100 Days

100 Days
Jalan Tuhan



Sejak saat itu aku tinggal sendiri di rumah Nenekku. Ibuku setiap bulan mengirimkanku uang jajan dan biaya sekolah hidupku sehari-hari. Tapi Ibuku jarang dan bahkan hampir tak pernah dia menengokku. Walau pun begitu, aku tak menganggap penting semua itu. Karna aku sudah terbiasa dengan kehidupanku yang seperti itu.


"Yu, kamu tinggal sendiri ta di sini?!" tanya teman Ayunda.


"Iya Ca. Ca kamu mau gak nginep di rumah aku??" tanyaku.


"Gak Ahh. Rumahmu serem gitu. Udah ya aku pulang, keburu sore nih. Daa,," ucapnya.


Setelah aku lulus sekolah. Aku tidak memunggu lama, aku langsung ikut bekerja bersama teman sekolah SMP ku dulu. Kami berniat kerja di Daerah Jabodetabek. Awalnya kami di janjikan bekerja di sebuah pabrik otomotif di Daerah Bekasi. Tapi selama hampir 1 Bulan kami di sana. Kami tak kunjung di beri pekerja juga.


"Ya Allah. Kok gak dapat panggilan juga ya Tre?!" ucap Shita.


"Sabar Ta. Mungkin ngantri." sahutku.


Untuk menopang biaya hidup sehari-hari dan kos-kosan yang kami tinggali. Kami pun memutuskan bekerja sebagai buruh cuci dan pembatu harian dari rumah ke rumah, di komplek tempat kami tinggal.


Aku yang bertugas bersih-bersih rumah.Sedangkan Ayushita temanku. Dia bagian nyuci dan nyetlika.


"Ta!!! Bantuin angkat jemuran!! Hujan nih!!" seruku dari lantai Atas.


Kadang 3-4 rumah yang harus kami kerjakan setiap harinya. Capek memang, tapi kami puas dengan bayaran yang kami dapatkan.


Nama panggilan kami sangat mirip. Maka dari itu aku meminta Ayushita untuk memanggilku Tresno. Sedangkan Ayushita aku panggil Shita, agar aku juga tidak kikuk jika memanggilnya dengan sebutan Ayu.


"Ta, capek Ta."


"Sama Tre. Kakiku kaku semua." jawabnya.


Walau aku sering mendapatkan situasi yang sulit seperti ini. Tapi aku tak mau terus bertopang tangan dengan Ibuku, yang bahkan tak perduli dengan nasibku, anak kandungnya sendiri.


Sekitar 3 Bulan kami menjalani profesi sebagai pembantu. Kami mencoba mencari pekerjaan lain. Siapa tau kami mendapatkan pekerjaan yang layak. Aku di terima bekerja paruh waktu di salah satu minimarket dekat kos-kosan kami. Aku selalu mengambil shift malam agar siang aku bisa membatu Ayushita membersihkan rumah bos-bos kami.


"Tre, maaf ya. Gegara aku kamu jadi sial kaya gini." ucap Shita dengan muka sedih berbaring di sebelahku.


"Ngopow lho. Siapa yang sial, enggak kok, aku malah bersyukur bisa sejauh ini. Bisa ngenal kamu lebih jauh. Ternyata yang namanya Ayushita yang anak paling pinter dan cantik di kelas. Kalau tidur ngorok ya ha ha." Ucapku menggoda Shita sembari menyoba memberantahkan rambutnya.


Shita hanya tertawa dan terus berusaha menghalangku.


"Kamu gak masuk to?" tanyanya sembari merapikan rambutnya.


"Kan ini Sabtu, lupa ya??" godaku.


"Eh kita jalan yuk. Cari camilan di Galaxy. Aku yang traktir deh." ucapku sembari bangun dan merapikan penampilanku.


"Ayuk deh." ucap Shita bergegas bangun dari tempat tidur.


Setelah kami berada di Bekasi. Kami berteman dekat bahkan bersahabat. Kami bersama di Bekasi hampir 3 Tahun bersama. Setiap lebaran kami pulang. Tapi kami milih kembali karna kami rasa sudah sangat nyaman di situasi seperti itu.


