
"I'm home !" Seru Isabel saat memasuki pintu utama rumahnya.
Tidak ada yang menyahut. Isabel mengayun langkah memasuki rumah lebih dalam lagi.
"Sepi sekali." Isabel celingukan. Inginnya dia sampai rumah disambut hangat karena kelulusannya. Tapi yang terjadi, rumahnya kosong. Tidak ada seorangpun yang menyambutnya.
"Kalau tahu begini, aku bisa lebih lama bersama Jordan." Gerutunya sambil melangkah malas menuju kamarnya di lantai dua.
Isabel membuka pintu kamar dengan malas. Dia berjalan gontai ke arah kasur queen size dengan sprei hijau cerah bermotif bunga. Dia melempar asal tasnya diatas kasur. Disusul tubuhnya yang ambruk tengkurap di samping tas tersebut.
Memejamkan mata sejenak, memikirkan apa saja yang akan dia lakukan setelah lulus.
Dengan mata yang masih terpejam, bibir Isabel mengukir sebuah senyuman. Membayangkan wajah Eric yang tersenyum lebar saat mendengar kabar ini. Ah...pasti sangat tampan.
Isabel menggigit bibir, dia berencana memberi Eric kejutan dengan datang ke Willow Spring esok hari. Dua bulan tidak melihat wajah Eric secara langsung membuat rasa rindunya semakin berat.
Selama dua bulan ini Isabel sudah meyakinkan dirinya jika apa yang dia rasakan pada Eric adalah cinta. Meskipun Eric tidak pernah mengatakan cinta padanya, tapi semua perhatian Eric mampu membuatnya percaya diri jika pria itu juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
Tidak. Tidak ada kencan kedua apalagi ketiga setelah yang pertama dulu. Eric beralasan dia sedang sangat sibuk dan Isabel harus segera menyelesaikan study nya.
Sama sekali tidak masalah untuk Isabel. Karena meskipun mereka tidak bertemu, Eric tidak pernah absen untuk memberinya perhatian setiap harinya.
Hati perempuan mana yang tidak meleleh jika setiap hari diperhatikan dengan sangat intens. Bahkan kadang Eric menemani Isabel belajar, mengajari apa yang tidak dimengerti gadis itu tentang materi yang dipelajari melalui video call. Manis bukan ?!
Dan saat dia berhasil menyelesaikan study-nya, orang pertama yang ingin dia beritahu adalah Eric. Tapi dia menahan diri, ingin memberi kejutan pada pria itu.
Sesaat kemudian ponselnya berdering. Isabel merogoh tas lalu mengambil ponsel dari dalamnya. Dia pikir Jordan yang menelpon. Senyumnya langsung mengembang sempurna saat dia melihat ternyata nama yang tertera di layar ponselnya adalah Eric.
"Kau di mana ?" Tanya Eric di seberang telpon.
"Rumah." Jawab Isabel lesu, mengingat rumahnya yang tidak berpenghuni membuatnya kecewa.
"Hei, kenapa dengan suaramu ? Kau ada masalah ?" Suara Eric terdengar khawatir.
Isabel menghela nafas. "Aku pulang membawa kabar gembira. Tapi rumahku kosong."
"Kabar gembira ? Kau tidak ingin membaginya denganku ?"
Oh, hampir saja Isabel keceplosan. Otaknya berpikir keras memikirkan jawaban apa yang akan dia utarakan.
"Oh, itu....mm....bukan apa-apa. Hanya..." Gelagapan. Isabel bingung mau menjawab apa.
Terdengar tawa Eric di ujung telepon. "Tidak usah dijawab kalau kau tidak ingin." Kata Eric.
"Kau ada waktu ?" Tanya Eric lagi.
Isabel berpikir, kenapa Eric bertanya seperti itu ? Apa Eric akan mengajaknya berkencan lagi ? Suasana hati Isabel langsung berubah. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Kau masih disana ?" Suara Eric terdengar lagi saat Isabel tak kunjung menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Ya. Ya, aku mendengarmu." Lagi-lagi isabel gelagapan.
