100 Days

100 Days
Part 73



****Tarik nafas sebelum baca !


Jangan baca di tempat umum !


Takut disangka sakit jiwa karena senyum-senyum sendiri.


Happy reading, dears**** !


********


Hingga saat semua hidangan sudah siap, Liam benar-benar tidak mau lepas dari Eric. Dia duduk di pangkuan Eric dengan manja.


"Grandpa, where's Daddy ?" Tanya Liam pada sang kakek yang duduk di kepala meja.


Mati aku ! Batin Isabel. Dia melupakan satu hal itu. Kakak semata wayangnya masih menjadi PR hingga saat ini. Dan keberadaan Eric di rumahnya bisa menjadi bencana besar untuknya.


Isabel menatap cemas pada Eric, mencoba mengirimkan sinyal bahaya pada pria itu. Tapi Isabel harus kecewa, karena ternyata Eric terlihat sangat santai, sesekali menggoda Liam dengan meniup telinga kecil bocah itu yang membuat Liam tertawa kegelian.


"Daddy dalam perjalanan pulang, Sayang." Jawab Jhon.


Kepala Isabel rasanya sudah seperti metronome, mengayun ke kanan dan kiri terus menerus hingga membuatnya pening.


Bagaimana kalau Mike membuat masalah dengan Eric ? Dan Eric ? Bagaimana bisa dia bersikap sesantai itu ? Seolah kehadiran Mike bukan masalah untuknya.


"Nah, itu dia sudah datang." Jhon menunjuk ke arah rumah dimana sosok yang ditanyakan oleh Liam sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


Mike tersenyum lebar mendapati seluruh anggota keluarganya sudah berkumpul untuk merayakan kelulusan adik semata wayangnya.


"Daddy !" Seru Liam. Bocah itu tersenyum lebar lalu melambai dengan penuh semangat. Mike balas melambaikan tangan dengan senyum semakin lebar.


Namun senyum Mike pudar saat melihat anak laki-lakinya tengah duduk dengan manja di pangkuan seorang laki-laki asing. Tidak, bukan asing. Tapi seseorang diluar anggota keluarganya yang kebetulan tidak dia sukai.


Dari jarak beberapa meter saja Isabel sudah bisa melihat deathglare yang diberikan Mike pada Eric.


Isabel menelan ludah saat mendapat tatapan menusuk dari kakak semata wayangnya itu. Andai tatapan mata bisa membunuh, bisa dipastikan saat ini Isabel sudah terkapar tidak bernyawa.


Meja makan bundar bertaplak putih bersih itu seolah baru saja berubah menjadi meja persembahan yang sebentar lagi akan berubah warna menjadi merah darah.


Isabel menahan nafas ketika langkah Mike berhenti di samping kursi yang terletak diantara dirinya dan Jhon. Tatapannya tajam menghujam seseorang yang duduk di antara Emma dan Isabel.


"Selamat siang, Mr. Bennings." Eric berinisiatif menyapa lebih dulu, membalas deathglare Mike dengan senyum ramah.


Bukannya menjawab sapaan Eric, Mike memilih menggeser kursi dan segera duduk disana dengan rahang mengeras.


Satu yang menjadi pertanyaan Mike. Bagaimana bisa kedua orang tua bahkan anak laki-lakinya menerima kehadiran Eric dengan begitu hangat ?


"Anak kecil adalah peniru ulung. Orang tua harus memberi contoh yang baik." Sindir Jhon saat putra sulungnya tidak menjawab sapaan Eric. Itu sangat tidak sopan. Apalagi sebagai tuan rumah.


Merasa tersindir, Mike menarik nafas dalam lantas memaksakan sebuah senyuman yang sama sekali tidak tulus. "Selamat siang, Mr. Michaels." Balasnya kemudian.


"Eric saja. Terdengar lebih santai." Balas Eric.


Mike enggan membalas lagi. Dia beralih menatap tajam pada adiknya yang menundukkan wajah sambil memainkan sendok yang terletak di sebelah piringnya.


"Daddy ! Daddy harus coba masakan Uncle Eric. Semuanya enak !" Suara Liam mengalihkan perhatian Mike. Bocah itu mengacungkan dua jempol mungilnya sambil tersenyum lebar, memamerkan gigi susunya yang putih bersih.


