
Sejak hari itu hubunganku dengan Eric semakin membaik. Meski dia belum mengingatku sama sekali, tapi dia mulai membuka interaksi denganku. Eric tidak sedingin dulu. Kami juga jadi sering mengobrol setelah makan malam. Dan terkadang aku juga menemani Eric bermain gitar dengan membawakannya jus dan kue keju.
"Kenapa kau tidak mencoba rekaman? Suaramu sangat bagus, kalau kau mengeluarkan single aku yakin akan menjadi hits," tanyaku saat Eric selesai bermain gitar.
Eric meminum jus yang aku buatkan untuknya. "Aku tidak seberuntung itu di industri musik," jawabnya. Dia menghela nafas lantas memandang jauh kedepan. "Aku pernah mencoba ikut audisi menyanyi, tapi gagal." Dia tertawa kecil.
"Benarkah?" Dia menjawab pertanyaanku dengan dua alis terangkat. "Kurasa jurinya yang tidak bisa melihat bakatmu," sambungku.
Suara sebagus itu bisa gagal audisi. Mungkin jurinya membutuhkan obat pembersih telinga.
"Aku perhatikan semakin hari tubuhmu semakin berisi. Aku senang jika orang yang bekerja denganku tumbuh dengan baik." Eric memperhatikanku dengan tatapan mengejek.
Aku membenarkan posisi dress yang kupakai supaya perutku tidak terlihat besar. "Kau mengejekku?" Aku memicingkan mata padanya.
Eric tertawa. Tawa yang sering kulihat beberapa hari ini. "Jika kau tidak mengatakan padaku kalau kau sudah menikah, aku pasti mengira kau hanya anak ingusan yang bekerja padaku untuk bisa membeli shabu."
Aku membuang nafas lewat mulut, tidak percaya dengan yang kudengar. "Sebentar lagi aku 23. Aku bukan anak ingusan!"
"Oya?" Eric mengerutkan kening. Ekspresinya seperti tidak percaya kalau usiaku memang sudah hampir 23 tahun. Lalu Eric kembali memandang ke depan. "Kau tahu, awalnya kukira suamimu pedofilia. Menikahi gadis dibawah umur adalah perbuatan melanggar hukum," kata Eric sambil berpaling padaku.
Okay, aku tidak tahan lagi. Aku tertawa keras sampai rasanya perutku sangat kencang. Mungkin anak kami juga tertawa di dalam perutku.
Eric mengernyit. Mungkin dia heran kenapa aku bisa tertawa sekeras itu.
"Aku yakin jika suamiku mendengarnya, dia akan menghajarmu habis-habisan," kataku dengan sisa tawa yang sulit sekali berhenti. Oh, andai saja Eric tahu kalau yang dia kira pedofilia adalah dirinya sendiri.
"Aku akan membela diri," tukas Eric.
"Kau yakin bisa mengalahkannya? Dia menguasai ilmu bela diri yang cukup bagus."
"Sangat yakin. Hei, ceritakan padaku tentang suamimu yang payah itu."
"Payah?" Aku ingin sekali memukul wajah Eric.
"Pria yang membiarkan istrinya bekerja keras adalah pria yang payah."
Aku mengibaskan tanganku di depan wajah Eric. "Katakan apapun yang ingin kau katakan, Tuan Sombong!" Sebelum kau menyesal telah mengatai dirimu sendiri.
"Ayolah, ceritakan sedikit tentang suamimu," pinta Eric lagi.
Aku menghela nafas. "Baiklah, aku akan sedikit bercerita tentang suamiku." Kulihat Eric serius mendengarkanku. "Dia adalah pria tangguh yang telah melewati banyak sekali derita, sakit dan kehilangan hingga dia menemukan kebahagiaannya. Dia adalah pria yang membuatku merasa menjadi wanita paling dicintai di dunia. Dia membawaku ke satu titik dimana aku merasa akulah ratu dalam hidupnya. Dia adalah pria yang sangat aku cintai. Cahaya dalam hatiku." Aku menatap Eric yang masih mendengarkanku dengan seksama. "Dia membuatku berjanji untuk tidak pernah meninggalkannya seperti dia yang tidak akan pernah meninggalkanku. Aku sangat mencintainya. Dia dan semua masa lalunya. Aku mencintainya tanpa syarat, Eric."
