
Isabel mengurungkan niatnya untuk meninggalkan gua itu. Dia berbalik, berjalan cepat ke arah Eric lalu berhenti tepat di depan pria yang berdiri dengan tatapan nanar padanya.
PLAK !
Satu tamparan lagi dia berikan pada Eric. Eric memejamkan mata, meredam panas yang membakar pipi dan hatinya.
"Aku tidak peduli dengan sumpah keparatmu itu !" Kata Isabel penuh penekanan. Dia tidak tahu, rasa kecewa dan sakit yang dirasakannya tadi kini berubah menjadi rasa marah. "Jika hanya karena itu kau meninggalkanku....." Isabel menggertakkan giginya sambil menggeleng lemah. Dia tidak tahu jalan pikiran Eric. Janji apa ? Memangnya kenapa kalau Jordan mecintainya ? Apa dia pikir Isabel akan berpaling pada Jordan ? Hh....Isabel benar-benar tidak habis pikir.
Isabel mengangkat kedua tangannya menyerah. Percuma dia ingin mempertahankan hubungan mereka, jika Eric sendiri tidak ingin memperjuangkannya hanya karena janji bodoh yang entah apa itu.
Lelah dengan keadaan ini, Isabel berbalik. Dia melangkah meninggalkan Eric yang masih berdiri mematung tanpa mampu berbicara apapun.
Beberapa langkah dari mulut gua, Isabel menoleh lagi. "Annabeth tidak pantas memiliki seorang paman pengecut sepertimu !" Katanya sebelum akhirnya menghilang dibalik dinding gua.
"Annabeth ? Paman ?" Gumam Eric. Dia duduk diatas papan sambil terus memikirkan kata-kata Isabel. Siapa Annabeth ?
"Chloe ! Ya Tuhan, Apa yang sudah kulakukan ?" Sesal Eric sambil meremas rambutnya. Dia bangkit, lalu memungut jaket kulit yang tergeletak di lantai dan langsung memakainya. Dia bergegas menyusul Isabel, namun terlambat. Begitu dia sampai diatas bukit, mobil yang ditumpangi Isabel sudah melaju menjauh dari bukit.
Eric berlari menuju hutan dimana mobilnya terparkir. Berkali-kali dia hampir terjatuh karena tersandung dahan pohon atau tergelincir batu, namun dia tidak peduli, dia terus berlari.
Sampai di tempat dia memarkir mobil, Eric menyingkap cover mobilnya lalu melipat secara asal dan melemparnya ke kursi penumpang.
Dia melompat ke kursi kemudi dan mulai melesatkan mobilnya dengan ugal-ugalan.
Sesampainya di rumah, Isabel dan bodyguardnya sudah tidak ada disana. Gloria mengatakan kalau mereka baru saja pergi 10 menit yang lalu.
Eric bergegas membersihkan diri. Dia akan kembali ke kota untuk menjenguk adiknya dan menemui keponakannya. Dan dia tidak mungkin menemui keponakannya yang baru lahir dengan keadaan buruk seperti itu.
Rasa bersalah bercokol dalam hati Eric karena tidak ada di dekat adiknya saat melahirkan. Harusnya dia ikut mendampingi adiknya disaat seperti itu. Tapi dia justru memusingkan hidupnya sendiri.
"Kuharap kau masih mau memaafkanku, Chloe. Aku memang kakak yang tidak berguna." Eric sangat menyesal.
Sebelum ke Rumah Sakit, Eric mampir ke safe house untuk mengambil ponsel yang sengaja dia tinggalkan disana. Dia menghubungi Chloe, memastikan jika adiknya masih berada di Rumah Sakit.
Setengah jam kemudian Eric sudah sampai di Rumah Sakit tempat Chloe biasa memeriksakan kandungannya. Karena disana jugalah Chloe melahirkan putri cantiknya.
Eric masuk ke dalam ruangan tempat Chloe dirawat. Ditangannya ada sebuah bucket bunga yang baru saja dia beli sebelum sampai di Rumah Sakit.
"Eric !" Chloe yang sedang menyusui putrinya terlihat sangat senang saat melihat kakaknya datang. Disampingnya, Aiden juga tersenyum senang dengan kehadiran Eric. Paling tidak dia tidak harus membuat alasan lagi kepada Chloe kenapa Eric belum juga kembali.
