100 Days

100 Days
Part 18



Sudah empat hari Isabel disekap di Willow Spring. Isabel mulai kehabisan akal untuk bisa kabur dari sana. Tidak ada jalan keluar dari tempat itu. Satu-satunya akses untuk keluar adalah pintu sialan yang hanya bisa dibuka oleh Eric. Atau dengan kata lain, kunci pintu itu adalah Eric sendiri.


Pernah sekali, tepatnya hari kedua, Isabel berniat menerobos saat Eric hendak keluar, namun gagal. Gerakan Eric sangat cepat saat mencekalnya. Dan akhirnya dia harus menyerah. Imbasnya? Akses ke kamar mandi di putus dari jam 9 pagi hingga jam 7 malam. Alhasil Isabel harus mati-matian menahan hasratnya ke kamar mandi. Bayangkan betapa tersiksanya Isabel saat itu.


Hingga saat ini yang dilakukan Isabel untuk mengusir bosan hanyalah tiduran, nonton acara tv, makan dan meratapi nasibnya yang begitu tragis di tangan Eric. Isabel juga memindahkan buku-buku milik Eric ke ruang tamu untuk dia baca. Dirinya juga semakin terbiasa tidur di sofa.


Akhirnya Isabel memutuskan berdamai dengan ego. Membiarkan badan kotor dan bau karena menuruti ego ternyata rasanya sungguh menyiksa. Hanya berselang hitungan jam setelah Isabel melempar barang-barang pemberian Chloe, egonya takhluk.


Biasanya Eric akan datang jam 8 pagi dan jam 5 sore, membawa makanan untuk Isabel. Tentunya kiriman dari Chloe, karena Eric tidak sebaik itu. Tapi pagi ini tidak ada makanan yang dibawa Eric. Eric datang dengan membawa kantong belanja besar yang berisi bahan-bahan makanan. Dia bilang Isabel harus bekerja keras kalau ingin makan, alias masak sendiri. Tidak masalah bagi Isabel. Di rumah, dia sudah terbiasa memasak bersama ibunya. Rasa masakan Isabel juga lumayan, berkat bimbingan ibu dan kakak iparnya.


Isabel yang sedang menonton tv sambil tiduran di sofa langsung menegakkan tubuhnya ketika Eric tiba-tiba datang dengan wajah menyeramkan. Ini baru jam 2 siang, tidak biasanya Eric datang di jam ini. Apalagi melihat aura kelam di wajah Eric, pasti sesuatu yang buruk baru saja terjadi.


Eric berjalan melewati Isabel tanpa melihat sama sekali. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


"Apa yang terjadi padanya?" gumam Isabel. Gadis itu sudah lelah adu mulut dengan Eric. Ujung-ujungnya hanya membuat dia semakin frustasi karena kesempatannya membuat pernikahan Aiden dan Chloe batal semakin kecil.


Satu jam, dua jam, tiga jam Eric belum juga keluar dari kamar. Eric baru keluar pada jam 6 petang. Tentu Isabel tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera membersihkan diri, sebelum Eric kembali menutup pintu itu.


Selesai mandi, Isabel berniat memasak makan malam. Namun saat dia keluar dari kamar, dia melihat Eric sedang memasak di dapur. Isabel tidak menyangka pria gila seperti Eric mau memasak untuk mengisi perutnya. Aroma masakan Eric cukup menggoda.


Eric memasak steak dan membuat salad untuk makan malamnya. Hanya satu porsi, ingat itu! Eric tetaplah Eric.


"Aromanya lezat sekali. Sepertinya enak," batin Isabel.


Gadis itu menelan ludah saat mencium aroma masakan Eric yang sungguh menggugah selera. Dia berjalan melewati Eric yang sedang asyik makan tanpa memedulikan Isabel yang terus memerhatikannya.


"Aku juga bisa masak yang seperti itu," batin Isabel.


Akhirnya Isabel memasak menu yang sama dengan Eric. Sekalian pamer pada Eric kalau dia juga bisa memasak.