Sedikit terkejut, tapi tidak heran, mengingat pria yang sedang dibicarakan putranya adalah pemilik sebuah cafe yang terkenal dengan kelezatan makanan dan minumannya.


Saat menatap Liam, tatapan Mike berubah hangat. "Liam sudah besar, bukan ?! Bagaimana kalau Liam duduk di sebelah Daddy dan Daddy ambilkan makan sendiri ?" Bujuk Mike. Dia ingin putranya lepas dari Eric.


"No, Daddy !" Tolak Liam dengan gaya sok dewasa. "Liam sudah menjadi bestfriend Uncle Eric. Liam ingin makan dengan Uncle Eric." Kata Liam dengan suara cadelnya yang lucu.


"Tapi kalau Liam duduk dipangkuan Uncle, Uncle jadi susah untuk makan." Bujuk Mike lembut.


"No !" Liam kembali melingkarkan tangan kecilnya di leher Eric posesif.


"Liam !" Mike memberi peringatan dengan nada pelan tapi tegas. Percuma, bocah kecil itu tetap bergeming dan semakin mengeratkan pelukannya pada Eric. Samar Mike bisa melihat seringai tipis di bibir Eric.


"Liam anak baik, bukan ?! Anak baik tidak membuat orang lain kesusahan untuk makan." Mike memperingati lagi.


Bocah kecil itu menoleh pada ayahnya. Dia mengerjap lucu, "Apa Daddy jealous ? Karena Uncle Eric lebih handsome dari Daddy ?" Tanyanya polos.


Sontak pertanyaan bocah itu membuat orang dewasa disana--kecuali Mike--terbahak-bahak.


"Sudah, Mike. Biarkan saja." Jhon memberi Mike isyarat untuk tidak memaksa Liam. "Semua sudah berkumpul, jadi kita mulai saja makan siangnya." Putus Jhon yang melihat wajah putra sulungnya merah padam menahan malu akibat ucapan bocah 4 tahun itu. Dipermalukan oleh bocah seperti itu tentu saja menjadi pukulan telak bagi Mike.


"Congratulation, Sweet berry. This lunch is special for your graduation. Very proud to you, My little angel." Kata Jhon, bangga dengan putrinya.


Jhon mengangkat gelasnya, diikuti yang lain. Bersulang untuk kelulusan Isabel.


Isabel sendiri merasa sangat bahagia memiliki keluarga yang sangat mencintainya. Sangat perhatian padanya. Dia merasa bersalah telah berprasangka buruk karena tidak mendapat sambutan hangat saat pulang tadi. Padahal keluarganya justru telah menyiapkan perayaan kecil-kecilan untuknya.


Rasa sesal karena telah menilai buruk keluarganya masih memenuhi relung hati Isabel. Kebodohan saat ia memilih untuk pergi dari rumah hanya karena keegoisan diri. Hh....Isabel sangat menyesal.


Tapi tanpa kebodohannya itu, Isabel tidak mungkin bertemu dengan Eric. Pria yang saat ini dia cintai. Dan pria yang saat ini tengah duduk diantara anggota keluarganya untuk merayakan kelulusannya.


Sesekali Eric melirik Isabel, tersenyum hangat. Sesekali dia melirik Mike yang setia memberikan deathglare padanya.


Harus Mike akui kalau masakan Eric sangat lezat. Tapi rasa masakan itu tidak bisa mengubah suasana hatinya yang seperti baru saja ditenggelamkan dalam lautan lumpur di Indonesia.


Melihat putra tunggalnya yang begitu dekat dengan Eric membuat Mike kesal. Eric sudah membuat Liam melawan padanya.


"Terima kasih, Eric. Kau sudah menyajikan banyak makanan lezat untuk kami." Kata Emma tulus. Sejak pagi, Eric sudah bertandang ke kediaman keluarga Bennings untuk memberi kejutan pada Isabel. Jangan tanya darimana dia tahu Isabel lulus ! Dia adalah Eric Michaels, kalian ingat ?!


Mereka sudah menyelesaikan makan siang. Dan sampai makan selesai pun Liam masih betah duduk di pangkuan Eric. Tidak peduli dengan raut garang ayahnya.


"Sama-sama, Mrs. Bennings. Saya senang melakukannya." Balas Eric.


"Apa Uncle Eric akan sering kesini ?" Liam mendongak, menatap Eric penuh harap.


