
Kaki berbalut flat shoes Isabel melangkah menapaki tiap anak tangga menuju lantai empat bangunan itu. Hari terakhirnya menjadi pengangguran harus dia manfaatkan sebaik mungkin. Karena esok hari dia harus mulai bekerja magang di perusahaan keluarganya.
Jangan dikira gadis itu akan langsung menempati posisi tinggi meskipun dia adalah putri pemilik perusahaan. Isabel harus mulai merintis karirnya dari bawah. Dimulai dari staf umum.
Sebenarnya bukan cuma Isabel, Mike pun dulunya juga harus melewati fase yang sama. Hanya saja passion Mike memang di dunia bisnis, jadi dalam waktu satu setengah tahun saja dia sudah bisa menempati posisi sebagai manager. Hingga suatu hari dia dipercaya menjadi CEO di perusahaan ayahnyax yang ada di luar negeri selama dua tahun. Dan setelah itu dia dipercaya menggantikan sang ayah untuk memimpin perusahaan pusat.
Semua proses itu dilakukan semata demi menjaga kredibilitas dan profesionalisme mereka dalam memimpin perusahaan sang ayah.
"I knew it !" Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki berbarengan dengan seseorang yang berjalan mensejajarkan diri dengan isabel.
Isabel menoleh dan mendapati Jose sedang tersenyum lebar padanya. "Aku tahu chemistry kalian sangat kuat." Lanjut Jose.
"Kau juga ingin membully-ku ?" Sarkas isabel tanpa menghentikan langkah. Sejak datang memang dia belum bertemu Jose karena pria latin itu sedang melakukan pengecekan persediaan bahan di ruang penyimpanan.
Jose terkekeh. "Tidak. Mana mungkin aku berani." Jawabnya, memberi tatapan dan senyum mengejek. Membuat Isabel refleks memukul bahu pria itu.
"Aku merindukanmu, Jose." Kata Isabel kemudian.
"Ya, aku juga merindukanmu." Jose berhenti melangkah lalu bergeser, memberi jalan untuk pengunjung yang lewat. "Kau mau mendengar sebuah cerita ?" Tanyanya setelah kembali mensejajarkan langkah.
"Cerita apa ?" Isabel penasaran.
"Cerita setelah kepergianmu dari sini." Kembali lagi Jose berhenti melangkah dan bergeser untuk memberi jalan pada pengunjung. Isabel membalik badan, menyipitkan mata menuntut penjelasan.
"Easy, girl !" Jose mengangkat kedua tangannya. Lalu dia kembali melangkah sejajar dengan Isabel.
"Kau tahu ? Boss sangat kacau." Kata Jose pelan, sedikit mendekatkan wajahnya yang ditutupi telapak tangan pada mulutnya. "Boss kehilangan semangatnya saat bekerja. Dia pernah berdiam diri di safe house hingga tiga hari tanpa bekerja. Sampai Jordan sendiri yang harus turun tangan. Pekerjaanku juga bertambah banyak. Apalagi aku seringkali harus mengulang laporan ataupun penjelasan padanya. Menyebalkan, bukan ?!" Curahan hati Jose disela gerutuannya.
"Omong kosong !" Isabel tidak ingin cepat percaya ucapan Jose. Bisa jadi pria itu hanya ingin mengerjainya. Mana mungkin Eric sampai seperti itu. Apalagi di awal-awal kepergiannya, Isabel yakin Eric belum memiliki perasaan apapun terhadapnya.
Jose menggeleng-geleng kepalanya. "Kurasa Boss sudah jatuh cinta padamu sejak lama. Hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengakuinya." Jose menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang mendengar ucapannya. "Selama empat tahun ini tidak ada seorang wanita pun yang dia beri akses ke safe house." Jose mendekatkan bibirnya ke telinga Isabel dan berbisik.
"Empat tahun ?" Isabel berhenti melangkah, menatap penasaran pada Jose.
Jose menggerakkan kepalanya sambil menarik bibir kebawah. "Aku harus kembali bekerja atau Boss akan memecatku." Jose tersenyum jenaka lantas berbelok di lantai tiga.
Isabel melangkahkan kakinya pelan-pelan sambil menelaah ucapan Jose. Selama empat tahun tidak ada seorang wanita pun yang bisa mengakses safe house. Apa itu berarti selama empat tahun ini Eric sendirian ? Apa dia tidak punya kekasih ? Ah, sepertinya tidak mungkin. Banyak sekali wanita yang menggilai Eric, mana mungkin tidak ada satupun dari mereka yang membuat Eric tertarik ?!
Isabel kembali melangkah dengan mantap menuju lantai empat. Begitu sampai di depan pintu safe house, Isabel tersenyum. Dia teringat bagaimana pertama kali Eric menyeretnya memasuki pintu itu. Pintu yang menurutnya aneh karena tidak memiliki lubang kunci ataupun card scanner.
