
"Aku akan mengatakan pada Eric yang sebenarnya," kata Chloe. Dia sudah setengah mengangkat tubuh saat aku menahan tangannya. Aku menggeleng. Tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu Eric.
"Jangan katakan apapun padanya," cegahku lirih.
Chloe menghela nafas lantas kembali duduk di tepi ranjang bersamaku. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca.
"Ini terlalu kejam untukmu, Isabel. Aku tidak bisa membiarkan kakakku terus menyakitimu." Kulihat alis Chloe berkerut, itu menandakan dia khawatir padaku.
"Aku bisa mengatasinya. Percayalah padaku," ucapku meyakinkan Chloe. Aku tidak ingin membuat kesehatan Eric memburuk jika Chloe memaksakan ingatannya. Aku tahu ini sakit, tapi aku masih bisa mengatasinya. Aku hanya butuh teman bicara untuk meringankan beban dihatiku.
Tepat saat aku akan keluar dari kamar Chloe, aku mendengar bunyi sesuatu terjatuh dari kamar Eric. Aku dan Chloe saling berpandangan, lantas kami bergegas menuju kamar Eric.
"Eric?" Aku berlari menghampiri Eric yang berusaha bangkit dari lantai. Aku membantunya berdiri lantas duduk di tepi ranjang.
"Kau bisa memanggilku jika membutuhkan sesuatu," kataku.
Chloe meberikan gelas berisi air putih padaku untuk diberikan pada Eric.
"Aku tidak ingin minum," Eric menepis gelas yang kuberikan padanya.
Chloe mengambil gelas itu dari tanganku lalu meletakkannya kembali diatas nakas. Dia duduk di samping kiri Eric. "Lalu apa yang ingin kau lakukan hingga kau terjatuh seperti itu?"
"Mimpi buruk," jawab Eric sambil melirik pada pergelangan tanganku. Aku tahu apa yang dia lihat. Gelang mutiara hitamku.
Aku dan Chloe saling melempar pandangan lagi. Aku baru meninggalkan kamar Eric sekitar tiga puluh menit dan Eric sudah bermimpi buruk. Apa yang dimimpikan olehnya hingga dia terjatuh dari ranjang?
"Apa yang kau mimpikan?" tanya Chloe penasaran. Sebenarnya aku juga penasaran, tapi aku sadar siapa diriku saat ini dimata Eric. Sehingga aku harus menahan diri untuk tidak bertanya lebih.
Eric menunduk lantas menutup mata. Mungkin dia berusaha mengingat mimpinya.
"Pantai, sunset, iris biru ... akh ...!" Eric mendesis sambil memegangi kepalanya. Dia kesakitan.
"Jangan dipaksakan!" Refleks aku menyentuh bahu Eric karena khawatir.
Eric melepaskan tangannya dari kepala lantas menoleh cepat padaku. Dia menatapku tidak suka, jadi aku langsung menurunkan tanganku dari bahunya sambil menelan ludah.
"Sebaiknya kau istirahat," kata Chloe yang berhasil membuat perhatian Eric beralih dariku.
Aku segera berdiri, memberi ruang pada Eric untuk merebahkan tubuhnya. Aku menyangga tubuhnya dengan hati-hati sebelum melepaskan tanganku dari sana. Lalu Chloe menarik selimut hingga sebatas perut Eric.
"Tidurlah, kau perlu banyak istirahat," kata Chloe kemudian.
Begitu Eric memejamkan mata, aku dan Chloe segera keluar dari kamar Eric. Aku membawa gelas berisi air putih dari kamar Eric untuk menggantinya dengan yang baru.
"Kau juga harus istirahat, Isabel." Chloe mengusap lenganku sambil tersenyum hangat.
"Hm, setelah aku mengganti air minum Eric," balasku.
Aku berjalan ke dapur untuk mengganti gelas Eric dengan yang baru lalu mengisinya dengan air putih. Setelah itu aku kembali ke atas. Aku membuka pintu kamar Eric dengan sangat pelan, berusaha tidak membuat suara sedikitpun. Aku masuk lantas meletakkan gelas yang kubawa diatas nakas.