"Yeeeaaaah....!" Liam melonjak-lonjak kegirangan dalam pangkuan Eric. "I like you, Uncle. Aku juga senang bermain dengan Uncle. Uncle pandai memasak. Tidak seperti Daddy yang hanya bisa masak telur gosong." Kata Liam, menatap sang ayah dengan wajah cemberut.


Mike ingin marah, apalagi saat melihat seringai di bibir Eric. Jelas-jelas pria itu menantangnya. Tapi dia tidak mungkin melakukannya di hadapan Liam. Yang bisa dia lakukan adalah menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk menetralisir amarahnya.


"Okay, Liam. Sudah saatnya Liam tidur siang. Ayo, Daddy akan mengantarmu ke kamar." Mike memutuskan untuk menyingkirkan Liam terlebih dulu. Kalau dibiarkan lama-lama, bocah itu bisa membuat harga dirinya semakin jatuh di hadapan Eric.


Wajah ceria Liam langsung berubah cemberut. Pipinya menggembung, membuat wajahnya semakin terlihat bulat. "Aku masih ingin bermain dengan Uncle Eric." Gerutunya.


"Tidak ada bantahan, Liam. Liam anak baik, bukan ?!" Tegas Mike.


Liam masih bergeming di pangkuan Eric, memasang wajah sedih untuk menarik simpati siapa saja yang melihatnya.


"Jangan memasang wajah seperti itu, Liam. Ayo, saatnya tidur siang." Mike berdiri, menggeser kursi lalu melangkah mendekat pada putranya.


"Daddy benar, Little hero." Eric menarik pipi gembul Liam dengan ibu jari dan telunjuknya membuat senyuman di bibir mungil itu. "Kalau kau ingin jadi pahlawan super yang hebat, kau harus menuruti apa kata Daddy." Bujuk Eric.


Liam menatap Eric sejenak, "Promise, Uncle besok kesini lagi ?" Bocah itu mengacungkan kelingking kecilnya.


Eric menatap Isabel dan Mike bergantian sebelum kembali pada bocah kecil itu. Eric menautkan kelingkingnya, yang bahkan lebih besar dari jempol Liam. "Uncle usahakan. Kalau Uncle tidak bisa datang, Uncle janji akan mengirim sekotak besar es krim rasa vanila kesukaanmu. Uncle yang akan membuatnya sendiri spesial untuk Liam, okay ?!"


"Okay, Uncle. I like you very much !" Liam tersenyum lebar lalu mencium pipi Eric. Setelah itu dia turun dari pangkuan Eric dan meraih tangan Mike. Lagi-lagi Eric memberi tatapan mengejek yang menyebalkan pada Mike.


"Dasar penjilat." Gumam Mike lirih sambil menatap tajam pada Eric. Eric membalasnya dengan senyum puas. Setelah itu, Mike membawa Liam masuk ke dalam rumah untuk menidurkannya.


"Sepertinya Liam sangat menyukaimu." Kata Emma yang dari tadi memperhatikan.


"Ya, aku setuju. Bocah itu bahkan tidak mau lepas darimu." Jhon menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh.


"Saya sangat menyukai anak kecil. Mungkin itu yang membuat Liam cepat akrab dengan saya." Eric tersenyum kecil.


Dari tadi Isabel hanya menjadi penonton. Dia senang Eric bisa menghadapi Mike dengan mudah. Bahkan secara tidak langsung membuat putra semata wayang Mike 'melawan' ayahnya sendiri demi dirinya.


Semoga saja hati Mike perlahan-lahan akan luluh dan bisa melihat kebaikan dalam diri Eric. Isabel salut dengan cara Eric untuk mendekati kedua orang tuanya terlebih dulu. Melihat kedua orang tuanya yang bisa menerima kehadiran Eric di tengah-tengah keluarga mereka adalah kebahagiaan tersendiri.


"Dari mana kau tahu hari ini aku lulus ?" Tanya Isabel saat mengantar Eric ke depan. Eric harus kembali pada pekerjaan yang sejak pagi dia tinggalkan.


"I know everything about you, Bells." Jawaban Eric membuat Isabel menoleh, menyorot kedua iris kelabu Eric yang tengah menyorotnya teduh.


Apa ini ? Jantung Isabel berdegup sangat cepat. Kata-kata Eric mampu membuatnya melayang. Wajah meronanya pun tak bisa lagi dia sembunyikan. Dia pasrah, membiarkan Eric melihatnya.


