100 Days

100 Days
S2. This Is Crazy !



Warning !


Di season 2 ini akan ada beberapa part yang sedikit vulgar. Jadi tolong perhatikan tanda di judul episode-nya ya ! Bagi yang kurang berkenan bisa di skip aja.


*****


~Isabel~


Kelopak mataku masih terpejam rapat saat aku merasakan kulit di wajahku menghangat. Pelan-pelan aku membuka mata yang langsung disambut silau cahaya matahari. Tangan kananku refleks bergerak menutup wajah. Tangan kiriku mencoba meraih selimut untuk kugunakan menggulung tubuhku karena jujur aku masih sangat mengantuk saat ini.


Tangan kiriku terus meraba-raba ke bawah, tapi aku tidak menemukan apa yang kucari. Sebenarnya aku malas sekali untuk bangun, tapi derit pintu bergeser sangat mengganggu telingaku.


Aku membalik tubuhku memunggungi arah datangnya sinar matahari. Lalu aku membuka mata.


"Good morning, my wife."


Hal pertama yang kulihat pagi ini, Eric berdiri di sisi ranjang dengan tubuh berbalut bathrobe. Apa yang dia lakukan di kamarku ?


Eh ?


Kedua mataku terbuka lebar, lalu aku duduk. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri.


Astaga !


"We're just married, sweetheart." Kata Eric. Sepertinya dia menyadari kebingunganku kenapa bisa berada di kamar asing ini. Dia tersenyum sambil merangkak naik keatas ranjang.


Aku benci saat dia menyeringai seperti itu. Karena itu mengingatkanku pada Eric waktu pertama aku bertemu dengannya.


Dia terus bergerak mendekat padaku. Tapi aku dengan bodohnya masih berdiam diri di tempat. Aku mencoba menarik kembali kesadaranku ke alam nyata. Dan saat ini aku melihat Eric sudah duduk di depanku.


"Morning kiss."


Aku belum sempat mempersiapkan diriku saat tiba-tiba bibir Eric mulai menyentuh bibirku. Benar apa yang dikatakan orang-orang. Tidak ada hal termanis di pagi hari selain morning kiss.


Aku terhanyut dengan ciuman Eric. Dia memperlakukanku dengan sangat lembut. Aku merasa duniaku melayang. Saat aku merasakan sebuah sentuhan hangat di kulitku mulai dari tengkuk hingga ke bahuku, aku merasa tulang belakangku membeku. Saking dinginnya, bulu kuduk di seluruh tubuhku berdiri. Darahku seperti bergerak naik dan berkumpul di otakku.


Eric tahu cara membuatku kehilangan kewarasan. Hingga aku tidak sadar kalau bathrobe yang membalut tubuh kami sudah tergeletak di lantai.


Aku bisa merasakan hembusan nafas hangat Eric menerpa wajahku saat dia menjeda ciumannya. Aku kehabisan nafas, aku bernafas dengan deru yang memburu untuk mengisi paru-paruku dengan oksigen.


"You're so sexy, Bells." Ucap Eric parau. Pandangannya turun kebawah, aku bisa melihat bibirnya tersenyum meski sangat tipis.


Aku tidak peduli, aku tidak bisa menahan diriku lagi. Aku menginginkan Eric, aku ingin dia menyentuhku lebih dari ini. Kuperhatikan dada telanjangnya yang sangat seksi dengan bulu-bulu halus. Tanganku bergerak perlahan merasakan pahatan otot dadanya yang liat. Aku menyukai sensasi saat kulitku bersentuhan dengan kulitnya. Aku menyukai saat jari-jarinya bergerak menyusuri wajahku, rahangku, leherku, dan bahuku.


Aku tidak tahan lagi, aku menciumnya. Aku melakukan apapun yang ingin kulakukan padanya. Kurasa aku sudah gila. Aku tidak pernah merasa seliar ini dalam hidupku.


