
Begitu Eric memberikan izin, aku bergegas meninggalkan rumah. Aku sangat merindukan keluargaku. Aku sudah tidak sabar untuk memeluk mereka.
Sesampainya disana, Mom langsung menyambutku dengan pelukan hangat. Mom menangis. Mom menangkup kedua sisi wajahku lantas menciumi kening dan pipiku berkali-kali.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang," ucap Mom parau.
"Aku juga merindukan, Mom," balasku.
Mom mengajakku untuk duduk di ruang keluarga. Aku merangsek dalam dekapannya. Aku ingin dipeluk Mom. Rasanya sangat nyaman sekali.
Sayang sekali saat aku sampai di rumah, Dad dan Mike sedang tidak berada di sana. Dad sedang mengurus yayasan panti sosial dan Mike sedang berada di kantor.
"Kau mau makan sesuatu?" tanya mom.
Aku menggeleng. Aku tidak lapar, tapi aku ingin minum sesuatu yang segar. "Aku mau lemonade buatanmu, Mom," jawabku. Seluruh anggota keluargaku bahkan Eric mengakui kalau lemonade buatan Mom adalah yang terbaik.
"Baiklah, akan aku buatkan. Kau tunggu disini," kata mom sembari beranjak dari duduknya.
Aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas. Mengecek rekaman kamera cctv di rumah yang langsung tersambung ke ponselku. Tepatnya kamera yang berada di kamar Eric.
Eric tidak tahu kalau Jordan memasang kamera disana. Seandainya dia tahu, aku yakin dia akan berkelahi dengan Jordan.
Aku tersenyum. Kondisi Eric bisa dibilang sudah cukup baik sekarang. Tapi ada yang membuatku khawatir. Aku khawatir Eric akan mengusirku dari rumah jika dia merasa kondisinya sudah baik. Aku harus mencari cara agar tetap berada disana.
Beberapa saat kemudian mom datang dengan dua gelas besar lemonade. Aku menyambutnya dengan antusias. Begitu cairan menyegarkan itu masuk ke tenggorokanku, rasanya seperti hujan deras yang turun di musim panas.
"Ini segar sekali, Mom. Aku tidak pernah begitu menginginkan lemonade seperti ini sebelumnya," kataku. Lemonade dalam gelasku hanya tinggal sepertiga.
Mom terkekeh lalu menarikku dalam pelukannya lagi.
"Bagaimana suamimu?" tanya mom yang langsung membuat senyumku pudar.
Aku meletakkan gelasku diatas meja. "Semakin membaik," jawabku.
"Dia ... belum mengingatmu sama sekali?"
Aku menggeleng. Lalu bayangan Eric yang menatapku lekat sebelum aku datang ke rumah ini kembali berkelebat. Aku tidak tahu apakah Eric mengingatku atau tidak. Tapi aku yakin dia mengingat sesuatu tentang masa lalunya.
"Aku takut, Mom. Kondisi Eric semakin membaik, aku takut dia merasa tidak membutuhkanku lagi dan akan mengusirku dari rumah."
Mom mendekapku semakin erat. "Apa kau yakin dengan cinta kalian berdua?"
Aku mengangguk.
"Maka bersabarlah. Aku yakin jauh di lubuk hati suamimu, jiwanya sedang meronta untuk membebaskan diri. Jangan pernah berhenti mempercayai suamimu, Sayang."
Percaya. Aku percaya pada Eric. Aku yakin suatu saat nanti dia akan mengingatku kembali. Aku yakin perlahan-lahan cinta dalam hati Eric akan membuka kembali ingatannya terhadapku.
"Apa kau makan dengan baik selama disana, Sayang?" tanya mom tiba-tiba yang membuatku menarik tubuhku darinya.
"Tentu saja," jawabku. Aku harus menjaga kesehatanku supaya bisa terus merawat Eric. Aku tidak boleh sakit karena ada tanggung jawab besar di pundakku.
