
Tidak ada raut terkejut yang tergambar dari wajah Isabel. Well, sepertinya Isabel sudah menyadari hal itu.
Genggaman tangan Isabel menguat saat Eric tidak kunjung melanjutkan ceritanya. "Just tell me." Suara lirih Isabel membuat Eric menghembuskan nafas kasar.
"Kami berhubungan selama 7 tahun. Seperti pada dirimu, aku memberikan sepenuh hatiku padanya." Eric menatap lekat Isabel, mencoba menebak bagaimana perasaan gadis itu setelah mendengar awal ceritanya.
"Aku tahu dia adalah gadis penggila harta." Eric mendengus mengingat kebodohannya. "Tapi dia bersedia bertahan disisiku dari aku yang belum mempunyai apa-apa, hingga aku memiliki bisnis sendiri yang berkembang sangat pesat." Eric tersenyum miris. "Kukira dia tulus mencintaiku. Dengan semua pengorbanan yang dia lakukan untukku. Tapi itu semua omong kosong." Kedua iris kelabu Eric menyala. Matanya berkilat marah mengingat penghianatan Elena. Lalu dia menghela nafas, mencoba menetralkan perasaannya. Jangan sampai Isabel berpikir dia masih menginginkan Elena.
"Kau ingat Nick ? Pria yang berdansa denganmu di pesta Chloe ?" Isabel mengangguk. Tentu saja dia ingat. Mana mungkin dia lupa dengan mantan kekasih sahabatnya. Tapi apa hubungannya dengan Elena ?
"Elena berselingkuh dengannya." Spontan kedua mata Isabel membulat. Nick juga tergoda dengan Elena ? What the h*ll ! Tapi kenapa Nick terlihat berteman baik dengan Jordan ? Dan sepertinya dengan Eric juga baik.
"Yang lebih mengejutkan lagi, dia juga berselingkuh dengan laki-laki lain selain Nick." Eric tertawa kecil, mentertawakan kebodohannya yang percaya bahwa Elena sangat mencintainya.
"Dari situ hubunganku dengan Nick menjadi baik. Kami jadi bersahabat hingga sekarang."
Bersahabat karena merasa sama-sama dikecewakan Elena ? Sangat lucu ! Isabel membatin. Dia masih setia menunggu kelanjutan cerita Eric.
"Aku dan Nick bekerja sama menyelidiki siapa saja orang-orang yang terlibat skandal dengan Elena." Lagi-lagi Eric tersenyum miris. "Sangat mengejutkan. Karena banyak nama orang-orang tenar yang terjebak dengannya." Eric mengerutkan wajah, sedikit menyipitkan mata menatap Isabel. "Aku sangat bodoh, bukan ?! Mempercayai wanita ular yang selalu mengucapkan kata cinta padaku."
"Kau mencintainya. Itu bukan kebodohan." Isabel menanggapi. Dia diam lagi, menyiapkan hatinya untuk bisa menerima cerita masa lalu Eric yang sedikit menggelitik hatinya.
"Padahal waktu itu aku sudah mempersiapkan sebuah cincin untuk melamarnya." Eric memijit pangkal hidungnya. "Tapi justru kejutan menyakitkan yang aku dapat."
Eric membuang nafas kasar. Dia menggeleng dengan raut wajah kesal. "Dan sejak dia keluar dari penjara karena obat-obatan terlarang, dia bersikeras ingin kembali padaku." Eric menyorot dalam mata Isabel sambil mengeratkan genggamannya pada jari-jari Isabel. "Aku ingin kau percaya padaku. Aku dan dia sudah lama berakhir. Jadi, apapun yang kau dengar dari mulutnya, aku ingin kau tetap mengingat bahwa sekarang hatiku adalah milikmu."
Isabel mengerti sekarang. 7 tahun bukanlah waktu yang singkat. Elena menemani Eric dari nol. Untuk wanita gila harta seperti Elena, tentu dia tidak akan melakukannya kalau bukan karena cinta. Mungkin memang cinta Elena terhadap Eric itu tulus. Hanya saja penyakit gila harta itu yang mempengaruhi otak Elena hingga dia berselingkuh dengan orang-orang kaya.