Isabel meletakkan tangannya pada gagang pintu logam--yang ternyata adalah pemindai sidik jari. Tanpa bunyi 'bip' atau 'klik' pintu itu terbuka.
Dia masuk ke dalam ruangan yang rasanya sudah sangat lama sekali dia tinggalkan. Dia...merindukan tempat ini.
"Hai, Grey !" Isabel berjongkok, meraih Grey yang berjalan ke arahnya lalu menggendong hewan berbulu tebal itu.
"I miss you too, Grey." Tanpa ragu, Isabel menggosokkan bulu halus Grey ke pipinya. Lembut sekali.
Isabel membawa Grey duduk di sofa. "Apa kau kesepian selama aku tidak disini ?" Kucing abu-abu itu menggesek kepalanya pada lengan Isabel. "Sudah kuduga. Tuanmu itu memang tidak peka. Dia menyekapmu di dalam sini, tapi tidak memberimu teman bermain. Sama sepertiku dulu." Isabel tersenyum geli mengingat kejadian-kejadian lampau antara dirinya dan Eric. Ya meskipun mereka lebih sering bertengkar.
Eh ? Kejadian lampau ? Isabel jadi teringat ucapan Jose tadi. Dia bilang empat tahun ini tidak ada wanita yang bisa mengakses safe house. Berarti sebelum empat tahun ini Eric memberi akses pada seseorang disini. Siapa dia ? Apa kekasihnya ? Isabel mendengus. Chloe, adik kandungnya sendiri saja tidak dia berikan akses. Itu berarti wanita beruntung itu adalah seseorang yang spesial untuk Eric.
"Apa kau tahu siapa wanita yang pernah tinggal disini ?" Tanya Isabel pada Grey. Mata hijau kucing itu balas menatap Isabel sebelum dia mengeong, seolah menjawab pertanyaan gadis itu.
Memikirkan pernah ada wanita spesial yang pernah tinggal disini membuat dada Isabel terasa sesak. Dulu, saat masih bersama Aiden, dia tidak pernah merasa seperti ini. Meskipun dia tahu mantan kekasih Aiden tidak hanya satu atau dua. Tapi dia tidak pernah merasa setakut ini. Dia selalu percaya pada Aiden jika di hati pria itu hanya ada dirinya.
Bersama Eric, dia merasa rasa takutnya semakin besar. Dia takut jika hati Eric akan terbagi. Dia takut jika suatu saat nanti Eric akan meninggalkannya. Dia takut jika perhatian Eric akan berkurang padanya. Dia takut jika ada wanita lain yang akan mengambil Eric darinya.
Bodoh ! Tidak seharusnya Isabel cemburu pada masa lalu Eric. Bukankah sekarang Eric bersamanya ? Sekarang Eric adalah miliknya. Eric mencintainya, dan dia mencintai Eric. Harusnya itu sudah cukup. Mereka hanya perlu untuk saling mempercayai satu sama lain. Seperti yang dulu pernah dia lakukan dengan Aiden. Saling percaya.
Isabel beranjak, membawa Grey dalam gendongannya dan berjalan menuju kamar. Disana barang-barang pribadinya masih tersimpan rapi. Bahkan kopernya juga masih berada dalam satu baris yang sama dengan koper-koper milik Eric di walk in closet.
"Kukira dia sudah mengepak barang-barangku dalam koper." Isabel tersenyum senang. "Ternyata dia tidak merubah apapun."
Isabel menyusuri setiap sudut kamar. Hampir tidak ada yang berubah dari tempat itu. Hanya posisi barang-barangnya yang terlihat lebih rapi. Pasti karena tidak ada orang yang menempati. Sepertinya Eric juga jarang berada disini. Apa memang sebelum kedatangan Isabel tempat ini jarang di tempati ?
"Apa Eric selalu pulang ke rumahnya ?" Isabel berbicara sendiri. Lalu dia mendesah, menyandarkan kepalanya pada punggung sofa di sudut kamar. "Seperti apa rumah Eric ? Aku jadi penasaran." Gumamnya lagi.
"Kau mau berkunjung ke rumahku ?" Suara Eric mengejutkan Isabel, hingga dia hampir saja melempar Grey.
"Kenapa kau suka sekali mengagetkanku ?" Gerutu Isabel. Tangannya kembali menarik tubuh gendut Grey ke dalam pangkuannya.
Eric tertawa, dia berjalan mendekat pada Isabel lalu mendudukkan tubuhnya di sebelah Isabel. "Karena aku suka melihat wajah terkejutmu." Katanya.
"Aku akan memberikan jantungku sebagai gantinya."
"Dan kau akan mati lalu meninggalkanku sendirian. That's not cool !"
"Maka kau bisa minum racun dan kau akan mati bersamaku. Romantis bukan ?! Seperti romeo dan juliet."
Isabel mencebik. "Menurutku itu tidak romantis, tapi menyedihkan. Aku lebih suka kisah Eric dan Isabel." Katanya sambil tersenyum menggoda.
