
~Isabel~
Untuk beberapa saat aku berdiri tanpa merubah posisi di sana. Eric masih mematung menatapku tidak percaya. Lalu dia menggeleng kepala dan maju dua langkah keluar dari pintu apartemen. Sorot matanya berubah. Kulihat iris kelabunya basah, matanya memerah.
"I miss you, Bells." Dia memelukku erat. Kurasakan tubuhnya bergetar. Dia menangis di bahuku.
Sebisa mungkin aku menahan air mata, namun gagal. Kubalas pelukannya dan aku pun menangis. Aku sangat merindukannya.
Setelah beberapa saat, Eric menjauhkan tubuhnya dariku. Dia mengusap pangkal matanya dengan jari untuk menghilangkan jejak air mata. Aku pun melakukan hal yang sama. Kuhapus air mata dengan jari sambil menunduk menyembunyikan wajah sedihku.
"Masuklah." Eric membuka tangan ke arah dalam apartemen. Dia tersenyum, aku membalasnya dengan senyum kaku. Entahlah, mungkin itu tidak bisa dikategorikan sebagai senyuman.
Aku melangkah masuk ke dalam apartemen Eric. Mataku berkeliling ke penjuru ruangan. Apartemen kecil yang sangat sederhana. Sama sekali tidak ada barang bernilai tinggi di tempat ini. Sofa sederhana berbahan kulit sintetis yang warnanya sudah pudar di sisi kanan ruangan. Televisi berukuran kecil menempel di dinding tanpa ada audio mewah seperti yang ada di rumah atau safe house. Rak sepatu dan gantungan mantel yang berjajar rapi di dekat pintu keluar. Dari tempatku berdiri ini aku bisa melihat dapur sederhana dengan peralatan masak sederhana pula. Aku tidak tahu apa saja yang ada di dapur itu, karena kedua mataku tidak dapat menjangkaunya. Lalu di sebelah kanan ruangan ada sebuah pintu lagi. Kurasa itu adalah kamar tidur. Tata letak tempat ini mengingatkanku pada safe house, hanya saja dalam versi sederhana. Tidak ada banyak barang di dalam ruangan, membuat ruangan ini terlihat luas. Bagaimana bisa Eric tinggal di tempat seperti ini?
"Duduklah," kata Eric. Aku baru sadar ternyata aku terlalu asyik mengamati sekitar cukup lama. Aku duduk di sofa berwarna hijau yang telah pudar. Sofa ini juga terasa keras. Modelnya saja yang up to date, tapi kualitasnya sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan yang ada di rumah atau di safe house.
Aku duduk dengan canggung. Eric meninggalkanku ke dapur. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa lemonade dingin yang terlihat sangat segar. Aku menelan ludah. Diantara banyaknya jenis minuman, mengapa Eric memilih lamonade untuk diberikan padaku? Ini mengingatkanku pada hari dimana pertama kalinya aku tahu bahwa aku sedang hamil. Aku sangat menginginkan lemonade buatan mama.
Setelah meletakkan gelas di hadapanku, Eric duduk di single sofa di sebelah kiriku. Mendadak ruangan ini menjadi sunyi. Aku sibuk memainkan tali tas dengan otak yang tidak bisa berpikir sama sekali. Saat kulirik Eric dengan ekor mataku, dia juga terlihat bingung sambil memainkan jarinya. Situasinya menjadi sangat canggung sekarang.
"Jadi--"
"So--"
Kami tertawa kecil saat memulai bicara secara bersamaan.
"Kau duluan," kata Eric.
Kugigit bibirku kuat-kuat. Apa yang ingin kukatakan tadi tiba-tiba lenyap dari pikiranku. Aku jadi bingung mau bicara apa. Yang ada aku hanya membuka dan menutup mulutku tanpa ada kata yang keluar.