"I trust you." Isabel berbisik merdu. Eric percaya jika dia sudah bisa move on dari Aiden. Kini giliran Isabel yang harus bisa mempercayai Eric. Cukup lega setelah mendengar cerita langsung dari mulut Eric. Paling tidak, jika Elena ingin menyerang mentalnya lagi, dia sudah memiliki pijakan yang cukup kuat untuk tidak terpengaruh.
"Jadi.....'orang tidak penting' yang tinggal di safe house sebelum aku adalah Elena ?" Isabel bertanya lantang untuk mencairkan suasana yang sempat membiru.
Eric tersenyum bodoh. Dia menggaruk tengkuknya sambil mengernyit, mengingat jawaban yang dia berikan saat Isabel menanyakan hal itu.
"Aku tidak akan mempermasalahkan masa lalumu. Aku tahu semua itu sudah berakhir. Dan tentang Elena, kurasa lain kali aku perlu menghajarnya kalau dia mencari masalah denganku lagi." Isabel mengepalkan tangan lalu meninju telapak tangannya yang lain.
Eric tertawa. Lega rasanya Isabel bisa menerima masa lalunya tanpa ada drama. "Aku percaya kau mampu menghajarnya." Eric mengacak rambut Isabel. "Tapi kau tetap harus berhati-hati. Sebisa mungkin hindari bertemu apalagi bicara dengannya. Dia bukan orang baik." Kata Eric dengan mimik wajah serius. Dia menarik tubuh Isabel mendekat lalu mendekapnya dengan posesif. Elena selalu punya seribu cara untuk berbuat licik. Seperti yang pernah dilakukannya pada wanita yang dekat dengan Eric sebelumnya. Dan Eric tidak menginginkan hal itu terjadi pada Isabel.
Lepas dari Elena, Eric mencoba untuk memulihkan hatinya dengan menjalin hubungan dengan beberapa wanita. Namun itu tidak pernah berlangsung lama. Selain karena Eric yang belum sepenuhnya bisa membuka hati juga karena akal licik Elena yang selalu meneror setiap wanita yang dekat dengan Eric.
"Pasti. Aku akan menjauhi monster darat itu." Isabel mengikik geli dengan sebutannya untuk Elena.
Isabel mendongak, masih dalam dekapan Eric, menatap penuh tanya pada pria itu. Dia ingin menanyakan satu hal lagi pada Eric. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Kata Isabel.
Eric memberi respon dengan mengangkat kedua alisnya.
"Apa kau sengaja membatalkan setiap rencana kita untuk datang kemari karena Elena ? Karena dia sering berkunjung kemari ?"
Eric mengerjap beberapa kali, sedikit merenggangkan dekapannya pada Isabel untuk lebih leluasa memandangi wajah kekasihnya itu. Tidak. Alasan Eric bukanlah Elena. Tapi....
"Aku tidak tahu harus menjawab jujur atau tidak. Aku....bingung." Alis Eric berkerut. Dia membasahi bibirnya yang terasa kering.
"Hei..." Isabel menyentuh rahang Eric, Eric memejamkan mata menikmati sentuhan lembut itu. "Nothing to hide. Kau bisa mengatakan apapun padaku." Eric menggenggam tangan Isabel yang ada di wajahnya lalu mencium tangan itu masih dengan mata terpejam.
Perlahan kelopak mata Eric terbuka, menunjukkan iris kelabunya yang sendu. "It's not about Elena. It's all about me." Ucap Eric lirih. Deru nafasnya terasa hangat menerpa wajah Isabel. Eric menelan ludah lalu memejamkan mata lagi.
Eric memejamkan mata. Kecupan-kecupan kecil itu berubah menjadi ******* halus. Isabel bergerak ke pangkuan Eric, mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu tanpa melepaskan ciumannya.
Merasa mendapatkan akses, Eric mulai memainkan lidahnya yang disambut hangat oleh Isabel. Keduanya larut, sama-sama menikmati ciuman memabukkan itu.
Sejenak Eric melepaskan pagutannya, meraup udara sebanyak yang dia bisa sebelum kembali menautkan bibirnya dengan Isabel. "I love you, Bells." Bisik Eric di sela ciumannya.