"Apa perlu kita menerbitkan buku untuk menyaingi karya-karya Shakespeare ?" Eric membelai rambut Isabel lalu menyelipkannya di belakang telinga.
"Tidak perlu mengatakan pada dunia tentang kebahagiaan kita. Aku ingin kisah bahagia ini hanya menjadi milik kita berdua. Aku tidak ingin membaginya dengan siapapun." Isabel menatap Eric dalam. Air mukanya terlihat sangat serius. Ada makna yang tersirat dari kalimat Isabel. Gadis itu tidak ingin ada orang lain dalam hubungannya dengan Eric. Termasuk masa lalu Eric yang tidak diketahui Isabel.
Eric menyadari perubahan ekspresi Isabel. "Hei, ada yang ingin kau katakan padaku ?"
Isabel menggeleng. Tidak, dia tidak boleh cemburu pada masa lalu Eric. Eric telah memilihnya. Dia tidak boleh meragukan itu. Lagipula sejauh Isabel mengenal Eric, pria itu tidak pernah sekalipun terlihat dekat dengan seorang wanita. Bahkan dulu Isabel sempat mengira Eric itu gay. Bukan tanpa alasan Isabel memiliki pemikiran seperti itu. Eric itu pria yang sudah berumur, tapi di ruang kerjanya ataupun di safe house, Isabel tidak menemukan benda atau apapun yang berhubungan dengan wanita. Tidak sekalipun Isabel melihat Eric bersama seorang wanita. Jadi, tidak aneh kan kalau Isabel mengira Eric itu belok.
Tapi semua keraguan itu terbantahkan saat di Amytville. Saat dimana Eric menciumnya. Bukankah itu bukti bahwa Eric tetap straight ? Tetap tertarik dengan lawan jenis ?
Ah, mengingat tentang ciuman itu, Isabel jadi kehilangan fokus saat melihat wajah Eric yang sudah sangat dekat dengan wajahnya. Hembusan nafas hangat membelai mesra wajahnya.
"Jangan pernah berpikir untuk meragukanku. Karena aku tidak pernah main-main dengan perasaanku."
Itu kalimat terakhir Eric sebelum dia mendaratkan ciumannya pada bibir Isabel.
"Ah, aku benci ini !" Kata Eric menggeram frustasi sambil menjauhkan wajah ketika ciuman mereka terasa semakin panas.
Dia dan Isabel sama terengahnya akibat ciuman itu. Ini kali kedua mereka berciuman. Tapi Eric merasa tidak ingin melepaskan Isabel. Dan jika dia tidak menghentikannya sekarang.....
"I'm sorry, Bells." Bisik Eric, menempelkan kening mereka. Pria itu tampak sangat frustasi. Isabel mengatur nafas, memperhatikan Eric yang sedang memejamkan mata dan terlihat sangat tersiksa. Berkali-kali Isabel melihat jakun Eric bergerak naik turun. Pria itu menelan ludah, menetralisir apapun yang ada dalam hatinya saat ini.
"Bagaimana b*jing*n Muller itu bisa bertahan selama dua tahun bersamamu." Gumam Eric tidak jelas.
Isabel menangkup wajah Eric dengan dua tangannya. "Kau baik-baik saja ?" Isabel khawatir karena Eric terlihat gelisah. "Kenapa kau menyebut nama Aiden ?"
Eric menggeleng dengan mata yang masih terpejam. "I'm okay." Bisik Eric lirih. Dia menelan ludah lagi, "Kumohon jangan pernah meragukanku lagi. Karena aku hampir gila karenamu." Eric memeluk Isabel dengan erat seolah tidak akan pernah bertemu lagi.
"I promise." Balas Isabel. Ya, memang sudah seharusnya dia tidak meragukan Eric. Jika saja dia tahu setersiksa apa Eric saat ini. Dia pasti akan paham betapa Eric sangat mencintainya, betapa pria itu sangat menginginkannya.
Eric melepaskan pelukannya. Dia menunduk lalu menatap dalam pada Isabel.
"Tunggu aku di dapur, kita buat makan siang bersama." Kata Eric. Tanpa menunggu jawaban Isabel, pria itu langsung beranjak.
"Kau mau kemana ?" Tanya Isabel.
"I need to freeze my f*cking brain." Jawab Eric yang melenggang masuk ke dalam kamar mandi tanpa menoleh.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Empat tahun bang Eric jomblo ? Coba bilang, aku mau jadi pacarnya. Jangankan pacar, jadi gelas kopinya aja aku mau, eeeeaaaa....!!!
Udah deh Bells, ngapain juga cemburu sama jubaedah yang dulu pernah tinggal di safe house. Yang penting kan sekarang babang ganteng udah klepek-klepek sama kamu. Lihat tuh dia ampe frustasi kayak gitu.Trus pake acara pengen bekuin otak segala lagi. Kurang apa coba ?!
Udah ah, gag kuat diliatin ama babang ganteng kayak gitu.
See you next part, Love.