100 Days

100 Days
Part 109



Dua hari dirawat di Rumah Sakit sudah cukup menyiksa untuk Eric. Rasanya dia sudah tidak betah. Apalagi Jordan dan Aiden mendadak menjadi sangat protektif seperti seorang ibu yang sangat cerewet.


"Aku bisa sendiri. Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil !" Ucap Eric saat mereka hendak pulang ke rumah. Eric jengah dengan perlakuan kedua pria yang setia menjadi penjaganya selama dia sakit.


Jujur Eric kecewa karena Isabel tidak datang menjenguknya. Apa dimata Isabel, Eric sama sekali tidak berarti lagi ? Fisiknya memang berangsur membaik, tapi hatinya semakin sakit.


"Kau yakin ?" Tanya Jordan yang setia berjaga-jaga di samping Eric. Takut saja kalau tiba-tiba tubuh Eric rubuh lagi. Maklum, waktu dibawa ke Rumah Sakit tempo hari, Eric nyaris tidak bisa bangun dari ranjang.


"Berhenti bersikap seperti seorang wanita, Keparat !" Hardik Eric. Dia sungguh kesal diperlakukan seperti itu sejak kemarin.


Jordan dan Aiden hanya bisa saling pandang sambil mengangkat bahu. Mereka membiarkan Eric berjalan sendiri, karena Eric menolak untuk dibawa dengan kursi roda. Tapi mereka tetap bersiaga di belakang Eric seperti dua orang bodyguard yang akan selalu siap jika Eric membutuhkan bantuan.


Eric, Jordan dan Aiden menaiki mobil yang sama. Rencananya selama masa pemulihan, Eric akan tinggal di rumah adiknya. Chloe tidak mengijinkan Eric tinggal di rumahnya sendiri ataupun di safe house, karena Chloe yang akan mengawasinya selama masa pemulihan.


"Antar aku safe house !" Pinta Eric yang duduk di kursi belakang. Membayangkan betapa cerewetnya Chloe saat merawatnya nanti sudah membuat kepala Eric pusing.


"TIDAK !" Jawab Jordan dan Aiden serempak.


"Aku tidak mau menjadi sasaran kemarahan Chloe." Tutur Aiden.


"Aku tidak ingin akses bertemu dengan putriku dihapus." Tambah Aiden.


Eric berdecak kesal. Dua orang ini semakin menyebalkan di matanya. Daripada semakin pusing memikirkan orang-orang yang mengatur hidupnya, Eric lebih memilih menyandarkan kepala dan memejamkan matanya.


Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di rumah Aiden. Rumah yang cukup besar untuk ditinggali dua orang dewasa dan satu bayi.


"Eric.....!" Chloe berjalan cepat menyambut kakaknya yang baru saja turun dari mobil. Dia sangat khawatir saat mendengar kakak laki-lakinya itu harus dirawat di Rumah Sakit. Tentu dia sangat bahagia saat Eric sudah diijinkan pulang.


"Kau juga akan memperlakukanku seperti bayi ?" Ketus Eric saat Chloe mengulurkan tangannya hendak memeluk Eric.


Chloe melemaskan bahunya, "Kau memang seperti bayi kalau sedang sakit." Tukasnya. Lalu dia tersenyum dan melanjutkan niatnya untuk memeluk Eric.


Mereka berjalan bersama-sama masuk ke dalam rumah. Begitu masuk, mereka disambut tangisan kencang Annabeth yang berada dalam gendongan pengasuhnya.


Ketiga pria disana sudah bersemangat untuk menghampiri baby Annabeth, namun Chloe dengan cepat melarang mereka.


"STOP !" Teriak Chloe yang membuat tiga pria itu berhenti bergerak lalu menoleh ke arah yang sama, dimana Chloe sedang berkacak pinggang dengan tatapan galak. "Kalian baru saja datang. Bersihkan diri kalian lebih dulu baru kalian bisa menyentuh putriku !" Suara Chloe terdengar lantang dan tegas.


Ketiga pria itu langsung menampilkan wajah kecewa. Tapi mereka tetap menuruti perintah Chloe untuk mencuci tangan dan wajah mereka sebelum akhirnya kembali menghampiri bayi mungil yang sangat menggemaskan itu. Mereka persis seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Penurut sekali.


Begitulah Chloe. Dia sangat disiplin dan protektif jika menyangkut putrinya. Dia melakukannya karena baby Annabeth memiliki daya tahan tubuh yang berbeda dengan bayi pada umumnya. Dia rentan sekali terhadap kuman dan bakteri. Jadi, Chloe selalu menjaga kebersihan tempat dimana baby Annabeth berada. Termasuk mengharuskan siapa saja yang ingin menyentuh bayinya untuk mencuci tangan atau membersihkan tangan dengan antiseptik.


Kata Dokter, seiring berjalannya waktu, daya tahan tubuh baby Annabeth akan berangsur normal, hanya saja dia diperkirakan akan menderita alergi terhadap sesuatu yang belum bisa di prediksi sekarang. Semua itu tergantung seperti apa perkembangan sistem imun baby Annabeth.


***


Terhitung sudah tiga hari sejak Eric keluar dari Rumah Sakit. Dan sejak itu pula Isabel tidak lagi menerima kiriman bunga.


"Melamun tidak akan membuat pekerjaanmu cepat selesai, Dear !" Tepukan pelan yang mendarat di bahu Isabel membuatnya menoleh dengan sedikit mendongakkan kepalanya.


