
Seluruh penghuni rumah berkumpul di meja makan. Mereka dengan apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing.
Aiden dengan tatapan tajamnya sesekali mencuri pandang pada Isabel. Melihat bagaimana sikap gadis itu setelah apa yang mereka alami tadi siang.
Isabel menutup mata dan telinga. Jika dia tidak membutuhkan mulutnya untuk makan, bisa dipastikan dia juga akan menutup mulutnya.
Eric bergelut dengan hati dan pikirannya sendiri. Kali ini dia ingin makan dengan tangannya sendiri, meski harus bersusah payah menggunakan tangan kirinya. Apa yang terjadi antara dia dan Isabel telah mengusik hatinya. Otaknya bekerja lebih keras menekan segala kebodohan yang sempat menghampiri pikirannya. Dan ucapan Isabel setelah mereka berciuman, Eric bahkan tidak pernah memikirkan hal itu.
Chloe memperhatikan Aiden dan Isabel bergantian. Berusaha membaca situasi seperti apa yang sebenarnya terjadi hingga bisa membuat Aiden bertindak konyol. Aiden sudah meminta maaf, dan dengan segala kelapangan hati, Chloe memaafkannya. Dengan catatan Aiden tidak akan mengulangi hal serupa karena itu hanya akan merusak hubungan 'pertemanan' mereka.
Jordan memperhatikan keempat orang itu secara bergantian. Meneliti dan menganalisa macam-macam ekspresi yang mereka keluarkan. Dia adalah yang tertua diantara mereka. Dia juga yang bertindak sebagai satu-satunya orang dewasa disini.
Jordan menggeleng pelan kepalanya. Empat orang yang bersamanya ini seperti anak kecil yang sedang saling mendiamkan karena berebut mainan. Sangat kekanakan !
"Apa aku sedang makan malam sendiri disini ?" Celetuk Jordan saat melihat mereka berempat kompak seperti anak domba penurut yang sedang diberi makan.
Chloe dan Isabel menoleh pada Jordan yang sedang menatap mereka dengan tatapan tidak suka karena suasana makan malam yang jauh dari kata menyenangkan.
Sementara Aiden dan Eric tidak mempedulikannya sama sekali.
"Sebaiknya cepat selesaikan makan kalian dan masuk ke kamar masing-masing." Ujar Jordan layaknya seorang ayah yang sedang memerintah anak-anaknya.
Aiden berdiri lebih dulu meninggalkan meja makan. Disusul Chloe yang juga menyelesaikan makannya lebih cepat.
Disana tinggal Jordan, Eric dan Isabel. Pandangan Jordan tidak luput dari Eric yang terlihat kesusahan memakan makanannya. Isabel juga melihat hal yang sama.
"Berikan padaku." Isabel meraih piring Eric, berniat menyuapinya.
"I can do it my self." Eric menarik kembali piringnya. Dia beralih menggunakan tangan kanannya meski harus menahan perih pada lukanya saat di gerakkan.
Jordan merangkum jemarinya dan meletakkan dagu diatasnya. Matanya awas, meneliti interaksi keduanya.
Isabel mundur lalu melanjutkan makannya yang tinggal sedikit. Tak lama kemudian dia juga meninggalkan meja makan. Menyisakan Eric dan Jordan.
"Apa yang terjadi ?" Tanya Jordan.
Eric tidak menjawab. Dia masih berperang dengan rasa sakitnya untuk menggerakkan tangan.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian semua. Tapi kalian sangat kekanakan." Ujar Jordan.
Eric meletakkan sendoknya meski makanannya belum habis. Dia melirik pada Jordan. Tepatnya tangan Jordan.
"Kau terluka ?" Ucapan Eric lebih terdengar seperti pernyataan, bukan pertanyaan.
Jordan menggerakkan sedikit telapak tangannya yang dibalut kain kasa.
"Mengalihkan pembicaraan ?" Tuduhnya.
Eric melirik malas pada Jordan lalu beranjak.
Kini tinggal Jordan sendirian di meja makan. Dia diam untuk beberapa saat. Lalu melirik tangannya yang terbalut kain kasa dan tersenyum samar.
*****
"Kau pulang hari ini ?" Tanya Eric pada Chloe saat adiknya itu berpamitan padanya.
"Ya." Jawab Chloe singkat.
"Tinggallah sebentar lagi." Pinta Eric.
Chloe duduk di tepi ranjang Eric. Diikuti Eric yang duduk di sebelah Chloe.
"Aiden ingin pulang hari ini. Sepertinya dia sedang ada masalah." Terang Chloe. Apapun masalah Aiden, Chloe yakin itu ada hubungannya dengan Isabel. Dia berusaha memahami perasaan Aiden. Jika Aiden ingin pulang, dia akan menurutinya. Chloe mengerti, pasti tidak mudah bagi Aiden maupun Isabel untuk tinggal dalam satu atap.
Eric terdiam. Dia tahu apa masalah Aiden dan apa yang membuatnya ingin segera meninggalkan rumah itu.
Disini Eric merasa seperti seorang penghianat. Dia menginginkan Jordan bersama dengan Isabel, tapi dirinya sendiri entah mengapa bisa bertindak bodoh seperti itu.
Disatu sisi dia juga merasa dimanfaatkan oleh Isabel. Gadis itu memanfaatkan kebodohannya untuk membuat Aiden cemburu.