Eric menurunkan ciumannya ke rahang Isabel, terus turun ke leher jenjang gadis itu. Sedikit menyesapnya, meninggalkan tanda merah yang membuat Isabel melenguh. Sementara bibir Eric memanjakan Isabel dengan terus bermain di lehernya, kedua tangan Eric mengusap naik turun punggung Isabel dengan lembut. Perlahan satu tangannya menyusup ke dalam kaos rajut yang dipakai Isabel, merasakan sensasi skin to skin dibalik kaos itu.
Suara desahan Isabel lolos saat merasakan tangan Eric yang bersentuhan langsung dengan kulit punggungnya bersamaan dengan bibir Eric yang menyesap pundaknya.
Isabel bisa merasakan deru nafas Eric yang memburu. Isabel menelan ludah, menengadah dengan mata terpejam saat merasakan jemari Eric menyentuh dada atasnya.
Sesaat kemudian dengan mudah Eric meloloskan kaos rajut itu dari tubuh Isabel hingga menyisakan bra hitam sebagai satu-satunya pelindung tubuh bagian atas gadis itu. Dalam sekali kedip, Eric juga telah menanggalkan kaos yang dia kenakan, menampilkan pahatan sempurna otot-otot di dada dan perut Eric. Jari-jari Isabel bergerak menyusuri setiap lekuk otot yang terasa sangat liat itu. Dia tidak bisa untuk tidak mengaguminya. Nafasnya kian memburu saat Eric mengangkat dagunya dengan tatapan yang begitu dalam.
Eric kembali mendaratkan ciuman di bibir Isabel sambil pelan-pelan membaringkan tubuh gadis itu. Mencecap manisnya bibir itu untuk beberapa saat. Lalu Eric melepaskan ciumannya saat posisi dirinya sudah menindih tubuh Isabel. Dalam keadaan seperti ini, Isabel bisa merasakan 'milik Eric' yang telah siap.
Dengan jarak yang amat dekat, deru nafas mereka saling menerpa. Memberikan sensasi hangat yang amat menggoda. Degup jantung yang saling bersahutan, seolah menjadi backsound keintiman mereka. Isabel bisa melihat dengan jelas kedua mata Eric yang berkabut karena gairah sedang menatap lekat kedua matanya.
"I want you..." Bisik Eric parau menahan hasrat yang sudah membuncah.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Double up nih ! Yeaaay !!!
Tinggalin jejak yang banyak ya. Udah tak kasih dobel loh. Hehehe....
Ups ayo yang belum cukup umur tutup mata dulu.
Jangan bayangin yang iya-iya ya....kira-kira mau dilanjut gag ini ? Isabel kasih gag ya ? Udah kepalang tanggung cynnn ! Isabel sih pake mancing-mancing bang Eric segala. Tapi, apa kabar dua macan dirumahnya kalau sampe dia kasih ?! Eh, gag usah bilang aja kali yak, gag bakalan tahu juga kan ?! Diem-diem aja lah. Rahasia !
Dari apa yang diceritain bang Eric, Elena itu sebenarnya cinta mati sama babang ganteng. Cewek yang mau nemenin dari nol kan tandanya dia setia. Setiap tikungan ada untuk mempertebal dompet, Eeeaaa....!!! Model kayak Elena gitu pasti main hempas aja ma cowok kere. Tapi buktinya dia tetep bertahan meskipun babang ganteng sedang berada di titik terbawah. 7 tahun loh. Kalau diitung-itung pake umur babang ganteng yang sekarang 29, trus mereka udah putusan 4 tahun lalu, berarti mereka sudah bersama sejak babang ganteng berumur 17 yak. Umur segitu kan hidup bang Eric lagi ancur-ancurnya. Hidup dalam persembunyian karena lari dari sindikat narkoba. Dan Elena dengan setia mendampingi hingga bang Eric sukses. Cuman...karena dasarnya dia tipe cewek yang butuh modal buat hidup sosialitah-nya, embat aja deh cowok-cowok tajir yang ada. Eh....begitu ketauan pengen balikan lagi. Egois !!!
Udah dulu yak, bentar lagi bakal sampai di konflik klimaksnya. Tunggu saja pada akhirnya siapa yang bakal saya siksa dalam cerita ini. Jahat dikit boleh dong ?!
Selamat menunggu keputusan Isabel deh. Kasih ? Enggak ? Kasih ? Enggak ?
See you next part, Love.