel dari kaca spion beberapa saat. Lalu dia menaikkan kembali kaca mobilnya dan menginjak pedal gas, melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Isabel begitu saja.
Arthur yang kala itu juga ingin pulang, melihat seorang perempuan yang tergeletak beberapa meter dari mobilnya. Mengenali pakaian yang dikenakan perempuan itu, Arthur susah payah berlari mendekat.
Nafasnya tersengal-sengal begitu sampai di dekat perempuan itu. Dia berjongkok, memeriksa keadaanya.
"Ms. Bennings ! Ms. Bennings ! Apa yang terjadi ?" Arthur menepuk pelan pipi Isabel, tapi gadis itu tidak sadarkan diri juga. Dia melihat ke kanan dan kiri, tidak ada siapapun disana. Basement ini sangat sepi, mengingat para pegawai sudah pulang. Hanya beberapa saja yang masih tinggal karena lembur.
Arthur mengambil ponsel dari dalam tas kerjanya lantas menghubungi security untuk membantu mengangkat tubuh Isabel ke mobilnya, karena dia tidak akan bisa melakukannya sendiri. Isabel harus segera dibawa ke rumah sakit.
Setelah menghubungi security, Arthur segera menghubungi Mike. Arthur akan membawa Isabel ke rumah sakit terdekat, jadi dia meminta Mike langsung saja ke rumah sakit.
Begitu security datang, Arthur segera melarikan Isabel ke rumah sakit.
*****
"Bagaimana keadaannya ?" Mike menghampiri Arthur yang sedang menunggu di depan Emergency Room. Mike datang bersama kedua orang tuanya. Wajah mereka terlihat panik.
"Dokter masih memeriksanya." Jawab Arthur.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada putriku ?" Tanya Jhon sambil mengusap bahu Emma yang menangis dalam dekapannya.
Arthur membenarkan kacamatanya yang miring. "Maafkan Saya, Mr. Bennings." Arthur menatap bersalah pada Jhon. "Saya meminta Ms. Bennings mengulang laporan yang dia buat hingga dia harus lembur. Begitu selesai, dia segera keluar dari ruang divisi. Dan begitu Saya sampai di basement, Saya menemukan Ms. Bennings sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri beberapa meter dari mobil Saya." Terang Arthur.
Jhon menepuk pundak Arthur. "Tidak perlu meminta maaf, Arthur. Kau sudah melakukan hal yang benar." Jhon menghela nafas. "Semoga dia baik-baik saja."
Arthur mengangguk. Dia mundur beberapa langkah saat seorang perawat membuka pintu Emergency Room. Disusul brankar dengan tubuh Isabel diatasnya yang di dorong keluar.
"Tidak ada cedera serius yang dialami Ms. Bennings. Dia hanya mengalami syok dan mendapat luka gores di beberapa bagian tubuhnya. Dia akan baik-baik saja." Terang Daniel. Dokter muda yang menangani Isabel.
Eric datang saat Isabel sudah sadarkan diri. Dia yang sedang berada di luar kota langsung meluncur ke rumah sakit begitu mendapat kabar bahwa Isabel mengalami insiden hingga tidak sadarkan diri.
"Selamat malam, Mr. Bennings." Sapa Eric pada Jhon, lalu dia mengangguk dan tersenyum pada Emma. Hanya ada mereka di ruangan itu karena Mike harus kembali ke rumah menemani Liam.
Tatapan Eric langsung tertuju pada kekasihnya yang duduk bersandar pada headboard dengan lebam di kening dan pipi sebelah kanannya.
"Hei...bagaimana keadaanmu ?" Eric duduk di tepi ranjang, membelai pipi Isabel yang sedang tersenyum padanya.
"Aku masih hidup." Gurau Isabel. Dia tahu Eric sangat khawatir. Eric tersenyum kecil. Dia sedikit mengerutkan kening, menatap lekat pada Isabel.
"Aku hampir gila karena mengkhawatirkanmu." Ucap Eric pelan.
"Maaf membuatmu khawatir." Isabel tersenyum menenangkan. Eric menghembuskan nafas lega karena kekasihnya tidak mengalami luka serius.
"Baiklah, kami ada di luar jika kau membutuhkan sesuatu." Kata Emma yang paham jika putrinya membutuhkan privasi dengan sang kekasih. Wanita paruh baya itu menggandeng suaminya keluar ruangan. Lagipula mereka tidak akan bertindak macam-macam di rumah sakit, bukan ?!
Eric dan Isabel mengangguk bersamaan. Begitu orang tua Isabel keluar, Eric kembali mengarahkan pandangannya pada Isabel.
"Kau pasti sangat lelah." Isabel memperhatikan wajah Eric yang terlihat begitu letih. Bagaimana tidak, sekarang sudah hampir tengah malam. Seharian bekerja dan harus berkendara selama tiga jam setelahnya dengan perasaan khawatir dan cemas, pasti rasanya sangat melelahkan.
"Aku tidak sempat merasa lelah saat pikiranku kalut karena mengkhawatirkanmu." Eric menggenggam tangan Isabel. Membuat Isabel mengembangkan senyum simpulnya. Merasa bahagia karena Eric sangat memperhatikannya.
"Aku tidak apa-apa." Kata Isabel.
"Jadi....bagaimana ceritanya kau bisa berada disini ?" Tanya Eric.
"Mereka bilang Arthur yang membawaku kesini." Jawab Isabel.
Eric membuang nafas, Isabel tahu yang dia maksud tapi malah menjawab lain. Dengan menaikkan alis sambil menatap menuntut jawaban, Eric membuat Isabel memutar mata malas.
"Okay....okay...." Isabel menekuk wajahnya. "Aku tidak tahu siapa yang mengemudikannya. Mobil itu melaju kencang ke arahku. Hanya itu yang aku ingat." Terang Isabel.
"Kau ingat jenis mobilnya ?" Tanya Eric.
Isabel menggeleng. "Yang aku ingat warna mobilnya hitam. Kacanya juga gelap."
Eric mengangguk. Lalu dia mengusap puncak kepala Isabel. "Kau harus banyak beristirahat agar cepat pulih."
Sekilas Isabel melihat wajah Eric mengeras setelah mengusap puncak kepalanya. Tapi Isabel buru-buru mengenyahkan pikiran itu. Eric pasti hanya merasa kelelahan.
Lalu tiba-tiba ada yang melintas dalam benak Isabel. Sesuatu yang sedikit mengganggu. Kemudian dia memiringkan wajahnya, menatap wajah Eric dengan alis berkerut. "Apa ada yang sengaja ingin mencelakaiku ?"
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Hm......siapa ya yang nabrak Isabel ?
See you next part, Love.