Eric memberikan bunga yang dia bawa pada Chloe. Chloe menerimanya lantas meletakkan bunga itu diatas nakas. Lalu Eric memeluk Chloe, meski harus terhalang oleh keponakannya. "Apa itu keponakanku ?" Tanyanya dengan mata yang tak lepas dari bayi mungil yang sedang kelaparan itu.
"Maafkan aku, aku terlambat datang." Ucap Eric. Dia menatap sedih dan menyesal pada Chloe. "Harusnya aku ada disini. Kau adikku satu-satunya, tapi aku tidak ada di sisimu disaat kau berjuang antara hidup dan mati." Kata-kata Eric sarat penyesalan.
"It's okay. Aku baik-baik saja. Lagipula Aiden tidak pernah meninggalkanku. Dia selalu ada untukku, kau tidak perlu khawatir." Chloe menoleh dan tersenyum pada Aiden, lalu dia kembali menatap hangat pada Eric.
Eric tersenyum lega. Dia senang Chloe tidak marah padanya. Dan ternyata adik iparnya cukup bisa diandalkan. "Kudengar kau memberinya nama Annabeth." Kata Eric.
Chloe mengangguk mengiyakan. "Annabeth Daniela Muller." Katanya.
"Daniela ?" Eric mengangkat alis.
"Ya, seperti Mom." Jawab Chloe sumringah. Daniela adalah nama ibu mereka. Kenangan Chloe bersama ibunya memang tidak sebanyak Eric, maka dari itu dia menyematkan nama ibunya sebagai nama tengah putrinya, supaya dia tetap bisa mengenang sedikit kenangan manis bersama ibunya saat dia melihat wajah putrinya.
"Dia sangat cantik sepertimu." Puji Eric. Chloe tersenyum mendengar pujian untuk putrinya. Lalu dia menyerahkan putrinya yang sudah kenyang dan tertidur pulas pada perawat untuk diletakkan kembali dalam ruang bayi.
Chloe memperhatikan Eric dari atas sampai bawah. Dia baru menyadari kalau Eric terlihat jauh lebih kurus dari biasanya.
"Apa kau sakit ?" Tanya Chloe khawatir. "Kau terlihat lebih kurus."
Eric tersenyum paksa. "Hanya sedikit lelah." Jawabnya.
"Mm...pasti bisnismu di luar negeri sangat menyita waktu. Aku juga pernah seperti itu." Timbrung Aiden. Eric menatapnya heran lantas Aiden memberi kode dengan matanya untuk mengiyakan saja apa yang dia katakan.
"E...ya. Aku....sangat sibuk belakangan ini." Jawab Eric asal. Dia tidak tahu maksud Aiden, tapi sepertinya mengikuti permainannya adalah yang terbaik.
"Lantas kenapa ponselmu tidak aktif ?" Tanya Chloe.
"Kemarin ponselku sempat rusak dan aku meninggalkannya di safe house."
"Bagaimana kalau kita mengobrol di luar saja ? Ini sudah malam, biarkan Chloe istirahat." Tukas Aiden. Dia mengajak Eric untuk keluar ruangan agar Chloe tidak bertanya lebih banyak lagi. Aiden takut itu akan mempengaruhi kondisi psikis Chloe jika istrinya itu tahu Eric memang sengaja menghilang.
Aiden berkacak pinggang. Dia tersenyum kesal pada Eric. "Menurutmu apa yang akan kukatakan padanya saat dia terus menanyakan keberadaan kakaknya yang entah dimana saat kehamilannya sudah memasuki hari-hari menjelang kelahiran ?" Sarkas Aiden. "Aku tidak ingin mempertaruhkan keselamatan mereka hanya karena seorang pengecut yang hanya bisa bersembunyi dari masalahnya."
Bugh !
Eric melayangkan satu bogem mentah di wajah Aiden, membuat adik iparnya itu terhuyung ke belakang.
"Jaga bicaramu !" Eric menunjuk Aiden penuh ancaman.