Mom menangkup wajahku sambil tersenyum. "Aku senang mendengarnya," kata mom. Lalu mom memperhatikanku dari atas sampai bawah dengan ekspresi yang tidak kumengerti. "Apa kau makan banyak akhir-akhir ini? Apa kau mengalami mual, pusing?" tanya mom kemudian.
Aku mengerutkan kening. "Tidak," jawabku.
Mom masih memandangiku dengan tatapan menyelidik. "Tubuhmu terlihat lebih berisi," katanya masih dengan ekspresi yang sama.
Aku tidak mengerti kenapa mom memandangiku seperti itu. Lalu tiba-tiba dia menarik nafas panjang sambil membulatkan mata. Mom juga menutup mulutnya yang menganga. Aku semakin heran dengan sikap mom.
"Ya Tuhan!" ucap mom dibalik telapak tangannya yang masih menutup mulut.
"Ada apa, Mom?" Aku cemas melihat reaksi mom yang masih tidak kumengerti.
Mom menyentuh lenganku sambil memiringkan kepala. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Apa? Kenapa harus meminta izin?
"Kapan terakhir kali kau datang bulan, Sayang?" tanya mom dengan mimik wajah serius.
"Dua minggu sebelum aku bulan madu," jawabku.
"Ya Tuhan!" Mom kembali membuang nafas kasar lewat mulutnya. Mom memegang kedua bahuku cukup kuat. "Kita harus ke rumah sakit," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dariku.
Aku dan mom bergegas ke rumah sakit untuk memastikan sesuatu. Sesampainya di rumah sakit tempat Eric dirawat dulu, mom langsung membawaku menemui dokter obgyn kenalannya. Aku menjalani serangkaian pemeriksaan. Mulai dari pengecekan tekanan darah, denyut nadi hingga pengambilan sample urin.
Tidak ada ketenangan sedikitpun dalam hatiku saat menunggu hasil pemeriksaan yang baru saja aku jalani. Sampai pada saat aku dan mom duduk di depan meja Dr. Erica untuk mendengarkan hasilnya, jantungku masih berpacu sangat cepat.
"Selamat, Isabel, kau positif hamil. Usia kandunganmu sudah memasuki minggu ke-9. Jangan lupa perbanyak makan sayur dan buah supaya janin dalam kandunganmu tumbuh dengan sehat," terang Dr. Erica.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Selama ini aku tidak merasakan tanda-tanda atau gejala apapun seperti yang sering aku dengar tentang wanita hamil. Aku tidak pernah mengalami morning sickness. Aku tidak mengalami perubahan nafsu makan yang drastis. Aku tidak pernah merasa mual atau apapun itu. Aku tidak merasakan apapun! Dan sekarang aku mendengar fakta bahwa aku sedang hamil.
Tuhan! Apa lagi ini? Jika Eric tidak kehilangan ingatannya, ini akan menjadi momen paling membahagiakan untukku. Aku akan mengadakan perayaan untuk kehamilanku. Tapi dengan kondisi sekarang ini, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Haruskah aku mengatakan pada Eric bahwa di dalam rahimku sedang tumbuh janin hasil perbuatan kami? Aku yakin Eric akan langsung menendangku dari rumah.
Aku kembali ke rumah sebelum pukul 3 seperti yang dikatakan Eric. Namun aku pulang dengan membawa perasaan yang tidak karuan. Harusnya saat ini aku berbahagia karena buah cintaku dan Eric sedang bertumbuh di dalam rahimku. Tapi yang aku rasakan saat menginjakkan kaki di rumah ini adalah perasaan cemas. Tidak, bukan cemas, tapi takut. Aku takut jika Eric mengetahui bahwa aku hamil, dia akan segera memecatku dan aku akan kehilangan kesempatan untuk berada dekat dengan Eric.