"Katakan dengan jujur, dari mana kau mendapatkan gelang itu?"
Tubuhku berjingkat karena terkejut dengan suara Eric yang tiba-tiba. Beruntung aku sudah meletakkan gelas yang ada di tanganku. Kalau tidak, aku yakin akan menjatuhkan gelas itu karena terkejut. Aku melihat Eric memicingkan mata curiga padaku.
Susah payah aku menelan ludah lalu memutar tubuhku menghadap Eric yang kini telah duduk di tepi ranjang.
"Sudah kukatakan aku mendapatkannya dari suamiku," jawabku tetap mempertahankan suara supaya tidak begetar.
"Aku melihat gelang itu dalam mimpiku."
Aku cukup terkejut mendengar Eric mengatakannya. Apa dia ingat kencan pertama kami? Pantai? Sunset? That was our first date.
Aku bingung harus mengatakan apa. Mulutku terkunci rapat sambil menggigit bibir. Aku mengarahkan mataku kemanapun asal bukan wajah Eric. Aku gugup, aku ... takut. Aku ingin Eric mengingatku, tapi aku takut untuk bicara jujur. Semua kata yang sudah ada diujung lidah seolah tertelan kembali karena aura Eric yang menakutkan.
"Pergilah, aku ingin istirahat," titah Eric yang membuatku menghembuskan nafas lega. Setelah membantunya berbaring, aku segera keluar dari kamar Eric.
"Kuharap kau segera mengingat tentang kita, Baby," gumamku lirih dibalik pintu kamar Eric.
Aku berjalan menuruni anak tangga menuju ke kamarku. Aku masuk dan mendudukkan diriku di tepi ranjang. Kubuka laci nakas dan kuambil kotak beludru hitam berisi cincin pernikahan Eric. Aku membuka kotak itu lantas mengambil isinya. Kucium cincin itu dengan penuh kerinduan.
Setelah mengembalikan cincin itu ke tempatnya, aku mengambil bingkai foto yang berada diatas nakas. Bingkai berisi foto pernikahan kami dalam ukuran lebih kecil yang selalu menjadi teman tidurku. Aku memeluk erat bingkai foto itu lalu perlahan merebahkan tubuhku diatas ranjang. Aku membiarkan air mataku yang terus menetes sambil memejamkan mata. Kunikmati setiap rasa rindu dan sakit yang berdesakan dalam hatiku. Membiarkan dua rasa itu berebut tempat disana hingga kesadaranku mulai hilang.
Setiap hari yang kujalani selalu dihiasi oleh rasa sakit karena sikap Eric yang dingin terhadapku. Seperti vaksin yang disuntikkan ke dalam hatiku secara rutin dan berkala, lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan sikap Eric yang terkadang semaunya sendiri. Aku mulai bisa menganggap kalimat-kalimat tajam yang terlontar dari mulut Eric sebagai makanan keseharianku. Chloe pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dia percaya kalau aku bisa menjaga diri dengan baik.
Sejak Eric pulang, aku melarang keluargaku untuk berkunjung kesini. Aku juga tidak pernah mengunjungi mereka karena aku hampir tidak pernah meninggalkan rumah. Waktuku habis untuk mengurus Eric. Tapi aku tidak pernah menyesalinya. Semakin hari aku semakin menikmati peranku sebagai asisten Eric. Bagiku, berada di dekat Eric sudah cukup.
Namun, entah kenapa hari ini aku sangat merindukan keluargaku. Aku ingin sekali bertemu Mom dan Dad. Lalu aku memberanikan diri untuk meminta izin pada Eric. Aku ingin berkunjung ke rumah orang tuaku.
Aku mengetuk pintu kamar Eric, setelah mendapat sahutan dari dalam, aku segera membukanya. Perlahan aku berjalan mendekat pada Eric yang tengah berkutat di depan layar laptopnya. Dia mulai memeriksa pekerjaan yang telah lama dia tinggalkan.
Sejenak Eric mengangkat wajah, melihatku yang berjalan ke arahnya.
"Aku ingin meminta izin untuk mengunjungi keluargaku," kataku. Eric sudah bisa mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, jadi aku bisa tenang jika harus meninggalkannya selama beberapa jam.