Dengan cekatan Isabel mengolah potongan daging sapi dengan bumbu-bumbu yang diajarkan oleh ibunya. Tidak lupa dia juga membuat salad untuk melengkapi menu makan malamnya.


Di tengah acara masaknya, Eric sudah selesai makan. Pria itu mencuci peralatan makannya di mesin pencuci piring. Setelah selesai, dia berlalu begitu saja. Dan ya, kesempatan Isabel untuk pamer ikut berlalu bersama perginya Eric.


"Eh? Dia pergi?" Manik biru Isabel mengikuti arah perginya Eric hingga tanpa sadar tubuhnya ikut berputar mengikuti arah Eric.


Daripada semakin kesal karena tidak bisa pamer pada Eric, Isabel melanjutkan acara memasaknya dan segera memberi makan peliharaan dalam perut yang sudah berteriak sejak tadi.


Beginilah akhirnya, Isabel menikmati makanannya dalam keheningan. Sementara Eric, pria itu kembali ke dalam kamar dan menutup pintunya.


Selesai makan, Isabel kembali ke sofa dan meringkuk dalam gelungan selimut sambil membaca buku. Sepertinya malam ini dia harus tidur tanpa menggosok gigi. Dilihat dari gelagatnya, Eric akan tidur disana. Dan ini pertama kalinya pria itu tidur disana semenjak menyekap Isabel.


Isabel meletakkan buku yang dia baca diatas meja. Lalu dia mulai menghitung sisa waktu hingga pernikahan Aiden tiba.


"10 hari lagi. Aku tidak ingin terjebak disini terus. Aku harus melakukan sesuatu," gumam Isabel.


Gadis itu melangkah mendekati pintu kamar Eric. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu.


"Eric, aku ingin bicara. Buka pintunya!" kata Isabel dari luar kamar.


Eric tidak menyahut. Isabel terus mengetuk pintu dan memanggil nama pria itu. Hingga ketukan yang kesekian kali, akhirnya Eric membuka pintu.


Dari air mukanya, Eric merasa terganggu dengan Isabel. Satu tangannya bertumpu pada kusen pintu, satu lagi memegang gagang pintu.


"Apa?" tanya Eric malas.


"Aku ingin keluar," jawab Isabel. Gadis itu sudah bersiaga kalau-kalau Eric akan menolak mentah-mentah permintaannya.


"Tidak!" tegas Eric, tepat seperti dugaan Isabel.


Eric malas menanggapi Isabel. Dia menurunkan tangannya dari kusen pintu dan berniat menutup pintu kamar lagi. Kali ini Isabel bergerak cepat, dia menerobos masuk ke kamar Eric.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Eric.


Menurutnya, Isabel terlalu berani masuk ke kamarnya saat dirinya berada disana. Dengan sengaja Eric menutup pintu. Otomatis Isabel tidak akan bisa keluar tanpa dirinya.


"Aku harus keluar, Eric." Wajah serius Isabel sama sekali tidak berpengaruh pada Eric.


Langkah Eric semakin mengikis jarak dengan Isabel. Gadis itu bergerak mundur seirama dengan langkah Eric, hingga tubuhnya membentur dinding.


"Kau ingin keluar? Lantas siapa yang tadi menerobos masuk ke sini?" Eric sedang dalam mood yang sangat buruk karena Chloe tadi siang. Dia mengungkung Isabel dengan kedua tangan di sisi kepala gadis itu.


"Bukan dari kamarmu, Bodoh!" Satu dorongan lagi Eric dapatkan.


"Lepaskan aku!" Satu dorongan untuk satu kalimat.


"Karena urusanku belum selesai," lanjut Isabel.


"Kekasihku tidak boleh menikah." Gadia itu masih mendorong Eric.


"Karena dia mencintaiku, bukan adik sialanmu itu." Saat Isabel hendak mendorong lagi, Eric dengan cepat mengunci pergerakan Isabel dengan mencengkeram kedua tangan gadis itu dan menarik tubuhnya hingga membentur dada bidang Eric.


