
Wrangler Rubicorn hitam modifikasi yang telah berubah warna menjadi kecoklatan itu melaju pelan ke sebuah rumah kayu sederhana bercat putih yang halamannya cukup luas. Rumah dengan gaya klasik itu terlihat sangat indah dengan nuansa alami pegunungan.
Rumput hijau terawat terhampar luas memenuhi setiap sudut halaman bak permadani. Terdapat satu set meja untuk bercengkerama di halaman depan. Disampingnya ada kolam kecil yang terbuat dari bebatuan alam yang di design dengan apik. Pohon-pohon tinggi mengelilingi lahan itu, dimana kawanan burung liar membentuk sarang disana.
Seorang pria muncul dari balik pintu saat mendengar deru mobil itu memasuki halaman.
"Welcome to Amytville, Princess!" Jordan tersenyum hangat sambil berjalan mendekat ke arah Isabel yang baru saja turun dari mobil.
"You miss me?" Jordan memeluk Isabel yang juga mengulurkan tangan padanya.
"Senang bertemu lagi denganmu, Jordan." Balas Isabel. Tidak bisa dipungkiri Isabel juga merindukan pria itu.
"Berikan padaku." Jordan meminta ransel Isabel. Dia menyampirkan ransel itu di bahu kiri. Tangan kanannya merangkul bahu Isabel, menggiringnya masuk ke dalam rumah.
Eric berdecak, mengelengkan kepalanya melihat tingkah Jordan. Dia mengeluarkan ranselnya yang cukup besar dari kabin belakang. Lalu dia menyusul masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana perjalananmu, Cantik? Menyenangkan?" Tanya Jordan.
"Mengerikan!" Suara Isabel terdengar sangat mantap.
Jordan menghentikan langkahnya sebentar. Dia menolah ke belakang, tepat saat Eric sampai di ambang pintu. "Kau tidak mendengarkanku, Dude!" Katanya pada Eric, membuat Eric yang belum paham dengan maksudnya hanya mengangkat alis dan memberi tatapan tajam tanpa menghiraukan ucapan Jordan.
"Keparat itu hanya ingin pamer." Jordan kembali menoleh pada Isabel lalu melanjutkan langkahnya.
Eric berjalan cepat ke arah salah satu kamar melewati kedua orang itu.
"Ayo, kutunjukkan kamarmu." Jordan mengajak Isabel ke kamar yang berada di sebelah kamar yang dimasuki Eric tadi.
Jordan membuka pintu kamar dan memberi ruang untuk Isabel lewat. Kamar ini terlihat sederhana. Hanya ada satu ranjang queen size, sebuah lemari pakaian, meja rias, meja belajar yang menyambung dengan rak buku sederhana dan satu meja kecil di samping ranjang. Di kamar yang tidak bisa dibilang luas ini juga dilengkapi dengan kamar mandi. Ya, meskipun hanya berisi sebuah closet dan shower.
Sebuah bingkai foto yang berada diatas nakas menarik perhatian Isabel. Gadis itu berjalan mendekat untuk bisa lebih jelas melihat foto itu.
Bingkai foto itu menampilkan empat orang yang tersenyum lebar duduk mengelilingi seorang bayi yang sedang bermain boneka sedang tertawa lebar hingga menampilkan gusinya yang baru ditumbuhi dua buah gigi di bagian depan.
"Dirumah ini hanya ada tiga kamar. Kau tidak keberatan menempati kamar ini?" Jordan khawatir Isabel tidak mau menempati kamar ini jika dia tahu kalau ini adalah kamar Chloe. Dan jika itu terjadi, Jordan akan bertukar kamar dengannya.
Isabel mengalihkan pandangannya dari foto yang dia yakini adalah keluarga Eric. Karena disana terlihat ada Eric dan Jordan yang masih kecil. Dia tersenyum pada Jordan. "Tentu saja tidak." Jawabnya. Isabel tahu, kamar ini pasti kamar Chloe. Dilihat dari design dan warna yang ada di dalam kamar ini, sudah menunjukkan jika kamar ini sebelumnya ditempati oleh seorang perempuan. Tapi, tidak apalah. Dia menyadari jika disini dia hanyalah seorang tamu. Rasanya tidak pantas jika harus meminta macam-macam.
"Baiklah. Kalau begitu selamat beristirahat." Jordan membalikkan badan. Pria itu berhenti saat sudah sampai di bibir pintu. "Sampai bertemu saat makan malam, Cantik." Jordan mengedipkan sebelah mata sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.
***
Keesokan harinya, Jordan memenuhi janjinya untuk mengajak Isabel berkeliling Amytville. Meskipun hanya kota kecil di kaki gunung, tapi kota ini menyimpan sejuta keindahan. Salah satunya adalah apa yang di tunjukkan Eric kemarin.
Namun kali ini Jordan tidak akan mengajak Isabel ke gunung. Lagipula Isabel pasti masih ketakutan karena aksi pamer Eric itu.
"Jadi, kemana tujuan kita?" Isabel membenarkan posisi beanie-nya sambil melirik Jordan yang fokus mengemudi.
Isabel berharap Jordan tidak mengajaknya ke tempat-tempat ekstrim.
Jordan memamerkan senyum menawannya. " Danau Riverus. Kau pasti akan menyukainya."
"Danau Riverus ? Aaa....! Selama ini aku hanya melihatnya dari internet. Akhirnya aku bisa kesana juga. Aku bisa pamer pada Alice." Isabel begitu antusias. Tidak sabar ingin segera menikmati keindahan danau yang sangat indah itu.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di danau. Kaki kecil Isabel segera melangkah mendekat ke bibir danau. Air yang sangat jernih membuat danau itu seperti aquarium raksasa dengan bermacam-macam jenis ikan dan tumbuhan air.