Kami diam dan hanya saling memandang untuk beberapa saat. Aku berharap Eric merasakan ungkapan perasaanku. Aku ingin dia mengingat janjiku yang tidak akan pernah meninggalkannya apapun yang terjadi. Aku ingin dia mengingat bahwa aku akan selalu mencintainya dalam keadaan apapun.
"Kau terlihat sangat mencintai suamimu," komentar Eric setelah keheningan yang terjadi beberapa saat.
"Sangat. Aku sangat mencintainya."
"Aku jadi ingin bertemu dengan suamimu. Pria yang bisa membuatmu bertekuk lutut seperti itu. Aku ingin tahu seberapa hebat dia." kata Eric dengan tatapan dalam padaku.
"Suatu saat nanti. Kau pasti akan bertemu dengannya."
Dan aku tidak sanggup lagi menahan air mataku. Aku benci hormon yang membuatku sangat sensitif. Ini membuatku jadi cengeng.
Aku menunduk lantas mengusap air mataku. Aku menarik nafas dalam lantas menghembuskannya lewat mulut. Kulakukan itu dua kali agar sesak dalam dadaku berkurang.
"Disini sangat dingin, aku mau masuk," kataku sambil memaksakan senyum.
"Ya, pergilah," balas Eric.
Aku berjalan meninggalkan Eric. Aku memeluk tubuhku dengan kedua tangan, menghalangi hawa dingin yang mencoba merasuk ke dalam kulitku. Namun aku tetap merasa kedinginan karena pada kenyataannya hawa dingin itu berasal dari dalam hatiku.
Aku masuk ke dalam kamar lalu berdiri di depan foto pernikahan kami yang menempel dengan apik di dinding kamarku.
Tidak ingin terus dilanda kegelisahan, aku membaringkan tubuhku diatas ranjang dan mencoba memejamkan mata. Hal yang selalu aku harapkan, setelah aku membuka mata, aku berharap Eric telah mengingat semuanya.
Rasanya baru sebentar aku terlelap, ponselku berdering nyaring. Aku memiringkan tubuhku untuk menjangkau ponsel yang kuletakkan diatas nakas.
Jordan?
Aku melihat jam yang tertera di layar ponselku. Ternyata masih belum terlalu larut. Sepertinya aku yang tidur terlalu cepat.
Saat aku menerima panggilan itu, hal pertama yang kudengar adalah suara panik Jordan.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
"Jim. Dia tewas di penjara dan sekarang beritanya masuk dalam headline news. Pastikan Eric tidak melihat berita itu, Princess! Aku takut akan terjadi hal buruk pada Eric jika dia tahu Elena telah meninggal."
Jim? Meninggal? Jika berita itu menjadi headline news, semuanya akan terbongkar. Tentang kematian Elena. Tentang penyebab kematian Elena. Dan tentang siapa yang menyebabkan Elena meninggal.
Otakku tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku tidak lagi bisa mendengarkan suara Jordan di seberang telepon. Kugenggam ponselku erat dengan tangan gemetar.
Nyawaku yang rasanya belum terkumpul sepenuhnya seperti mendapat serangan mendadak yang bertubi-tubi. Aku mengerjap beberapa kali sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar.
Aku berdiri di depan pintu kamar. Menajamkan penglihatanku ke sekeliling untuk mengetahui apakah Eric masih terjaga atau sudah terlelap di kamarnya.
Langkah kakiku terasa sangat berat mendekati tangga. Jantungku berdegup tidak karuan. Sayup-sayup kudengar suara dari kamar Eric saat aku sampai di pertengahan tangga. Aku tetap mengayun langkahku menaiki setapak demi setapak anak tangga yang akan mengantarkanku pada Eric.
