
Dengan langkah tergesa-gesa, Jordan menapaki tiap anak tangga di Willow Spring menuju ke lantai 4. Dia baru saja mendengar kabar dari Aiden bahwa hubungan Eric dan Isabel telah berakhir.
Meski Jordan belum tahu apa penyebabnya, tapi hatinya mengatakan bahwa kandasnya hubungan mereka ada hubungannya dengan rekaman video yang dimiliki Elena.
"F*ck !" Jordan mengumpat marah saat dia tidak bisa membuka pintu safe house. Dia harus kembali lagi ke mobil untuk mengambil 'senjatanya'.
Karena terlalu sibuk memburu Jim, Jordan sampai lupa kalau keadaan di sekitarnya menjadi tidak kondusif. Dia tidak tahu kalau Eric sengaja menghilang selama hampir satu bulan.
Harusnya dia sadar dengan kedatangan Isabel setiap harinya ke kantor. Gadis itu tidak mungkin selalu menyempatkan diri datang hanya untuk menyuruhnya makan dan tidur.
Jordan merutuki kebodohannya karena tidak peka terhadap keadaan Isabel. Dan yang tersisa saat ini hanyalah penyesalan.
Memangnya apa lagi ? Hingga sekarang pun dia belum mendapatkan hasil dari perburuannya. Dan dia tidak sadar kalau keluarganya justru hampir berantakan hanya karena terlalu larut dalam rasa kehilangan.
Jordan kembali ke lantai 4 dan segera membobol pintu safe house. Begitu masuk, pandangannya langsung terarah pada Eric yang sedang menghisap rokok di sofa ditemani sebotol wine diatas meja.
Melihat Jordan yang lagi-lagi membobol pintunya, Eric melirik ke arah Jordan sambil berdecak kesal.
"Aku sudah mendengarnya." Ucap Jordan begitu dia melangkahkan kakinya mendekat pada Eric. Eric tidak menjawab, dia menghisap rokoknya dalam-dalam lantas menghembuskan asapnya perlahan.
"Kenapa kau meninggalkan Isabel ?" Hardik Jordan. Dia hampir saja menarik kerah Eric andai pria itu tidak segera mematikan rokok diatas asbak dan menjawab pertanyaannya.
"Aku ingin menepati janjiku padamu." Jawabnya getir.
Dari jawaban Eric, Jordan tahu bahwa video itu sudah sampai ditangan Eric. Jordan merasa sendi-sendi di tubuhnya merenggang. Lalu dia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
"Jadi kau sudah melihat video itu ?" Tanya Jordan setelah bisa menguasai keadaan. Dia menuang wine dalam gelas kristal lalu meminumnya dalam sekali tenggak.
"Kenapa kau tidak jujur tentang perasaanmu ?" Tanya Eric menatap kosong ke arah botol wine diatas meja.
"Aku sedang mabuk. Apa yang kukatakan dalam video itu tidak sepenuhnya benar." Kilah Jordan.
Eric tertawa sarkas, sudah ketahuan masih saja berkilah. "Mabuk ?" Eric mengangkat wajah, mendengus sinis. "Aku tidak tahu selama ini kau seterluka itu." Eric melirik Jordan. "Aku kecewa padamu. Kau membiarkan aku melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya." Eric menuang wine dalam gelas kristal yang tadi dipakai Jordan lalu menyesapnya.
Jordan menelan ludah. Dia tidak menginginkan hal ini terjadi. Dia memang mencintai Isabel, tapi dia juga tahu kalau Isabel mencintai Eric. Jadi, tidak ada alasan untuknya terus memendam perasaan pada Isabel. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah memperbaiki hubungan Eric dan Isabel. Peduli setan dengan Jim yang masih buron hingga sekarang.
"Ya, aku memang mencintainya." Jordan menatap Eric, membenarkan kalimat yang tak terucap oleh Eric. "Tapi itu dulu. Sekarang.....perasaan itu sudah terkikis. Aku tidak lagi menyimpan perasaan itu untuknya."