"Kau sudah membaca suratku?" Pertanyaan Eric membuatku merasa lebih baik. Setidaknya aku tidak duduk dengan mulut membuka dan menutup seperti ikan koi di dalam aquarium.
"Ya," jawabku singkat. Memangnya aku harus menjawab seperti apa lagi?
Samar kulihat Eric mendesah lega. Dia mengangguk-angguk kecil. Pandangannya tidak fokus. Kurasa dia juga merasa canggung.
"Aku sangat menyesal, Bells. Aku minta maaf." Eric menatapku. Kulihat luka yang begitu dalam dari caranya menatapku.
Aku menggeleng pelan. "Aku tahu. Itulah sebabnya aku datang kemari." Aku menurunkan pandanganku sembari menghela nafas. Aku tidak sanggup melihat luka itu lebih lama lagi. "Aku juga ingin meminta maaf. Aku ... semua yang terjadi ... semuanya kacau. Semua diluar kendali." Aku menatap getir pada cincin yang melingkar di jariku. Kularikan pandanganku ke jari Eric, disana juga masih melingkar cincin yang serupa dengan milikku.
"Tidak, Bells. Jangan katakan kau minta maaf. Aku melakukan banyak hal buruk padamu, pada ... anak kita."
Ulu hatiku berdesir hingga terasa ngilu saat Eric mengatakan kalimat terakhirnya. Anak? Anak yang bahkan tidak pernah sempat kutimang. Salah satu hal yang membuatku sangat menyesal. Sebisa mungkin aku menahan air mataku. Aku ingin Eric tahu bahwa semua itu sudah berakhir. Semua yang telah terjadi, tidak akan bisa di ubah, meski dengan seribu penyesalan.
"He's a boy. I call him Gabriel." kataku tanpa berani melihat ekspresinya. Aku takut dia akan semakin terluka, tapi dia berhak untuk tahu.
"He's an angel," sahut Eric dengan suara parau, membuatku semakin tidak berani mengangkat kepalaku.
"He's a gift," balasku sama paraunya.
Air mata yang kutahan akhirnya tumpah juga. Aku tidak mampu membendungnya. Kami tidak mengatakan apapun lagi setelah itu. Kami sibuk menata hati kami yang tercabik-cabik. Meski sudah lama, luka ini terasa masih baru di hatiku.
Cukup lama kami terdiam. Lalu Eric membuang nafas kasar lewat mulut sambil mendongak, seperti sedang mengeluarkan sesak yang menghimpit dadanya.
"It's all my fault. I'm sorry, Bells. I'm so sorry." Eric menunduk lagi, menangkup wajahnya dengan telapak tangan. Dia tergugu, aku merasakan penyesalan Eric begitu dalam. Aku menyesal telah mengatakannya. Aku menyesal telah mencungkil luka lama itu.
Hatiku tersayat melihat Eric seperti itu. Dia sama sekali tidak seperti Eric yang kukenal. Dia terlihat sangat rapuh. Aku ingin mendekat dan memeluknya, namun aku tidak bisa. Kami tidak sama seperti dulu lagi. Sekarang kami hanya dua orang asing yang sama-sama terluka oleh takdir yang sama.
Aku menunduk menahan perih melihat Eric begitu terluka. "I forgive you," kataku lirih. Jika selama ini Eric merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku dan anak kami, maka yang dia butuhkan adalah pengampunan. Aku harus membantunya mencabut rasa bersalah itu dengan memberi maaf. Meski sebenarnya dia tidak perlu meminta maaf padaku karena aku tidak pernah merasa dia bersalah.
"Kau mau memaafkanku?" tanyanya.
"Ya, untuk itulah aku kesini. Kita harus menyelesaikan apa yang belum sempat kita selesaikan sebelumnya."
Dia tersenyum getir. Lalu dia mengusap pangkal matanya. "Aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk mengatakan betapa aku sangat menyesal atas apa yang telah kulakukan padamu. Perasaan itu mengikutiku kemanapun aku pergi. Menghantuiku setiap aku memejamkan mata. Aku membutuhkan pengampunanmu, Bells."