"Balek maneh baleh maneh. Padahal udah tau kerjanya cuman jadi babu ya Tre. Tapi kok nyaman ya?!" ucap Shita.


"Iya Ta. Yang penting aku bisa denger kamu ngorok Ta. Merdu." godaku.


Tak berapa lama kami kembali. Kami mendapat masalah di pekerjaan kami. Shita kedapatan menjalin hubungan dengan salah satu anak bos kami.


Kami langsung di usir secara tidak hormat, sejak saat itu juga. Peminat jasa kami pun berkurang. Beberapa kali kami membersihkan rumah warga. Tapi perlakuan buruk yang kami dapatkan.


"Pembantu panggilan, ternyata gak beda sama PSK. Sama-sama murahan. Sama-sama gak tau diri." cerca salah satu Bos kami.


Semua tak berhenti sampai di situ. Shita di tuduh mencuri uang milik bos kami yang jumlahnya tidak sedikit bagi kami. Aku tau Shita bukan orang yang seperti itu. Jika di hitung, kami juga tak kekurangan makan dan bisa membayar kos-kosan kami. Tapi ntah kenapa, saat itu Shita hanya diam dan menunduk seakan dia memang melakukan nya.


"Ta, kamu jujur sama aku. Kamu gak ngambil uang itu kan Ta?!" tanyaku kepada Shita yang duduk terdiam di kamar kos-kosan kami.


"Maaf Tre." ucap Shita tak berani menoleh ke arahku.


"Ojo maaf to Ta! Aku tau kamu gak ngelakuin itu." ucapku mendekat ke depan Shita. Aku meraih tangan dan menatap mukanya.


"Maaf Tre, tapi aku butuh." Shita melepaskan tanganku dan langsung berdiri mengacuhkanku.


"Aku butuh Tre! Aku butuh buat beli baju, buat beli tas, aku malu kalau teman-teman Ega terus ngolok-olok aku karna pakaianku gak sebagus mereka." ucap Shita dengan lantang ke arahku.


"Ya Allah Ta. Sejak kapan kamu kaya gitu?! Kamu gak kaya Shita yang aku kenal selama ini. Karna siapa? Karna Ega?! Kenapa kamu masih hubungan sih sama Ega?! Ega itu kan anaknya bos kita Ta." sergahku.


Shita hanya terdiam tak menjawab pertanyaanku. Tak lama dia pergi keluar kamar. Aku hanya terdiam tak habis pikir dengan apa yang Shita lakukan. Benar-benar bukan Shita yang aku kenal.


Ya Allah. Gumamku dalam hati.


Aku bergegas bersiap untuk bekerja waktu itu. Sejak malam itu aku jarang bertemu dan mengobrol dengan Shita. Shita terus menghindar saat melihatku. Kami pun tak bersama-sama bekerja membersihkan rumah bos kami. Shita selalu menolak jika aku ajak pergi bekerja. Aku terpaksa pergi sendiri mengerjakan semua tugas dari rumah ke rumah.


"Aku capek Tre." sahutnya.


"Ya udah, aku aja yang pergi. Kamu istirahat aja." ucapku.


Di rumah ibu Ananda. Bos yang uangnya Shita ambil. Aku harus bekerja tanpa gaji selama 1 Tahun di sana, sebagai ganti rugi atas uang yang Shita ambil. Tadinya aku ingin meminta Shita balikkan semua uang itu. Tapi Shita sudah terlanjur menghabiskannya.


"Denger ya Mbak. Satu Tahun aja gak cukup lho, ganti uang dan barang yang temenmu ambil." hardik Bu Ananda.


Beberapa bulan setelah itu. Shita harus terpaksa pulang karna ibunya sakit di Desa. Aku tetap tinggal di sana untuk menggantikan semua pekerjaan Shita di rumah ibu Ananda.


"Gak apa-apa Shit. Pulang aja, salam ya sama ibumu di kampung." ucapku kepada Shita yang sedang merapikan bajunya.