Eric menghembuskan nafas panjang lalu menyandarkan punggungnya di sofa. "Kau tidak bisa membohongiku lagi, Jordan. Selama ini aku sudah jadi orang bodoh yang tidak pernah bisa melihat bahwa orang yang paling dekat denganku adalah orang yang paling tersakiti olehku." Eric merasa sangat bersalah, selama ini dia hanya melihat sisi kuat Jordan tanpa tahu kelemahannya. Begitu banyak luka yang telah dirasakan Jordan dalam hidupnya. Dan Eric tidak ingin menambah panjang daftarnya lagi.
Tanpa Jordan, Eric tidak akan bisa seperti sekarang. Meraih kesuksesan dan hidup dengan layak. Tidak akan pernah hilang dari ingatan Eric saat bagaimana dulu dia sangat terpuruk setelah kematian kedua orang tuanya. Dengan sabar Jordan menariknya dari keterpurukan, memberinya motivasi, menjaganya bahkan banting tulang untuk menghidupinya agar dia bisa makan dengan kenyang dan tidur dengan nyenyak. Jordan itu lebih dari sekedar keluarga untuknya. Dia adalah separuh nafasnya.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau pikirkan. Aku ingin kau kembali pada Isabel dan menikah dengannya !" Tegas Jordan.
"I can't !" Sergah Eric. Dia tidak bisa terus melukai hati Jordan. Bagaimana bisa dia bahagia diatas luka saudaranya ?
"Yes, you can !" Balas Jordan.
"Kau tidak mengerti !" Eric bangkit, meremas rambutnya yang mulai memanjang. "Aku tidak akan bisa bahagia sementara kau....." Eric mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku bukan orang yang tidak tahu balas budi ! Kau berkorban terlalu banyak untukku. Dan ini saatnya aku berkorban untukmu." Kata Eric.
"Dengan mengorbankan orang yang kau cintai ?" Jordan ikut berdiri.
"Dia akan bahagia bersamamu !" Seru Eric dengan mata memerah. Tersimpan banyak luka disetiap kata yang dia ucapkan.
"Dia mencintaimu, b*jingan !" Jordan merangsek maju dan mencengkeram kerah Eric.
"Aku tidak bisa." Balas Eric dengan suara lemah. Dia tidak melawan. Andai Jordan menghajarnya saat ini pun dia akan dengan senang hati menikmati rasa sakitnya.
"Aku mendidikmu bukan untuk menjadi seorang pengecut ! Dan aku tidak butuh kau membalas budi kepadaku, karena aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri, B*doh !" Geram Jordan.
"Aku memang pengecut, Jordan ! Aku tidak pantas menjadi adikmu ! Tidak ada adik yang selalu menyakiti saudaranya dengan merebut kebahagiaannya !" Seru Eric.
Tidak tahan lagi ! Jordan menghantamkan tinjunya pada wajah Eric hingga Eric terlempar ke sofa. Lalu dia menarik kerah baju Eric dan memaksanya berdiri lagi.
"B*jingan ! Dengan cara seperti ini kau lebih menyakitiku, B*rengsek !" Maki Jordan. Dia melayangkan satu pukulan lagi pada Eric karena tidak tahan dengan ket*lolan adiknya itu.
Setelah Eric rubuh, Jordan masih terus memukulinya dengan membabi buta. Dia harus menyadarkan Eric bahwa dengan dia menyakiti Isabel, itu sama saja dia menyakiti Jordan.
Tidak ada balasan sedikitpun dari Eric. Dia sama sekali tidak berusaha membela diri, seolah dia sangat menikmati setiap sentuhan menyakitkan yang diberikan Jordan.
Setelah wajah Eric cukup babak belur, Jordan berhenti. Matanya terasa panas, dadanya bergemuruh saat melihat Eric yang terkulai lemas tanpa melawan sedikitpun. Seakan hal seperti inilah yang dia tunggu-tunggu.