"Aku tahu. Itulah mengapa aku mengatakannya padamu. Aku tidak pernah merasa kau menyakitiku. Ini adalah takdir. Tapi aku ingin meminta sesuatu padamu." Aku menatapnya lekat. Ya Tuhan, aku sungguh merindukan pria ini. "Aku minta maaf atas apa yang dilakukan keluargaku padamu," lanjutku.
Dia menggeleng. "Tidak, Bells. Mereka hanya melakukan apa yang menurut mereka benar. Apa yang telah kulakukan padamu adalah sesuatu yang tidak bisa di tolerir. Dan apa yang mereka lakukan padaku memang pantas kudapatkan."
Aku menelan ludah. Air mataku jatuh. Selama ini dia menelan kepahitan yang dia terima dengan lapang dada. Dia menerima semua hal buruk yang menimpanya sebagai wujud penebusan dosa.
"Terima kasih," kataku. Aku tidak pernah merasa selega ini sebelumnya. Maaf memang selalu membawa ketenangan dalam hidup. Aku baru sadar bahwa yang kami butuhkan selama ini hanyalah kata maaf. Kami perlu melepaskan semua rasa bersalah itu dengan maaf.
Setelah itu, hanya kebisuan yang ada diantara kami. Beberapa kali kulihat Eric ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. Aku sendiri bingung, tidak tahu apa yang ingin kukatakan lagi.
"Jadi ... kita bisa memulai semua dari awal?" tanya Eric memecah kebisuan.
Memulai dari awal? Itu terdengar menyenangkan. "Ya, tentu saja. Kita bisa mulai dari awal."
"Kita bisa memulai dengan berteman jika kau mau," katanya lagi. Aku bisa melihat jika Eric menginginkan lebih dari sekedar berteman. Namun dia berusaha menahan dirinya. Dia tidak ingin memaksakan perasaannya.
Aku tersenyum canggung. Meski hatiku juga menginginkan lebih, tapi aku sadar bagaimana posisi kami saat ini. "Ya, kita bisa berteman. Terdengar menyenangkan," jawabku.
Lalu kami sama-sama tersenyum. Bukan senyum manis atau semacamnya, melainkan senyum kaku yang membuat kecanggungan diantara kami semakin kentara. Hanya begitu saja hingga beberapa saat. Kami bergerak canggung. Beberapa kali pandangan kami bertemu yang membuatku gugup.
"Aku harus pergi," kataku setelah beberapa lama. Aku melihat raut kecewa di wajah Eric untuk sesaat. Namun dia segera menutupinya dengan senyuman lalu mengangguk kecil.
Aku berdiri, dia juga berdiri. Aku berjalan ke arah pintu, dan dia mengikutiku. Waktu aku sampai di depan pintu, aku berbalik. "Sampai jumpa ... Eric," kataku.
"Sampai jumpa, Bells," balasnya.
Lagi-lagi kami bertukar pandangan seperti orang bodoh. Aku tidak tahu kenapa aku masih berdiri di depan pintu apartemennya padahal aku sudah berpamitan. Aku bisa saja segera berbalik dan pergi, tapi kakiku tidak mau bergerak.
"Boleh aku memelukmu sebentar?" tanya Eric hati-hati. "As a friend," lanjutnya cepat.
"Oh, sure," jawbaku. Lalu kami bergerak kaku dan berpelukan. Rasanya berbeda dengan pelukan kami saat baru datang tadi. Sekarang aku merasa seperti seorang remaja yang sedang mendapat pelukan dari pria yang kutaksir. Apa itu berlebihan?
Lalu kami melepaskan pelukan dan saling melempar senyum. "Aku harus pergi," kataku sebelum berbalik dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu sebelum aku bertindak konyol.
*
*
*
*
*
tbc.
Just it? As a friend?
See you next part, Love.