Bagian kecil dari hati Eric merasa kecewa dengan kalimat yang terlontar dari bibir Isabel setelah ciuman mereka. Eric juga tidak tahu kenapa dia mencium Isabel, tapi saat dia memulainya, dia merasa tidak ingin berhenti. Apalagi saat Isabel memberi respon dengan membalasnya, Eric semakin menginginkannya.
Eric tertawa miris saat mengingat kalimat penutup ciuman mereka. Isabel membalasnya hanya untuk kepentingannya sendiri.
Merasa di bodohi ? Bisa jadi. Cukup sekali Eric melakukan kebodohan itu. Sepertinya dia juga tidak perlu minta maaf pada Isabel karena gadis itu juga mendapatkan keuntungan.
Mungkin dengan bersikap ketus pada gadis itu dia bisa melupakan apa yang telah terjadi diantara mereka.
Keluar dari kamar Eric, Chloe mengetuk pintu kamar Isabel. Isabel membuka pintu dan merasa terkejut saat melihat Chloe yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Isabel membuka pintu lebih lebar tanpa bersuara. Dia berjalan menuju jendela lalu duduk disana. Tempat favoritnya selama tinggal di rumah itu. Menikmati pemandangan kebun belakang sambil duduk di jendela kamar.
Chloe melangkah masuk. Kini dia duduk di ranjang menghadap Isabel. Isabel sendiri lebih memilih melihat keluar jendela daripada melihat ke arah Chloe.
"Aku kesini untuk berpamitan." Chloe menjeda sebentar saat Isabel tidak kunjung mengalihkan pandangan dari kebun belakang. "Terima kasih sudah merawat Eric." Lanjutnya.
Isabel menoleh pada Chloe. Dia ingat jika kemarin dia bilang pada Eric akan meminta maaf pada Chloe. Bukan berniat ingkar, tapi dia sedang memikirkan kalimat yang tepat.
"Dia terluka karenaku. Sudah sewajarnya aku melakukannya." Balas Isabel datar.
Chloe tersenyum lembut. "Dia hanya melakukan apa yang seharusnya dia lakukan."
Tidak ada balasan dari Isabel. Beberapa saat keduanya terdiam. Lalu Chloe berdiri, dia sudah selesai. Sudah tidak ada lagi yang ingin dia sampaikan. "Aku pergi dulu." Chloe berjalan menuju pintu.
"Tunggu !" Sergah Isabel. Chloe membalikkan badan. Dia menatap Isabel penasaran, kenapa Isabel menahannya ?
Isabel berjalan mendekat dan berhenti dua meter dari Chloe.
Isabel membasahi bibirnya. Bola matanya bergerak tak jelas, menghindari bertatapan dengan Chloe. Dia juga memainkan jemarinya untuk mengalihkan kegusarannya.
"Ada apa ?" Tanya Chloe dengan suara lembut.
"Aku....Ada yang ingin aku katakan."
Chloe mengernyit, menunggu dengan sabar kalimat lanjutan Isabel.
Isabel menarik nafas, memejamkan mata sekilas. "Aku minta maaf untuk semua hal buruk yang pernah kulakukan padamu." Kata Isabel, memberanikan diri menatap mata Chloe.
Hal yang tidak pernah Isabel duga sebelumnya. Kedua mata Chloe berkaca-kaca. Gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangan, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Chloe maju mendekat pada Isabel dan memeluknya erat. "Tak ada hal buruk yang pernah kau lakukan padaku." Ucap Chloe lirih dibarengi air matanya yang menetes.
Bukan Isabel tidak terharu. Hatinya bergetar dengan perlakuan Chloe terhadapnya. Hanya saja, dia kesulitan untuk mengekspresikan isi hatinya.
Tangannya bergerak ragu-ragu untuk membalas pelukan Chloe. Dia ingin membalas pelukan itu, tapi gerakan tangannya terhenti sesaat sebelum menyentuh punggung Chloe.
Tentu saja hal itu tidak membuat Chloe tersinggung. Karena Chloe memang tidak pernah membenci Isabel. Dia berharap hubungannya dengan Isabel akan membaik dan mereka bisa berteman seperti dulu.
Chloe melepaskan pelukannya. Dia menyeka air mata yang mengalir dari sudut matanya.
"Aku harap kita bisa berteman seperti dulu." Ucap Chloe, menggenggam tangaj Isabel.
"Terima kasih." Isabel menyunggingkan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.
Jordan, Eric dan Isabel mengantar kepergian Aiden dan Chloe dari teras.
Kedua mata Aiden menatap tajam penuh luka pada Isabel yang berdiri di samping Eric. Dia masih tidak terima jika Isabel berpaling darinya. Egois memang. Tapi hati Aiden tidak bisa berbohong jika sampai detik ini, bahkan saat Isabel mengaku telah melabuhkan hatinya pada Eric, dia tetap mencintai Isabel sama besar seperti dulu. Bahkan Aiden pergi tanpa pamit pada Eric dan Isabel untuk mengukuhkan ketidak sukaannya.
Isabel menghembuskan nafas lega saat mobil Aiden perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya.
Dengan bibir tipisnya, Isabel bergumam, "Good bye Aiden."
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Good bye Aiden.
Seneng deh Isabel dan Chloe baikan. Tapi gantian bang Eric yang ngambek.
Apa Eric akan memperlakukan Isabel seperti dulu lagi ?
Sudah tahu siapa yang main debus kemarin ?
See you next part, Love.