"Kalau kau ada waktu, aku ingin mengajakmu makan siang."
Isabel ingin berteriak sekeras-kerasnya. Boleh kan ?!
Setelah dua bulan tidak bertemu, Eric mengajaknya makan siang bersama. Sungguh ini adalah hal yang dia tunggu-tunggu. Dia menggigiti ujung bantal yang sejak tadi dia dekap.
"Bells ?!" Suara Eric terdengar lagi.
"Maaf." Kata Isabel sambil menahan senyum agar Eric tidak tahu kalau dia sedang sangat senang karena ajakan makan siang itu. "Tentu aku ada waktu." Lanjut Isabel.
Tidak apalah dia nekat bertemu Eric, lagipula Isabel sudah memenuhi syarat Mike untuk lulus. Jadi, bukankah sekarang dia bebas ?!
"Okay. Tapi aku tidak bisa menjemputmu. Apa tidak masalah ?" Tanya Eric.
"Tidak masalah. Aku bisa kesana sendiri."
"Baiklah. Aku akan mengirimkan lokasiku padamu. Can't wait to see you there, Bells." Kata Eric sebelum mengakhiri panggilannya.
Isabel membanting ponselnya asal lalu membekap wajahnya dengan bantal. Berteriak kegirangan karena dia akan segera bertemu dengan pujaan hatinya.
Lalu suara notifikasi pesan masuk di ponsel Isabel. Tidak sabar lagi, Isabel segera menyambar benda pipih itu dan membukanya.
Iris biru Isabel melebar, membaca lokasi yang dikirimkan Eric. Keningnya berkerut, matanya sedikit menyipit.
"Apa ini tidak salah ?" Gumam Isabel.
Lalu dia mengirim pesan balasan untuk Eric.
Isabel : Kurasa ponselku rusak. Alamat yang kau kirim keliru. Ketik saja alamat tempatnya. Aku akan segera datang.
Beberapa saat menunggu, Eric membalas pesannya. Buru-buru Isabel membuka pesan itu.
Lagi-lagi alisnya berkerut. Alamat yang diketik oleh Eric adalah alamat rumahnya.
"Apa Eric tidak salah ketik ?" Gumam Isabel. Dia memiringkan kepalanya, berusaha memahami pesan Eric.
Kenapa Eric mengirim lokasi dan alamat yang sama dengan rumahnya ? Awalnya Isabel mengira ponselnya rusak karena tidak bisa membaca lokasi yang dikirim Eric. Isabel berpikir, ponselnya bisa saja rusak, tapi apa mungkin jari Eric juga keseleo dengan mengetik alamat yang sama dengan lokasi kediaman keluarga Bennings ?
Bohlam khayalan diatas kepala Isabel berpijar terang saat otaknya bisa menyambungkan kemungkinan yang terjadi.
"Tidak mungkin !" Isabel melompat turun dari ranjang. Dia berlari keluar kamar lalu menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Menyusuri tiap sudut rumah, Isabel menajamkan pemglihatan dan pendengarannya.
Mulai dari depan, sayap kanan, sayap kiri hingga dapur. Tidak ada apapun.
Isabel mendesah pelan. "Benar, kan ?! Tidak mungkin dia disini." Isabel melirik ponsel dalam genggamannya, Eric tidak mengirim pesan lagi.
"Aku telpon saja dia." Kata Isabel sambil mendial nama Eric di ponselnya.
"Hallo ?"
Eh ? Isabel tercenung. Isabel kembali melihat nama kontak dalam ponselnya. Benar itu nomor Eric. Kenapa suara anak kecil ? Dimana Eric ? Siapa anak kecil itu ?
Ragu untuk menjawab, Isabel memilih diam.
"Hallo ? Aunty ?" Suara anak kecil itu terdengar lagi.
Dan kali ini kedua mata Isabel membesar. Isabel kenal suara ini. Sangat kenal.
"Liam ?" Tanya Isabel sambil berjalan pelan menyusuri lorong menuju satu tempat yang belum dia periksa. Taman belakang.