"Maaf ya Tre. Gegara aku kamu kaya gini Tre. Aku nyesel, aku yang salah Tre, maaf ya Tre." ucap Shita sembari tersedu menangis memelukku.


"Gak apa-apa Shit. Gak apa-apa kok. Kita kan temen, sahabat. Kamu yang hati-hati ya di jalan. Jangan lupa kabari aku jika sudah sampai." ucapku kepada Shita yang masih menangis tersedu.


Aku sesekali mencoba menyeka air mata Shita. Sangat terlihat jelas penyesalan dan kesedihan dalam dirinya.


"Hati-hati ya Ta!!" seruku.


Sejak kepulangan Shita, aku jarang dan hampir tak mendengar kabar darinya. Sampai saat aku pulang ke Desa aku mendengar Shita bekerja di Jakarta di sebuah perusahaan percetakan surat kabar. Sejak saat itu pula aku memutuskan untuk tidak kembali ke Bekasi, aku melamar kerja di pabrik Gula di Daerahku. Aku bekerja sudah 3 Tahun di situ. Hingga saat ini pun aku masih bekerja di sana.


......................


Aku keluar ruang Dokter dengan keadaan tertatih. Sangat syok dan kaget aku mendengar apa yang Dokter sampaikan. Aku duduk di kursi ruang tunggu yang tak jauh dari ruangan itu. Berlahan air mataku menetes dan tagisku pecah seketika. Aku menangis menjadi-jadi tak tau nasib apa lagi yang menimpaku ini.


"Ini hasil akhir dari pemeriksaan kemaren. Hasilnya menunjukan bahwa ada Tumor Ganas yang bersarang di otak sebelah kiri Anda." jelas Dokter itu. "Kita harus segera mengambil tindakan pengangkatan. Tapi itu juga beresiko, karna memang ini cukup serius. Jika tindakan Operasi tidak di lakukan. Saya tidak bisa memastikan akan berapa lama lagi umur Anda. Mungkin tak akan lebih dari 3 Bulan." imbuh Dokter itu menunjukan hasil ronsen dan laporan lap.


"Whaggg waaagggg." tangisku semakin mejadi di ruang tunggu.


Sampai ada beberapa Suster yang datang menenangkanku. Tak lama juga, seorang Dokter yang menanganiku, juga ikut keluar untuk menenangkanku.


"Kak, kak. Kakak gak apa-apa?!" tanya seorang Suster.


"Tolong ambilkan minum." ucap Seorang Dokter.


Sekitar setengah Jam aku menangis. Aku tak banyak bicara, aku langsung keluar dari Rumah Sakit itu. Aku memesan sebuah taksi online untuk mengantarkan ku pulang ke rumah. Aku meninggalkan motorku di rumah sakit. Karna kondisiku sedang kurang fit untuk berkendara.


Padahal aku tak merasa sakit. Aku hanya pusing biasa. Kenapa aku bisa begini? Apa salahku? Apa salahku Ya Allah?! Gumamku dalam hati.


Sekali lagi, tangisku pecah menjadi di dalam Taksi. Sampai driver taksi online yang aku tumpangi, memutuskan berhenti dan mencoba menenangkanku. Dia begitu panik, dengan kondisiku saat itu.


......................


Sampai aku di rumah. Aku hanya bisa duduk termenung menatap foto Nenek yang terpajang di dinding rumah kami. Sesekali aku tersenyum dan menangis seperti orang tak waras. Aku tak tau apa yang harus aku lalukan. Aku benar-benar kehilangan akal sehatku.


"Wuahahahahggg hag ahggg..!!"


Aku mencoba beberapa kali menghubungi ibu dan ayahku. Tapi tak satu pun teleponku mereka angkat. Aku membanting ponselku ke lantai karna kesal. Aku kembali menangis menjadi-jadi di kasurku.


Apa? Apa yang harus aku lakukan?! Hidupku gak akan lama lagi. Gumamku dalam hati. Aku terus menangis menjadi-jadi.


...****************...