Eric mengernyit mendengarku. Dia menutup laptop lantas merangkum jemarinya untuk menopang dagu.
"Sudah satu bulan kau tidak meninggalkan rumah ini, kupikir kau tidak merindukan suamimu," kata Eric sarkas.
Aku sangat merindukanmu, Baby! Ingin sekali aku meneriakkan kalimat itu, tapi harus kutelan kembali kata-kataku. Aku tidak mungkin mengatakan itu pada Boss-ku.
"Ya, aku sangat merindukannya." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutku.
"Aku tidak membutuhkan dirimu lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kalau kau ingin berhenti dan kembali bersama dengan suamimu, aku tidak keberatan."
Refleks mulutku menganga mendengar kalimat Eric. Dia memintaku berhenti? Tidak! Itu tidak boleh terjadi!
"Aku hanya pergi sebentar, bukan ingin berhenti," protesku dengan suara sehalus mungkin supaya tidak dibilang kurang ajar terhadap majikan yang sudah mempekerjakanku.
Eric mengangkat alis sambil menarik bibir ke bawah lantas menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Dia menatapku lekat. "Aku tidak akan menghalangimu jika kau ingin bersama dengan suamimu. Kurasa dia merindukan sentuhanmu," kata Eric sambil tersenyum miring. Dia menekankan kalimat terakhirnya.
Sumpah demi apapun! Aku ingin sekali mengumpat di depan wajahnya. Haruskah kukatakan kalau dialah suamiku?
Aku mendesah kasar lalu melemaskan bahuku. Aku tidak akan sanggup mengatakan bahwa dia adalah suamiku.
"Ayolah! Aku butuh uang. Suamiku sakit, dia tidak bisa bekerja." Aku mencoba membujuk Eric supaya tidak memecatku.
Eric beranjak dari duduknya. Dia berjalan mendekat padaku sambil mengulum senyum. Dia berhenti tepat di depanku. "I don't need a nanny anymore," Eric mencondongkan tubuhnya, menyejajarkan wajahnya dengan wajahku. Jarak wajah kami yang begitu dekat membuatku bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku menahan nafas. Andai situasinya tidak seperti ini, aku pasti sudah menciumnya dengan liar seperti yang pernah kami lakukan.
Degup jantungku semakin cepat saat Eric mencondongkan wajahnya ke sisi wajahku. Bulu kudukku berdiri, aku merinding merasakan hembusan nafasnya yang menerpa kulit leherku.
Ya Tuhan! Aku ingin melompat ke dalam pelukannya saat ini. Eric membuatku kehabisan nafas hanya dengan hembusan nafasnya tanpa menyentuhku.
Sedetik kemudian Eric berbisik di depan telingaku. "Tapi aku membutuhkan seseorang untuk menghangatkan ranjangku."
Kedua mataku membulat tidak percaya dengan apa yang diucapkan Eric. Apakah dia akan tetap melakukan hal itu jika asistennya bukan diriku? Apa dia akan menghianatiku dengan asisten pribadinya? Oh, God! Aku bersyukur Eric tidak pernah memiliki asisten pribadi. Kurasa Eric perlu mengganti sekretarisnya dengan seorang pria. Bersikap waspada itu perlu, bukan?!
Aku menoleh ke kanan hingga wajahku berhadapan dengan wajah Eric. Sangat dekat hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan. Aku menelan ludah lalu menaikkan pandanganku ke matanya. Iris kelabu itu balas menatapku. Untuk sesaat tatapan kami saling mengunci. Jantungku berdetak semakin tidak karuan. Ya Tuhan, aku merindukan mata itu memandangku dengan penuh cinta. Eric mengerjap pelan dua kali. Aku melihat tatapannya goyah. Dia mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya hampir menyatu. Lalu detik berikutnya dia memejamkan mata sambil menarik diri menjauh dariku.
"Pergilah! Kembali sebelum pukul 3," kata Eric dingin sambil berjalan kembali ke kursi kerjanya.
Aku masih terpaku di tempatku. Apa yang baru saja terjadi?
*
*
*
*
*
tbc.
See you next part, Love.