"Aunty cepat kesini. Uncle Eric masak makanan sangat banyak dan enak-enak." Celoteh Liam, putra semata wayang Mike.
"Ya. Aunty kesana sekarang." Kata Isabel lalu memutus sambungan teleponnya.
Kini dia sudah sampai di ujung lorong yang membawanya ke taman belakang.
Dari kejauhan Isabel bisa melihat kedua orang tuanya sedang menata beberapa piring di atas meja. Dan pemandangan yang sangat tidak dia duga sebelumnya. Beberapa meter di sebelah kiri meja makan itu Eric berdiri di depan pemanggang daging. Tangan kanannya sibuk membolak-balik daging. Sedangkan tangan kirinya menahan bobot tubuh Liam dalam gendongannya.
Isabel mengucek matanya. Ingin tahu apakah apa yang dia lihat ini akan hilang atau masih tetap seperti itu. Sampai saat suara Liam terdengar memanggil namanya dari kejauhan.
Bocah empat tahun itu melambai pada Isabel. Diikuti arah pandang ketiga orang dewasa disana pada satu titik yang sama.
Dengan bertelanjang kaki, Isabel berjalan pelan mendekat pada mereka.
Is this real ? Isabel masih tidak habis pikir. Kedua orang tuanya terlihat sangat akrab dengan Eric. Eric si mulut tajam itu bisa berubah menjadi Eric si mulut manis yang bisa menakhlukkan dua orang penting dalam hidup Isabel. Ralat, tiga, termasuk Liam. Sebenarnya punya ilmu apa pria itu hingga bisa dengan mudahnya masuk dalam lingkaran keluarganya ?
"Sayang, kau sudah pulang. Ayo bantu Mom menyiapkan makanan ini. Biar ayahmu mengambil alih Liam. Kasihan Eric harus memanggang sambil menggendong Liam seperti itu." Emma menghujani Isabel dengan titahnya. Seperti mereka sudah sangat lama saling mengenal dengan Eric.
"Baik, Mom." Isabel bergerak kikuk membantu Emma, tanpa sempat menyapa tamu istimewanya.
Sedangkan Jhon segera menghampiri Eric di dekat pemanggangan.
"No, Grandpa ! Aku mau sama Uncle Eric saja." Liam menolak saat Jhon hendak menggendongnya.
"Tapi kau mengganggu Uncle Eric yang sedang memanggang daging, sugar boy." Kata Jhon.
Liam menyembunyikan wajah di dada Eric sambil memeluk erat leher pria itu, menolak ikut dengan kakeknya.
"Tidak apa, Mr. Bennings. Biarkan Liam dengan saya." Kata Eric sambil mengusap punggung dan kepala Liam.
"Kalau begitu biar aku yang memanggang dagingnya." Jhon hendak mengambil alih, namun Eric menolak.
"Biar saya saja. Anda bisa menunggu di meja makan." Kata Eric.
Jhon tersenyum hangat. Lalu dia kembali ke meja makan bersama dua bidadari kesayangannya.
Isabel memandang takjub pada apa yang dia lihat. Ini masih Eric yang sama, kan ?!
Melihat kedekatan Eric dan keluarganya membuat hati Isabel menghangat. Kemampuan Eric dalam mengambil hati anggota keluarganya memang tidak bisa di sepelekan. Bahkan Liam sampai tidak mau lepas darinya.
Bukankah dia pria yang sangat sempurna ?! Wajah tampan, hidup mapan, humble, bisa memasak, perhatian, penuh kasih sayang, dan hangat. Itu adalah paket sempurna. Dimana lagi Isabel bisa menemukan sosok seperti itu ?
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Loh...loh...loh...gimana ceritanya bang Eric nongkrong di rumah Isabel ? Nyolong start dia mah, ckckck
Buat pendukung bang Eric, berbahagialah sekarang karena saya sedang berbaik hati, memberi lampu hijau pada babang ganteng itu.
See you next part, Love.