Aku berhenti melangkah tepat di depan kamar Eric. Aku menelan ludah. Aku ketakutan. Dari sini aku bisa mendengar narasi yang disampaikan oleh pembawa berita. Bukan hanya nama Jim dan Elena yang disebut, namaku juga di sebut oleh pembawa berita itu.
Tanganku bergerak keatas untuk mengetuk pintu kamar Eric. Tapi suara pintu dibuka dengan kasar membuatku mundur beberapa langkah. Eric berdiri di ambang pintu dengan wajah mengeras. Sorot matanya sangat tajam penuh kebencian padaku. Aku takut melihat Eric yang seperti ini. Aku bergerak mundur dan tubuhku membentur pembatas tangga. Aku tersudut.
Gerakan Eric sangat cepat. Satu kali mengerjap dan aku merasakan nafasku tercekat. Wajahku terasa panas. Aku kesulitan meraup oksigen dan paru-paruku seperti terbakar. Eric mencekik leherku dengan sangat kuat.
Kepegang tangan Eric yang mencengkeram leherku untuk melepaskannya. Tapi tangan itu tidak bergerak sama sekali.
"Jadi kau yang menyebabkan Elena terbunuh?! Kau yang membuatku kehilangan Elena, hah?! Aku tidak akan memaafkanmu, J*lang kecil! Kau harus membayar apa yang telah kau lakukan pada Elena! Kau harus membayar nyawa Elena dengan nyawamu!"
Aku ingin mengatakan pada Eric bahwa aku tidak bermaksud membuat Elena terbunuh. Aku ingin meminta maaf pada Eric. Tapi aku tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun karena leherku rasanya semakin sakit. Aku merasa kerongkonganku sebentar lagi akan remuk. Aku meronta, mencoba melepaskan tangan Eric dari leherku, tapi percuma. Kekuatan Eric terlalu besar untukku. Air mataku telah jatuh. Dadaku semakin sesak. Aku tidak bisa bernafas.
Tubuhku terasa semakin lemas. Mataku semakin berat untuk mengerjap. Lalu aku merasakan tubuhku terlempar. Aku mencoba berpegangan pada apapun yang bisa kugapai. Namun hanya udara yang mampu kudapatkan. Aku merasakan perutku menghantam pembatas tangga dengan cukup keras. Sakit, ini sakit sekali. Tapi aku tidak sempat menjerit karena kepalaku lebih dulu terbentur anak tangga. Tubuhku berguling-guling menuruni anak tangga. Beberapa kali kurasakan kepalaku menghantam benda keras. Sebisa mungkin aku memegang perutku supaya tidak terkena benturan dengan mengabaikan rasa nyeri luar biasa di kepalaku. Hingga akhirnya tubuhku berhenti bergerak. Aku tersungkur dibawah anak tangga. Tubuhku terkulai lemas. Jangankan untuk bergerak, untuk mengeluarkan suara saja aku merasa bibir dan lidahku tidak berdaya. Aku merasa kepalaku basah. Sesuatu mengalir dari kepala melewati kelopak mataku hingga jatuh di lantai. Itu darah. darah segar itu terus mengucur dari kepalaku.
Lalu kedua mataku menatap ke bagian bawah tubuhku. Aku melihat cairan berwarna merah mengalir diantara kedua kakiku. Perutku sangat sakit. Sangat sakit. Aku ingin menjerit, tapi tidak bisa. Tenggorokanku juga sangat sakit. Aku panik. Aku takut. Aku sakit.
Aku menggerakkan kepalaku melihat keatas. Kulihat Eric berdiri diujung tangga menatapku penuh kebencian. Pandanganku mulai kabur. Rasa sakit luar biasa di sekujur tubuhku tidak dapat kutahan lagi.
"Ba-yi-ku ...." Sekuat tenaga aku mencoba bersuara dan menggerakkan tanganku untuk menggapai Eric.
Aku menatap penuh permohonan pada Eric dengan mataku yang semakin berat. Kulihat Eric bergerak, lalu semua menjadi gelap.
*
*
*
*
*
tbc.
Aduh, sebenarnya aku nggak tega nulis part ini.
See you next part, Love.