"Kau-tidak-akan-kemanapun-sampai-pernikahan-adikku-berlangsung!" Satu kata untuk satu langkah, hingga tubuh Isabel kembali membentur dinding.


"**** you!" maki Isabel.


Mata Eric memicing tajam, dengan posisi masih mengunci pergerakan Isabel.


"You mean, this?"


"Ap--hmmph..." Eric membungkam mulut Isabel dengan ciuman. Bukan ciuman lembut, tapi kasar. Bukan nafsu, tapi amarah. Eric sedang tidak ingin berdebat. Dia masih merasa kesal dengan Chloe, dan sekarang Isabel menambah masalah dengan kekonyolannya.


Bibir Isabel terasa nyeri karena gigitan Eric. Eric merenggangkan cengkeramannya hingga Isabel berhasil mendaratkan satu tamparan keras di wajah Eric.


"Bajingan!" pekik Isabel.


"I am." Eric menyeringai, memegang pipinya yang panas karena tamparan gadis itu. "Asal kau tahu, orang yang kau anggap kekasihmu itu jauh lebih bajingan daripada aku."


"Aiden tidak sepertimu!"


"Kau yakin?" Eric mendengkus dengan senyum miring. "Itu artinya kau tidak benar-benar mengenalnya."


"Kau salah! Aiden sangat mencintaiku. Dia tidak pernah mengecewakanku!"


"Buka matamu dan pakai otakmu!" Suara Eric naik satu oktaf. Sudah cukup dia menahan amarah karena Isabel. "Kau tahu kenapa dia harus menikahi adikku, hah?"


"Aku tidak tahu dan aku tidak peduli! Karena yang aku tahu adikmu adalah jalang yang sudah merebut kekasihku!" Isabel berteriak, tidak bisa menahan amarah lagi.


"Jaga mulutmu! Kau tidak pantas menyebut adikku seperti itu!" Manik Eric berkilat marah, merasa tidak terima dengan penghinaan Isabel terhadap adiknya.


"SHE'S A *****!" pekik Isabel.


"SHE'S PREGNANT!" sahut Eric.


Pregnant? Manik biru Isabel membulat. Dia melangkah mundur, tubuhnya lemas. Tidak! Tidak mungkin Aiden-nya seperti itu. Eric sedang berbohong. Pria itu hanya sedang menyerang mentalnya. Aiden tidak seperti itu.


"No, no, no! You're lying!" Dia maju selangkah dan mencengkeram kaos Eric. Kedua matanya memerah menatap lekat mata Eric mencari kebohongan disana. Hati Isabel terasa ditusuk-tusuk saat yang dia temukan hanyalah tatapan kejujuran.


"No, I'm not." Eric sangat serius, balik menatap lekat mata Isabel. "Adikku mengandung anak Aiden! Aiden, kekasih yang kau banggakan itu, telah menghancurkan masa depan adikku!"


"NO! YOU'RE LYING, ERIC!" Tubuh Isabel merosot seiring terlepasnya cengkeraman di kaos Eric, dadanya sangat sesak. Ya, Eric pasti sedang berbohong. Aiden tidak akan melakukan itu. Isabel terus menyugesti pikirannya dengan kalimat itu.


"Tell me you're lying, Eric!" Suaranya melemah.


Isabel memeluk lutut, kepalanya berdenyut nyeri seperti ada yang menghantam bagian belakang kepalanya. Butiran bening mengalir dari manik birunya. Mata indah itu tidak bisa lagi menahan air mata. Wajahnya kini basah dengan luapan kesedihan dan kekecewaan.


Eric membalik tubuhnya sambil mengusap wajah kasar. Melihat Isabel yang tampak sangat terpukul seperti itu membuatnya tidak tega. Itu mengingatkannya pada kondisi Chloe saat pertama mengetahui dirinya hamil.


***


tbc.


Nah lo ! tekdung juga kan si Chloe !


Yuk tunjukin jarinya yang kemarin tebakannya bener !


Gimana ceritanya sampai Chloe bisa tekdung anaknya Aiden ?


Kita bahas di part selanjutnya yak.


see you, love !