Aiden memegang pipinya yang terasa panas dan nyeri. Lalu dia tersenyum miring. "Menurutmu aku harus memanggil apa untuk orang yang lari dari masalah ?" Aiden maju mendekat pada Eric dengan berani. "Harusnya kau berterima kasih padaku karena aku memberikan alasan yang masuk akal pada adikmu. Kau tahu aku sampai harus menemaninya 24 jam hanya untuk memastikan dia tidak stress memikirkan kakak pengecutnya."
Eric hendak memukul Aiden lagi, tapi Aiden menangkis dan balas meninju wajah Eric hingga Eric terjajar ke belakang dengan punggung menghantam tembok.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Aiden memelintir tangan Eric dan menguncinya di punggung lalu menghentakkan bagian depan tubuh Eric ke tembok.
"Dengarkan aku baik-baik ! Aku tidak masalah kau berhubungan dengan Isabel, tapi kalau sampai kau berani menyakitinya....aku tidak akan segan menghajarmu." Desis Aiden sambil terus menyudutkan tubuh Eric.
Eric tertawa sumbang sambil meronta, berusaha lepas dari kuncian Aiden.
"Hajar aku ! Kalau perlu habisi aku, keparat ! Aku sudah menyakitinya. Aku sudah membuatnya menangis. Ayo, hajar aku ! Tunjukkan seberapa keras pukulanmu !" Tantang Eric.
Nafas Aiden terengah-engah karena marah mendengar ucapan Eric. Dia tidak terima Eric menyakiti Isabel. Tapi semakin dia cerna, ucapan Eric terdengar sangat putus asa. Eric tedengar seperti mencari mati. Dan Aiden tahu apa yang terjadi pada Eric. Dia bisa membaca kalau saat ini....Eric juga terluka.
Entah apa masalah yang terjadi diantara mereka, tapi Aiden yakin masalah itu menyakiti keduanya. Baik Eric maupun Isabel sama-sama tersakiti.
Dalam satu hentakan Aiden melepaskan kunciannya pada Eric. Percuma dia menghajar kakak iparnya itu, karena memang itu yang Eric inginkan. Dia ingin seseorang menghajarnya untuk menutupi rasa sakit di hatinya.
"Ayo, hajar aku sepuasmu !" Tantang Eric lagi. Dia tersenyum miring sambil merentangkan kedua tangannya, berharap mendapat pukulan atau tendangan yang akan mengalahkan rasa sakit dalam dadanya.
"Kau sakit !" Aiden menatap kasihan pada Eric.
"Ada apa dengan tatapanmu yang seperti itu padaku ? Bukannya kau ingin menghajarku karena aku sudah menyakiti Isabel ? Ayo, aku akan meladenimu."
Aiden menggelengkan kepalanya. Kalau boleh jujur, dia sangat prihatin melihat kondisi Eric yang bahkan terlihat jauh lebih kacau dibandingkan dengan dirinya dulu saat harus berpisah dari Isabel.
"Pergilah ! Aku tidak ingin istriku melihat kakaknya yang sangat menyedihkan seperti ini." Usir Aiden. Jangan sampai Chloe menyadari keadaan Eric yang sebenarnya.
"Hajar aku ! Maka aku akan pergi dengan senang hati."
Percuma meladeni Eric. Aiden memilih untuk membalik badan dan kembali ke ruangan Chloe. Saat sampai di depan pintu, Aiden menoleh pada Eric. "Jangan menemui istriku jika kondisimu masih semenyedihkan itu !" Kata Aiden sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Tubuh Eric ambruk, bertumpu pada kedua lututnya. Dia menunduk dan perlahan tubuhnya bergetar. Banyak orang yang menyayangi Isabel. Mereka semua menginginkan Isabel bahagia. Tapi Eric.....dia justru membuat Isabelnya menangis. Dia membuat Isabelnya terluka. Tidak ada luka yang sesakit saat melihat orang yang kita cintai terluka karena kita.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Hallo guys....ada kabar baru nih. Creepy Blindspot udah mulai publish. Masih anget pokoknya.
Nah kalian udah mulai bisa menikmati cerita si unyu Liam pas udah gede.
Jangan lupa baca trus masukin ke daftar favorit kalian 😊
See you next part, Love.