Eric membawaku terbang tinggi, dia membawaku melayang ke angkasa dengan sentuhan-sentuhan tangannya di tiap bagian tubuhku yang sudah polos tanpa apapun. Ini luar biasa !


Aku semakin menggila saat Eric menyentuh bagian bawah tubuhku dengan intens. Aku terbang semakin tinggi seperti roket. Otakku seakan mau meledak. Aku tidak tahan lagi, kurasa otakku benar-benar akan meledak sekarang.


"Please !" Entah untuk apa aku memohon. Kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.


"Say my name, sweetheart !" Bisik Eric tanpa berhenti menggerakkan tangannya. "Lepaskan ! Biarkan dirimu meledak !"


Ah, aku tidak tahan lagi. Aku....


"Ah....Eric....!"


Ini luar biasa. Tubuhku lemas, aku ambruk dalam pelukan lelakiku. Suamiku.


Dekapan Eric sangat nyaman. Dia terus menciumi kening dan kepalaku, membiarkanku mengatur nafas, meraup oksigen sebanyak yang aku bisa.


Nafasku baru saja mulai teratur saat Eric kembali menciumi leherku. Ciumannya terus bergerak ke bahu telanjangku. Sensasi menggelitik seperti ini membuatku tidak bisa menolak saat dia kembali mencium bibirku. Perlahan dia merebahkan tubuhku tanpa melepaskan tautan bibir kami.


Tubuh besar Eric setengah menindihku. Aku bisa merasakan sesuatu yang mengganjal di pinggangku.


Ayolah, aku juga pernah belajar biologi. Aku tahu benda apa yang menekan perut bagian sampingku itu. Dan parahnya, aku menyukai itu. Saat tangan Eric sibuk membuatku melayang, aku menggerakkan tanganku membelai benda yang mengganjal itu.


Aku mendengar Eric mengerang disela ciuman kami. Lalu dia menyentuh tanganku yang bermain-main dengan bagian bawah tubuhnya. Dia menahan tanganku.


"This is your time, sweetheart." Ucap Eric sambil menciumi leherku. "Biarkan aku menyenangkan dirimu." Katanya sambil terus menurunkan ciumannya ke dadaku.


Ah, ini gila ! Eric membuatku kembali meroket tinggi. Ciumannya terus bergerak turun hingga ke bagian bawah tubuhku. Sedang tangannya tidak berhenti bergerak menyentuh apapun yang dia suka dari bagian tubuhku.


Aku tidak bisa menahan desahanku saat Eric kembali membawaku ke puncak tertinggi. Namun aku terkejut saat merasakan hisapan di bagian bawah tubuhku.


"Apa yang kau lakukan ?" Tanyaku. Apa dia tidak jijik dengan yang dia lakukan baru saja ?


Tidak seperti dugaanku. Eric justru tersenyum sambil menjilat bibirnya.


"Your taste is delicious."


Apa yang dia katakan ? Aku mengernyit tidak mengerti.


"Aku menyukainya, Bells." Kata Eric sambil merangkak naik dan memeluk tubuhku.


Aku masih tidak mengerti apa yang dia sukai dari hal semacam itu ? Tapi aku memilih bungkam. Selama dia menyukainya, kurasa itu tidak masalah buatku.


"I love you, Bells." Eric mencium keningku dalam. "Setiap bagian dari tubuhmu, setiap bagian dari dirimu, aku menyukainya." Ucapnya lagi. Kali ini aku mengeratkan pelukanku padanya. Aku memejamkan mataku, merasa sangat dicintai.


"Aku akan membawamu ke surga." Bisik Eric.


Surga seperti apa lagi yang akan dibawa Eric padaku ? Beberapa saat lalu dia baru saja membawaku ke surga. Apa ada surga dunia lain selain yang tadi ?


Dan pertanyaanku terjawab saat Eric kembali memberiku kenikmatan yang luar biasa. Aku merinding saat dia mengeksplore setiap inci tubuhku. Menjelajahi tiap-tiap bagian dari tubuhku yang membuatku menggila.