"Aku bingung." Ucapnya pada Cayla yang baru saja duduk di kursi kerjanya. "Apa dia marah karena aku tidak mempedulikannya ?" Isabel menatap sedih pada Cayla.


Cayla memutar kursinya hingga posisi duduknya kini berhadapan dengan Isabel.


"Karena dia tidak lagi mengirim bunga padamu ?" Tanya Cayla. Isabel mengangguk.


Terdengar helaan nafas dari Cayla. "Kau masih mencintainya ?" Tanya Cayla yang dibalas anggukan dengan yakin oleh Isabel.


"Kau masih merasa sakit hati padanya ?" Tanya Cayla lagi. Kali ini Isabel tidak langsung mengangguk. Dia tampak berpikir, berusaha menyelami perasaannya. Apa dia masih marah pada Eric ? Apa dia masih merasa sakit hati ?


Setelah diam beberapa saat untuk merenung, jawaban terakhir Isabel adalah 'TIDAK'. Dia sudah tidak marah atau sakit hati lagi dengan Eric. Hanya saja, dia belum siap untuk bertemu apalagi kembali merajut kasih dengannya.


"Jika kau mencintainya dan sudah memaafkannya, maka pergilah ! Dapatkan kembali cintamu. Jangan sampai kau menyesal ! Karena cinta dua arah yang tidak bisa saling memiliki itu rasanya sangat sakit. Percayalah padaku !" Cayla menggenggam kedua tangan Isabel, seolah tahu seperti apa perasaan gadis itu.


Isabel menghembuskan nafas berat. Dia ingin menemui Eric dan kembali bersamanya, hanya saja dia belum siap. Entah apa yang membuatnya ragu untuk melangkah, tapi dia merasa butuh sedikit waktu lagi untuk memulai semuanya kembali.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Isabel saat gadis itu sedang merebahkan tubuhnya di kursi rotan yang ada di taman belakang rumah. Dia mendudukkan tubuhnya lantas mengambil ponsel diatas meja kayu dihadapannya.


"Claire ?" Isabel mengerutkan kening. Tidak biasanya Claire mengirim pesan di jam-jam seperti ini.


Ini masih jam 8 malam, dan Willow Spring pasti sedang ramai pengunjung di jam seperti ini. Kenapa Claire bisa memegang ponsel ?


Karena penasaran, Isabel segera membuka pesan dari Claire. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa pesan yang dikirim Claire adalah sebuah video.


Video berdurasi sekitar sepuluh menit itu berisi rekaman Eric yang sedang bermain gitar sambil menyanyi diatas panggung Willow Spring. Tempat dimana Eric melamarnya dulu.


Pada pesan itu, Claire memberi caption 'A song for the broken hearted', sesuai dengan judul lagu yang dinyanyikan Eric.


Isabel memutar video itu. Dia meresapi tiap bait yang dinyanyikan Eric. Bait demi bait milik Abbey Glover itu berhasil dibawakan Eric dengan penuh penjiwaan. Seolah lagu itu memiliki nyawa yang menyatu dengan jiwa Eric.


Bagaimana hati Isabel tidak tercabik-cabik saat mendengar Eric menyanyikan lagu seperti itu ? Orang-orang yang menonton penampilan Eric pun sampai ada yang menangis karena terlalu terbawa perasaan. Mereka memberikan standing applause untuk Eric setelah dia menyelesaikan lagu itu.


Isabel menangis sesenggukan setelah selesai menonton video tersebut. Itu hanya sebuah lagu, tapi mampu membuat Isabel tidak berdaya menahan kesedihan dalam hatinya.


"Ada apa, Sayang ?"


Emma datang menghampiri Isabel yang menangis tersedu-sedu di taman belakang. Emma duduk di samping Isabel. Dia bingung, kenapa putrinya menangis seperti itu ?


Isabel memeluk Emma dengan erat. Menangis dan meraung sejadinya dalam pelukan sang ibu. Sedangkan Emma, dia memberi waktu pada Isabel untuk meluapkan perasaannya lewat tangisan.


"Aku mencintainya, Mom. Aku sangat mencintainya." Aku Isabel setelah dia sedikit tenang.


Emma menjauhkan tubuhnya dari Isabel lantas menangkup wajah putrinya itu. "Tidak ada yang salah dengan cinta, Nak. Jika kau memang mencintainya, kembalilah padanya ! Beri dia satu kesempatan lagi untuk memulai semuanya dari awal." Kata Emma.


Isabel memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata mengalir dari kedua sudut matanya.


Tidak ada salahnya memberi Eric satu kesempatan lagi. Pria itu sudah cukup membuktikan bahwa dia bersungguh-sungguh ingin memperbaiki hubungan mereka.


Waktu yang dibutuhkan Isabel sudah cukup. Dia sudah memutuskan. Hanya satu kesempatan dan dia berharap keputusannya adalah yang paling tepat. Semoga kelak dia tidak akan menyesalinya.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Hallo guys ! Ada kabar baru lagi nih. Aku rilis novel baru lagi yang judulnya


'NOVEL DRAMA WANNABE'


Blurb nya bisa langsung klik profil dan baca tuh novelnya.



Ini baru publish tadi malem. masih baru banget pokoknya.


Yuk dikepoin ceritanya !


See you next part, Love.