Jordan menyandarkan tubuhnya pada sofa, tepat disamping tubuh Eric yang tergeletak di lantai dengan memar parah di wajahnya.
"Kau sudah membayarnya." Ucap Jordan lemah. Dia menyugar rambutnya ke belakang. Buku-buku jarinya pun memar yang menyebabkan rasa panas dan nyeri.
Meski wajahnya sudah babak belur, tapi Eric masih bisa menangkap suara Jordan dengan cukup jelas.
"Dan sekarang, aku ingin menagih janjimu padaku. Dalam keadaan yang sepenuhnya sadar." Jordan menoleh pada Eric yang terlihat sangat menyedihkan. "Menikahlah dengan Isabel." Pintanya. Ini adalah saat yang tepat untuk menagih janji itu. Jordan tidak mungkin membiarkan Eric dan Isabel terluka hanya karena dirinya. Mereka saling mencintai dan mereka harus bersama.
"Tanpa syarat apapun !" Tambah Jordan saat Eric hendak membuka bibirnya yang robek untuk bicara. Dia tidak ingin Eric beralasan lagi.
Jordan bangkit lalu mengulurkan tangannya pada Eric sambil membungkuk. Dengan sisa keaadarannya, Eric menyambut uluran tangan Jordan yang membantunya berdiri dan kemudian duduk di sofa bersisian.
"Aku tidak bisa melakukannya." Ucap Eric. Dia masih merasa sangat bersalah. Pukulan bertubi-tubi yang diberikan Jordan rasanya belum cukup untuk membalas rasa sakit yang di rasakan Jordan karena dirinya.
"Kau sudah berjanji akan mengabulkan permintaanku. Dan sekarang aku menagih janji itu. Menikahlah dengan Isabel ! Dengan begitu tidak ada yang akan merasa terluka disini. Aku, kau dan dia. Kita akan sama-sama bahagia sebagai keluarga." Sebelum Eric sempat menyanggahnya, Jordan berdiri. Dia lebih dulu melangkah pergi ke dapur.
Sekembalinya dari dapur, Jordan membawa dua kain berisi batu es. Dia melempar salah satunya pada Eric yang langsung ditangkap oleh pria itu.
Mereka sama-sama mengompres memar yang mereka derita. Jordan mengompres punggung tangannya dan Eric mengompres wajahnya.
Keduanya diam untuk beberapa saat, menikmati rasa dingin yang mengusir rasa panas akibat memar di bagian tubuh mereka.
"Jangan pernah berpikiran konyol seperti itu lagi !" Tutur Jordan.
"Aku tidak ingin kau lebih terluka lagi karenaku." Sahut Eric.
"Kau sudah membayarnya." Jordan menunjuk wajah babak belur Eric dengan pandangan matanya.
Tangan Eric terus menempelkan kain dingin itu ke pelipis, pipi dan sudut bibirnya secara bergantian. Jordan tidak main-main dengan pukulannya. Dalam keadaan normal, pasti akan terjadi pertarungan sengit diantara mereka.
"Ini tidak sebanding." Kata Eric.
"Maka tepati janjimu untuk membuatnya sebanding." Tukas Jordan.
"Aku..."
"Tidak ada bantahan !" Potong Jordan yang membuat Eric terdiam.
Cukup lama mereka kembali terdiam dan sibuk dengan luka masing-masing. Hingga Eric membuka suara. "It's hurt." Gumamnya.
Jordan tersenyum miring. "Kau terlalu lemah." Cibirnya.
Eric mendelik mendengar cibiran Jordan, tapi dia tidak menimpali. Meredam panas di wajahnya dengan sensasi dingin batu es lebih menyenangkan daripada meladeni cibiran Jordan.
Janji tetaplah janji, dan itu harus dibayar. Jika Jordan menginginkan dirinya kembali pada Isabel sebagai permintaan yang pernah dia janjikan, bukankah Eric harus mengabulkannya ?
Tapi....apa belum terlambat ? Apa Isabel mau menerimanya kembali setelah dia memberikan luka padanya ?
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
See you next part, Love.