Di dalam kamar, aku berdiri di depan cermin. Aku memutar tubuhku ke samping lalu menyingkap blus yang aku pakai. Aku memperhatikan perutku yang masih rata. Oh, perutku tidak serata dulu. Aku baru sadar kalau perutku tampak lebih berisi. Aku juga memperhatikan tubuhku dari atas sampai bawah. Benar yang dikatakan mama, aku terlihat lebih gemuk sekarang. Kedua pipiku terlihat semakin bulat. Lengan atasku juga terlihat lebih besar.
Aku mendesah kasar. Selama ini aku terlalu fokus mengurus Eric. Aku sampai tidak memperhatikan perubahan dalam diriku.
"Apa yang harus mommy katakan pada daddy-mu, Sayang?" tanyaku pada janin dalam perutku. Aku mengusapnya dengan lembut, seolah dia bisa merasakan sentuhanku.
"Kau harus membantu mommy, Sayang. Tetaplah sehat di dalam sana sampai daddy mengingat mommy. Sampai daddy ingat bagaimana kau bisa tumbuh di dalam perut mommy." Kurasa aku mulai gila, aku bicara pada janin yang bahkan belum bernyawa.
Mulai sekarang aku harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Aku harus menjaga calon anak kami dengan baik. Beruntung aku tidak mengalami morning sickness ataupun gangguan selera makan. Aku hanya perlu menambah menu sayur dan buah dalam porsi makanku. Aku juga harus menambahkan susu hamil dan vitamin untuk memenuhi nutrisi yang aku dan janin ini butuhkan.
Berhenti meratapi kebingunganku, aku memutuskan untuk naik ke lantai dua. Aku perlu memeriksa keadaan Eric setelah kutinggalkan beberapa jam.
Kulihat pintu kamar Eric tidak tertutup rapat. Perlahan kubuka pintu itu lalu aku masuk. Aku mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Sepertinya Eric sedang mandi.
Kulihat meja kerja Eric berantakan. Beberapa kertas berserakan diatas meja. Aku berjalan mendekat ke meja itu untuk membereskannya.
Aku menumpuk beberapa file menjadi satu lalu kuletakkan di sisi meja. Namun perhatianku terpaku pada layar laptop Eric yang masih menyala. Di sana aku melihat Eric melakukan pencarian terhadap sebuah nama. Nama yang cukup menyakitkan jika aku sebut. Elena Dianne Alejandro.
Kuhirup nafas banyak-banyak supaya paru-paruku masih bisa berfungsi normal. Lalu aku mulai membereskan sisa kertas yang masih berserakan diatas meja dan menumpuknya menjadi satu.
Rasa penasaranku menggelitik saat aku melihat laci meja kerja Eric yang sedikit terbuka, memperlihatkan beberapa kertas memo yang ada di dalamnya. Tanganku bergerak ragu-ragu untuk membuka laci itu. Tapi rasa penasaranku semakin mencekik. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membukanya.
Aku mengambil salah satu kertas memo disana. Dua buah nama ditulisĀ bersisian disana. Nama yang tidak asing buatku. Joseph dan Josephine. Aku menutup mulutku yang menganga. Josephine adalah nama tengahku. Eric mengingat nama tengahku?
Lalu tanganku dengan lancang mengambil potongan kertas memo yang lain dari sana. Eric menuliskan catatan yang berbeda-beda di setiap kertas itu. Iris biru, rambut pirang, gelang mutiara hitam, pantai, sunset, Greenfalls, Lighthill, serigala, ....
"Beraninya kau menyentuh barang-barang pribadiku!"
Aku tidak sempat membaca semua catatan itu karena Eric tiba-tiba keluar dari kamar mandi sambil menatapku tajam.
Aku menelan ludah kasar, menatap horor pada Eric yang berjalan mendekat padaku dengan aura membunuh. Tubuhku membeku. Kakiku terasa sulit digerakkan. Kedua tanganku bahkan tidak bisa bergerak hanya untuk meletakkan catatan-catatan yang masih ku pegang.
I'm in trouble. I swear, I'm in a big trouble!
*
*
*
*
*
tbc.
See you next part, Love.