Jordan membiarkan Isabel menikmati setiap sudut danau sesuka hatinya. Dirinya cukup menikmati senyum bahagia gadis itu dari kejauhan.
Puas bermain-main dengan air, Jordan mengajak Isabel ke pasar Chou Yuen. Kenapa disebut pasar Chou Yuen? Karena ini memang pasarnya komunitas tionghoa yang menetap di Amytville. Sedangkan Chou Yuen sendiri diambil dari nama orang tionghoa pertama yang datang ke Amytville.
Disini mereka sekalian makan siang. Menikmati aneka kuliner khas negeri tirai bambu itu.
Tidak lupa Isabel membeli beberapa cindera mata dan makanan untuk dibawa pulang.
Hari sudah sore, Jordan berniat mengurungkan niatnya untuk mengajak Isabel ke destinasi terakhir mereka hari ini.
"Kita akan pulang?" Isabel terlihat sedikit kecewa karena baru dua tempat yang dia kunjungi hari ini.
Isabel menggeleng. "Ini terlalu menyenangkan untuk merasa lelah." Senyum manis dan mata berbinar menghiasi wajah gadis itu.
"Okay. Aku akan mengajakmu ke satu tempat lagi. Kebetulan sebentar lagi gelap. Sangat pas dengan tujuan kita selanjutnya." Kata Jordan.
"Kemana ?" Rasa penasaran Isabel sangat besar untuk menjelajahi Amytville. Kapan lagi dia bisa menjelajahi keindahan Amytville?
Pertanyaan itu hanya dijawab senyum paling indah dari Jordan.
Perjalanan kali ini membuat jantung Isabel berpacu cepat. Jordan membawanya ke arah hutan. "Kita tidak akan masuk hutan itu, bukan?" Isabel harus bertanya sekarang sebelum terlambat dan berakhir seperti kemarin.
"Kau takut?" Tanya Jordan. Pria itu tak pernah kehilangan senyumnya. Disaat seperti ini pun dia masih sempat mengeluarkan senyumnya yang selalu membuat hati Isabel menghangat.
Bibir Isabel bergerak-gerak, bingung ingin mengatakan apa. Dia sendiri yang menginginkan Jordan membawanya, apakah tidak mengapa jika sekarang dia berubah pikiran?
Seperti bisa membaca pikiran Isabel, Jordan menggenggam tangan Isabel tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan tidak beraspal yang mereka lalui. "Kau akan menyukainya, Cantik."
Tepat sebelum masuk hutan, mobil yang mereka tumpangi berbelok arah ke kanan. Jalanan yang menanjak dan sedikit bergelombang tetap tidak membuat rasa takut Isabel berkurang. Apalagi tidak ada penerangan sama sekali disana.
"Jordan, aku takut." Isabel beringsut mendekat pada Jordan, meremas lengan jaket denim yang dipakai pria itu. Kedua matanya awas melihat ke sekeliling. Semoga saja tidak ada hyena atau jaguar yang tiba-tiba melompat ke mobil mereka.
Jordan mengelus tangan Isabel yang meremas lengannya cukup kuat. "Disini aman. Sebentar lagi kita sampai, Princess."
Ucapan Jordan tidak masuk ke pendengaran Isabel. Gadis itu terlalu sibuk dengan rasa takutnya. Sudah cukup Eric membuatnya hampir terkena serangan jantung kemarin. Dia tidak ingin lagi merasakannya.
"Here we go! Kita sudah sampai, Princess." Jordan menghentikan mobilnya di padang rumput yang tidak terlalu luas tapi cukup untuk berlarian dan berguling-guling sepuasnya. Mungkin kalau datang kesini saat matahari masih bersinar, akan sangat menyenangkan.
Tempat yang hanya mendapat pencahayaan dari sinar bulan itu membuat Isabel waspada. "Kau tidak berniat macam-macam denganku, kan?"
Dan, tawa Jordan pun pecah. Pria itu sudah turun dari mobil terlebih dulu, berniat membukakan pintu mobil untuk Isabel namun gadis itu menahannya.
Lalu dalam sekejap wajah Jordan berubah serius. Sangat serius, menatap tajam penuh maksud pada Isabel hingga membuat gadis itu semakin ketakutan.
Minimnya cahaya membuat wajah Jordan terlihat sangat menakutkan.
"Your time has come, Princess. Come out and let me show you who I really am." Suara Jordan terdengar begitu dalam dan mengerikan. Senyum smirk di wajahnya membuat Isabel merinding.
"Jordan...." Suara Isabel hampir tidak terdengar. Dia ingin menaikkan kaca jendela dan mengunci pintu mobil, tapi langsung ditahan oleh Jordan.
Tatapan tajam pria itu semakin mengintimidasi. Tidak, Isabel tidak ingin berakhir mengenaskan di tempat ini. Harusnya ini menjadi liburan yang menyenangkan untuknya.
"Aku harus pergi. Aku harus mencari bantuan. Tidak, aku tidak ingin berakhir disini." Gumam Isabel yang semakin ketakutan saat Jordan mendekatkan wajahnya ke jendela.
"Jangan mendekat! Kau gila, Jordan! Pergi!" Isabel bergerak mundur hingga tubuhnya membentur pintu kemudi. "Tolong....! Eric....! Tolong aku, Eric....!"
*
*
*
*
*
tbc.
Kok Jordan gitu sih? Mau diapain itu Isabel?
Sebenarnya apa yang diinginkan Jordan?
Semoga ada orang yang mendengar teriakan Isabel dan menolongnya.
Oya, disini Amytville yang awalnya desa kecil di pinggiran kota aku ganti menjadi kota kecil di kaki gunung Ameris. Biar lebih enak bikin tempat wisatanya.
See you next part, Love.