Mulutku tidak berhenti mengeluarkan suara-suara aneh yang mungkin bisa di dengar dari rumah keluargaku.


"Siap menuju surga kita ?" Tanya Eric yang saat ini berada diatas tubuhku. "I'll do it slowly." Katanya sambil membuka kakiku lebih lebar.


Jantungku berdegup lebih cepat. Aku pernah mendengar kalau pengalaman pertama itu akan terasa sakit. Aku gugup, aku takut akan mengecewakan Eric.


"Relax, okay !" Eric membelai wajahku, dia menciumku lagi. Membuatku terbuai dengan ciumannya.


Lalu aku merasakan jiwaku seolah ditarik keluar dari ragaku saat Eric mulai menekan bagian bawah tubuhku. Dia melakukannya dengan pelan dan hati-hati. Kami sama-sama mengerang saat milik Eric masuk ke dalam intiku. Eric berhenti menggerakkan tubuhnya saat kami sudah menyatu.


Aku merasakan sedikit perih di bagian bawah tubuhku. Tapi tidak seperti yang aku bayangkan. Rasa sakit itu masih bisa aku tahan.


"I'll do it slowly, sweetheart." Kata Eric lagi.


Dia membelai wajahku sambil menggerakkan pinggulnya pelan-pelan. Aku mengernyit menahan perih dibawah sana. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena yang aku rasakan selanjutnya adalah sesuatu yang....aku sendiri tidak dapat mendeskripsikannya. Ini terlalu luar biasa. Tidak ada kata yang bisa mendeskripsikan apa yang aku rasakan saat ini.


Eric terus menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang teratur. Lalu gerakannya berubah lebih cepat. Dan aku menyukainya. Aku ingin dia bergerak lebih cepat lagi.


"Faster, please !" Lagi-lagi mulutku mengucapkan sesuatu diluar kendali otakku.


"As you wish, baby."


Hentakan demi hentakan yang dilakukan Eric semakin keras. Ah, ini benar-benar gila ! Kurasa suara-suara aneh yang keluar dari mulutku kembali memenuhi ruangan. Aku tidak bisa mengendalikannya. Aku semakin ingin berteriak saat Eric menghujamku semakin keras.


Ini gila ! Aku tidak tahan lagi. Aku hampir meledak !


Eric bergerak semakin cepat sambil menggeram. Aku bisa merasakan tubuh kami semakin menegang.


Eric mempercepat lagi gerakannya. Dia meracau menyebut namaku berkali-kali. Akupun sama, dia membuatku gila. Mulutku tidak berhenti mendesah dan meracau.


Hingga kami tidak bisa menahan ledakan dalam diri kami lagi. Kami sama-sama berteriak, menjerit nikmat merasakan sensasi yang luar biasa.


Tubuh Eric ambruk diatas tubuhku. Kami berlomba meraup oksigen sebanyak-banyaknya dengan deru nafas yang memburu. Peluh keringat membasahi tubuh kami. Ini gila. Kalau Eric bilang ini surga, aku akan bilang ini lebih dari surga.


"I love you, Bells." Ucap Eric lirih sambil menggeser tubuhnya ke samping tubuhku.


Dia meraih tubuhku lalu mendekapnya erat. "I love you too, Eric." Balasku.


Eric menarik selimut untuk menutupi tubuh polos kami. Dia menciumi kepalaku dengan sayang, membuatku merasa sangat dicintai.


Aku semakin menenggelamkan wajahku ke dadanya. Ini adalah pengalaman pertama yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup. Aku mencintai Eric, dan akan selalu seperti itu.


Aku memejamkan mata sembari mengeratkan pelukanku. Mungkin ini akan menjadi kegiatan favorit baruku. Tidur dalam dekapan Eric. Tidak ada tempat tidur yang paling nyaman selain dekapannya.


"I love you, my husband."


*


*


*


tbc.