Sudut bibir Eric melengkung membentuk sebuah senyuman. Dia tahu Isabel tersipu karena kata-katanya. Tapi dia juga tidak bisa berbohong. Dia sudah menunggu cukup lama untuk saat ini.


Kebungkamannya tentang apa yang dia rasakan pada gadis itu hanya karena dia ingin Isabel fokus pada pendidikannya. Saat ini, saat Isabel sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya, Eric harus jujur.


Kejujurannya pada orang tua Isabel memberinya peluang lebih besar untuk mendapatkan gadis yang dia cintai itu. Dia tahu, keluarga Bennings mempunyai prinsip yang tegas mengenai sebuah hubungan. Maka dari itu, Eric pun tidak ingin bermain-main mengenai hubungannya dengan Isabel.


"Kau tahu semuanya ?" Isabel menatap dalam kedua mata itu.


"Tentu saja. Aku sudah lama menunggu saat ini tiba." Terang Eric.


Isabel mengerjap pelan. Masih mencoba mencerna setiap kata yang Eric keluarkan. Lalu dia merasakan genggaman lembut pada kedua tangannya.


"Sekarang, aku tidak bisa menunggu lagi. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi." Kata Eric membalas tatapan dalam iris biru Isabel. Isabel menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. "I love you, Bells."


Telinga Isabel berdengung. Waktu seolah berhenti berputar. Benarkah apa yang baru saja dia dengar ? Ini....tidak bisa dipercaya. Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Eric membuat Isabel merinding.


Tidak tahu kenapa, kedua mata Isabel terasa panas. Bibirnya tersenyum, tapi sudut matanya mengeluarkan setetes cairan bening.


Dia tidak merasakan ribuan kupu-kupu yang menggelitik di perutnya, tapi dia merasakan arus listrik bertegangan kecil menjalar dari genggaman tangan Eric ke seluruh tubuh dan berpusat pada jantungnya.


Eric mengusap air mata yang luruh di pipi kiri Isabel dengan ibu jarinya. "Kuharap ini adalah air mata bahagiamu." Kata Eric.


Isabel mengeluarkan nafas kasar dari mulutnya. Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum. Lalu dia memeluk Eric sangat erat sambil memejamkan mata. Menghirup aroma tubuh Eric yang sangat menenangkan.


"Terima kasih sudah memberiku air mata bahagiamu." Ucap Eric membalas pelukan Isabel. "Setidaknya kalau kita tenggelam, kita bisa tenggelam bersama dalam keadaan bahagia karena air matamu."


Isabel terkekeh sambil membersit ingus. Dia memukul punggung Eric pelan. "I love you too, Eric."


Mereka larut dalam pelukan itu untuk beberapa saat. Menikmati kehangatan dan kerinduan yang mereka rasakan. Perasaan lega dan bahagia tidak bisa mereka hindari. Rasa cinta yang saling membalas, bukankah itu alasan yang cukup untuk terlalu bahagia ?


"Oh, God ! Aku ingin sekali menciummu." Bisik Eric sebelum melepaskan pelukannya. Melipat tangan di pinggang sambil menggigit bibir bawah dengan ekspresi cemas. "Tapi tiga pasang mata yang sedang memperhatikan kita tentu saja akan langsung menguburku hidup-hidup jika aku melakukannya disini." Eric terkekeh.


Isabel tergelak, memukul pelan dada bidang Eric. "Tentu saja. Disini Yang Mulia Raja Jhon Bennings, Ratu Emma Bennings dan Putra Mahkota Mike Bennings adalah yang berkuasa." Isabel tersenyum lebar. Dia juga menyadari jika ketiga orang itu dari tadi memperhatikan mereka.


Tapi tidak ada yang bisa menghalangi kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini. Sekalipun itu adalah Mike Bennings dengan segala peringatan kerasnya.


*


*


*


*


*


*


tbc.


Sudah lega karena akhirnya mereka jadian ? Ya, saya juga lega.


Kalau udah seneng, jangan lupa like, vote dan comment. Tekan juga tuh tanda cinta biar bisa tau kalo part baru udah up.


Banyak-banyak berdoa ya, semoga tidak muncul ide jahat di otak saya untuk mereka, hahahha.


See you next part, Love !